NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20. Meruntuhkan Narasi

Layar tablet Dinda menyala terang. Unggahan terbaru dari akun gosip terbesar di ibu kota memukul saraf visual Shanaya pagi ini.

Gambar itu diambil dari sudut yang sangat menguntungkan Alvian. Pria itu duduk tegak dengan wajah berwibawa, memancarkan aura maskulin yang mendominasi. Di sebelahnya, Shanaya menunduk. Tepat pada momen singkat ia memotong sayuran semalam.

Konteks aslinya adalah kesopanan di meja makan. Tapi di internet, konteks adalah mainan murahan yang bisa dibeli dengan uang.

Narasi di bawah foto itu menyudutkan. Teks kapital memancing kemarahan instan audiens. Pewaris Kesuma Mode kabarnya memohon percepatan pernikahan. Sumber dalam menyebutkan Kesuma Group sedang defisit. Alvian Restu jadi pahlawan penyelamat.

Dinda mondar-mandir di depan meja kerja Shanaya. Napas asistennya itu memburu. Hak sepatunya beradu keras dengan lantai kayu ruang kerja.

"Ini gila, Mbak." Dinda memutar tubuh, menatap bosnya dengan mata melebar panik. "Komentar netizen mulai nyerang kita. Mereka bilang ulasan Kanal Satu kemarin cuma siasat berbayar buat naikin harga jual Mbak Naya di depan keluarga Restu. Citra independen yang kita bangun seharian kemarin runtuh total!"

Shanaya menatap foto itu tanpa ekspresi. Ia tersenyum tipis. Matanya sedingin es.

Anastasia bergerak sangat cepat. Sepupunya itu tahu persis artikel ulasan Steven kemarin merusak citra desain plagiatnya. Anastasia butuh pengalih isu. Ia menggunakan Reva untuk memastikan Shanaya datang ke makan malam keluarga, lalu menyuruh orang dalam rumah Restu mengambil foto menjebak ini. Taktik manipulasi media klasik.

"Biarin aja, Din." Shanaya menyesap cangkir teh kamomilnya tanpa buru-buru.

"Biarin gimana sih, Mbak?" Dinda nyaris menjerit frustrasi. "Saham kita bisa anjlok lagi siang ini! Investor pasti termakan narasi defisit perusahaan kita."

"Mereka cuma punya modal satu foto palsu, Din." Shanaya menarik laci mejanya. Ia mengambil ponsel enkripsi hitam khusus miliknya. "Kita punya rekaman audio Surya Restu mengemis uang Kesuma."

Dinda berhenti mondar-mandir seketika. Mulutnya terbuka. "Mbak rekam obrolan semalam?"

"Aku nggak pernah datang ke medan perang tanpa senjata." Shanaya mengetik pesan cepat untuk Leo. "Siapkan draf klarifikasi. Begitu aku kirim fail audionya, langsung sebar ke sepuluh pemberi pengaruh ring satu kita. Kita bakar narasi pahlawan Alvian pagi ini juga."

Shanaya menekan tombol kirim. Ia menunggu balasan Leo.

Satu menit. Dua menit berlalu. Ponsel hitam itu bergetar. Bukan pesan dari peretas mudanya yang masuk.

Panggilan suara dari Steven Aditya.

Shanaya mengerutkan kening. Ia menekan tombol hijau. Suara bariton Steven langsung memenuhi ruangan. Ketukan keyboard di latar belakang terdengar jauh lebih kasar dan cepat dari biasanya.

"Tarik mundur pasukanmu, Shanaya."

Alis Shanaya bertaut tajam. "Kamu menyadap tim komunikasiku?"

"Saya tidak perlu menyadap untuk tahu kamu sedang menyiapkan serangan balasan." Suara Steven kaku. Tarikan napasnya memendek. "Jangan rilis rekaman audio itu ke publik."

"Kenapa?" Rahang Shanaya mengeras otomatis. Genggamannya pada ponsel mengerat. "Itu bukti paling telak yang aku punya. Aku bisa membungkam Anastasia dan Alvian sekaligus hari ini. Mereka bermain kotor, aku balas dengan fakta telanjang."

"Karena rekaman ilegal dari ranah privat bisa membuatmu dituntut balik atas pelanggaran privasi berlapis." Steven memukul meja kerjanya. Terdengar bunyi pantulan kayu merambat lewat sinyal telepon. "Kamu mau menang, atau kamu mau membusuk di sel bersama mereka berdua?"

