NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Cacat

Menikahi Pria Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Vanesa Dintiani

Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.

Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.

Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

02. Pesta telah usai

Suasana kamar presidential suite itu seharusnya terasa romantis. Aroma mawar mahal dan lilin aromatik memenuhi ruangan, namun udara di dalamnya terasa lebih dingin.

Pesta telah usai sekitar 15 menit yang lalu. Laura terdiam di dalam kamar hotel yang terlihat mewah ini. Ia sendiri, terduduk diam di samping ranjang yang di taburi banyak kelopak mawar mewah yang segar.

Pandangan matanya menatap hamparan kota malam yang masih terlihat ramai oleh kendaraan yang berlalu-lalang. Di sini, ia sendiri. Suaminya, Gaharu, memilih memesan kamar lain tepat di samping kamar yang sedang ia tempati.

Ada sedikit rasa sedih. Tapi tidak terlalu ia pikirkan.

Jemarinya mengelus cincin berlian yang berkedip pelan di terpa cahaya lampu gantung kamar hotel. Terlihat sangat mahal dan mewah.

Impiannya dulu adalah menikah dengan pria yang ia cintai, menggelar pernikahan secara intimate, liburan keliling berbagai negara dengan suaminya, lalu memiliki putra putri yang lucu dan tinggal di pedesaan yang asri, itu adalah impiannya dulu. Namun sepertinya hal itu tidak akan terjadi kini.

“Seharusnya aku lebih berani untuk menolak,” gumamnya.

Tanpa tenaga untuk melepas gaun pernikahannya, Laura jatuh tertelungkup di atas ranjang king size. Tubuhnya yang letih terbaring di atas hamparan ribuan kelopak bunga mawar merah yang awalnya ditata membentuk simbol cinta—sebuah ironi yang kini hancur berantakan di bawah beban tubuhnya.

Napasnya teratur namun berat, sesekali bahunya naik turun dalam ritme yang lambat. Rambutnya yang ditata rapi kini terurai acak di atas hamparan merah kelopak bunga mawar.

Obsidian yang awalnya masih menampakkan sedikit kehidupan, sedikit demi sedikit mulai terpejam. Laura, gadis itu mulai menyelami alam mimpi, melarikan diri dari kenyataan bahwa di kamar semewah ini, ia hanya seorang diri.

***

Pagi datang terasa lebih cepat. Sorotan cahaya matahari pagi membuat kedua kelopak mata itu bergerak pelan.

Laura membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah udara dingin dari pendingin ruangan. Kulitnya terasa sejuk, namun anehnya, ia tidak beraksi akan hal itu.

Ia bangkit dari tidurnya. Menatap kembali sekitar ruangan masih masih sama seperti malam tadi. Tak lama, suara pintu yang terbuka membuat atensinya teralihkan.

Klek!

Di ambang pintu kamar hotel, seorang pria dengan setelan jas abu-abu gelap yang kaku berdiri di sana. Ia adalah Juan, sekertaris sekaligus asisten pribadi kepercayaan suaminya. Di belakangnya, ada dua pelayan perempuan yang membawakan sarapan juga dua buah paper bag yang tidak ia tahu apa isinya.

“Selamat pagi, Nyonya Laura. Saya harap istirahat Anda tidak terganggu.”

“Ya, selamat pagi.” Balasnya dengan suara serak khas bangun tidur.

Juan menunduk sopan, ia melangkah masuk, tidak terlalu jauh, cukup untuk membuat keduanya saling melempar obrolan singkat. Pria itu juga memerintahkan untuk kedua pelayan tadi masuk.

Kedua pelayan itu bergerak dengan langkah yang hampir tak terdengar di atas karpet tebal, meletakkan nampan perak berisi sarapan dan paper bag bermerek ternama di atas meja bundar dekat jendela.

“Tuan Gaharu memerintahkan saya untuk melayani Anda sementara saat beliau pergi. Ada sedikit kendala di perusahaan cabang X, jadi beliau pergi untuk menyelesaikannya.”

Juan tampak mengotak-atik tab yang selalu sekertaris itu bawa kemana-mana.

