Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.
Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.
Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
You Still Feel Guilty, Don't You?
Kabut turun tebal saat mobil Damien memasuki area resort. Lampu-lampu kecil di sepanjang jalan setapak menyala samar di antara deretan pohon pinus yang basah oleh hujan. Tempat itu terlalu sunyi untuk ukuran resort mewah. Tidak ada suara kendaraan lain, tidak ada keramaian, hanya udara dingin pegunungan dan bunyi rintik air yang menghantam atap kaca lobby.
Serena baru saja membuka pintu mobil ketika Damien langsung menyampirkan coat hitamnya ke bahu perempuan itu.
“Kau akan kedinginan.” Nada suaranya rendah. Familier. Seolah tidak pernah ada hal buruk di antara mereka. Dan Serena membenci bagaimana hal sederhana seperti itu masih mampu membuat dadanya terasa hangat.
Damien menggenggam pinggang Serena saat mereka memasuki lobby resort. Jemarinya tenang di sana, seolah sentuhan itu sudah menjadi kebiasaan yang tidak perlu dipikirkan lagi. Staff resort langsung membungkuk sopan begitu mengenali Damien Knox, namun pria itu bahkan tidak benar-benar melihat mereka. Tatapannya terus kembali pada Serena.
Sejak bunga-bunga itu datang, Damien menjadi lebih dekat dari biasanya. Lebih sering menyentuh. Lebih sering memperhatikan. Seolah ketakutan Serena otomatis membangunkan sesuatu yang lebih posesif dalam dirinya.
Suite mereka berada di lantai paling atas. Begitu pintu terbuka, hawa hangat langsung menyambut mereka. Ruangan itu didominasi kayu gelap dan cahaya keemasan dari fireplace besar di tengah ruangan. Dinding kaca tinggi memperlihatkan hutan pinus yang nyaris tertelan kabut malam.
Damien melepaskan coat Serena perlahan lalu menggantungnya sendiri sebelum berjalan menuju mini bar.
“Kau mau wine?”
Serena menggeleng kecil.
Damien meliriknya sebentar. “Kau masih tegang.”
“Aku merasa aneh.”
Pria itu menuangkan wine ke gelasnya sendiri sebelum berjalan mendekat. “Karena bunga itu?”
Serena diam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk. Damien berdiri sangat dekat sekarang. Terlalu dekat. Serena bisa mencium aroma parfum pria itu bercampur dinginnya hujan.
“Kau aman bersamaku.” Kalimat itu terdengar sederhana. Namun justru itu masalahnya. Damien selalu tahu cara mengatakan sesuatu dengan nada yang membuat Serena ingin percaya.
Padahal laki-laki yang sama juga pernah membuatnya gemetar ketakutan di kamar sendiri.
Damien mengangkat dagu Serena perlahan. “Jangan berpikir terlalu jauh.”
“Dia tahu terlalu banyak, Damien.”
Tatapan Damien berubah sedikit lebih gelap.
“Aku akan mencarinya.”
Dan cara pria itu mengatakannya terdengar sangat serius. Tidak emosional. Tidak meledak-ledak. Seolah Damien memang terbiasa menghilangkan masalah dari hidupnya.
Serena menatap wajah pria di depannya cukup lama. Damien terlihat tampan malam ini. Rambut hitamnya sedikit berantakan karena hujan, rahangnya tegas, matanya gelap dan lelah.
Sepuluh tahun mencintai pria ini membuat Serena hafal satu hal, yaitu Damien paling berbahaya saat ia terlihat tenang.
“Apa?” gumam Damien pelan.
“Kau terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.”
“Aku memang sedang memikirkan sesuatu.”
“Apa?”
Damien tidak langsung menjawab. Pria itu justru membelai pipi Serena perlahan dengan ibu jarinya. Lembut sekali sampai Serena hampir lupa seberapa manipulatif laki-laki ini sebenarnya.
“Aku memikirkan betapa mudahnya kau kembali padaku.”
Napas Serena langsung tertahan. Tatapan Damien turun perlahan ke bibir perempuan itu sebelum kembali naik ke matanya.
“Kau takut padaku,” lanjutnya rendah. “Namun begitu ada orang lain yang membuatmu takut, kau tetap meneleponku duluan.” Kalimat itu terasa seperti tangan tak terlihat yang perlahan melilit leher Serena.
