Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]
Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Kerjasama dengan Sang Perwira
Engsel pintu baja ganda itu baru saja bergesekan. Suaranya melengking pelan. Sepi keparat yang tadi merajai ruangan perlahan dirobek oleh suara logam tersebut.
Tangan Fais belum sepenuhnya terlepas dari kenop pintu.
Udara di dalam ruangan itu mendadak terasa hampa. Melankolis yang ganjil menggenang di atas karpet merah tebal. Belasan laras senapan masih terangkat, tapi roh pembunuhnya sudah menguap. Senjata-senjata itu kini hanya terlihat seperti rongsokan besi rongsokan di tangan patung-patung bernapas.
"Tunggu."
Suara itu serak. Berparut bagai aspal yang dikeruk paksa.
Wawan berbicara. Memecah kebisuannya sendiri.
Fais menghentikan langkah. Nol koma sekian detik. Ujung sepatunya tertahan di ambang pintu. Ia tidak memutar tubuh seutuhnya. Ia hanya menoleh sedikit. Cukup untuk membiarkan ekor matanya menangkap siluet sang mantan perwira.
Di atas kursi sofa Italia itu, Wawan merosot pelan. Otot-otot bajanya mengendur.
Bukan karena ia menyerah. Bukan karena lututnya goyah.
Otak tuanya yang terasah di medan perang sedang mengunyah sebuah realita baru. Menelanjangi egonya sendiri. Memusuhi pemuda tak terbaca di depannya ini adalah bunuh diri finansial. Darah itu lengket. Mengotori karpet. Membawa masalah dari penegak hukum.
Wawan sudah terlalu lelah mengurus mayat. Malam ini, ia melihat jalan keluar.
"Anda membawa uang sebanyak itu tanpa pengawal. Anda melumpuhkan anjing-anjing pengintasku di bawah seolah mereka hanya manekin pasar malam," suara Wawan mengalun lagi. Lebih tenang. Lebih berat.
Fais tetap membisu. Gesturnya kosong.
"Orang gila mana pun tahu, memicu perang dengan Anda bukan pilihan menguntungkan," Wawan mencondongkan tubuhnya ke depan. Kedua sikunya menumpu pada lutut. "Saya menawarkan hal lain. Kerja sama."
Ruangan itu seketika menahan napas serentak.
Belasan tentara bayaran di belakang Wawan saling melirik lewat ekor mata. Rahang mereka menegang. Bos mereka. Wawan si jagal jalanan. Baru saja membungkuk secara verbal kepada seorang pemuda yang baru sepuluh menit lalu menginjakkan kaki di gedung ini.
Tapi Wawan tidak peduli pada harga diri. Harga diri tidak bisa dipakai membayar tagihan listrik gedung lantai dua puluh ini. Harga diri adalah racun bagi para pecundang.
"Anda punya uang. Anda punya dominasi," Wawan mengangkat telapak tangannya. Membiarkan asap cerutu meliuk di sela jarinya. "Tapi Anda sendirian. Anda butuh tenaga kerja untuk gudang."
Fais memutar tubuhnya menghadap Wawan. Pelan. Teratur.
"Anda butuh keamanan distribusi," Wawan melanjutkan daftarnya. Irama suaranya naik satu oktaf. "Anda butuh jalur lapangan yang bersih dari campur tangan polisi korup. Dan yang paling penting... Anda butuh seseorang untuk membungkam lintah darat kelas teri yang suka membuat jalanan menjadi kotor."
Layar antarmuka kembali berkedip di retina Fais. Hantu neon biru yang menelan pandangannya.
[Kalkulasi Aliansi Taktis: Berjalan]
[Probabilitas Profit Jangka Panjang: 89%]
[Saran: Terima dengan syarat diam.]
Sistem sudah mengukur isi kepala Wawan. Tidak ada tipu muslihat di sana. Hanya ada insting bertahan hidup dari seekor predator tua yang mengenali predator yang lebih muda dan lebih mematikan.
"Saya tidak meminta bagian dari uang Anda," tambah Wawan cepat. Seolah takut jeda panjang Fais adalah bentuk penolakan. "Saya hanya menempel pada sirkulasi bisnis Anda. Biar saya yang merapikan jalanan. Biar anak buah saya yang mengangkut barang Anda."
Sepi kembali mencekik ruangan.
Wawan menatap lekat. Terus menatap. Menunggu satu kedipan emosi dari wajah pucat di depannya.
