NovelToon NovelToon
Sistem Pengekstrakan Dao Surgawi

Sistem Pengekstrakan Dao Surgawi

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Di dunia kultivasi di mana yang kuat memangsa yang lemah, bakat adalah segalanya. Lin Tian, seorang murid luar Sekte Awan Azure, terlahir dengan Akar Spiritual cacat yang membuatnya menjadi bulan-bulanan dan diinjak-injak bagai serangga. Terjebak di dasar rantai makanan, takdirnya seolah sudah dikutuk menjadi batu pijakan bagi para jenius.
​Namun, di malam yang dipenuhi darah dan keputusasaan, sebuah entitas misterius bangkit di dalam dirinya: Sistem Pengekstrakan Dao Surgawi.
​Sebuah sistem yang mampu menyerap esensi murni dari segala hal di alam semesta!
​Sisa pil beracun yang dibuang? Ekstrak menjadi tetesan Qi murni tanpa cela!
Mayat binatang buas tingkat tinggi? Ekstrak esensi garis keturunannya!
Pemahaman bela diri musuh yang telah mati? Ekstrak dan jadikan milik sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Pusaran Dao Surgawi dan Benih Niat Pedang

​Di dalam Makam Pedang Kaisar Kuno, waktu seakan kehilangan maknanya. Langit merah darah dan tanah cokelat karat menjadi saksi bisu atas sebuah fenomena yang tidak pernah terjadi sejak dimensi ini diciptakan ribuan tahun lalu.

​Pusaran emas raksasa berputar liar di atas kepala Lin Tian. Kekuatan isapnya menciptakan badai spiritual yang menyapu area seluas satu mil persegi. Jutaan pedang yang tertancap di tanah bergetar hebat, mengeluarkan suara dengungan wonggg yang memekakkan telinga.

​Dari bilah-bilah pedang berkarat itu, untaian gas berwarna hitam kemerahan tersedot keluar. Itu adalah Niat Pedang Kuno—akumulasi dari niat membunuh, kebencian, dan kehendak bertarung para penguasa pedang masa lalu yang telah lama mati. Bagi jiwa manusia biasa, menyentuh satu untai gas ini saja sudah cukup untuk membuat mereka gila dan meledakkan lautan kesadaran mereka.

​Namun, saat gas-gas mematikan itu tersedot ke dalam pusaran emas, suara sistem berdenting tanpa henti, dingin dan tanpa ampun.

​[Ding!]

[Mendeteksi invasi Energi Jiwa Liar (Niat Pedang Pembunuh).]

[Mengaktifkan Penggilingan Dao... Menyingkirkan ampas emosi, kebencian, dan memori usang.]

[Berhasil mengekstrak: Qi Dao Murni (Kepadatan Ekstrem) & Fragmen Niat Pedang Kuno.]

​Gas hitam kemerahan itu disaring hingga berubah menjadi tetesan cairan emas yang bersinar seterang matahari, lalu mengguyur turun layaknya hujan lebat langsung ke meridian Lin Tian.

​"ARGH!"

​Lin Tian mendongak, urat-urat di lehernya menonjol. Jumlah energi ini terlalu gila! Jika diibaratkan, dantian-nya adalah sebuah danau kecil, dan energi yang mengalir masuk saat ini adalah seluruh lautan.

​Akar Spiritual Kayu-Api Inti Bumi miliknya bekerja di luar batas nalar. Elemen api membakar sisa-sisa tekanan energi yang tidak stabil, sementara elemen kayu terus-menerus merajut kembali meridian Lin Tian yang robek akibat arus energi yang terlalu ganas. Metode Pernapasan Sembilan Siklus berputar hingga menciptakan pusaran mini di dalam perutnya.

​BOOM!

​Sebuah dentuman tumpul terdengar dari dalam tubuhnya. Lapisan penghalang kultivasi hancur seketika.

​Tahap 6 Pengumpulan Qi!

​Energi tidak berhenti. Hujan emas dari sistem terus turun.

​BOOM!

