Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CGS 21
Ia menelusuri rekaman CCTV dari hotel malam itu, memperlambat setiap frame, mencari sosok Ella atau siapa pun yang berjalan bersamanya. Ia tidak menemukan wajah secara utuh, tapi menemukan pola: cara berjalan, arah gerak, titik masuk yang tidak sesuai dengan daftar tamu.
Dan satu hal lagi, kehadiran seorang pria yang tidak tercatat sebagai staf, tapi bergerak seperti seseorang yang punya akses penuh. Sosok yang sama yang mendampingi Ella.
“Dia bukan tamu,” gumam Leo pelan pada dirinya sendiri. Berarti orang dalam. Atau lebih dari itu.
Leo memperluas pencarian, bukan ke nama Ella, tapi ke lingkaran di sekitarnya. Ia mulai menelusuri kembali koneksi Pak Tanto, membuka kembali data yang seharusnya sudah ditutup, mencari pola yang sebelumnya dianggap kebetulan. Dan di antara semua itu, satu garis tipis mulai terlihat, pertemuan-pertemuan eksklusif, lokasi-lokasi yang berulang, dan simbol yang familiar.
Lengkungan kecil. Seperti sepatu. Leo berhenti sejenak. Tangannya tanpa sadar menyentuh saku jasnya, memastikan benda kecil itu masih ada di sana. Kini ia tahu ini bukan aksesori. Ini kode. Dan wanita itu membawanya.
Di sisi lain, Ella juga tidak berhenti.
Ia semakin jarang terlihat keluar tanpa alasan jelas, semakin jarang terlibat percakapan yang tidak perlu, bahkan dengan orang-orang di rumah. Bu Vero mulai memperhatikannya lebih sering, Sisil beberapa kali mencoba memancing pembicaraan, tapi Ella selalu kembali ke peran yang sama tenang, datar, tidak memberi celah.
Namun di balik itu, malam-malamnya semakin padat.
“Lihat ini,” kata Niko suatu malam, menunjuk satu bagian data yang sebelumnya terlewat. “Transaksi ini muncul lagi.”
Ella mendekat. Tanggalnya baru. Nominalnya besar. Dan simbol di sampingnya sama. “Berarti mereka masih jalan,” gumam Ella.
“Dan lebih cepat dari yang kita kira,” tambah Tante Rosa.
Mereka mulai menyusun ulang pola terbaru. Jika sebelumnya pesta menjadi titik pertemuan, maka sekarang mereka mencari kelanjutannya. Tidak semua pertemuan dilakukan di tempat mewah. Beberapa justru berpindah ke lokasi yang lebih tersembunyi menjadi ruang privat, gedung perkantoran setelah jam kerja, bahkan fasilitas yang secara resmi tidak tercatat sebagai tempat pertemuan.
“Ini bukan satu kelompok,” kata Tante Rosa pelan. “Ini jaringan berlapis.”
Ella mengangguk, matanya tidak lepas dari layar. “Dan Ayah ada di salah satu lapisannya.”
Kalimat itu kini tidak lagi terasa asing. Tidak lagi ditolak. Tapi masih belum diterima sepenuhnya.
Tiba-tiba, ponsel Ella bergetar. Nomor tidak dikenal. Ella menatapnya beberapa detik sebelum mengangkat. “Halo?”
Tidak ada jawaban langsung. Hanya suara napas di ujung sana. Lalu klik. Sambungan terputus. Ella mengerutkan kening.
“Siapa?” tanya Tante Rosa.
Ella menggeleng pelan. “Nggak tahu.” Tapi perasaan tidak enak itu langsung muncul. Seolah ia baru saja diingatkan sesuatu. Beberapa menit kemudian, notifikasi lain masuk. Pesan singkat. Tanpa nama. Tanpa identitas. Hanya satu kalimat: “Berhenti sekarang. Atau kamu akan menyusul.”
Ruangan itu mendadak terasa lebih dingin. Niko langsung berdiri, mengambil ponsel itu dari tangan Ella, memeriksa nomor pengirim. “Nomor sekali pakai,” katanya singkat.
Tante Rosa tidak terlihat terkejut. Hanya lebih waspada. “Itu berarti mereka sudah sadar,” ujarnya.
Ella menatap layar ponselnya lagi. Kalimat itu masih di sana. Sederhana. Tapi jelas. Ini bukan lagi permainan diam-diam. Ini peringatan.
