NovelToon NovelToon
Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Aku Bereinkarnasi Ke Dunia Anime Danmachi Sebagai Seorang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: the anonym

Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Pukulan Pemecah Bintang dan Labirin yang Merintih

WUSSS!

​Angin di Lantai 100 tersedot ke satu titik. Saat pemuda berambut abu-abu itu mengayunkan tongkat bisbolnya di udara, realitas di sekelilingnya melengkung. Percikan api keemasan dari Path of The Destruction meledak dari gagang hingga ke ujung pemukul fana tersebut, mengubahnya menjadi godam kosmis yang memiliki kepadatan setara inti bintang.

​"Aturan dibuat untuk dilanggar!"

​BLAAAM!

​Suara benturan itu tidak terdengar seperti kayu menghantam daging, melainkan seperti meteor yang menabrak bulan. Gelombang kejut raksasa menyapu kawah es itu, menerbangkan debu-debu baja purba dan membekukan udara seketika.

​Kepala monster mutan raksasa itu—yang terbuat dari kristal gelap dan magma—bahkan tidak sempat hancur berkeping-keping. Itu langsung menguap. Lenyap dari eksistensi, terhapus oleh anomali kehancuran yang sangat pekat. Sisa tubuh monster raksasa itu bergetar sesaat, sebelum akhirnya runtuh dan meledak menjadi jutaan partikel debu abu-abu yang tak lagi berbahaya.

​Pemuda itu mendarat di atas tumpukan puing, berlutut dengan satu kaki. Tongkat bisbol di tangannya masih berasap, memancarkan panas yang membuat sisa-sisa es di dekatnya mendesis.

​Ia menatap tangannya yang sedikit gemetar, lalu menatap senjata rongsokan di genggamannya. "Aku... yang melakukan itu?"

​March 7th, yang sedari tadi menarik busurnya, membiarkan panah esnya mencair. Gadis berambut merah muda itu menganga lebar, matanya berkedip-kedip tidak percaya.

​"Woah..." March menurunkan busurnya dan berlari mendekat. "Oke, aku tarik kata-kataku tadi! Kau sama sekali bukan beban! Pukulan tadi itu gila! Maksudku, dari mana kau belajar memukul seperti itu? Dan apa-apaan tongkat bisbol itu?! Kau menemukannya di tumpukan sampah, kan?!"

​Dan Heng melompat turun dari sebuah pilar baja, langkahnya ringan tanpa suara. Ia memutar tombaknya dan menyarungkannya ke belakang punggung. Mata tajam pemuda itu menatap sang Trailblazer dengan seksama, mengukur aura keemasan yang perlahan memudar dari dadanya.

​"Energi tadi... mirip dengan gelombang Antimatter Legion, tapi jauh lebih terkontrol," gumam Dan Heng analitis. Ia lalu mengulurkan tangannya ke arah pemuda yang masih berjongkok itu. "Kau tidak terluka?"

​Sang Trailblazer menatap uluran tangan itu, lalu menyambutnya. Dan Heng menariknya berdiri dengan mudah.

​"Hanya... sedikit pusing," jawabnya jujur. "Dan aku tidak ingat namaku. Atau kenapa aku ada di sini."

​March berkacak pinggang, tersenyum lebar. "Yah, kau bukan satu-satunya yang hilang ingatan di kereta ini! Namaku March 7th, karena mereka menemukanku pada tanggal 7 Maret. Jadi, jangan khawatir! Himeko dan Tuan Welt pasti tahu harus melakukan apa denganmu. Untuk sekarang, panggil saja dirimu... um, Penjelajah (Trailblazer)? Karena kau baru saja membuka jalan untuk kita!"

​Dan Heng mengangguk pelan. "Ayo kembali ke Kereta Astral. Tempat ini tidak stabil. Sensor kompas keretaku menunjukkan fluktuasi energi yang sangat besar dari arah atas. Seolah-olah seluruh struktur labirin ini sedang runtuh ke arah kita."

