Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.
Nantikan Perjalanan Kedua nya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
POV: WAHYU
Wahyu tidak tidur nyenyak malam Sabtu itu.
Bukan karena ada translation yang harus diselesaikan—dokumen dari firma Sinar Keadilan baru akan mulai dia kerjakan Senin. Bukan karena ada ujian atau deadline yang menghantui. Bukan juga karena memikirkan sidang ayahnya yang jadwal berikutnya masih tiga minggu lagi.
Tapi karena satu hal yang jauh lebih tidak bisa dia kendalikan dari semua itu.
Percakapan di taman tadi sore.
Lebih tepatnya: ekspresi Riani ketika dia hampir mengatakan sesuatu tapi kemudian memilih diam.
Wahyu berbaring di kasurnya, menatap langit-langit kamar yang gelap. Di luar, suara jangkrik dan sesekali bunyi motor yang lewat mengisi keheningan malam.
Dia memutar ulang momen itu di kepalanya.
Riani membuka mulut. Ekspresinya berubah—ada sesuatu yang sekilas melintas di sana, sesuatu yang lebih dari sekadar pikiran biasa. Lalu dia menutup mulutnya dan berkata "nggak ada".
Wahyu tahu itu bukan "nggak ada".
Dia cukup terlatih mengobservasi orang—kebiasaan yang terbentuk dari bertahun-tahun waspada terhadap niat tersembunyi orang lain—untuk tahu bahwa Riani menyimpan sesuatu.
Tapi apa?
Wahyu memiringkan tubuh ke samping, memejamkan mata.
Dalam beberapa minggu terakhir, ada perubahan-perubahan kecil yang sudah dia catat—meskipun tidak secara eksplisit, lebih seperti data yang terakumulasi di bagian belakang kesadarannya dan sekarang memaksa untuk diproses.
Pertama: cara Riani menatapnya.
Bukan tatapan yang sama seperti awal-awal mereka berinteraksi—tatapan penasaran seseorang yang sedang mencoba memahami orang asing. Sekarang ada sesuatu yang berbeda di sana. Lebih hangat. Lebih... personal.
Kedua: gestur-gestur kecil.
Roti yang "kebetulan" lebih dari satu. Kopi yang "kebetulan" selalu ada satu ekstra di dekat mejanya saat mereka di perpustakaan. Cara Riani hafal plat nomor motornya tanpa berniat menghafalnya.
Ketiga: konsistensinya yang tidak pernah goyah.
Wahyu sudah menguji—meskipun dia tidak suka mengakuinya—ketahanan Riani berkali-kali. Mendiamkan. Menjawab dingin. Menolak ajakan. Dan Riani selalu ada lagi keesokan harinya, dengan energi yang sama, dengan kehadiran yang sama.
Orang tidak melakukan itu untuk seseorang yang hanya menarik perhatiannya secara kasual.
Wahyu membuka mata.
Menatap langit-langit lagi.
Ada kesimpulan yang mulai terbentuk di otaknya—kesimpulan yang, kalau benar, akan memerlukan respons. Dan Wahyu tidak tahu apakah dia siap untuk itu.
Karena satu hal adalah menyadari bahwa seseorang mungkin menyukaimu.
Hal lain yang jauh lebih rumit adalah mengakui apa yang kamu rasakan terhadap orang itu.
Wahyu menarik napas panjang.
Apa yang dia rasakan terhadap Riani?
Dia mulai memetakan dengan cara yang sudah terbiasa dia gunakan untuk hal-hal yang tidak bisa langsung dia mengerti—secara sistematis, satu per satu.
Fakta pertama: dia memikirkan Riani lebih sering dari yang dia perlu.
Fakta kedua: kehadiran Riani tidak lagi terasa seperti ancaman atau gangguan—melainkan seperti sesuatu yang dia, meskipun tidak mau mengakuinya, antisipasi.
Fakta ketiga: malam-malam ketika Riani mengirim pesan check-in sederhana, Wahyu tidur lebih cepat dan lebih nyenyak dari biasanya.
Fakta keempat: tadi sore, ketika Riani hampir mengatakan sesuatu lalu memilih diam, Wahyu merasa—
Dia menghentikan alur pikirnya.
Menutup mata lagi.
Ini berbahaya.
Bukan dalam artian Riani berbahaya. Tapi dalam artian bahwa Wahyu tidak tahu bagaimana mengelola ini. Dia tidak punya template untuk situasi seperti ini—terlalu lama hidupnya diisi dengan pertahanan dan isolasi sampai dia tidak tahu bagaimana rasanya... ini.
Apapun "ini".
