NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Dijodohkan Dengan Presdir Arogan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Karina Dyah Pramesti, it-girl global sekaligus putri kandung Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, harus menelan pahitnya kehancuran karier di Korea Selatan akibat skandal politik yang menjebaknya.
-
Dipulangkan paksa ke tanah air, Karina tidak punya pilihan selain tunduk pada misi terakhir ayahnya: Pernikahan Politik.
Demi menyatukan kekuatan militer dan supremasi ekonomi, Karina dijodohkan dengan Darma Mangkuluhur, pewaris klan Cendana yang dingin dan ambisius. Di tengah kemewahan yang menyesakkan dan intrik kekuasaan antara dua keluarga raksasa, Karina harus memutuskan—menjadi bidak catur yang pasrah, atau bangkit menjadi penguasa baru untuk membalas dendam pada mereka yang telah menghancurkan impiannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6

***

Malam itu, pusat Jakarta mendadak hening dari suara klakson kendaraan. Kawasan jantung kota, yang biasanya dipadati hiruk-pikuk kaum urban, telah berubah menjadi zona eksklusif yang dijaga oleh barikade baret merah dan satuan pengamanan khusus. Jantung ekonomi Indonesia seolah berhenti berdetak sejenak hanya untuk memberi ruang bagi sebuah perayaan yang akan tercatat dalam sejarah sebagai "Pernikahan Abad Ini".

Konsep resepsi ini adalah perpaduan antara kemegahan alam dan kemewahan Old Money. Area taman luas di salah satu hotel bersejarah disulap menjadi hutan magis, terinspirasi dari suasana Twilight Saga, namun dengan sentuhan lokal yang jauh lebih mahal. Ribuan anggrek bulan langka dan melati ronce menjuntai dari dahan-pohon beringin tua yang sengaja dibawa menggunakan alat berat.

Kabut tipis buatan mengalir di atas jalan setapak dari marmer putih, menciptakan ilusi bahwa para tamu sedang melangkah masuk ke dunia lain.

Karina Dyah Pramesti, kini berbalut gaun lace putih rancangan desainer ternama Paris yang disesuaikan dengan aksen batik prada emas pada bagian ekornya. Di atas kepalanya melingkar tiara berlian warisan keluarga Yani—sebuah simbol bahwa ia bukan sekadar pengantin, melainkan pemegang estafet sejarah.

"Berapa berat tiara itu?" bisik Darma yang berdiri di sampingnya. Pria itu tampak sangat berwibawa dengan setelan tuxedo hitam yang dijahit khusus di London.

"Cukup berat untuk mengingatkanku bahwa hidupku tak lagi ringan," jawab Karina tanpa merubah ekspresi senyum manisnya ke arah kamera media internasional yang meliput dari jarak aman.

Darma mempererat pelukannya di pinggang Karina. "Biasakanlah. Karena mulai besok, beratnya akan bertambah saat dunia mulai menuntut perananmu sebagai Nyonya Hutomo."

**

Seiring malam semakin larut, suasana semakin memanas. Aroma parfum mahal bercampur dengan aroma "kekuasaan" yang kental. Satu per satu, pejabat tinggi, jenderal bintang empat, hingga konglomerat pemilik gurita bisnis di Indonesia mulai mengantre panjang hanya untuk sekadar bersalaman dengan kedua mempelai.

"Selamat, Pak Tommy. Luar biasa, pernikahan yang sangat... strategis," ucap seorang pengusaha properti terkemuka sambil membungkuk rendah saat menyalami ayah Darma.

Pak Tommy hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang hanya dimiliki oleh mereka yang tahu bahwa mereka baru saja memenangkan permainan besar. "Terima kasih, Pak Surya. Semoga kerja sama kita di IKN nanti bisa selancar pernikahan anak saya ini."

Di pelaminan, Karina menyaksikan pemandangan yang memuakkan sekaligus menarik. Orang-orang yang dulu mungkin meremehkan ayahnya karena hanya seorang militer, kini tampak sujud syukur hanya untuk mendapatkan anggukan kepala dari sang Jenderal.

Tiba-tiba, mata Darma menyipit. Ia melihat seorang pria paruh baya berkebangsaan Korea yang tampak gelisah di antrean. Pria itu terus mengelap keringat di dahinya dengan sapu tangan, sementara tangannya menggenggam sebuah map kulit.

"Lihat pria botak di sudut sana?" bisik Darma tepat di telinga Karina. "Itu Mr. Park, CEO agensi lamamu. Pria yang menandatangani surat pemutusan kontrakmu sebulan yang lalu."

Genggaman Karina pada buket mawar putihnya mengeras. "Dia berani datang ke sini?"

"Tentu saja. Dia terbang sepuluh jam dari Seoul bukan untuk makan malam, Karin. Dia tahu bahwa sekarang, dengan satu telepon dari Pak Tommy atau papahmu, agensinya bisa dipersulit aksesnya untuk mengadakan konser atau bisnis apapun di Asia Tenggara," Darma terkekeh rendah, suara baritonnya terdengar seperti musik gelap bagi Karina.

"Lalu apa jawaban Papah saat dia memohon pertemuan pribadi tadi siang?" tanya Karina penasaran.

