seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.
apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20. LUKA KECIL DAN PERHATIAN KECIL.
Ia berdiri dan hendak pergi, namun langkahnya terhenti saat melihat Ayini masih menatapnya dengan senyum lebar yang sangat manis.
Alvaro teringat kejadian semalam saat ia tertangkap basah tersenyum di depan cermin.
Ia merasa harus memberikan "balasan" agar harga dirinya sebagai suami yang berwibawa tetap terjaga.
"Lain kali, kalau mau masak, minta bimbingan Umi. Saya tidak mau kehilangan istri hanya karena sayur asam yang asinnya melebihi air laut Barito," ucap Alvaro datar.
Ayini tertawa terbahak-bahak. "Cie... Mas Alvaro takut kehilangan Ayini ya? Ngaku aja deh!"
Alvaro merasa wajahnya mulai memanas lagi. Ia segera berbalik arah. "Saya mau ke perpustakaan. Jangan ikuti saya."
"Mas! Bayi sayang! Tunggu!" teriak Ayini sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar sampai ke ruang tengah.
Gus Alvaro hampir saja tersandung kakinya sendiri di ambang pintu. Ia berbalik sebentar, melotot tajam ke arah Ayini.
"Ayini! Jaga lisanmu! Berhenti memanggil saya dengan sebutan itu!"
"Kenapa? Lucu tau! Sini Ayini cium pipinya biar nggak mayah-mayah teyus!" Ayini berpose seolah ingin mengejar Alvaro.
"Astagfirullah... Astagfirullah alazim!" Alvaro langsung berjalan setengah berlari menjauh dari dapur dengan wajah yang benar-benar merah padam.
Jantungnya kembali dag-dig-dug tak karuan. Ia merasa harus banyak-banyak beristighfar hari ini.
Ayini kembali tertawa puas di dapur. Meskipun masakannya gagal, ia merasa telah memenangkan satu ronde lagi dalam menaklukkan "kulkas" berjalan itu.
Baginya, melihat Gus Alvaro yang serba dewasa dan tenang menjadi salah tingkah adalah kebahagiaan terbesar.
Di sisi lain, di dalam perpustakaan yang sunyi, Alvaro menyandarkan punggungnya ke rak buku.
Ia memegang dadanya, mencoba mengatur napas. Senyum kecil yang tadi ia coba tahan, kini benar-benar terukir lebar di wajahnya.
"Gadis itu... benar-benar tidak punya urat malu," gumam Alvaro lirih, namun ada nada sayang dalam suaranya yang irit bicara itu.
"Tapi kenapa saya merasa... lebih hidup sejak dia ada di sini?"
Alvaro kembali beristighfar, mencoba memfokuskan kembali pikirannya pada kitab di depannya, meskipun bayangan Ayini dengan wajah penuh jelaga hitam terus saja menari-nari di benaknya.
Ayini memakai jaket kebesaran milik Alvaro dan wajah Alvaro yang tampak sangat aneh—campuran antara lega dan malu luar biasa.
"Astagfirullah alazim... kalian berdua ngapain aja di dalem gua?" tanya Kevin curiga.
"Kepo lu, Vin! Urusin aja tuh tas lu!" balas Ayini pedas.
Gus Alvaro segera berdiri, kembali ke mode "jalan tol"-nya.
Ia berjalan di depan tanpa menoleh, namun tangannya terus memegang tas ransel Ayini agar gadis itu tidak kesulitan berjalan lagi.
Semua orang di pondok melihat perubahan itu—perubahan kecil yang menunjukkan bahwa es di hati Gus Alvaro mulai mencair secara permanen.
Alvaro memejamkan matanya, memegang pangkal hidungnya. "Ayini... jelaskan pada saya, sejak kapan seragam pengajar di pondok ini berubah menjadi warna merah muda?"
"Maaf, Mas! Tadi Ayini nggak sengaja nyampur sama daster merah. Ayini pikir nggak bakal luntur," ucap Ayini sambil menunduk.
"Tapi jujur deh Mas, warna pink itu sebenernya bikin Mas kelihatan... lebih unyu."
Alvaro menoleh dengan tatapan maut. "Unyu? Saya ini laki-laki, Ayini. Saya harus berdiri di depan ratusan santri putra."
"Ya udah, kalau nggak mau pake itu, Mas pake apa? Kan semuanya udah dicuci," goda Ayini, sedikit sifat bar-bar-nya keluar karena ia mulai merasa lucu melihat wajah frustrasi suaminya.