​Hanya dalam waktu tiga hari, ia menembus Tahap 7 Pengumpulan Qi! Pada tahap ini, Qi di dalam tubuhnya mulai mengental, tidak lagi berupa gas murni, melainkan mulai menunjukkan tanda-tanda pencairan—langkah awal menuju Pembentukan Pondasi.

​Di saat yang sama, fragmen-fragmen Niat Pedang yang telah disucikan oleh sistem mulai berkumpul di lautan kesadarannya (Mind Space). Fragmen-fragmen itu saling bertabrakan, melebur, dan memadat di bawah tekanan sistem, hingga akhirnya membentuk sebuah benda seukuran biji beras yang memancarkan cahaya perak tajam.

​[Ding! Selamat!]

[Inang telah memadatkan 'Benih Niat Pedang Kehancuran' (Sword Intent Seed).]

​Lin Tian tersenyum menyeringai di tengah badai rasa sakit. Di dunia kultivasi, memadatkan Niat Pedang biasanya hanya bisa dilakukan oleh para jenius pedang langka yang telah mencapai ranah Inti Emas (Golden Core). Memilikinya di ranah Pengumpulan Qi sama saja dengan memegang senjata dewa berkedok pisau dapur.

​Waktu terus berlalu tanpa henti. Sepuluh hari... dua puluh hari... tiga puluh hari.

​Tepat pada hari ketiga puluh, pusaran emas raksasa di atas kepala Lin Tian perlahan menyusut dan menghilang. Badai spiritual di sekitarnya mereda.

​Lin Tian perlahan membuka kedua matanya. Sebuah pedang cahaya perak berkelebat di dalam pupil hitamnya, begitu tajam hingga membelah udara di depannya dengan suara sring.

​Ia berdiri dari batu raksasa tempatnya bermeditasi. Saat ia berdiri, ribuan pedang kuno dalam radius satu mil yang sebelumnya tertancap di tanah tiba-tiba hancur menjadi abu yang tersapu angin. Semua esensi spiritual di dalamnya telah dihisap kering.

​Lin Tian mengepalkan tangannya. Kekuatan yang mengalir di pembuluh darahnya terasa sanggup untuk meruntuhkan gunung.

​"Puncak Tahap 8 Pengumpulan Qi," gumam Lin Tian puas.

​Ia sengaja menekan agar tidak menerobos ke Tahap 9. Kapasitas fisiknya telah mencapai titik jenuh. Jika ia memaksakan diri, fondasinya akan menjadi tidak stabil. Namun, dengan Qi murni absolut tanpa setitik pun ampas Erysipelas, dipadukan dengan Langkah Badai Astral, Teknik Pedang Badai Api, dan Benih Niat Pedang Kehancuran, Tahap 8 miliknya jauh lebih menakutkan daripada Tahap 9 mana pun di Sekte Awan Azure.

​Tiba-tiba, Plakat Hitam di saku jubahnya bergetar dan memanas.

​"Waktunya sudah habis," Lin Tian menatap langit kelabu di makam pedang itu. "Satu bulan telah berlalu. Hidangan utamanya sudah menungguku."

​Ia mengalirkan Qi-nya ke dalam plakat. Ruang di depannya kembali terdistorsi, menelannya, dan membawanya keluar dari Makam Kaisar Kuno.

​Di luar dimensi, tepatnya di Puncak Awan Surgawi, Sekte Dalam.

​Suasana di sekitar Panggung Hidup dan Mati hari ini sangat padat. Ribuan murid dalam berkumpul, bahkan beberapa tetua tingkat menengah tampak mengamati dari kejauhan. Bukan karena pertarungan ini dianggap seimbang, melainkan karena ini adalah eksekusi publik.

​Di tengah panggung pualam putih yang ternoda oleh bercak darah kering dari duel-duel masa lalu, Wang Jian berdiri dengan mata terpejam. Jubah putihnya berkibar ditiup angin sepoi-sepoi. Auranya begitu tenang, namun menyembunyikan kebuasan seekor naga yang siap menerkam. Di sebelahnya, menancap sebilah pedang panjang berwarna biru es yang terus memancarkan kabut dingin.

