Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 Harga Sebuah Pilihan
"Mahal banget?" tanya Ragil tak percaya.
"Ke sana saja dulu, nego sama pihak rumah sakit. Siapa tahu diberi kemudahan,"
Ragil terdiam cukup lama. Angka itu terasa seperti palu yang menghantam kepalanya berulang-ulang. Dua puluh juta, jumlah yang bahkan belum pernah ia pegang sekaligus.
Namun untuk pertama kalinya, bayangan Razna muncul bukan sebagai beban hidupnya, melainkan seseorang yang sedang bertaruh nyawa. Ia merasa kasihan. Ya hanya kasihan. Seraya menelan salivanya.
“Ya sudah… saya ke sana sekarang, Pak,” ucapnya akhirnya, meski suaranya terdengar berat.
Mungkin inilah saatnya dia membuktikan pada pak RT kalau dirinya adalah suami yang bertanggung jawab.
Pak RT hanya mengangguk singkat. Tanpa banyak bicara lagi, mereka berdua bergegas menuju rumah sakit.
Lorong rumah sakit terasa dingin dan sunyi. Lampu putih yang menyala terang justru membuat suasana semakin menekan.
"Syukurlah kalian sudah datang. Pak kita pulang saja. Dede Nisa terbangun nyariin kita. Lagi pula Mas Ragil kan sudah datang," ujar Bu RT merasa lega akhirnya suami Raznalira sudah datang.
Pak RT mengangguk, "Mas Ragil, kami pulang. Semoga istrimu dimudahkan dan dilancarkan proses sesarnya, dan keduanya bisa selamat,"
"Aamiin Pak. Terima kasih sudah membantu,"
"Ya sama-sama. Ayo Bu!" ajak pak RT pada istrinya.
Ragil hanya menatap nanar mereka. seraya menggigit bibirnya. Entah apa yang harus ia lakukan, sungguh hal ini pengalaman pertama baginya, menunggu orang yang tengah melahirkan.
"Ck...gimana aku harus mendapatkan uang ya? Masa nyolong. Aaaarrrrghh aku harus gimana?"
Ragil berdiri terpaku di depan ruang operasi, kedua tangannya gemetar, pikirannya kacau memikirkan biaya yang belum sepenuhnya terbayar.
Pintu ruang operasi terbuka, seorang perawat mendekat, "Dengan suami Bu Raznalira?"
"Iya Sus, saya."
"Kebetulan. Istri Bapak secepatnya harus disesar. Kami butuh persetujuan dari Bapak. Jadi tolong lengkapi administrasinya lalu tolong bayar biaya sesarnya di lantai satu," ujar perawat sambil memberikan beberapa dokumen untuk diisi dan ditandatangani oleh Ragil.
Ragil menatap berkas dokumen yang lebih dari satu. Dia menghela nafasnya dengan berat.
"Iiish banyak banget sih. Kalau tahu begini mending ga usah ke sini sekalian. Benar-benar bikin kerjaan aja tuh si Razna," gumamnya dalam hati. Dia benar-benar dongkol.
Setelah selesai menandatangani berkas persetujuan sesar, Ragil ke lantai satu untuk memenuhi instruksi perawat. Langkahnya berat karena ditangannya tidak ada uang sepeserpun.
Ragil menghentikan langkahnya. Dia masih memikirkan biaya yang harus ia keluarkan untuk biaya persalinan.
"Kalau saja Razna sedikit bersabar untuk tidak melahirkan malam ini, aku ga usah susah-susah mikirin cari uang segala. Kalau lahiran ke dukun paraji kan murah meriah, paling tiga ratus ribu doang. Kan bisa untung banyak tuh," pikir Ragil, yang ada di benaknya justru bukan keselamatan istrinya melainkan angka-angka yang terus menghantuinya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
“Kalau sudah begini, uang dari mana coba?” gumamnya pelan.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. Ragil menoleh. Seorang wanita berdiri tak jauh darinya sedang menatap dirinya. Penampilannya rapi, elegan, sangat berbeda dengan kondisi Ragil yang lusuh.
“Ragil ya?” suara itu terdengar ragu.
Ragil mengernyit, mencoba mengingat wanita yang ada di hadapannya. Matanya membesar saat mengingat wanita yang dulu pernah ia cintai bertemu di rumah sakit ini. Dia tersenyum
“Melinda?” tanya Ragil yakin dengan ingatannya.
Wanita itu tersenyum tipis.
“Sudah lama ya kita tidak bertemu. Sejak kamu memutuskan untuk lanjut studi ke Amerika," kenangnya dengan senyum yang mengembang.
Melinda mengangguk pasti membenarkan ucapan Ragil.
"Kamu masih ingat aja," ucapnya tersenyum manis.
"Kamu ngapain ke sini? Siapa yang sakit?" tanya Ragil heran dengan keberadaan Melinda di waktu malam begini.
"Mamaku yang sakit. Kalau kamu?
