NovelToon NovelToon
Menikah Karena Tekanan Keluarga

Menikah Karena Tekanan Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 7 : BATAS DI ATAS RANJANG PENGANTIN

Mansion mewah di kawasan elit Menteng itu berdiri dengan angkuh di bawah siraman lampu taman yang temaram, memantulkan bayangan pohon-pohon palem yang melambai ditiup angin malam. Bagi dunia luar, rumah ini adalah istana baru bagi pasangan paling serasi tahun ini. Namun bagi Anya Clarissa, setiap langkah yang ia ambil di atas lantai marmer lobi rumah ini terasa seperti melangkah menuju tiang gantungan yang dilapisi emas.

"Ini kartu aksesmu. Jangan sampai hilang, karena sistem keamanan rumah ini terhubung langsung ke ponselku dan kantor pusat Arkatama," suara Devan memecah keheningan yang menyesakkan. Suaranya bergema di ruangan yang masih berbau cat baru dan lilin aromaterapi yang dipasang oleh asisten rumah tangga mereka sebelum mereka datang.

Anya mengambil kartu perak itu tanpa suara. Tangannya masih sedikit gemetar, sisa dari ketegangan resepsi yang berlangsung hampir enam jam. Gaun pengantinnya yang seberat lima kilogram kini terasa seperti beban hidup yang sangat nyata, seolah menarik bahunya ke bawah menuju bumi. Ia hanya ingin satu hal: melepas korset yang membuat setiap tarikan napasnya terasa seperti perjuangan, dan menghapus riasan tebal yang membuat wajahnya terasa kaku seperti topeng porselen.

"Kamar kita ada di lantai dua. Sayap kanan," lanjut Devan. Ia sengaja menekankan kata 'kita' dengan nada yang membuat bulu kuduk Anya meremang, namun wajahnya tetap datar, seolah ia sedang membacakan poin-poin dalam kontrak bisnis.

Mereka menaiki tangga melingkar yang megah. Anya memegang railing tangga dengan erat, mencoba menjaga keseimbangannya meski kakinya yang dibungkus sepatu hak tinggi 12 cm sudah terasa mati rasa. Saat Devan membuka pintu kayu jati besar kamar utama, Anya hampir saja berteriak karena terkejut.

Kamar itu telah disulap oleh Mama Arkatama menjadi sebuah "medan pertempuran romantis" yang luar biasa berlebihan, seolah-olah mereka adalah pasangan yang sangat memuja satu sama lain. Lantai kamar yang tertutup karpet bulu putih ditaburi ribuan kelopak mawar merah yang membentuk jalan setapak menuju tempat tidur. Di atas ranjang king size yang tampak sangat empuk dengan sprei sutra berkualitas tinggi, kelopak mawar disusun sedemikian rupa membentuk simbol hati yang sangat besar.

Tidak berhenti di situ, ada puluhan lilin aromaterapi berbagai ukuran yang menyala di setiap sudut, memberikan aroma melati dan vanila yang sangat kuat—tipe aroma yang biasanya digunakan di tempat spa mewah untuk merangsang relaksasi. Dan yang paling membuat Anya ingin mengubur wajahnya di bantal adalah dua buah handuk putih yang dibentuk menjadi sepasang angsa yang lehernya saling bertautan, seolah sedang "berciuman" di tengah ranjang.

"Demi Tuhan... Mama benar-benar kehilangan kendali," gumam Devan sambil memijat pangkal hidungnya yang mancung. Wajahnya yang biasanya sangar dan penuh otoritas kini terlihat sangat malu, rona merah tipis muncul di telinganya.

Anya, meskipun lelah dan kesal, tidak bisa menahan tawa kecilnya yang meledak begitu saja. Tawa itu terdengar jernih di kamar yang sunyi. "Ternyata ibumu punya selera yang sangat... dramatis, Devan. Apa kamu sering membawa wanita ke kamar dengan dekorasi seperti ini? Atau ini hanya spesial untuk 'transaksi bisnis' termahalmu?"

Devan menoleh dengan tatapan tajam yang seolah bisa menguliti Anya. "Jangan konyol. Aku benci bau melati. Ini semua murni ide Mama dan para asistennya. Dia pikir kita benar-benar sedang jatuh cinta."

Anya berjalan menuju tempat tidur, langkahnya membuat kelopak mawar di bawah kakinya hancur, mengeluarkan aroma segar yang bercampur dengan debu. Ia menyingkirkan handuk angsa itu dengan ujung jarinya, lalu melemparkannya ke sofa. "Jadi, bagaimana sekarang, Tuan Arkatama? Kontrak kita bilang kita harus tinggal satu atap untuk menjaga citra, tapi tidak ada pasal yang bilang kita harus tidur satu ranjang dengan simbol hati konyol ini, kan?"