​Lantai 19 – Pohon Raksasa Labyrinth

​Di saat yang sama, puluhan lantai di atas mereka, ledakan warna cyan merobek kegelapan labirin.

​Finn Deimne melepaskan anak panahnya. Sihir Tir na Nog miliknya, yang biasanya melesat seperti tombak cahaya emas, kini telah sepenuhnya berasimilasi dengan stigmata The Hunt.

​Anak panah raksasa berwarna biru cyan sedingin es itu melesat tanpa suara, membelah udara beracun Lantai 19. Sinar itu tidak meledak saat mengenai targetnya; ia menembus. Ratusan monster mutan yang menghalangi jalan lenyap dalam satu garis lurus yang sempurna, membelah lantai hutan bermutasi itu menjadi dua bagian hingga menembus dinding tebal yang memisahkan mereka dengan pintu masuk ke Lantai 20.

​Jalur sepanjang hampir dua kilometer tercipta seketika. Bersih. Tanpa ada satu pun monster yang tersisa di garis edar panah tersebut.

​Ottar, yang berdiri di barisan Freya Familia, menyipitkan matanya. Jari-jarinya tanpa sadar mencengkeram gagang pedang besarnya lebih erat. Kekuatan kapten ras Pallum itu selalu ia hormati, tapi presisi mematikan barusan... itu berada di luar batas nalar makhluk fana.

​"Jalan terbuka!" teriak Finn, matanya masih memancarkan pendar cyan. "Gareth, Tsubaki, pimpin barisan depan! Lari! Jangan pedulikan monster di sisi kiri dan kanan, kita potong langsung ke lantai berikutnya!"

​Aliansi itu bergerak layaknya mesin perang raksasa. Efek Uchide no Kozuchi dari Haruhime yang diperkuat oleh The Harmony membuat stamina mereka seolah tak terbatas, dan ketakutan tidak memiliki ruang di benak mereka.

​Namun, saat Riveria berlari melintasi jalur yang baru saja dibuka Finn, mata High Elf itu menangkap sesuatu yang tidak wajar.

​Dinding kayu labirin yang terpotong oleh panah Finn tidak meneteskan getah hitam layaknya monster organik. Sebaliknya, pinggiran luka pada kayu itu berkedip-kedip... terpecah menjadi kotak-kotak cahaya kecil berwarna kebiruan, sebelum akhirnya menyusun ulang teksturnya menjadi batu bata padat.

​Glitch.

​"Finn!" panggil Riveria sambil terus berlari. "Labirin ini... ia tidak menyembuhkan dirinya sendiri dengan sihir! Dindingnya... dindingnya berubah menjadi kotak-kotak cahaya! Seseorang memanipulasi ruang dimensi tempat ini seolah-olah... seolah-olah ini adalah sebuah ilusi!"

​Loki, yang digendong di punggung bete, menggertakkan giginya. "Penulis keparat itu. Dia tidak hanya menciptakan monster, dia menulis ulang arsitektur Dungeon saat kita sedang berada di dalamnya!"

​Aiz Wallenstein berlari di samping Finn. Wajahnya sedingin batu, namun urat-urat di lehernya sesekali memancarkan cahaya magma keemasan. Ia sama sekali tidak peduli dengan perubahan arsitektur itu. Di matanya, selama itu adalah halangan, ia hanya perlu membakarnya.

​"Kita akan mencapai lantai 50 sebentar lagi," ucap Finn tegas. "Tetap waspada. Apa pun yang menanti kita di sana, itu bukanlah sesuatu yang lahir dari Orario."

​Lantai 48 – Di Atas Batas Pengetahuan Orario

​Aku menaiki undakan tangga batu yang lembab, tasku bergoyang mengikuti irama langkah. Di depanku, Silver Wolf melayang beberapa sentimeter di atas tanah, duduk bersila di atas papan selancar hologramnya sambil sibuk mengetik di udara.

​"Status laporan, Silver Wolf," suara Kafka yang anggun memecah keheningan anak tangga.

