NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB SEMBILAN BELAS

Rakha melangkah meninggalkan ruang TV, dasarnya selalu tegap, namun kali ini gerakannya sedikit lebih berat. Pintu ruang kerjanya terbuka dengan suara denting kecil dari engsel baja yang mahal, lalu tertutup kembali begitu ia masuk.

Ruang kerja itu luas, dengan rak buku tinggi menjulang penuh dengan literatur hukum, filsafat, dan berkas perkara. Lampu meja berwarna kekuningan menerangi permukaan meja kayu mahoni yang licin, menciptakan bayangan panjang. Biasanya tempat ini adalah zona tenangnya-tempat di mana setiap strategi hukum bisa ia susun dengan kepala dingin.

Namun malam ini berbeda. Rakha menjatuhkan tubuhnya ke kursi kulit hitam, lalu melepaskan napas kasar. Rahangnya masih mengeras. Ia menatap layar komputer yang padam, pantulan wajahnya sendiri terlihat samar di sana.

Tangannya mengepal di atas meja, lalu memukul permukaan kayu itu sekali-keras, tapi terkontrol.

"Apa yang sebenarnya terjadi denganku..." gumamnya lirih, suara rendahnya nyaris hilang tertelan kesunyian.

Ia merasa gundah. Kesal. Perasaan yang bahkan dirinya sendiri tidak bisa definisikan dengan jelas. Seharusnya ia senang karena kecerobohan Maharani, karena kasus ini telah membuka celah besar yang bisa menghancurkan reputasi keluarga Soetomo. Seharusnya ia hanya memikirkan strategi hukum, langkah berikutnya, bagaimana memutar balik narasi media.

Tapi di balik itu, ada sesuatu yang lebih personal. Sesuatu yang menekan dadanya dengan cara yang tak bisa ia pahami. Setiap kali mengingat air mata Maharani, suaranya yang pecah, tatapannya yang ketakutan-ada bara asing yang menyala di dalam dirinya.

Rakha memijat pelipisnya, mencoba menekan rasa itu. "Ini kelemahan... seharusnya aku tidak boleh merasa begini," katanya dalam hati.

Tapi semakin ia menepis, semakin rasa itu tumbuh. Gundah, marah, sekaligus... resah.

Rakha membuka laci samping meja kerjanya dengan kasar. Tangannya segera meraih botol bourbon tua yang selalu ia simpan di sana-botol yang biasanya hanya disentuhnya ketika merayakan kemenangan kasus besar. Malam ini, ia membuka tutupnya dengan gerakan cepat, lalu menuang cairan amber itu ke dalam gelas kristal.

Cairan itu berkilau di bawah lampu meja, memantulkan cahaya keemasan. Rakha mengangkat gelasnya, meneguk dalam sekali. Panas bourbon menyambar kerongkongan, menyalakan api di dada. Namun sensasi itu tidak membawa ketenangan. Hanya membuat dadanya terasa semakin penuh.

Ia bangkit, berjalan ke arah rak buku di sudut ruangan. Dari sana, ia mengambil sebuah kotak kayu kecil, membuka tutupnya, dan mengeluarkan cerutu Kuba yang harum. Dengan korek peraknya, ia menyalakan ujungnya, mengisap dalam, lalu menghembuskan asap tebal ke udara.

Asap itu berputar-putar di atas kepalanya, melayang dalam pusaran samar. Rakha memandanginya, berharap pikirannya ikut larut, lenyap bersama asap. Tetapi semakin lama ia duduk, semakin jelas bayangan wajah Maharani hadir di benaknya. Wajah pucat dengan mata sembab. Air mata yang jatuh tanpa bisa ia hentikan. Suara pecah yang terus menggema: "Saya takut, Pak..."

Ruang kerja itu hanya diterangi lampu meja yang temaram. Asap cerutu menggantung berat di udara, aroma alkohol bercampur dengan wangi kulit dari kursi empuk tempat Rakha bersandar. Di depannya, segelas bourbon tinggal separuh.

Rakha menatapnya lama, sebelum meneguk sisa cairan itu dengan sekali hentak. Panasnya menjalar cepat, tapi bukannya menenangkan, justru membuat kepalanya semakin berisik. Ia memandang pantulan dirinya di jendela besar-mata tajam, rahang mengeras, tetapi ada sesuatu di sana: kegelisahan yang tak biasa.

"Seharusnya aku senang..." suaranya serak, nyaris bergumam, namun tegas. "Melihat tuan puteri Soetomo itu hancur bahkan saat aku nyaris tidak menggerakkan satu pion pun. Seharusnya aku puas, karena dengan sedikit celah saja, kerajaan itu runtuh. Ini... kemenangan yang sudah lama kuincar."

Rakha terdiam sejenak, kepalanya menunduk. Jemarinya mengetuk-ngetuk meja kayu dengan ritme tak beraturan, semakin lama semakin keras.

"Tapi kenapa semua ini terasa salah?" desisnya. "Kenapa wajahnya... wajah dengan air mata itu... terus menempel di kepalaku? Kenapa aku justru merasa terganggu, bukannya puas?"