"Papahmu?" Darma melirik Jenderal Agus yang sedang berbincang dengan Presiden. "Beliau menyuruh ajudannya mengatakan bahwa jadwalnya penuh hingga dua tahun ke depan. Papahmu menyuruhnya menunggu di antrean paling belakang bersama para penjilat lainnya. Malam ini, kau bukan lagi pion yang bisa mereka buang, Karin. Malam ini, kau adalah Ratu di hutan ini. Dan dia? Dia hanyalah debu yang tersangkut di sepatu hak tinggimu."

Saat giliran Mr. Park tiba untuk bersalaman, suasana seolah membeku. Pria itu membungkuk hampir sembilan puluh derajat di depan Karina.

"Karina... maksud saya, Nyonya Darma. Selamat atas pernikahannya. Kami di Seoul sangat merindukanmu," ucapnya dalam bahasa Inggris dengan nada gemetar.

Karina menatapnya dengan pandangan dingin yang biasa ia gunakan saat berada di atas panggung—tatapan Ice Queen yang legendaris. "Merindukan saya, Mr. Park? Atau merindukan nilai saham yang terjun bebas setelah Anda membuang saya?"

Mr. Park tercekat. "Itu... itu hanya kesalahpahaman. Kami dipaksa oleh keadaan politik. Kami ingin membicarakan kontrak baru yang jauh lebih menguntungkan..."

Darma maju satu langkah, menutupi sebagian tubuh Karina secara protektif. "Kontrak baru? Mr. Park, istri saya tidak butuh kontrak dari perusahaan menengah seperti milik Anda. Jika kami mau, kami bisa membeli seluruh saham agensi Anda besok pagi hanya untuk menjadikannya gudang penyimpanan koleksi mobil saya."

Wajah Mr. Park memucat. Ia menoleh ke arah Jenderal Agus yang memberikan tatapan mematikan dari kejauhan. Para pejabat di sekitar mulai berbisik-bisik, menertawakan kehancuran pria yang dulu begitu sombong itu.

"Silakan nikmati makanannya, Mr. Park. Dan pastikan Anda mencicipi Wagyu-nya, karena mungkin itu terakhir kalinya Anda bisa makan semewah ini sebelum firma hukum keluarga kami mengirimkan surat gugatan pencemaran nama baik ke Seoul," tutup Darma dengan nada sangat sopan namun mematikan.

Mr. Park mundur dengan gemetar, ditarik oleh petugas keamanan secara halus agar tidak mengganggu antrean para menteri.

Musik berganti menjadi denting piano yang lembut. Inilah saatnya bagi First Dance. Darma menuntun Karina ke tengah lantai dansa yang dikelilingi kabut tipis dan pepohonan beringin. Ribuan lampu fairy light di atas mereka seolah menjadi saksi bisu.

Semua tamu diam, termasuk para menteri yang biasanya sibuk berbisik. Mereka menyaksikan bagaimana kekuatan militer dan ekonomi bersatu dalam gerak dansa yang sempurna.

"Tersenyumlah, Karin," bisik Darma sambil memutar tubuh Karina dengan anggun. "Lihat para penjilat itu di pinggir lantai dansa. Mereka sedang menghitung berapa triliun keuntungan yang bisa mereka dapatkan jika mereka berhasil menjabat tangan kita. Mari kita buat mereka merasa sangat kecil malam ini."

"Bapak benar-benar menikmati ini, ya?" Karina membalas, matanya menatap mata tajam Darma.

"Panggil aku Darma, atau Mas, Karina. Kita sudah sah secara hukum. Dan ya, aku menikmati setiap detik saat aku bisa menunjukkan pada dunia bahwa apa yang menjadi milikku, tidak boleh diganggu oleh siapapun."

Darma menarik Karina lebih dekat, tangan kokohnya melingkar di pinggang ramping itu. Untuk sesaat, Karina lupa bahwa ini adalah pernikahan politik. Wangi parfum Darma yang maskulin dan rasa aman yang diberikan pria itu mulai meruntuhkan dinding pertahanannya.

"Kamu melakukan ini untuk melindungiku, atau untuk memperkuat bisnismu?" tanya Karina lirih.

Darma terdiam sejenak, menatap mata Karina dalam-dalam. "Awalnya, mungkin bisnis. Tapi melihatmu berdiri dengan berani di depan Mr. Park tadi... aku rasa aku mulai menyukai 'investasi' ini lebih dari yang aku bayangkan."

Dansa berakhir dengan tepuk tangan meriah dari para pejabat dan pengusaha. Di sudut ruangan, Pak Tommy Soeharto dan Jenderal Agus bersulang dengan gelas kristal mereka. Sebuah kesepakatan besar baru saja dikunci, dan sebuah dinasti baru telah lahir.

Karina menyandarkan kepalanya sejenak di bahu Darma saat mereka berjalan kembali ke singgasana. Ia menyadari satu hal: di hutan magis Jakarta ini, ia memang telah kehilangan kebebasannya sebagai seorang idol, tapi ia telah mendapatkan pedang dan perisai yang paling kuat di negeri ini.

Drama sesungguhnya baru saja dimulai, dan kali ini, Karina bukan lagi korban. Ia adalah penulis skenarionya.

****

1
Tika maya Sari
min tolong update yg banyak 🤣🤣
Tika maya Sari
lanjut dong kak
Heresnanaa_: stay tune ya ka🙏😍
total 1 replies
Tika maya Sari
up lagi kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!