Ponselnya bergetar di atas meja.
Wahyu meraihnya tanpa bangun.
Notifikasi WhatsApp dari Riani. Jam sebelas malam.
Riani: "Wahyu, aku tadi lupa bilang sesuatu di taman."
Wahyu duduk.
Menatap pesan itu.
Tiga titik muncul—Riani sedang mengetik lagi.
Riani: "Nilai ujianmu semester ini bagus banget. Aku harap kamu bangga sama diri sendiri. Sering-sering ya, istirahat lebih banyak, makan teratur. Bukan karena aku yang minta, tapi karena kamu deserve to take care of yourself."
Wahyu membaca pesan itu pelan-pelan.
Lalu membacanya lagi.
Satu bagian dari otaknya berkata: ini bukan yang ingin dia ucapkan tadi di taman.
Bagian lain berkata: biarkan. Jangan desak.
Dia mengetik balasan.
Wahyu: "Aku dengar."
Riani: "Bagus. Selamat malam, Wahyu."
Wahyu: "Selamat malam."
Wahyu meletakkan ponsel. Berbaring lagi.
Kali ini, matanya lebih berat dari sebelumnya.
Dan ketika tidur akhirnya datang, yang ada di pikirannya bukan sidang, bukan translation, bukan ujian.
Tapi suara Riani yang berkata: kamu deserve to take care of yourself.
Minggu paginya, Wahyu pergi lari.
Bukan karena jadwal—dia tidak punya jadwal olahraga yang teratur. Tapi karena dia butuh sesuatu untuk menggerakkan tubuh dan mengeluarkan energi yang tersisa dari malam yang terlalu banyak berpikir.
Dia lari menyusuri jalan di sekitar area kostnya—gang-gang kecil yang sudah dia hafal setiap belokannya, melewati warung-warung yang belum buka, melewati ibu-ibu yang menyapu halaman rumah, melewati bapak-bapak yang membaca koran sambil minum kopi di teras.
Pemandangan yang normal. Kehidupan yang normal.
Sesuatu yang lama tidak terasa normal di hidupnya.
Wahyu lari selama empat puluh menit, lalu berhenti di warung kopi kecil di ujung gang—satu-satunya warung yang sudah buka sepagi ini. Dia memesan segelas kopi hitam dan duduk di bangku kayu di depan warung.
Mendinginkan diri. Mengatur napas.
Pikirannya lebih jernih setelah lari.
Dia memikirkan situasinya dengan lebih tenang sekarang.
Ada beberapa skenario.
Skenario pertama: Riani memang menyukainya. Wahyu merespons dengan jujur—mengakui bahwa dia juga merasakan sesuatu yang belum sepenuhnya bisa dia identifikasi. Konsekuensinya adalah memasuki wilayah yang tidak pernah dia navigasi sebelumnya, dengan segala risiko yang datang bersamanya.
Skenario kedua: Riani memang menyukainya. Wahyu tidak merespons—menjaga jarak, kembali ke posisi aman. Konsekuensinya adalah mungkin menyakiti Riani, dan kehilangan sesuatu yang—Wahyu harus jujur dengan dirinya sendiri—sudah menjadi bagian penting dari kesehariannya.
Skenario ketiga: Wahyu salah membaca situasi. Riani hanya peduli sebagai teman, tidak lebih. Dalam skenario ini, apapun yang Wahyu lakukan tidak akan mengubah banyak hal.
Masalahnya: Wahyu tidak cukup yakin skenario mana yang benar.
Dan ketidakpastian itu adalah hal yang paling sulit dia toleransi.
Wahyu minum kopinya.
Dingin, keras, pahit—persis seperti yang dia butuhkan untuk menjernihkan kepala.
Satu hal yang dia tahu dengan pasti: dia tidak bisa terus menggantung situasi ini. Bukan karena dia tidak mampu—dia sudah bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian yang jauh lebih besar dari ini. Tapi karena tidak adil untuk Riani.
Riani yang sudah konsisten. Riani yang sudah sabar. Riani yang selalu ada.
Dia tidak berhak diperlakukan dengan gantung dan kabur.
Wahyu meletakkan gelas kopinya.
Untuk sekarang, dia belum tahu jawabannya.
Tapi dia akan jujur ketika waktunya tiba.
Itu yang bisa dia janjikan pada dirinya sendiri.
Senin sore, Wahyu bertemu Ardi di sekretariat BEM untuk membahas tawaran posisi koordinator program.
Ardi sudah menyiapkan deskripsi tugasnya—lebih terstruktur dari yang Wahyu bayangkan, dengan fleksibilitas delegasi yang cukup signifikan.