Shanaya terdiam. Ia menggigit bibir dalamnya kuat-kuat. Steven benar. Hukum negara ini membenarkan hal itu. Rekaman diam-diam tanpa izin di rumah pribadi bisa menjadi bumerang fatal bagi kebebasannya. Amarah sesaat nyaris membuatnya buta dan merusak rencana besarnya.

"Lalu aku harus diam?" Suara Shanaya berubah sinis, menantang hening di ujung sana. "Menunggu opini publik menghancurkan nilai perusahaanku lagi? Dua tahun lalu kamu memilih tutup mulut dan membiarkanku hancur. Lihat apa yang terjadi."

"Kamu memang hanya perlu diam." Jeda sejenak. Suara Steven kembali dingin dan mutlak. "Cek halaman depan Kanal Satu sekarang."

Sambungan terputus tanpa salam.

Shanaya menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia menoleh ke arah Dinda yang sedari tadi terus menatap layar tablet. Asistennya itu menahan napas.

"Mbak." Tangan Dinda gemetar saat menyodorkan tablet itu ke hadapan Shanaya. "Kanal Satu baru aja rilis breaking news."

Shanaya merebut tablet itu cepat.

Judul besar dengan modifikasi teks tebal mendominasi layar portal berita paling ditakuti itu.

Fakta Terbalik: Restu Group Di Ambang Bangkrut, Pabrik Utama Masuk Daftar Sita Bank.

Di bawah judul tersebut, terpampang jelas salinan dokumen perbankan yang menyatakan keluarga Restu gagal bayar utang miliaran. Nama Surya Restu dan Alvian Restu tertera hitam dan jelas. Artikel itu sama sekali tidak menyebut nama Shanaya. Tidak ada satu pun kalimat pembelaan untuk Kesuma Mode.

Tapi efek kehancurannya brutal.

Berita itu meruntuhkan narasi foto Anastasia dalam hitungan detik. Publik mungkin malas membaca laporan bisnis, tapi kata bangkrut selalu berhasil menarik kerumunan. Jika Restu Group yang sebenarnya bangkrut, maka narasi Shanaya mengemis bantuan finansial gugur ke tanah. Justru sebaliknya, Alvian kini terlihat seperti lintah darat putus asa yang sedang mengincar sisa kas keluarga Kesuma.

Komentar di akun gosip berubah arah secepat angin badai. Netizen mulai menertawakan keluarga Restu tanpa ampun.

Di apartemen mewahnya, Anastasia menjerit histeris. Ia melempar ponselnya ke dinding hingga layarnya pecah berkeping-keping. Serangan udara yang ia rancang semalaman hancur lebur hanya dalam durasi kurang dari tiga puluh menit. Ia sudah membayar admin akun gosip itu mahal. Namun satu artikel faktual dari Kanal Satu membakar semua investasinya menjadi debu.

Dada Shanaya naik turun. Ia membaca baris demi baris artikel itu di ruang kerjanya. Diksi yang digunakan amat tajam. Kalimat-kalimatnya efisien, langsung menikam jantung kredibilitas Alvian.

Ini murni gaya tulisan Steven Aditya.

Di ruang redaksi eksklusif Kanal Satu, Steven menatap layar monitornya dalam diam. Kursor berkedip di ujung artikel yang baru saja mengudara. Tidak ada rapat redaksi. Tidak ada tinjauan tim legal. Jari telunjuknya telah menekan tombol tayang bahkan sebelum otaknya selesai menghitung risiko tuntutan hukum dari Restu Group.

Steven melonggarkan dasi di kerahnya dengan tarikan kasar. Ia membuang napas panjang.

"Sial."

Umpatan itu meluncur pelan. Ini pertama kalinya ia bergerak lebih cepat daripada logikanya sendiri. Melepas dokumen perbankan mentah ke publik adalah kecerobohan fatal bagi seorang produser sekelasnya. Ia baru saja membakar jembatan dengan jaringan bisnis keluarga Restu.

Dan alasannya? Logikanya menolak menjawab. Ia hanya tahu satu hal: ia benci melihat taktik murahan itu kembali digunakan untuk menyudutkan Shanaya.

1
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
tutiana
hadirr Thor
gina altira
Semangat terus Thor
INeeTha: makasih kaka🙏🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!