Sepasang mata berwarna coklat tampak menyorot tajam menatap seorang laki laki yang masih berdiri memaku tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya semula, seakan tatapn mata berwarna coklat itu mampu menelannya hidup hidup saat ini juga.
"apa kamu tidak ingin menjelaskan semuanya stave...?"
suara yang baru saja keluar dari laki laki tersebut terdengar seperti sebuah kilatan petir, membuat stave semakinn menundukkan kepalanya semakin dalam.
"apa yang harus aku katakan setelah kamu sudah melihat semuanya."
kepalan tangan dan tonjolan urat yang terlihat jelas saat steave memberanikan diri menatap kearah di mana tangan leon dia letakkan di atas meja, steave rasanya ingin segera menghilang dan berlari dari depan leo, dia tahu dan paham akan tabiat leon ketika marah seperti sekarang.
"jika kamu tidak ingn menjelaskan siapa dia, maka..."
Leon menghentikan ucapannya, terdengar bunyi deritan kursi yang bergeser. seketika steve memberanikan diri menatap ke arah leon, yang kini dekatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_1411, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liona.
Ponsel pintar steve tampak menghitam, dia teringat jika dia dari tadi lupa mang isi daya di ponsel pintarnya. Helaan nafas terdengar dari Steve, rasa lelah membuatnya ingin segera beristirahat malam ini.
“Lebih baik aku beristirahat, tubuhku terasa lelah hari ini.”
Steve memilih membersihkan wajahnya seperti biasa, malam ini dia akan langsung beristirahat tanpa harus mandi. Rasa capek menempuh perjalanan selama beberapa jam di dalam pesawat dan harus segera menuju ke rumah sakit, membuat Steve memilih merebahkan diri di atas kasur empuknya.
Kamar Steve masih tertata seperti dulu, dia menatap bingkai kecil yang terletak di sudut ruangan. Dengan malas dan gerakkan pelan, Steve segera bangkit dan duduk di samping meja nakas.
Tangan Steve terulur mengambil bingkai foto dengan dua orang yang sama sama saling bertatapan dan tersenyum, Steve membelai satu wajah cantik yang sangat dia kenal. Ibu jarinya menyapu wajah cantik yang dulu membuatnya pernah merasakan hidup penuh dengan kehangatan, Liona… ya… wanita itu adalah Liona.
Liona adalah kekasih Steve dulu, mereka pernah menjalin hubungan selama tiga tahun. Perselingkuhan Liona yang membuat Steve harus pergi menjauh dari negara yang telah membesarkannya dan jauh dari orang tuanya.
“Andai kita masih bersama, maka aku tidak akan pergi dari negara ini. Rasa ini masih ada untukmu Liona, tapi rasa sakit dalam hatiku masih dapat aku rasakan saat aku pulang ke negara ini.” Batin Steve masih setia menatap wajah Liona.
Merasakan dada Steve yang semakin berat dan sesak membuat Steve memasukkan bingkai fotonya ke dalam laci nakas, dia tidak ingin melihat Liona yang telah menyakitinya. Walau Steve sadar jika dia juga masih memendam rasa untuk gadis cantik yang selama ini pernah menemani Steve selama beberapa tahun.
Sedangkan di negara lain, Leon tampak resah. Dia tidak bisa menghubungi Steve belum membeli handphone, sedangkan handphone Leon tampak rusak dan tergeletak di atas meja nakasnya.
Jam digital sudah menunjukan pukul dua puluh tiga lebih lima belas menit, Steve belum juga pulang. Leon yang merasa kawatir berjalan keluar masuk kedalam kamarnya.
“Bodoh, kenapa aku enggak hubungi Steve di media sosialnya.” Rutuk Leon segera mengambil laptop miliknya di atas meja kerja. Tak menunggu lama, Leon segera membuka laptop yang memiliki gambar apel di makan ujungnya.
Leon mencari nama Stevanus emanuel di media sosialnya, beruntung Leon segera menemukannya. Melihat sudha lima hari yang lalu Steve terakhir online, membuat Leon menghela nafasnya berat. Rasanya Leon memang harus segera membeli handphone batu untuk menghubungi Steve, mungkin malam ini dia akan tidur dan beristirahat.
Esok harinya, Steve yang baru saja bangun mencari handphone yang belum sempat dia cash. Dengan tangan yang terlihat masih lemah dan muka bantal Steve yang tampak masih sayu, membuat Steve dengan malas mengisi daya untuk ponselnya.
Jam digital yang menunjukan pukul tujuh membuat Steve segera bangaun, bunyi ketukan pintu melainkan atensi Steve.
“Sebentar…” ucap Steve sambil berdiri dan berjalan menuju pintu kamar.
Dengan perlahan Steve membuka pintu, tampak ART menatap Steve dengan penuh rasa hormat.
“Selamat pagi tuan Steve, saya mau bertanya….? untuk sarapan hari ini tuan Steve mau makan apa…?” Tanya remi sebagai kepala ART di mention Alexander.
