Bailla adalah gadis muda berusia 20 tahun seorang putri tunggal yang memiliki karakter yang manja dan terbiasa hidup dengan kemewahan ia terpaksa menjadi ibu tiri muda dan menikah dengan duda beranak 3 yang terpaut usia 20 tahun. Pernikahan itu terpaksa terjadi idikarenakan perusahan orang tuanya diambang kebangkrutan akibat tertipu investasi bodong. Bagaimana Bailla menghadapi kehidupan sebagai istri dan ibu muda untuk anak-anak yang usia hampir sama dengannya ?? banyak hal lucu dan sedih yang terjadi degan Bailla si ibu tiri muda ini. ,🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARGA SEBUAH PERSETUJUAN***
Besok paginya, Bailla mencuci muka, pakai kemeja terbaiknya, dan keluar kamar. Mami dan Papi duduk di ruang tamu, tidak sarapan. Di depan mereka, teh yang sudah dingin.
Ruang tamu itu terasa lebih sempit dari biasanya. Mami dan Papi duduk seperti dua terdakwa yang menunggu vonis dari anaknya sendiri.
Bailla tidak langsung menyapa kedua orangtuanya. Dia taruh gelas teh yang disodorkan Mami tanpa disentuh. Dingin. Sama seperti ujung jarinya. Sementara terlihat jelas di raut wajah pak Bayu dan Bu Risa menanti jawaban dari Bailla
“Mi, Pi,” suara Bailla akhirnya keluar, tipis tapi tegas. “Aku gak bisa jawab sekarang.”
Papi mengangkat kepala. Matanya merah, bukan karena nangis. Karena tiga malam tidak tidur mikir cara bayar rentenir. “Bailla, Bapak tidak memaksa kamu untuk segera mengambil keputusan tetapi Papi berharap kamu bisa mengambil keputusan tampa merasa tertekan. Papi minta maaf karna telat membuat kamu ikut menanggung semua ini ".
“Justru itu,” Bailla menatap lurus ke bapaknya. “Ini hidup aku, Pi. Sekali aku bilang iya, gak ada tombol ulang. Aku 20 tahun. Dia 38. Anaknya tiga. Aku disuruh pindah dari skripsi ke popok.”ini berat Pi jadi Aku perlu banyak waktu untuk berpikir.
Mami meremas tangan sendiri. “Mami tahu, Nak. Mami yang paling gak mau kamu kayak gini. Tapi kalau misalkan keputusan kamu tidak mami dan papi akan tetap berusaha memberikan kamu kehidupan yang layak walaupun harus berkerja mati mati an cuma yang mami takutkan kalau sampai papi mu masuk penjara bagaimana nasib kita berdua". Mami mulai menangis wajah yang dulu cantik kini sudah semakin terlihat kerutan nya.
“Makanya aku minta waktu,” potong Bailla, cepat. Bukan marah. Takut. Kalau kalimatnya kepanjangan, dia bisa nangis. “Bukan seminggu. Bukan sebulan. Cuma semalam aja, Mi. Kasih aku sampai subuh.”
Papi dan Mami saling pandang. Satu malam berarti satu malam lagi tidur dihantui ketukan pintu. Tapi satu malam juga berarti mereka tidak benar-benar merampas hak anaknya untuk memilih.
Hening. Cuma ada suara detik jam dinding, kerasnya seperti palu.
Papi menunduk. Tangannya yang kapalan mengusap wajah. “Satu malam, Bailla. papi dan mami menunggu jawaban. Biar Pak Arya tidak terlalu lama menunggu jawaban walaupun sebenarnya beliau tidak pernah mendesak”
Bailla mengangguk. Dia jalan ke arah pintu. Di pintu, dia berhenti sebentar.
“Mi, Pi,” katanya tanpa berbalik. “Kalau nanti aku bilang iya, tolong jangan bilang ‘makasih’. Bilang aja... ‘maafin Mami Papi’. Biar aku ngerasa ini bukan hadiah, tapi pengorbanan. Biar aku gak benci kalian nanti.” batin Bailla
Pintu kamar tertutup. Mami akhirnya pecah nangis di bahu Papi. Di dalam taxi, Bailla tak bisa menahan airmata begitu besar pengorbanan yang akan ia lakukan. Disisi lain hatinya ia belum ikhlas untuk menerima menjadi ibu tiri. Sementara disisi lain dia tidak tega melihat keluarganya menderita.
Dia cuma punya semalam untuk memutuskan: mengubur mimpinya, atau mengubur rumah tempat ia bernaung selama ini. Atau membuat orang yang paling ia sayangi merikuk dalam penjara. Bailla yang dulu dimanja dan dijaga dengan sepenuh jiwa dan raga sekarang akan menjadi penentu nasib semua orang.
Dan untuk pertama kalinya, Bailla, 20 tahun, paham bahwa jadi dewasa bukan soal umur. Tapi soal jam berapa kamu harus memilih antara dua hal yang sama-sama bikin kamu mati pelan-pelan.
...****************...
...****************...