Tangan Rakha meraih gelas kosong, menggenggamnya terlalu erat. Rahangnya mengetat, napasnya memburu.

"Aku sudah mengawasi dia lebih dari sepuluh tahun. Maharani seharusnya hanya bidak... hanya alat. Tapi sekarang..."

Gelas bourbon itu melayang dari tangannya, terlempar ke lantai marmer. Suara pecahannya menggema, memantul di ruang kerja yang hening. Rakha menunduk, menatap pecahan kaca yang berkilau dalam cahaya lampu.

"Sial." suaranya rendah, penuh tekanan. "Apa yang kamu lakukan padaku, Maharani... kenapa aku yang sekarang merasa terjebak dalam permainan ini?"

Rakha menutup wajahnya dengan telapak tangan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasakan sesuatu yang tidak ia kuasai: keragu-raguan.

Rakha meraih ponselnya dengan gerakan cepat, jemarinya menekan nomor yang sudah dihafal di luar kepala. Suara dering hanya terdengar sebentar sebelum sambungan diangkat.

"Ya, Pak?" suara asistennya terdengar hati-hati dari seberang.

"Kirimi aku video itu. Yang tersebar tentang Maharani dan Risyad," suara Rakha rendah, berat, dan tak menyisakan ruang untuk penolakan.

Terdengar keheningan sesaat di ujung sana, lalu suara ragu menyusul.

"Pak... untuk apa Anda-"

"Jangan banyak tanya," potong Rakha cepat, nadanya dingin bagai baja. "Kirim. Sekarang."

Asistennya terdiam, bisa terdengar helaan napas gugup dari ponsel. "Baik, Pak. Akan saya kirim segera."

Rakha menurunkan ponselnya perlahan, matanya menatap kosong ke arah layar monitor di ruang kerjanya. Rahangnya masih mengeras, ada bara yang menyala di balik tatapan itu.

Notifikasi masuk. File video itu terkirim. Rakha menatap layar ponselnya beberapa detik, seolah ingin menunda, tapi jemarinya akhirnya bergerak. Ia membuka file itu.

Suara statis kecil terdengar, lalu wajah Maharani muncul di layar-tersenyum, malu, dengan cahaya remang-remang kamar yang direkam diam-diam. Hanya beberapa detik Rakha menonton, tapi dadanya langsung dihantam rasa panas yang membakar.

"Brengsek..." desisnya rendah.

Tangannya mengepal begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih. Ia tak tahan meneruskan, tapi juga tak bisa berhenti. Semakin lama ia menatap layar itu, semakin kuat amarahnya menyeruak. Marah pada Risyad yang menjebak, marah pada Maharani yang ceroboh, dan marah pada dirinya sendiri-karena entah kenapa ia ikut terusik.

Dengan kasar, Rakha menutup layar ponselnya dan melemparkan perangkat itu ke atas meja kerja. Ia menghela napas berat, dadanya naik turun. Ia berdiri, melangkah ke pojok ruangan di mana sebuah botol whisky setengah penuh dan dua gelas kristal sudah menunggu.

Rakha menuang cairan itu hingga setengah gelas, lalu menenggaknya dalam sekali teguk. Panas alkohol membakar kerongkongan, tapi tidak menenangkan hatinya. Ia menuang lagi, kali ini lebih banyak.

Kepalanya menunduk, kedua siku bertumpu di meja bar kecil itu. Matanya memejam, mencoba meredam gelombang emosi yang berkecamuk. Tapi suara Maharani di kepalanya terus terngiang-pengakuannya, tangisnya, ketakutannya.

"Kenapa aku... marah begini?" gumamnya, nyaris berbisik. "Seharusnya aku senang melihat tuan putri itu jatuh. Seharusnya aku puas. Tapi kenapa... ini justru membuatku gila?"

Rakha menenggak lagi, kali ini lebih cepat, lebih banyak, seolah ingin menenggelamkan rasa yang tak bisa ia jelaskan.

Rakha meneguk habis isi gelasnya lagi, entah sudah berapa putaran cairan itu masuk ke dalam tubuhnya. Kepalanya mulai terasa berat, pandangannya berkunang, tapi justru pikiran di dalam kepalanya semakin bising.

Suara-suara yang tak ia inginkan bergaung: tawa sinis Risyad, tangis Maharani, dan bayangan video terkutuk itu yang terus berputar tanpa henti.

"Diam... diam semua..." gumamnya parau, kepalanya tertunduk, jemarinya mencengkeram rambut.

Botol whisky yang tinggal seperempat dibiarkannya tergeletak miring di meja, sebagian cairan menetes keluar, mengotori tumpukan berkas hukum yang berserakan. Rakha tak peduli.

Nafasnya makin berat. Matanya terasa panas, kelopak mata kian berat menutup. Ia berusaha menahan, namun tubuhnya kalah pada alkohol.

Akhirnya, ia terjatuh ke sandaran kursi, kepalanya miring ke samping. Matanya menutup rapat, mulutnya sedikit terbuka, napasnya terdengar dalam dan berat.

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!