​"Mereka cepat," jawab Silver Wolf santai, meniup permen karetnya. "Kereta Astral sudah bergerak naik meninggalkan Lantai 100. Pintu dimensi mereka sudah aku stabilkan. Di sisi lain, Aliansi Orario sedang melakukan speedrun bodoh. Efek buff massal dari gadis rubah itu merusak keseimbangan parameter monsterku. Mereka akan tiba di Lantai 50 dalam waktu sepuluh menit."

​Kafka menoleh ke arahku, tersenyum lembut. "Bagaimana dengan naskahmu, Penulis? Apa panggungnya sudah siap?"

​Aku mengangguk, mengeluarkan perkamen terakhirku yang tintanya masih sedikit basah. "Lantai 50 dulunya hanyalah sebuah hamparan gurun kristal di catatan Guild. Tapi sekarang... aku telah mengubahnya."

​Aku membaca kembali apa yang baru saja kutulis:

​Di Lantai 50, hukum fisika kehilangan otoritasnya. Tidak ada langit, tidak ada tanah yang pasti. Gravitasi terpecah menjadi puluhan arah yang berbeda, menciptakan pulau-pulau batu yang melayang secara terbalik, miring, dan tumpang tindih dalam ruang hampa tak berujung. Inilah 'Ruang Isolasi Fragmentum'.

​Siapa pun yang melangkah masuk, akan mendapati atas menjadi bawah, dan kanan menjadi kiri.

​"Sempurna," Kafka terkekeh pelan. Ia meraih senjatanya. "Sebuah labirin escher yang akan membuat formasi aliansi mereka berantakan seketika."

​Aku menelan ludah. "Kafka, saat mereka bertemu nanti... Kereta Astral dan Aliansi Orario... apa yang akan terjadi? Mereka berdua mencari Kanker Semua Dunia itu. Loki ingin menghancurkannya untuk menyelamatkan kotanya, sementara Kereta Astral ingin menyegelnya untuk menghentikan Fragmentum."

​Kafka berhenti melangkah. Ia berbalik, menatap mataku dalam-dalam. Sinar ungunya menembus langsung ke dasar keraguanku.

​"Mereka akan bertarung, tentu saja," bisik Kafka, nadanya seringan bulu namun setajam silet. "Ketakutan para Dewa akan berbenturan dengan prinsip para Penjelajah. The Hunt akan membidik The Destruction, sementara The Harmony mencoba sia-sia untuk menyatukan benang yang sudah putus."

​Kafka mendekat, ujung jari bersarung tangannya menyentuh dadaku tepat di mana jantungku berdetak.

​"Dan di tengah kekacauan itu, saat pahlawan dunia fana dan pahlawan bintang saling menghancurkan... kita akan melangkah masuk. Kau akan menuliskan akhir ceritanya, Anonym. Akhir di mana Pemburu Stellaron membawa pergi Kanker tersebut, meninggalkan mereka dengan kesadaran bahwa mereka hanyalah bidak dalam takdir yang kau rancang."

​Aku menatap Kafka, lalu menatap tanganku yang dipenuhi noda tinta. Aku tidak lagi merasa seperti seorang siswa malang yang bersembunyi dari para dewa. Aku adalah sutradara dari perang kosmis ini.

​"Siapkan senjata kalian," ucapku pelan, mataku menatap dingin ke arah gerbang raksasa di ujung tangga, gerbang yang menuju Lantai 50. "Aktor-aktor kita sudah hampir tiba di panggung utama."

1
l.."..l
aku suka novel ini, makin lama ceritanya menarik
Ero-Sensei
oke ini semakin menarik
Ero-Sensei
buseng dah repot amat MC skizo padahal tinggal bilang cuma fiksi dan ngapain juga perlu ngumpet.
Ero-Sensei
repot amat, tinggal bilang aja ini cuma karya fiksi. lagian kisah argonot aja cuma karya fiksi khayalannya argonot yang pengen jadi pahlawan. aslinya mah bocah cupu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!