​Matahari telah berada di puncak. Tengah hari. Batas waktu duel.

​Han Lin, yang berdiri di pinggir panggung, tertawa meremehkan. "Lihatlah, waktu sudah hampir habis! Anjing cacat dari Sekte Luar itu pasti sudah melarikan diri dari sekte semalaman. Kakak Senior Wang, dia bahkan tidak berani menampakkan wajahnya!"

​Murid-murid di bawah panggung mulai berbisik-bisik, sebagian besar setuju dengan Han Lin.

​"Tentu saja dia lari. Melawan Kakak Senior Wang di Tahap 9 Puncak sama saja dengan bunuh diri."

"Kudengar faksi Wang sudah menyebar penjaga di setiap gerbang sekte. Bahkan jika anak itu kabur, dia akan ditangkap dan dibawa ke sini dalam keadaan tak bernyawa."

​Seorang Tetua Penjaga Hukum yang bertindak sebagai wasit melayang ke atas panggung. Wajahnya datar tanpa emosi. Ia menatap jam pasir raksasa di pinggir arena yang butiran pasir terakhirnya akan segera jatuh.

​"Waktu hampir habis," suara tetua itu bergema ke seluruh arena menggunakan Qi. "Jika Lin Tian tidak muncul pada saat pasir terakhir jatuh, dia akan dianggap melanggar sumpah Panggung Hidup dan Mati. Kultivasinya akan dilumpuhkan oleh sekte, dan nyawanya akan diserahkan kepada faksi Wang."

​Wang Jian membuka matanya, senyum kejam terukir di bibirnya. "Sayang sekali. Aku berniat mematahkan tulang rusuknya satu per satu di hadapan kalian semua."

​Butiran pasir terakhir jatuh.

​"Waktu habis! Dengan ini aku menyatakan Lin Tian—"

​SWOSH!

​Belum sempat Tetua Penjaga Hukum menyelesaikan kalimatnya, sebuah suara ledakan udara (sonic boom) yang mengerikan terdengar dari langit arah barat—dari arah Tebing Pemecah Hukuman!

​Semua orang, termasuk para tetua, mendongak ke udara.

​Sesosok tubuh berjubah abu-abu melesat dari langit layaknya meteor. Ia tidak mengendarai burung bangau atau pedang terbang. Ia melangkah di udara kosong! Setiap kali ujung kakinya menekan kekosongan, udara meledak membentuk pusaran angin astral, mendorong tubuhnya ke depan dengan kecepatan kilat.

​BUM!

​Sosok itu mendarat tepat di seberang Wang Jian. Dampak pendaratannya begitu keras hingga Panggung Hidup dan Mati yang terbuat dari Pualam Inti Bumi itu retak memanjang layaknya sarang laba-laba. Gelombang debu menyapu arena, memaksa murid-murid di barisan depan untuk mengangkat tangan menutupi wajah mereka.

​Debu perlahan memudar, memperlihatkan pemuda dengan rambut hitam yang berkibar dan sepasang mata sedingin jurang maut.

​Keheningan mutlak menyelimuti arena. Han Lin yang tadinya tertawa kini mulutnya menganga lebar seperti ikan tercekik.

​Wang Jian menatap sosok di depannya, senyumnya menghilang seketika. Matanya menyusut saat merasakan fluktuasi aura yang dipancarkan pemuda itu.

​"Tahap... Tahap 8 Puncak?!" Tetua Penjaga Hukum berseru tanpa sadar, melupakan wibawanya.

​"Kau salah dengar jamnya, Tetua," suara Lin Tian datar namun terdengar jelas di telinga semua orang, matanya terkunci pada Wang Jian. "Aku tidak pernah berniat lari. Aku hanya butuh sedikit waktu untuk memastikan pedangku cukup tajam untuk menyembelih anjing Sekte Dalam."

1
aldo
dan jangan lupa up nya ya thor semangat terus ya 🙏🙏🙏🙏🙏
aldo
lanjut thor seru sekali 🙏🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!