Di jantung kota Sisilia yang kelam, Kaivan Vittorio, sang "Re Re Nero" (Raja Hitam) yang memimpin sindikat mafia paling ditakuti di Italia, hidup dalam bayang-bayang dendam masa lalu. Ia dingin, kejam, dan tidak percaya pada hal tak kasat mata. Namun, wibawanya runtuh seketika saat ia bertemu Gendis, gadis asal Indonesia yang sedang bepergian ala backpacker ke Italia.
Gendis bukan gadis biasa; dia adalah indigo "semprul" yang hobi memarahi hantu penunggu kastil Kaivan karena berisik saat ia sedang makan mi instan. Pertemuan mereka dimulai dari salah paham maut: Gendis mengira Kaivan adalah cosplayer "om-om galak" dan menawari jasa pembersihan aura karena melihat ribuan arwah korban Kaivan sedang mengantre minta maaf. Di balik komedi situasi yang absurd, ada benang merah dendam yang ternyata menyatukan masa lalu keluarga mereka. Kaivan yang terbiasa memegang senjata, kini harus belajar memegang kemenyan dan sabar menghadapi tingkah ajaib Gendis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Romantis Tipis di Atas Motor Sport
Palermo di sore hari selalu punya cara untuk memamerkan kecantikannya. Cahaya matahari yang mulai jingga memantul di permukaan laut Mediterania, memberikan gradasi warna emas pada bangunan-bangunan tua berbatu kapur. Di halaman mansion Vittorio yang luas, sebuah pemandangan yang tidak biasa sedang terjadi. Tidak ada iring-iringan mobil SUV hitam yang mengancam. Sebaliknya, yang terparkir di sana adalah sebuah Ducati Panigale V4 S berwarna merah menyala—motor sport bertenaga buas yang biasanya hanya digunakan Kaivan untuk memacu adrenalin di sirkuit pribadinya saat ia merasa penat dengan urusan klan.
Kaivan berdiri di samping motor itu, mengenakan jaket kulit hitam yang pas di tubuh atletisnya, celana jeans gelap, dan sepatu bot taktis. Ia tampak seperti bintang film aksi, jauh dari kesan bos Mafia yang kaku.
"Kak, ini beneran kita mau naik ini?" suara Gendis terdengar ragu dari arah pintu utama.
Gendis keluar dengan gaya yang jauh lebih santai. Ia mengenakan jaket bomber kebesaran milik Kaivan yang ia pinjam tempo hari, celana legging hitam, dan sepatu kets. Rambutnya diikat kuda agar tidak berantakan terkena angin.
"Mobil-mobil itu terlalu tertutup, Gendis. Aku ingin kau merasakan angin Sisilia yang sebenarnya," ucap Kaivan sambil mengangkat sebuah helm full-face berwarna hitam matte. "Dan hari ini, tidak ada pengawal yang mengikuti dalam jarak sepuluh meter. Hanya ada Marco yang membuntuti dari jarak sangat jauh demi protokol keamanan minimum."
Gendis mendekat, menatap motor sport yang tingginya hampir mencapai pinggangnya itu. "Naiknya gimana, Kak? Jok belakangnya aja lebih tinggi dari harapan saya buat lulus kuliah tepat waktu."
Kaivan terkekeh, suara rendahnya terdengar sangat seksi di telinga Gendis. Ia naik ke atas motor, menegakkan posisinya, lalu mengulurkan tangan. "Pegang bahuku. Injak pijakan kakinya, lalu ayunkan kakimu. Aku akan menahan beban motornya."
Dengan perjuangan kecil dan sedikit gerutu tentang betapa tidak ramahnya motor sport bagi kaum bertubuh mungil, Gendis akhirnya berhasil duduk di jok belakang. Posisinya sangat menungging, membuatnya secara otomatis harus bersandar pada punggung kokoh Kaivan.
"Pegangan yang kuat, Nona Indigo. Ducati ini tidak mengenal kata pelan," bisik Kaivan di balik helmnya yang sudah ia tutup.
Gendis melingkarkan tangannya di pinggang Kaivan, mengeratkan pelukannya hingga dadanya menempel sempurna di punggung Kaivan. "Kalau saya jatuh, saya bakal hantui Kakak selamanya ya!"
"Itu ancaman yang paling manis yang pernah kudengar," sahut Kaivan sebelum menghidupkan mesin.
VROOM!
Suara knalpot Ducati itu menggelegar, memecah kesunyian halaman mansion. Dengan satu tarikan gas yang halus namun bertenaga, motor itu melesat keluar dari gerbang besi besar klan Vittorio, meninggalkan debu tipis dan aroma bensin yang maskulin.
Motor itu membelah jalanan pesisir yang berkelok-kelok. Gendis memejamkan mata sesaat saat Kaivan memiringkan motornya di tikungan tajam. Angin laut yang asin menerpa wajahnya di balik kaca helm yang sedikit terbuka. Ia bisa merasakan setiap getaran mesin motor di bawah kakinya, dan yang lebih penting, ia bisa merasakan detak jantung Kaivan yang tenang namun mantap di balik jaket kulitnya.