Di tempat lain, Leo juga menerima sesuatu malam itu. Bukan pesan ancaman, tapi hasil penelusuran yang baru saja masuk ke mejanya, rekaman tambahan dari pintu samping hotel, sudut yang sebelumnya terlewat. Ia memutar ulang, memperbesar, dan kali ini ia melihat lebih jelas. Sosok perempuan itu. Meski wajahnya tertutup sebagian ia tahu “Itu kamu,” gumamnya pelan. Dan sekarang, ia tidak hanya punya dugaan. Ia punya arah.
Di dua tempat yang berbeda, pada waktu yang hampir bersamaan keduanya sampai pada satu titik yang sama: mereka sudah terlihat. Dan sejak saat itu, perburuan itu berubah. Bukan lagi siapa menemukan siapa. Tapi siapa yang lebih dulu bertahan.
***
Siang itu kampus terlihat seperti biasa, ramai, hidup, penuh suara yang saling bertumpuk. Tapi bagi Ella, semua terasa seperti latar belakang yang samar. Ia duduk di salah satu bangku taman, buku terbuka di pangkuannya, tapi matanya tidak benar-benar membaca. Pikirannya masih terjebak pada pesan ancaman semalam dan pada satu orang yang kini menjadi risiko paling nyata.
Leo. Ia tahu cepat atau lambat lelaki itu akan muncul lagi. Ia hanya tidak menyangka secepat ini.
“Kalau kamu baca halaman itu terus tanpa dibalik, isinya nggak akan berubah.”
Suara itu datang dari samping. Tenang. Ringan. Tapi cukup untuk membuat tubuh Ella menegang seketika. Ia menoleh. Dan di sanalah Leo berdiri. Tanpa jas formalnya. Tanpa aura ruang interogasi.
Hanya kemeja sederhana, lengan digulung sedikit, seolah ia memang bagian dari lingkungan kampus itu. Tapi matanya tetap sama. Mengamati. Mengukur.
Ella menutup bukunya perlahan. “Apa sekarang Jaksa juga punya jadwal kuliah?” tanyanya datar.
Leo tersenyum tipis, lalu duduk di bangku yang sama, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak datang kebetulan. “Kadang,” jawabnya ringan. “Kalau ada sesuatu yang lebih menarik dari berkas.”
Ella tidak menyahut. Ia tahu arah pembicaraan ini.
“Tenang,” lanjut Leo, menatap ke depan, bukan langsung ke Ella. “Kalau aku mau bawa kamu, aku nggak akan datang sendirian.”
Kalimat itu seperti setengah candaan. Setengah peringatan.
Ella menarik napas pelan. “Saya nggak merasa melakukan sesuatu yang perlu ditangkap.”
“Belum,” balas Leo cepat.
Sunyi sejenak. Angin sore lewat pelan, membawa suara mahasiswa lain yang tertawa di kejauhan, kontras dengan percakapan mereka yang semakin mengerucut.
“Apa yang kamu cari di sana malam itu?” tanya Leo akhirnya. Langsung. Tanpa lapisan.
Ella tidak menjawab. Ia justru menatap lurus ke depan, meniru posisi Leo. “Apa yang Anda cari di sana?” balasnya.
Leo terkekeh pelan. “Aku punya alasan resmi.”
“Dan saya punya alasan pribadi,” jawab Ella.
Jawaban itu membuat Leo menoleh. Untuk pertama kalinya sejak ia duduk. Matanya sedikit menyipit, bukan karena curiga tapi karena tertarik. “Kamu sadar kan,” katanya pelan, “kamu sedang main di tempat yang salah.”
Ella akhirnya menoleh balik. “Kalau tempat yang benar menutup kasus ayah saya begitu saja,” katanya tenang, “mungkin memang saya harus cari di tempat yang salah.”
Hening. Kalimat itu menggantung lebih lama dari yang seharusnya. Leo tidak langsung membantah. Tidak juga mengiyakan. Ia hanya memperhatikan Ella lebih dalam. Seolah mencoba melihat seberapa jauh gadis ini sudah melangkah. “Sepatu itu,” katanya kemudian.
Ella tidak bereaksi. Atau setidaknya tidak terlihat bereaksi.
“Aku tahu itu penting,” lanjut Leo. “Orang nggak akan pakai sesuatu seperti itu ke tempat seperti itu kalau itu cuma aksesori.”
Ella tersenyum tipis. “Dan orang nggak akan menyimpannya kalau itu cuma barang temuan,” balasnya.
Sentilan halus. Tapi tepat sasaran.