Di sudut lain, Sri menempelkan bahunya ke dinding lorong. Keringat dingin merembes menembus blus kerjanya. Napasnya pendek-pendek.
Otak Sri serasa ingin pecah. Ia baru saja menyaksikan perubahan ekosistem paling brutal dalam hidupnya.
Awalnya ia mengira Fais akan mati dirobek peluru. Lalu ia mengira Fais hanya pria kaya raya yang sedang membuang nyawa demi kesombongan.
Tapi realita ini jauh lebih mengerikan.
Fais tidak melakukan apa-apa. Fais hanya diam. Pria ini hanya melempar angka, berdiri, dan hendak pergi. Namun gestur kosong itu cukup untuk membuat seorang penguasa distrik malam bertekuk lutut dan menawarkan pasukan pribadinya.
Sri menelan ludah. Pahit dan kering.
Ia memandangi punggung Fais. Garis bahu yang tegak lurus. Kemeja rapi yang tidak berkerut sedikit pun.
Pria ini bukan sekadar pemain. Ia adalah arsitek dari sebuah tatanan yang bahkan Sri belum bisa membayangkannya. Pemain elite yang menyembunyikan taringnya di balik kebisuan absolut.
"Berapa lama waktu yang kau butuhkan?" Fais akhirnya bersuara.
Datar. Nyaris seperti gumaman orang mengantuk. Tapi efeknya menghantam ruangan seperti bom rakitan.
Wawan menghela napas panjang. Beban seberat beton raksasa baru saja terangkat dari pundaknya.
"Beri saya tiga hari," jawab Wawan mantap. Sorot matanya kembali menyala. Bukan menyala karena amarah, tapi karena ambisi yang baru saja menemukan arah. "Semua rentenir kecil di lima distrik akan berhenti melakukan teror. Saya akan merapikan anak buah saya. Tidak ada lagi metode patah tulang untuk tagihan receh. Fokus kita pindah ke distribusi Anda."
Fais tidak mengangguk. Ia tidak tersenyum.
Ia hanya memutar tubuhnya kembali ke arah lorong. Tangannya menekan gagang pintu baja.
"Gunakan orang-orangmu dengan benar." Fais melempar kalimat terakhirnya tanpa menoleh. "Aku tidak suka membuang waktu."
Pintu baja itu bergeser. Menelan Fais dan Sri ke dalam remang lorong menuju lift.
Meninggalkan keheningan panjang di ruang kerja yang pengap oleh bau mesiu tertahan.
Wawan menyandarkan kembali punggungnya ke sofa. Ia mengangkat sebelah tangannya di udara. Menjentikkan jari.
Serempak. Harmoni logam kembali terdengar. Tapi kali ini bukan untuk membidik. Belasan senjata otomatis itu diturunkan. Suara kunci pengaman diklik satu per satu. Mengembalikan ruangan itu pada kodratnya yang fana.
Udara melankolis itu perlahan luruh. Digantikan oleh hawa dingin dari mesin pendingin yang kembali terasa di kulit.
Seorang pria bertubuh gempal melangkah maju. Salah satu letnan kepercayaan Wawan. Seragam tempurnya sedikit basah di bagian ketiak.
Ia menatap pintu baja yang sudah tertutup rapat itu dengan pandangan ngeri. Tangannya masih gemetar memegang pangkal senapan.
"Bos..." letnan itu berbisik. Suaranya serak tertahan. Seolah takut dinding ruangan ini punya telinga. "Siapa sebenarnya dia? Kita bahkan tidak memeriksa latar belakangnya."
Wawan diam. Matanya tertuju lurus melewati meja kaca. Melewati asbak. Menembus pintu baja ganda yang membatasi ruangannya dengan lorong luar.
Bayangan pemuda itu masih tercetak jelas di retinanya. Pemuda yang menjadikan nyawa sebagai matematika.
"Jangan cari tahu terlalu dalam," Wawan berkata pelan. Suaranya mengambang di udara kosong.
Sang mantan perwira itu menautkan kedua jari tangannya di atas perut. Menarik napas dalam-dalam. Menghisap aroma sisa kekalahan dan kemenangan yang bercampur menjadi satu.
"Namun bisa kubilang..." Wawan menyambung kalimatnya, menatap lurus ke arah pintu lift lama di balik baja tersebut. "Ia adalah kesempatan kita untuk naik."