Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lupa-lupa ingat : 35
'Nusantara, sepertinya aku pernah dengar, tapi kapan, dimana?’ batin Intan bertanya-tanya, mencoba mengingat disaat pikiran kacau, suasana hati sedang tidak baik-baik saja, berakhir dia menyerah.
“Setuju tak, Nak?” ayah Ikram menatap kedua putrinya secara bergantian lewat cermin mobil bagian tengah.
“Boleh, Yah,” jawab Biya lesu.
Intan mengangguk pelan, menghindari tatapan ayahnya. Hatinya masih sakit, merasa bersalah sebab dialah penyebab kesedihan ini.
‘Seandainya saja aku tak keras kepala, berhenti mencintai dia sedari lama, mungkin sekarang ceritanya berbeda. Ayah tidak harus merendahkan diri seperti tadi, mamak tak sedih, dan Biya tetap berhubungan baik dengan Rania serta Lanira,’ dirinya masih dirundung kesedihan.
Setelah menyalakan aplikasi rute menuju restoran berjarak tidak terlalu jauh dari hotel, ayah Ikram mengemudikan mobilnya.
“Kak, ponselmu bunyi.” Sabiya menepuk pelan paha kakaknya yang melamun sambil melihat keluar jendela mobil.
Intan mengambil handphone di dalam tas, lalu membaca cepat nama si pengirim pesan. Ekspresinya berubah masam, bukannya dibuka malah langsung dihapus tanpa dibaca. Dia memang tidak pernah menyimpan pesan dari nomor seseorang yang sering membuatnya kesal.
“Dari siapa, Kak?” Sabiya penasaran karena ponsel kakaknya dimasukan lagi ke dalam tas.
“Pemberitahuan harga tiket pesawat. Biasalah, promosi bulanan dari kartu nomor ponsel,” dustanya biasa saja.
“Oh ….” ucap Sabiya bernada.
***
“Kemana perginya Intan ku, ya? Empat pesan sudah terkirim, tapi tetap centang cahaya Ilahi, gak berubah biru. Apa lagi berduaan dengan tunangan jeleknya itu?” Anggara menggerutu, sedari dua jam lalu menunggu balasan, hasilnya mengecewakan.
Terlanjur kesal, dia menelepon seseorang yang biasanya bisa menaikkan imun tubuh.
“Malam, Nak. Ada apa Angga?”
“Suara papa sangat mencurigakan, seperti habis main _”
“Ini lagi menemani bundamu belanja, habis isi dompet papa jadinya,” selanya cepat sebelum si bungsu berulah.
“Oh … Pa, kira-kira harga pabrik besar bisa mencapai berapa miliar?” ia senyum-senyum sendiri, mulai membayangkan raut bingung papa Kafka.
“Kau mau beli pabrik apa? Punya siapa? Masya Allah, akhirnya putra papa membanggakan juga, tak cuma bisa buat naik darah,” suara papa Kafka terdengar riang.
“Bukan beli tapi jual ….” katanya sengaja tidak terselesaikan.
“Temanmu yang minta bantu jualkan pabriknya?”
“Bisa dibilang rekan kerja, nanti bagi hasil kami.”
“Pabriknya masih beroperasi atau sudah tutup, siapa tahu papa bisa bantu. Terus dimana letaknya?” nadanya bertambah antusias.
“Nggak jauh dari hunian kita, Pa. Namanya Pt Makmur Pangestu _”
“Apa?! Kok mirip nama pabrik kita?”
“Ya karena memang punya kita. Aku sudah bosan duduk di balik meja, membaca huruf macam Semut berbaris, belum lagi tak leluasa kemana-mana. Bukankah sebaiknya dijual saja, jadi sewaktu-waktu papa dan bunda liburan, tak payah diriku menggantikan _”
“ANGGARA PANGESTU! Sayang anakmu mau buat kita jadi gelandangan!”
Tawa Anggara memenuhi ruangan kerja di kantor pabrik yang buka 24 jam dengan 3 shift. Dia puas sekali mendengar papanya mengadu ke bundanya, lalu tanpa pamit mematikan sambungan ponsel.
“Ah … jadi kangen calon binik. Apa ku telepon saja ya? Janganlah, nanti malah jadi pengen ke kamar mandi,” ucapnya asal.
Anggara kembali membereskan sedikit lagi pekerjaan yang belum selesai.
***
“Mewah sangat ya, Kak? Aku pernah dengar tentang tempat ini, tapi belum sempat mau kesini.” Sabiya mengedarkan pandangannya, terkagum-kagum dengan bangunan restoran Nusantara yang mengusung rumah adat beberapa provinsi, ada juga ruangan tertutup lebih privasi.
“Selamat malam, ada yang bisa kami bantu, pak, bu?”
