NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

Gelap.

Bukan gelap tanpa arti.

Tapi gelap yang… berat.

Seperti tenggelam di sesuatu yang tidak terlihat.

Grachius membuka matanya perlahan.

Pandangan pertama yang ia lihat adalah langit-langit kayu gubuk.

Diam.

Tenang.

Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

“…aku…”

Suaranya serak.

Tubuhnya terasa berat.

Seperti habis berlari tanpa henti… atau bertarung dalam mimpi yang terlalu nyata.

Ia mencoba bangkit.

Namun—

“Jangan.”

Suara itu tenang.

Dari samping.

Grachius menoleh.

Purus duduk tidak jauh darinya.

Seperti biasa.

Tenang.

Namun… ada sesuatu yang berbeda.

Grachius kembali berbaring.

Menatap langit-langit.

Beberapa detik berlalu.

“…apa yang terjadi?”

Sunyi.

Purus tidak langsung menjawab.

Ia menatap Grachius… seolah menimbang sesuatu.

“…kau kehilangan kendali.”

Jawaban itu sederhana.

Namun cukup.

Ingatan itu kembali.

Potongan demi potongan.

Kata-kata.

Nama.

Sonne.

Rosalia.

Dan—

sesuatu yang pecah di dalam dirinya.

Grachius menutup matanya.

Tangannya mengepal di samping tubuhnya.

“…aku ingat…”

Napasnya sedikit berat.

“…panas…”

“…dan…”

Ia berhenti.

Tidak melanjutkan.

Purus melanjutkan.

“Energi dalam dirimu melonjak di luar kendali.”

“Api muncul.”

Grachius membuka matanya.

“Api… merah?”

“Ya.”

Sunyi sejenak.

“…lalu berubah.”

Grachius tidak bertanya.

Namun matanya sedikit menyipit.

“…hitam?”

Purus tidak langsung menjawab.

Namun—

“Ya.”

Sunyi.

Lebih berat dari sebelumnya.

Grachius perlahan bangkit.

Kali ini Purus tidak menghentikannya.

Ia duduk di tepi tempat tidur sederhana itu.

Menatap kedua tangannya.

Tidak ada bekas.

Tidak ada luka.

Namun…

ia bisa merasakannya.

Sisa itu.

Sisa panas.

Sisa sesuatu yang… bukan dirinya.

“…itu bukan aku.”

Suara Grachius pelan.

Namun tegas.

Purus menatapnya.

“Tidak sepenuhnya.”

Jawaban itu tidak menenangkan.

Grachius mengernyit.

“Maksudnya?”

Purus berdiri perlahan.

Berjalan beberapa langkah.

“Emosi tidak menciptakan sesuatu yang tidak ada.”

Ia berhenti.

“Emosi hanya… membuka.”

Grachius terdiam.

Kata-kata itu menancap.

“…jadi itu ada di dalam diriku?”

“Ya.”

Jawaban tanpa ragu.

Sunyi.

Grachius menunduk.

Rambut panjangnya jatuh menutupi sebagian wajahnya.

“…karena aku anak dewa?”

“Sebagian.”

“…lalu sisanya?”

Purus tidak langsung menjawab.

Untuk pertama kalinya—

ia terlihat… ragu.

Sedikit.

Namun cukup terlihat.

“Belum saatnya kau tahu.”

Grachius tersenyum tipis.

Namun tidak ada rasa humor di sana.

“…itu lagi.”

Ia berdiri.

Langkahnya pelan, tapi stabil.

Ia berjalan keluar gubuk.

Purus tidak menghentikannya.

Di luar—

hutan masih sama.

Namun tidak sepenuhnya.

Beberapa pohon terlihat hangus di ujungnya.

Tanah retak di beberapa titik.

Jejak dari sesuatu… yang tidak bisa disebut latihan.

Grachius menatap sekeliling.

Diam.

“…aku melakukan ini?”

“Ya.”

Suara Purus dari belakang.

Grachius mengepalkan tangannya.

Sedikit lebih kuat dari sebelumnya.

“…kalau itu terjadi lagi?”

Sunyi.

Purus berdiri di belakangnya.

Tidak terlalu dekat.

Tidak terlalu jauh.

“Kalau kau tidak mengendalikannya…”

Ia berhenti sejenak.

“…itu akan mengendalikanmu.”

Angin berhembus.

Namun terasa dingin.

Grachius menutup matanya.

Menarik napas.

Perlahan.

Seperti yang diajarkan.

Ia mencari.

Energi dalam dirinya.

Dan ia menemukannya.

Masih di sana.

Tenang.

Stabil.

Seperti biasa.

Namun…

di kedalaman—

ada sesuatu.

Gelap.

Panas.

Diam…

menunggu.

Grachius membuka matanya.

Tatapannya berubah.

Sedikit.

Hampir tidak terlihat.

“…aku harus mengendalikannya.”

Bukan pertanyaan.

Purus mengangguk pelan.

“Ya.”

Sunyi.

Beberapa detik berlalu.

Lalu—

Grachius bertanya.

“…dan tentang mereka?”

Purus tidak perlu bertanya siapa.

Ia tahu.

Langit.

Para dewa.

“Sekarang kau tahu.”

Jawaban sederhana.

Grachius menatap ke atas.

Ke arah langit yang terlihat di sela pepohonan.

Tatapannya… tidak sama lagi.

Tidak ada rasa penasaran seperti dulu.

Tidak ada kekaguman.

Hanya…

ketenangan yang dingin.

“…aku akan ke sana suatu hari nanti.”

Suara itu pelan.

Namun pasti.

Purus tidak menjawab.

Namun matanya… sedikit menyipit.

Karena untuk pertama kalinya—

niat itu bukan sekadar keinginan.

Itu…

awal dari sesuatu.

Dan jauh di atas—

di tempat yang tidak terlihat manusia—

sesuatu mulai bergerak.

Bukan karena dipanggil.

Tapi karena…

sesuatu telah bangkit.

Dan kali ini—

langit…

tidak akan tinggal diam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!