“Siang ini sesuai yang di perintahkan, Anda akan di pindahkan ke penthouse pribadi milik Tuan Gaharu. Barang-barang pribadi Anda sudah di pindahkan, jika ada yang tertinggal, Anda bisa memberitahukannya kepada saya.”

“Saya juga sudah pesankan sarapan dan baju ganti untuk Anda. Jika merasa tidak cocok dengan sarapannya, Anda bisa mengatakannya.”

Laura menatap nampan perak itu dalam diam. Dengan gerakan pelan ia mulai menyendokkan hidangan pagi itu.

“Ini sudah cukup,” katanya dengan pelan namun cukup jelas di telinga Juan.

Sekretaris Juan mengangguk pelan, mengkode kedua pelayan itu untuk keluar dari dalam kamar.

“Jika begitu saya pamit. Jika Anda membutuhkan sesuatu, saya berada di depan kamar Anda.”

Laura tidak merespon, ia fokus dengan sarapan paginya. Sedangkan sekretaris itu menunduk sopan lalu berbalik pergi meninggalkan kamar tersebut, menutup pintunya amat perlahan seakan takut menganggu ketenangan Laura.

Siangnya sesuai yang di katakan, Laura benar di pindahkan. Kini ia sedang berada di dalam mobil, duduk diam. Pandangannya terfokus pada luar jendela yang menampilkan setiap jalanan yang mobil itu lewati.

Di depan sana, sekertaris Juan sedang mengotak-atik sebuah benda. Ia membalikan badannya lalu menyodorkan benda tersebut kepada Laura.

Laura menatap Juan dengan kerutan bingung. Handphone baru? Untuk apa?

“Aku sudah memiliki handphone. Aku rasa—”

“Ini perintah Tuan Gaharu. Ini memudahkan saya agar dapat dengan mudah melacak keberadaan Anda.”

“Apa?” Laura menatap sekretaris Juan terkejut.

“Hanya antisipasi. Tuan Gaharu sangat benci kekacauan, ini untuk jaga-jaga. Lagipula handphone Anda yang lama sudah saya sita.”

Kalimat terakhir yang terlontar dari bibir sekertaris itu sukses membuat Laura kembali terkejut.

“Itu barang pribadiku, kamu benar-benar tidak sopan!”

“Saya hanya menjalankan tugas, Nyonya. Jika Anda ingin protes, Anda bisa melakukannya langsung kepada Tuan Gaharu. Saya hanya mengikuti prosedur.”

Setelah mengatakan itu, Juan menyimpan handphone tersebut tepat di samping tubuh Laura. Sebelum ia membalikkan badannya, ia sempat melirik sekilas Nyonya barunya, lalu ia kembali fokus pada tab di tangannya.

Laura hanya menatap handphone itu dengan pandangan datar. Ia mengalihkan pandangannya kembali pada jalanan kota, meratapi nasibnya kembali.

Benda persegi miliknya dulu menyimpan banyak sekali memori yang tidak dapat ia ulang kembali. Dan dengan gampangnya pria kaya yang sialnya adalah suaminya itu, menyita barang tersebut.

Ia memiliki banyak foto kebersaman dirinya dengan mendiang ibunya dulu. Hanya itu yang ia miliki untuk mengenang kepergian ibunya. Ia tidak memiliki barang lain selain foto digital itu. Lalu, apa yang harus ia lakukan sekarang? Memohon di kaki si pria kaya itu untuk meminta handphone lamanya kembali?

Kenapa ia tidak memiliki kendali untuk kehidupannya?

.

.

Laura keluar dari mobil mewah itu. Pandangannya menatap ke depan, di depan sana menjulang tinggi sebuah penthouse megah, arsitekturnya modern dan memukau, namun di mata Laura, bangunan itu tampak seperti sangkar emas yang menawannya—penuh aturan.

Karena saat ia masuk dan menginjakkan kaki di dalam sana, maka kehidupannya tidak akan sama lagi.

Di depan pintu besar penthouse berjajar beberapa pelayan. Salah-satu dari mereka menyapanya.

“Selamat datang, Nyonya. Saya Kim, kepala pelayan rumah ini.” Pelayan Kim menunduk sopan. “Kamar Anda sudah di siapkan, mari saya antar.”