“Hari ini saya akan sarapan di rumah sakit, jadi kalian tidak usah menyiapkan sarapan untuk ku.” Jawab Steve dengan sopan.
“Baik tuan, kalau begitu saya permisi.” Remi segera pergi meninggalkan Steve yang masih berdiri mematung menatap kepergian remi.
Melihat cuaca makin siang, Steve segera membersihkan diri, sambil menunggu batrei ponselnya terisi penuh.
Langkah Steve terarah turun dari kamarnya yang berada di lantai atas, ART yang berpapasan dengan Steve tampak menundukkan kepalanya penuh rasa hormat.
“Good morning steve….” Sapa Alexander yang membuat Steve menatap alex dengan kedua alis yang bertaut.
“Papa…!!! Kenapa papa ada di sini, lalu mama dengan siapa…?” Tanya Steve penasaran melihat Alexander.
“Mama mu meminta papa memasak Steve, dan keinginan mama mu tidak bisa di alihkan atau pun di ganti dengan yang lainnya.” Keluh alex terlihat sedikit kesal.
“Ya Tuhan… apa tidak bisa papa menyuruh salah satu ART untuk membuatkan makanan yang di inginkan mama…?” Steve berjalan menghampiri alex yang terlihat akan menaruh barang belanjaannya di atas meja.
“Sejak hamil, permintaan mama kamu selalu membuat papa se effort ini.” Alex mengeluarkan beberapa sayur dan juga buah.
“Mungkin jika suatu saat aku mempunyai istri, aku tidak ingin menjadi seperti papa. Harus membuatkan makanan untuk istri, sampai rela harus berbelanja dan memasak di dapur,” goda Steve sambil menarik kursi di depan alex.
“Semoga kamu menemukan istri yang mampu menjagamu dan menyenangkan hatimu seperti mama mu yang selalu menyenangkan papa dan membuat papa tidak ingin berpaling ke wanita lain.” Balas alex yang membuat Steve tersenyum mengingat keromantisan kedua orang tuanya.
“Semoga pa… semoga…” Steve mengambil satu buah anggur yang terletak di atas mpkerajnjang buah yang sepertinya di sediakan tadi sama ART sebelum alex dan Steve datang.
“Oh iya Steve, hampir lupa. Kemarin papa ketemu Liona di rumah sakit, sepertinya dia sedang di rawat di sana.” Alex menatap Steve yang tampak murung.
“Hei son… apa kamu dengar ucapan papa…?” Tanya alex melihat Steve yang hanya diam saja, wajah Steve terlihat syok. Tapi alex tahu jika ada yang di sembunyikan Steve, walau mereka dekat, tapi jika menyangkut masalah pribadi Steve lebih terbuka dengan aura.
“Oh… tidak apa apa pa, kenapa papa yakin jika Liona juga di rawat di rumah sakit…?” Tanya Steve penasaran.
“Waktu itu Liona sedang duduk di kursi roda, dengan pakaian pasien dan selang infus yang masih ada di tangannya. Tapi papa tidak menghampirinya, kebetulan saat itu mama juga baru masuk kamar pasien. Jadi papa hanya bisa melihatnya dari jauh, tapi coba nanti kamu cari info di cs, siapa tahu dia masih di rawat di sana.”
Steve menatap buah apel di depannya, rasanya ingatannya kembali berputar ke peristiwa beberapa tahun yang lalu.
Bau harum masakan membuat Steve tersadar jika saat ini alex sedang membuat masakkan untuk aura, Steve yang tahu jika alex sangat pintar memasak membuat dia teringat akan Leon. Setiap hari Steve akan membuatkan makanan untuk Leon, dari sarapan sampai makan malam.
“Steve…” panggil alex masih dengan posisi menghadap kompor denga alat pengurangan di depannya.
“Ada apa pa…?” Tanya Steve.
“Tolong kamu bilang ke remi untuk mengambilkan launch box dan juga tumbler, suruh dia bawa ke sini. Masakan papa sudah hampir matang, tinggal jus yang akan papa buat selesai papa menyelesaikan ini.” Ucap alex menyuruh Steve.
“Oke pa, aku akan mencari remi.” Steve segera berdiri, dia berjalan ke tempat di mana para ART akan berkumpul.
Di sana terlihat hanya remi dan dua ART yang sedang membersihkan piring dan gelas kotor serta peralatan memasak lainnya, mereka tidak menyadari kedatangan Steve.
“Remi… remi…” panggil Steve memanggil remi.
“Iya tuan… ada yang bisa saya bantu…?” Tanya remi dengan nada sopan.
“Siapkan launch box dan tumbler, papa menginginkannya sekarang.” Perintah Steve sambil menatap remi yang menatapnya.
“Baik tuan, segera saya bawa kesana.” Remi segera berdiri dan mengambil launch box dan tumbler yang di inginkan alex.