Karena Damien benar. Dan yang paling Serena benci, fakta bahwa pria itu sadar sepenuhnya akan hal itu.
“Aku tidak punya siapa-siapa lagi,” bisik Serena lirih.
Tatapan Damien langsung berubah samar. Ada sesuatu yang nyaris terlihat lembut di sana. Namun hanya sepersekian detik sebelum berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap. “Itu bukan hal buruk.”
Jantung Serena langsung berdetak sedikit lebih cepat ketika Damien mendekat lagi sampai tubuh mereka hampir tanpa jarak. Jemarinya menyusup ke rambut Serena pelan sebelum pria itu menunduk dan mencium perempuan itu perlahan.
Tidak kasar.
Tidak terburu-buru.
Ciuman Damien selalu seperti ini saat ia sedang ingin mengendalikan Serena, yaitu pelan, sabar dan membuat perempuan itu lupa kapan tepatnya dirinya mulai menyerah. Dan Serena membenci fakta bahwa tubuhnya masih mengenali semua itu.
Cara Damien menyentuh pinggangnya. Cara pria itu menarik napas pelan di dekat bibirnya. Cara jemarinya membelai tengkuk Serena seolah perempuan itu sesuatu yang sangat rapuh.
“Aku merindukanmu,” bisik Damien rendah. Kalimat itu membuat dada Serena terasa sesak.
Karena Damien terdengar tulus. Dan justru itu yang membuatnya berbahaya.
Pria itu menarik Serena duduk di sofa depan fireplace, lalu memeluk perempuan itu dari belakang dengan dagunya di atas pundak Serena. Suara kayu terbakar memenuhi ruangan, bercampur hujan dan kabut di luar jendela.
Hangat.
Seolah dunia mereka hanya tinggal ruangan ini.
“Aku kadang berpikir,” gumam Damien pelan di telinga Serena, “kalau aku tidak pernah bertemu denganmu waktu itu... hidupmu mungkin lebih baik.”
Serena tersenyum kecil tanpa humor. “Dan hidupmu?”
Damien diam. Cukup lama sampai Serena menoleh sedikit. Tatapan pria itu terlihat jauh sekarang. Rumit dengan cara yang tidak sering Damien tunjukkan. “Aku tidak tahu.”
Jemari Damien mulai memainkan ujung lengan sweater Serena perlahan.
“Kau tahu kenapa aku tidak pernah bisa menikahimu?” Pertanyaan itu langsung membuat tubuh Serena menegang kecil. Karena selama sepuluh tahun bersama, Damien selalu menghindari topik itu. Selalu.
Dan malam ini, pria itu justru membukanya sendiri.
“Aku pikir aku bisa melupakan dia,” lanjut Damien pelan. “Aku pikir kalau aku cukup lama bersamamu, semuanya akan hilang dengan sendirinya.”
Dada Serena mulai terasa tidak nyaman. Perempuan itu sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini. Tetap saja rasanya menyakitkan.
“Siapa perempuan itu?” bisiknya pelan.
Damien menatap api di depan mereka beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum.
“Calon istri Julian Hayes.”
Dan dunia Serena langsung terasa sunyi. Damien akhirnya menoleh menatap Serena sekarang. Tatapannya terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menghancurkan hati orang lain.
“Aneh ya?” gumam pria itu pelan. “Laki-laki yang kau tinggalkan demi aku, sekarang akan menikahi perempuan yang tidak pernah bisa aku miliki.”
Napas Serena tercekat. Namun Damien justru memeluk perempuan itu lebih erat, seolah dirinya tidak sedang menusukkan pisau pelan-pelan ke jantung Serena.
“Aku ingin melupakannya,” bisiknya rendah di sela rambut Serena. “Sungguh.”
Jemari Serena perlahan mengepal di atas pahanya sendiri. Dan Damien langsung menyadarinya. Tentu saja. Pria itu selalu sadar segalanya tentang Serena.
“Kau masih merasa bersalah pada Julian, kan?”
Serena memejamkan mata pelan. Damien tersenyum kecil. Bukan senyum bahagia, melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan celah untuk masuk lebih dalam.
“Lihat?” bisiknya lembut sekali. “Kita berdua sama-sama kehilangan sesuatu.”
...----------------...
...To be continue...