Pelayan Kim berjalan terlebih dahulu di ikuti Laura di belakangnya. Matanya tidak berhenti memperhatikan setiap sudut ruangan megah di dalam penthouse ini. Matanya terpaku pada sebuah lift yang berada di dalam ruangan ini.

'Pria itu benar-benar kaya.'

Sampai pada sebuah pintu, Laura memberhentikan langkahnya. Pelayan Kim membuka kamar tersebut. Laura kembali memperhatikan setiap susunan barang yang berada di dalam kamar barunya. Tidak terlalu banyak barang, namun terlihat rapi dan modern.

“Jika Anda tidak suka dengan interiornya, Anda bisa mengatakannya.”

“Tidak, ini sudah cukup.”

Pelayan Kim tersenyum sopan. “Untuk kedepannya, sebelum Anda memiliki asisten pribadi—”

“Apa?” potong Laura menatap pelayanan Kim terkejut.

Pelayan Kim kembali tersenyum sopan, sedikit terhibur dengan respon yang di berikan Nyonya barunya.

“Ya, Tuan Guntara meminta saya untuk mencarikan asisten pribadi untuk Anda. Seperti Tuan Gaharu yang memiliki sekertaris Juan, Anda juga akan memiliki nanti.”

“A—apa? Tapi aku rasa aku tidak memerlukannya, aku bisa sendiri.”

“Maafkan saya, Nyonya. Saya hanya menjalankan tugas. Saya mengikuti prosedur yang di berikan Tuan Gaharu.”

'Lagi-lagi prosedur. Laki-laki kaya ini benar-benar sinting!'

“Perjalanan Anda cukup lama, Anda bisa istirahat terlebih dahulu. Makan siang akan di antarkan 1 jam lagi. Setelah itu saya akan mengajak Anda untuk berkeliling.”

“Apa itu juga prosedur?”

Pelayan Kim mengangguk, “penthouse ini cukup luas. Anda perlu mengetahuinya agar tidak tersesat.” Jelasnya dengan senyum sopan.

Laura hanya dapat menghela nafas pelan. Benar-benar benci dengan kata 'prosedur' yang selalu terucap.

.

.

Jauh di kota sebelah, Gaharu sibuk dengan pekerjaannya. Atmosfir di perusahaan ini cukup terasa dingin saat kedatangan pemilik perusahaan. Kesalahan kecil dapat menjadi besar jika Gaharu mengetahuinya. Hidupnya terlalu sempurna, ia tidak suka kegagalan dan kesalahan.

Getaran ringan pada ponselnya membuat atensinya teralihkan.

“Ya?”

“Nyonya Laura sudah di pindahkan, Tuan. Sesuai prosedur yang Anda berikan.”

“Lalu?”

“Nyonya Laura juga sudah menempati kamarnya. Sore nanti pelayan Kim akan mengajaknya berkeliling.”

“Tidak ada masalah?”

“Nyonya cukup patuh, Tuan. Hanya saja tadi Nyonya sedikit protes tentang handphone baru dan keputusan tentang calon asisten yang akan di tugaskan.”

“Marah?”

“Tidak, hanya protesan kecil.”

“Biarkan saja, lagipula dia tidak akan dapat melakukan apapun.”

Setelah mengatakan itu, Gaharu mematikan sambungan teleponnya. Ia sempat terdiam, lalu mengambil sebuah benda persegi yang ia sita dari istrinya. Ah.. bolehkah ia memanggilnya istri?

Tanpa tahu malu, ia membuka handphone tersebut. Menggulir setiap aplikasi satu ke aplikasi lainnya. Jarinya berhenti pada aplikasi bernama 'galeri', tanpa ragu ia menekankannya.

Sudut bibirnya sedikit berkedut, merasa senang karena mendapatkan jawaban atas protesan yang di katakan sekretarisnya.

***

Halo, jangan lupa berikan dunungan untuk author, ya? Dukungan kalian sangat berharga bagi saya.

Terimakasih.

Rabu, 18 Maret 2026

Published : Senin, 23 Maret 2026

1
aku
tembok batu makax klo gmg kaku 🙄 untung ada 5 antek, jd lau gk kesepian 😁
Wawan
Hadir
Bagus Effendik
hai kak semangat ya seru ceritanya mampir juga punyaku yuk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!