"Gendis! Kau lihat itu?" teriak Kaivan melalui interkom yang terhubung di helm mereka.
"Liat apa, Kak? Saya cuma liat aspal!" balas Gendis berteriak.
"Buka matamu! Lihat ke kanan!"
Gendis memberanikan diri membuka mata. Di sebelah kanan mereka, tebing-tebing curam langsung berbatasan dengan laut yang biru pekat. Perahu-perahu nelayan kecil tampak seperti mainan dari ketinggian ini. Cahaya matahari yang hampir tenggelam membuat pemandangan itu tampak seperti lukisan klasik.
"Cantik banget, Kak!" seru Gendis. "Tapi tolong, jangan terlalu miring! Saya belum mau ketemu Don Alessandro di jalanan ini!"
Kaivan tertawa, suaranya jernih di telinga Gendis. Ia sengaja sedikit melambatkan kecepatannya, memberikan kesempatan bagi Gendis untuk menikmati suasana. Di atas motor ini, Kaivan merasa bebas. Tidak ada tanggung jawab sebagai Don, tidak ada ancaman pengkhianatan, dan tidak ada kutukan tujuh turunan. Hanya ada dia, motornya, dan gadis yang telah mengubah dunianya.
Mereka berhenti di sebuah titik pandang yang sepi, jauh dari keramaian turis. Kaivan memarkir motornya di pinggir tebing yang dipagari pembatas batu kuno. Begitu mesin mati, kesunyian alam langsung menyambut mereka, hanya diselingi suara ombak di kejauhan.
Kaivan turun lebih dulu, lalu membantu Gendis turun. Gendis tampak sedikit gemetar, kakinya terasa seperti jeli setelah perjalanan cepat tadi.
"Gimana? Masih mau naik motor lagi?" tanya Kaivan sambil melepas helmnya. Rambutnya sedikit berantakan, memberikan kesan liar yang sangat menarik.
"Masih... tapi mungkin besok-besok pakai motor bebek aja, Kak. Yang bisa buat bonceng tiga," canda Gendis sambil mencoba merapikan rambutnya yang juga berantakan.
Kaivan mendekat, tangannya terulur untuk merapikan sisa rambut Gendis yang menutupi matanya. Gerakannya sangat lembut, sangat kontras dengan kegarangan motor Ducati di samping mereka.
"Kau tahu, Gendis," ucap Kaivan pelan, matanya menatap langsung ke dalam mata indigo Gendis. "Di atas motor tadi, aku merasa kita benar-benar sendiri di dunia ini. Tidak ada klan, tidak ada hantu, hanya kita."
Gendis tersenyum, wajahnya memerah bukan hanya karena angin. "Romantisnya tipis-tipis banget ya, Kak? Kayak selapis keju di pizza margherita."
"Tipis tapi berasa, kan?" Kaivan menarik Gendis mendekat ke arah pembatas tebing. Ia berdiri di belakang Gendis, melingkarkan lengannya di bahu gadis itu, dagunya bertumpu di atas kepala Gendis.
Mereka berdua menatap matahari yang perlahan tenggelam ke dalam pelukan laut. Warna langit berubah dari oranye menjadi ungu gelap, menciptakan suasana yang sangat intim.
"Kak, liat deh," Gendis menunjuk ke arah sekumpulan burung yang terbang rendah. "Mereka pulang ke sarangnya. Auranya tenang banget. Nggak ada dendam, nggak ada ketakutan."
"Aku juga merasa begitu saat bersamamu, Gendis. Kau adalah sarangku," bisik Kaivan.
Gendis tertegun. Ia membalikkan tubuhnya dalam pelukan Kaivan. "Wah, Kak Kaivan habis kursus kata-kata manis di mana nih? Marco ya yang ajarin?"
"Marco hanya tahu soal kaliber peluru, Gendis. Ini murni dari sini," Kaivan menyentuh dadanya sendiri.
Ia kemudian merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil. Bukan perhiasan mewah, melainkan sebuah gelang rajutan tangan sederhana berwarna merah dan hitam yang ia beli dari seorang nenek penjual suvenir di pinggir jalan saat Gendis sedang asyik memotret tadi.
"Ini bukan berlian, tapi nenek itu bilang ini adalah simbol perlindungan di jalan raya. Aku ingin kau memakainya," Kaivan memakaikan gelang itu di pergelangan tangan Gendis.
Gendis menatap gelang itu dengan haru. Bagi orang lain, seorang Mafia yang membelikan gelang murah di pinggir jalan mungkin terdengar konyol. Tapi bagi Gendis, ini adalah bukti bahwa Kaivan mulai menghargai hal-hal kecil yang bersifat sentimental—hal-hal yang tidak bisa dinilai dengan uang.
"Makasih, Kak. Bagus banget. Warnanya pas sama motor Kakak," ucap Gendis, lalu ia tiba-tiba mencium pipi Kaivan dengan cepat.
Kaivan sedikit terkejut, lalu senyum lebarnya terkembang. "Hanya pipi? Padahal perjalanannya jauh dan melelahkan."