Devan melepaskan jas hitamnya dengan kasar, melemparkannya begitu saja ke kursi malas di sudut kamar. Ia mulai membuka kancing kemejanya satu per satu, perlahan-lahan memperlihatkan kulit kecokelatan dan otot-otot dadanya yang bidang—hasil dari kedisiplinan gila kerja dan latihan beban rutin. Pemandangan itu sangat maskulin, sangat intim, dan membuat Anya segera membuang muka ke arah jendela.

"Rumah ini memang punya lima kamar, Anya," ucap Devan, suaranya kini terdengar lebih rendah dan berat. "Tapi Papa dan Mama sudah mengunci empat kamar lainnya. Kuncinya dibawa Mama. Mereka tidak bodoh. Mereka akan sering datang mendadak, pura-pura membawa sarapan atau barang tertinggal, hanya untuk memastikan kita benar-benar 'menjalankan tugas'. Jika mereka menemukanmu tidur di kamar sebelah atau di sofa, kontrak kita batal saat itu juga. Kamu tahu apa artinya itu? Ibumu akan kembali berurusan dengan pengacara rentenir dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam."

Anya menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, rasa sakitnya membantu meredam amarahnya. Sial. Orang tua Devan ternyata jauh lebih cerdik daripada yang ia bayangkan. Mereka tidak hanya menjodohkan, mereka mengunci mereka dalam satu sangkar.

"Jadi maksudmu... kita benar-benar harus berbagi ranjang ini? Selama dua tahun?" tanya Anya dengan suara yang sedikit bergetar.

"Hanya tidur, Anya. Tarik napasmu," Devan berjalan mendekati lemari pakaian besar dan mengambil kaos hitam polos. "Aku tidak punya selera pada wanita yang aromanya seperti tanah, pupuk, dan keringat matahari setiap hari. Kamu bukan tipeku."

"Baguslah!" balas Anya sengit, suaranya meninggi karena tersinggung meski hatinya merasa lega. "Karena aku juga tidak punya selera pada pria yang hatinya terbuat dari batu bara dan otaknya hanya berisi angka-angka saham! Kamu membosankan, Devan!"

Anya segera menyambar tas kecilnya dan berlari masuk ke dalam kamar mandi mewah yang luasnya hampir separuh kamar mereka. Di sana, ia mengunci pintu dan bersandar pada dinding marmer yang dingin. Ia bisa mendengar jantungnya berdegup liar. Ini hanya peran, Anya. Ini hanya akting demi Mama, bisiknya berulang kali pada dirinya sendiri.

Ia menghabiskan waktu hampir satu jam di bawah pancuran air hangat, membiarkan air menghanyutkan semua rasa penat, sisa keringat, dan beban emosional hari ini. Ia menggosok kulitnya hingga kemerahan, seolah mencoba menghapus jejak tangan Devan yang sempat menyentuh pinggangnya saat resepsi tadi. Saat keluar, ia hanya mengenakan piyama satin tipis berwarna krem—satu-satunya pakaian tidur layak yang diselipkan Mama Clarissa ke dalam kopernya dengan pesan: "Gunakan ini untuk menarik perhatiannya, Nak." Anya mengutuk dalam hati karena tidak membawa kaos oblong lamanya.

Saat ia keluar, kamar sudah sedikit lebih gelap. Sebagian besar lilin sudah dipadamkan oleh Devan, menyisakan cahaya temaram dari lampu meja. Devan sudah berbaring di sisi kanan ranjang, bertelanjang dada, hanya mengenakan celana tidur panjang. Ia sedang menatap layar tabletnya, namun pandangannya langsung beralih sepenuhnya pada Anya.

Rambut cokelat Anya yang basah terurai di bahunya, dan piyama satin itu membalut tubuhnya dengan cara yang sangat provokatif tanpa ia sengaja. Suasana mendadak menjadi sangat panas—bukan karena suhu udara, tapi karena ketegangan yang merambat di antara mereka.

"Kenapa diam di situ seperti patung? Sini. Aku sudah mematikan sebagian lilinnya," perintah Devan, suaranya terdengar lebih serak dari biasanya. Ia menepuk sisi ranjang yang masih tertutup kelopak mawar.

Anya berjalan ragu, setiap langkahnya terasa sangat berat. Ia naik ke tempat tidur, namun sebelum merebahkan diri, ia mengambil sebuah bantal guling panjang yang ada di sana. Ia meletakkannya tepat di tengah-tengah ranjang, memisahkan wilayahnya dengan wilayah Devan secara tegas.