"Jadi?" Ardi menatap Wahyu setelah menjelaskan detail. "Gimana, Yu?"
Wahyu melihat dokumen itu sekali lagi. "Aku perlu satu hal yang jelas: kalau ada konflik antara jadwal BEM dan kuliah atau kerjaan, prioritas utama tetap akademik."
"Tentu. Itu nggak perlu ditanyain lagi."
"Dan delegasi benar-benar bisa dijalankan? Bukan cuma di atas kertas?"
"Wahyu, justru itu yang kita butuhkan. Sistem yang nggak bergantung pada satu orang. Lo yang paling bisa bikin sistem itu."
Wahyu diam beberapa detik.
Lalu mengangguk. "Oke. Aku terima."
Ardi tersenyum lebar. "Gue udah tau lo bakal bilang iya. Bagas, utang lo lima puluh ribu!"
Dari pojok ruangan, Bagas merintih. "Sial."
Wahyu menatap mereka berdua—dua orang yang rupanya bertaruh tentang keputusannya.
Dan untuk pertama kalinya, itu tidak terasa menyebalkan.
Terasa seperti... sesuatu yang biasa dilakukan teman.
Malam harinya, Wahyu membuka translation project pertama dari firma Sinar Keadilan.
Dua belas halaman kontrak distribusi internasional. Terminologi teknis, tapi dalam kemampuannya.
Dia mulai mengetik.
Tapi sepuluh menit kemudian, ponselnya bergetar.
Bukan WhatsApp. Email.
Dari Pak Hendra—pengacara ayahnya.
Subject: Update Perkembangan Kasus - Penting
Wahyu membuka dengan cepat.
Wahyu,
Saya ingin memberitahukan bahwa tadi siang Direktur Operasional Hendra Kusuma menghubungi kantor kami secara pribadi. Beliau menyatakan keinginan untuk memberikan kesaksian tambahan yang lebih lengkap dan jujur dalam sidang berikutnya.
Ini adalah perkembangan yang sangat signifikan. Saya tidak ingin terlalu berharap sebelum sidangnya terlaksana, tapi kondisi ini jauh lebih menjanjikan dari sebelumnya.
Sidang berikutnya dijadwalkan dua minggu lagi. Saya akan kontak Bapak Aditama besok.
Pak Hendra
Wahyu membaca email itu.
Satu kali.
Dua kali.
Lalu dia meletakkan ponsel di meja dengan sangat pelan, seperti takut kalau dia terlalu keras meletakkannya sesuatu akan pecah.
Hendra Kusuma menghubungi pengacara mereka secara sukarela.
Untuk bersaksi lebih jujur.
Wahyu menutup matanya.
Delapan tahun.
Delapan tahun menunggu momen seperti ini.
Dia tidak menangis—matanya kering, seluruh tubuhnya justru terasa sangat tenang, seperti laut sebelum pasang.
Tapi di dalam dadanya ada sesuatu yang bergerak.
Seperti sesuatu yang sudah sangat lama terkunci mulai, sangat pelan, membuka kuncinya sendiri.
Dia membuka mata.
Meraih ponsel.
Dan tanpa berpikir terlalu panjang—lebih instinktif dari apapun yang pernah dia lakukan dalam waktu lama—dia mengetik pesan ke Riani.
Wahyu: "Riani. Aku baru dapat email dari pengacara. Direktur yang jadi kunci kasus ayahku... dia mau bersaksi jujur di sidang berikutnya."
Send.
Balasan datang dalam dua puluh detik.
Riani: "Wahyu... ini serius?"
Wahyu: "Serius. Pak Hendra tidak akan kirim email kalau tidak penting."
Tiga titik. Lama. Lalu:
Riani: "Wahyu, ini kabar yang luar biasa. Aku nggak tahu harus bilang apa selain... aku sangat senang untuk kamu dan keluargamu."
Wahyu membaca itu.
Wahyu: "Kamu adalah orang pertama yang aku beritahu."
Hening beberapa detik.
Riani: "Aku... terima kasih sudah bilang ke aku."
Wahyu: "Kamu yang pertama ingin aku ceritakan."
Wahyu mengirim pesan itu sebelum bisa menahannya.
Dan setelah dikirim, dia tidak menyesalinya.
Karena itu benar.
Dari semua orang—ibu, paman, Ardi, siapa pun—Riani adalah yang pertama ingin dia beritahu.
Dan itu, lebih dari semua kalkulasi dan analisis yang sudah dia lakukan sejak Sabtu malam, mengatakan sesuatu yang sangat jelas.
Bersambung.....