Intan membaca name tag wanita cantik berpakaian formal yang sepertinya memiliki jabatan penting – Iin.
“Kami butuh ruangan sedikit tertutup tapi nuansa alam, kira-kira ada tidak?” tanya ayah Ikram, dia ingat kalau temannya pernah mengatakan, jika di restoran ini banyak bangunan dengan konsep berbeda.
“Tentu ada, Pak. Silahkan ikuti karyawan kami.” Kedua telapak tangannya terbuka menunjuk seorang pelayan berpakaian batik dan celana bahan hitam.
Dalam hati Intan mengagumi bangunan terpisah-pisah tertata rapi, halaman hijau, taman bermain anak-anak, dan kolam ikan, air terjun buatan.
Sang pelayan membawa mereka ke gazebo yang dikelilingi kolam terdapat tumbuhan teratai.
“Intan, Sabiya, pesan saja apa yang kalian mau.” Bu Meutia mendorong buku menu di atas meja.
“Aku ngikut saja, Mak,” Intan masih dalam suasana hati belum bisa diajak berbicara banyak.
Sabiya yang memesan menu untuk semua. “Nasi liwet untuk empat orang, Nila bakar, Ayam bumbu rujak, tempe dan tahu goreng. Minumnya – teh tawar hangat, sama air putih.”
Sang pelayan mencatat cepat, lalu pamit undur diri.
“Intan, apa kau tak berminat berkuliah lagi, meraih gelar Magister Kebidanan?”
“Untuk saat ini tidak dulu, Yah. Keinginan ada, tapi mungkin tahun depan saja,” ucapnya pelan.
“Ayah, mamak … aku mau izin keluar dari grup keluarga, apa boleh?” dipandanginya wajah kedua orang kesayangannya.
“Kalau menurutmu hal tersebut bisa sedikit mengobati rasa kecewa, membuatmu nyaman, lakukan saja! Intan, kau lah dewasa, jangan terlalu sungkan selagi dirimu tak merugikan siapapun,” beritahu bu Meutia, dia setuju akan keputusan putrinya.
“Keluar saja! Nanti biar ayah yang bereskan bila banyak pertanyaan dari para sepupumu masih kuliah di luar negeri,” dia mendukung penuh keinginan putrinya.
Intan tersenyum manis sambil menyalakan ponsel, lalu mengklik tulisan keluar grup beranggotakan seluruh anggota keluarga besar, kemudian dia juga keluar dari grup khusus para sepupu.
‘Aku memilih diam, menarik diri bukan karena memendam benci, cuma ingin menenangkan hati serta mencari kedamaian.’
Media sosialnya juga dihapus permanen, sebab berteman dengan para orang yang sebelumnya sangat dekat, dan lagipula tidak ada apa-apa di sana, dia bukan wanita yang suka memposting foto maupun membagikan kehidupan pribadinya.
“Kalau dikira masih kurang, ganti nomor ponsel lagi saja, Kak. Jangan merasa tak enak. Antara kau dan dia serta lainnya sudah tidak lagi ada sesuatu mengganjal hati, telah terselesaikan semuanya,” Sabiya memberikan usul.
“Nanti kupikirkan lagi,” tanggap Intan.
Tidak berapa lama kemudian, pesanan mereka tiba, dan sudah terhidang diatas meja.
“Dari tampilan, aroma, sepertinya sangat lezat,” kata bu Meutia.
Mereka mulai mencicipi, makan dalam diam, tidak bersuara, tapi mata Intan berkaca-kaca, hatinya sedikit membaik melihat bagaimana sang ayah sangat memuliakan ibunya.
Ayah Ikram memisahkan duri dari daging ikan bakar, menuangkan teh hangat teruntuk istrinya.
Walaupun tidak selera makan, Intan tetap berusaha menelan suap demi suap agar ayah dan ibunya tidak lagi terlalu khawatir.
“Alhamdulillah. Makanan ini benar-benar lezat. Nanti kalau menjemput Gauzan dan Fayyadh, kita mampir kesini lagi bersama mereka ya, Sayang,” ia mengingat kedua putranya.
“Harus itu, Bang.” Bu Meutia mengangguk.
Tiba-tiba Intan menoleh kebelakang saat mengenali suara lembut sekaligus tegas, begitu melihat sosok yang dianggap pahlawan, langsung saja mau menyapa, tapi urung kala mendapati siapa disamping si wanita.
“Bukankah dia wanita yang dirangkul Anggara?”
“Intan, kau disini?”
.
.
Bersambung.
ya Ampun aku lupa wkwkwk.. yg doyan ngajak ribut emak nya Bg Haji bukan 2 bulan wkwkwk 😂😂
klo bersama si onoh, kamu hanya dijadiin tumbal Ntan
:-V
ku kira karena ditolak Biya wkwk 😂