"Dih, tuman! Udah dikasih pipi minta lebih!" Gendis menjulurkan lidahnya dan berlari kecil kembali menuju motor.
Perjalanan pulang dilakukan saat malam sudah benar-benar jatuh. Bulan sabit menggantung di langit, memberikan cahaya perak pada jalanan aspal. Kaivan berkendara dengan lebih santai kali ini.
Gendis tidak lagi merasa takut. Ia menyandarkan kepalanya di punggung Kaivan, mendengarkan irama mesin motor yang kini terasa seperti musik pengantar tidur. Ia merasa sangat aman. Di dunia luar, Kaivan mungkin adalah predator yang ditakuti, tapi di atas motor ini, ia adalah pria yang menjaga setiap sentakan gas agar tunangannya tidak terkejut.
Tiba-tiba, Gendis merasakan aura yang sangat hangat di sekitar mereka. Bukan aura panas mesin, melainkan aura keemasan yang lembut.
"Kak," bisik Gendis melalui interkom.
"Ya?"
"Ibu Kakak ada di belakang kita sekarang. Dia terbang ngikutin motor ini. Dia lagi senyum lebar banget. Katanya, dia seneng liat Kakak akhirnya bisa tertawa lepas kayak tadi."
Kaivan terdiam sejenak. Ia melirik melalui spion motornya. Tentu saja, ia hanya melihat kegelapan jalanan, tapi ia merasakan sebuah kehangatan yang merambat di hatinya. "Katakan padanya... ini semua berkat gadis yang sedang memelukku sekarang."
"Sudah saya sampaikan. Dia bilang, 'Jaga Gendis baik-baik, atau ibu bakal bikin ban motormu kempes di tengah hutan'," canda Gendis.
Kaivan tertawa, suaranya bercampur dengan deru angin malam Sisilia. Kebahagiaan sederhana di atas motor sport ini adalah momen yang tidak akan pernah ia lupakan. Di atas jok sempit ini, di bawah langit yang luas, ia menemukan bahwa cinta tidak selalu harus dirayakan dengan pesta mewah atau upacara agung. Terkadang, cinta hanya butuh sebuah perjalanan tanpa tujuan, desingan angin, dan pelukan erat yang mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Saat motor itu kembali memasuki gerbang mansion Vittorio, Marco sudah berdiri di sana dengan wajah lega sekaligus jengkel.
"Tuan, Nona... saya hampir saja mengerahkan helikopter karena kalian tidak menjawab radio selama satu jam," protes Marco sambil memegang tabletnya.
Kaivan turun dari motor, membantu Gendis yang kini sudah lebih lincah turun. Ia melepas jaket kulitnya, menampakkan kaos hitam yang sedikit lembap karena keringat. "Radio kami mati, Marco. Lagipula, siapa yang butuh helikopter kalau kita punya radar indigo paling akurat di dunia?"
Gendis melepas helmnya, rambutnya benar-benar berantakan sekarang, tapi wajahnya berseri-seri. "Bang Marco, tenang aja. Tadi aman kok, nggak ada penjahat, cuma ada beberapa hantu pengendara motor tua yang ngajak balapan, tapi Kak Kaivan menang jauh!"
Marco hanya bisa menggelengkan kepala, pasrah dengan kegilaan pasangan ini.
Kaivan merangkul bahu Gendis, menuntunnya masuk ke dalam mansion yang kini terasa lebih hangat bagi mereka berdua. "Gendis, besok-besok kita naik motor lagi ya. Tapi mungkin yang ada jok sampingnya, biar kau bisa duduk sambil makan mi instan."
"Ide bagus! Nanti saya pasang stiker 'Hantu Harap Antre' di sampingnya ya, Kak!"
Mereka berdua berjalan masuk ke dalam kegelapan koridor mansion yang diterangi lampu-lampu antik. Di pergelangan tangan Gendis, gelang rajutan murah itu bersinar pelan di bawah lampu kristal, menjadi pengingat bahwa di balik kekuasaan dan darah, sang Raja Mafia memiliki sisi romantis yang tipis—namun cukup untuk membuat seorang gadis indigo merasa seperti ratu paling beruntung di dunia.
Malam itu, Palermo kembali sunyi. Ducati merah itu terparkir di garasi, mesinnya masih terasa hangat, sama seperti hati kedua pemiliknya yang baru saja menyelesaikan babak perjalanan paling manis di atas dua roda.
"Kak," panggil Gendis sebelum masuk ke kamar masing-masing.
"Ya?"
"Makasih buat hari ini. Gelangnya... dan anginnya."
Kaivan tersenyum, memberikan satu kecupan di kening Gendis. "Tidurlah, Nona Indigo. Mimpi indahlah tanpa gangguan hantu. Karena hari ini, aku yang akan menjagamu di alam mimpimu."
Gendis masuk ke kamarnya dengan senyum yang tidak hilang sampai ia tertidur lelap, masih mengenakan gelang rajutan itu di tangannya.
aku like banget
seribu jempol
aku like...