"Apa lagi ini?" tanya Devan, alisnya terangkat sebelah, menatap bantal guling itu dengan tatapan tidak percaya.

"Ini adalah Tembok Besar China," ucap Anya dengan nada serius yang dibuat-buat. "Jika ada bagian tubuhmu—tangan, kaki, atau bahkan ujung rambutmu—yang melewati batas guling ini, aku tidak akan segan-segan menendangmu jatuh ke lantai marmer itu. Aku punya sabuk hijau taekwondo saat SMA, jangan coba-coba."

Devan terkekeh—sebuah suara rendah, maskulin, dan sangat menyebalkan yang terdengar sangat dekat di keheningan malam. "Sabuk hijau? Aku pemegang sabuk hitam karate, Anya. Jadi simpan ancaman konyolmu itu. Tidurlah. Besok jam tujuh pagi Mama dan Papa akan ke sini untuk sarapan pertama kita sebagai keluarga."

Anya merebahkan tubuhnya, menarik selimut tinggi-tinggi hingga ke dagu, dan memunggungi Devan. Ia bisa merasakan kasur yang sedikit bergerak saat Devan mengubah posisinya. Meskipun matanya terpejam, tidurnya jauh dari kata nyenyak. Indra penciumannya sangat tajam, menangkap aroma parfum wood Devan yang maskulin, yang kini bercampur dengan bau kulit pria itu yang hangat. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berpacu liar.

Tiba-tiba, suara petir menggelegar dengan sangat keras di luar mansion, diikuti oleh kilatan cahaya yang menembus celah gorden. Anya, yang sejak kecil memiliki trauma mendalam pada suara guntur—karena ingatan samar tentang kecelakaan mobil ayahnya yang terjadi saat badai—secara refleks berteriak kecil. Tanpa sadar, ia berbalik, menabrak bantal guling pembatasnya, dan langsung memeluk apa pun yang ada di dekatnya untuk mencari perlindungan.

Dan yang ia peluk adalah dada bidang Devan Arkatama.

Anya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Devan, tangannya mencengkeram erat bahu pria itu hingga kukunya sedikit menekan kulit Devan. Tubuhnya gemetar hebat.

Devan membeku. Napasnya tertahan. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Anya, kelembutan kulitnya yang baru saja mandi, dan aroma sampo stroberi yang manis. Jantung Devan yang biasanya berdetak dengan ritme yang sangat teratur, kini meledak tidak keruan. Ada insting protektif yang tiba-tiba muncul di dalam dirinya—insting yang selama ini ia tekan dengan logika bisnisnya yang dingin.

"Anya? Kamu kenapa?" tanya Devan pelan, tangannya yang besar tergantung kaku di udara sebelum akhirnya perlahan-lahan mendarat di punggung Anya.

"Jangan dilepas... tolong, sebentar saja. Aku benci suara itu. Aku benci petir," bisik Anya dengan suara yang parau dan pecah karena ketakutan.

Kebencian Devan seolah menguap begitu saja melihat kerapuhan wanita yang biasanya begitu galak dan tangguh ini. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri, lalu melingkarkan lengannya di tubuh Anya, menarik wanita itu lebih dekat ke dalam pelukannya yang kokoh. Ia mengusap punggung Anya dengan gerakan lambat dan menenangkan, seolah sedang menidurkan seorang anak kecil yang sedang bermimpi buruk.

"Aku di sini," bisik Devan lembut, bibirnya hampir menyentuh ubun-ubun Anya. "Rumah ini aman. Petirnya tidak akan bisa masuk. Tidurlah."

Malam pertama mereka yang seharusnya diisi dengan perdebatan sengit tentang hak dan kewajiban, justru berakhir dalam keheningan yang sangat intim dan menyesakkan. Anya akhirnya tertidur karena kelelahan emosional di dalam pelukan pria yang ia sumpah akan ia benci selamanya. Sementara itu, Devan terjaga hampir sepanjang malam, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang kacau. Ia menyadari bahwa "tekanan keluarga" ini mungkin bukan sekadar beban bisnis, melainkan sebuah jebakan emosional yang akan menghancurkan seluruh pertahanan hatinya yang selama ini membeku.

1
Emily
ada ada aja orang jahat
Emily
😂😂😂jus pare satu ember ...ada aja mama sarah
Emily
Valerie otak kriminal
Emily
memang kampret si valerie
Emily
Valerie Mak lampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!