"Aku...aku mendampingi istriku yang hendak melahirkan,"
Melinda terhenyak mendengar kata "istri" dari bibir lelaki yang pernah mengisi relung hatinya.
"Jadi sekarang kamu sudah menikah dan istrimu akan melahirkan?"
Ragil mengangguk. Wajahnya ditekuk, seolah ingin Melinda tahu isi hatinya.
Pertemuan itu seperti potongan masa lalu yang tiba-tiba muncul di tengah kekacauan hidupnya sekarang. Sebenarnya ada sedikit kerinduan yang terlihat jelas dari raut wajah Melinda manakala bertemu kembali dengan masa lalunya.
Mereka berbincang singkat. Ragil tanpa sadar menceritakan semua tentang Raznalira, tentang biaya rumah sakit, tentang kebuntuannya mendapatkan biaya tersebut.
Melinda mendengarkan dengan tenang, lalu menatapnya dalam-dalam. Seperti ada secercah harapan untuk bisa memenuhi keinginan mamanya agar segera menikah.
"Begitulah Mel. Coba kalau istriku kerja kayak kamu. Hidup aku ga mungkin kayak gini. Hidup yang serba kekurangan. Istriku itu kerjaannya hanya ngabisin uang laki. dan sekarang, melahirkan saja pengennya di rumah sakit yang elit. Huh...gimana cari uang dengan waktu yang mepet begini coba?" Ragil menggelengkan kepalanya, kepalanya berdenyut memikirkan uang dan uang.
“Gimana kalau aku membantumu?"
"Memang bisa?" tanyanya sanksi.
"Bisa dong. Apa sih yang engga buat kamu?" ujarnya sambil mengerlingkan matanya.
Ragil terdiam namun hatinya lega. Setidaknya ada yang berkenan menolongnya saat dirinya benar-benar butuh biaya persalinannya.
“Tapi ada syaratnya,” lanjut Melinda, suaranya berubah dingin.
“Apa?” Ragil menatap penuh harap.
“Setelah istrimu melahirkan… kamu harus menceraikannya. Dan menikah denganku.”
Kalimat itu menggantung di udara. Berat. Menyesakkan dadanya.
Ragil terdiam.
Sejenak, waktu seperti berhenti berputar mendengar ucapan Melinda yang konyol.
Di balik pintu ruang operasi, istrinya sedang mempertaruhkan nyawa. Tapi di hadapannya sekarang ada jalan keluar yang begitu mudah digapai walaupun dengan syarat yang menggiurkan.
“Kenapa syaratnya konyol begitu?” tanya Ragil pelan.
Melinda tersenyum samar.
“Karena aku masih menginginkanmu. Dan juga karena aku didesak terus oleh Mama untuk segera menikah bulan ini dan itu bukan konyol,"
Jawaban itu sederhana, tapi membuat hati Ragil terguncang. Jadi selama ini cinta lamanya belum bisa melupakan kisah indah masa SMA.
"Tunggu Mel. Kenapa harus aku? Aku yakin di luar sana masih banyak lelaki yang mau sama kamu. Aku sudah menikah dan punya anak. Rasanya itu tidak mungkin..."
Kalimat itu menggantung di udara. Walaupun rasa cinta pada Raznalira sebenarnya mulai terkikis, namun ia merasa kasihan pada anaknya jika harus berpisah.
"Oooh jadi kamu engga mau nikah sama aku? Ya sudah, aku ga jadi ngasih uang ke kamu. Padahal ya, kalau kamu nikah sama aku, kehidupanmu akan terjamin. Bekerja di perusahaan besar papaku, tinggal di rumah mewah, naik mobil mewah dan kamu bisa meninggalkan kemiskinanmu ini," ucapnya serius.
Deg....
Ia menunduk. Pikirannya berperang antara kemiskinan hidup yang selama ini dilalui bersama istrinya dengan bayangan hidup yang nyaman dan bebas dari kesulitan ekonomi. Kedua hal tersebut perlahan berputar menelan suara hati kecilnya.
Tanpa menatap ruang operasi lagi, Ragil mengangguk pasti.
“Baiklah aku setuju.”
Senyum Melinda mengembang. Begitu mudahnya menaklukkan laki-laki impiannya hanya dengan uang.
Beberapa jam kemudian, sebagian biaya rumah sakit dibayar. Namun tidak sepenuhnya. Ragil hanya memberikan setengah dari jumlah yang ditentukan.
Sementara sisanya ia gunakan untuk hal yang tak masuk akal dengan melarikan diri sejenak dari tekanan dengan bermain game online di ponselnya. Seolah-olah kenyataan bisa ditunda.
Waktu terus berjalan terasa sangat lambat. Pintu ruang operasi masih tertutup rapat. Namun Ragil sudah tidak bisa menunggu lagi.
Ia berdiri di samping Melinda, menatap layar ponselnya, lalu memasukkannya ke saku.
“Ayo pergi,” katanya singkat menarik tangan kanan Melinda.
“Bagaimana dengan istrimu?” tanya Melinda, meski nadanya terdengar seperti formalitas.
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...