NovelToon NovelToon
GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

GADIS PANTI VS PLAYBOY BUCIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Siapa sangka, Playboy yang paling ditakuti di sekolah itu ternyata hanyalah pria patah hati. Pria yang menyimpan dendam selama tujuh tahun karena ditinggal pergi oleh sahabat masa kecilnya bernama Melody.

Selama bertahun-tahun ia sangat membenci wanita, dan menjadikan mereka hanya sebagai pelampiasan.

Hingga takdir mempertemukannya kembali dengan gadis yang selama ini ia benci sekaligus rindukan. Gadis itu kembali dengan membawa cerita pahit dari panti asuhan dan kehidupan jalanan.

Dan sialnya ... gadis itu ternyata saudara tiri dari sahabatnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat dari Melody

Maafin aku, Adden. Aku harus pergi. Ini bukan salah kamu, kok. Ini salah aku sendiri.

Aku bakal kangen banget sama kamu. Semoga kamu terima surat ini, ya. Makasih karena kamu udah jadi sahabat terbaik aku. Semoga kita dipertemukan lagi nanti.

Oh iya ... hampir lupa.

Superman jauh lebih keren daripada Batman. Dan Martabak Daging itu nggak enak sama sekali. Yang paling enak itu tetep martabak manis yang gede, apalagi isinya cokelat, huftt itu yang paling juara.

Salam sayang,

Melody

...***...

Cowok itu membaca ulang suratnya berkali-kali tanpa pernah merobeknya. Beberapa kali ia meremas lalu melemparnya ke sudut kamar, tapi tangannya selalu mengambilnya kembali dan merapikan kertas bergaris itu.

Itu pesan terakhir Melody sebelum gadis itu menghilang tanpa kabar. Sejak saat itu, hampir setiap hari Adden pergi ke rumah pohon yang mereka bangun bersama.

Ia selalu berharap Melody akan muncul, tapi yang tertinggal hanyalah surat di bawah batu dan bunga kering yang tinggal satu kelopak. Ia menyimpan semuanya di plastik klip, terselip rapi di antara komik Batman kesayangannya.

Ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Jojo, sahabatnya, mendorong pintu itu terbuka lebar. Ayah Jojo harus ke kantor dan meninggalkannya di sana supaya tidak telat sekolah.

"Sebentar," ucap Adden pelan.

"Ayo dong, Bro. Nanti Papa aku ngamuk kalau aku telat masuk sekolah," seru Jojo.

Jojo memang menumpang bonceng karena mobilnya sedang diperbaiki di bengkel. Beberapa waktu lalu ia mengalami kecelakaan kecil saat berangkat sekolah.

Adden mendongak, mengangkat sebelah alisnya. "Iya, ini siap."

Jojo paham betul arti tatapan itu. Itu kode kalau Adden lagi tidak mau diganggu. Adden tahu dirinya punya sifat pemarah dan benci bersikap kasar, tapi ia juga malas harus mengulang perkataannya.

Sifatnya berubah drastis sejak hari itu. Hari di mana Melody pergi meninggalkannya saat mereka berusia sebelas tahun.

Hanya ada surat maaf dan bunga layu sebagai tanda perpisahan. Satu tahun kebersamaan mereka hilang begitu saja, seakan tak pernah berarti apa-apa.

Menunggu langkah kaki Jojo menjauh, Adden segera melipat kertas tua itu. Ia memasukkannya kembali ke plastik bersama bunga kering, lalu menyelipkan semuanya di bawah kasur.

Ia selalu mengambil benda itu setiap kali mimpi yang sama datang lagi. Lucunya, di dalam mimpi, Melody tidak pernah berusia sebelas tahun. Usia gadis itu selalu sama dengannya setiap kali ia bermimpi.

Wajahnya samar, tapi Adden bisa melihat rambut pirang gelap itu dan mendengar suaranya memanggil namanya. Melody terus memanggil, tapi seakan tak mendengar jawaban, hingga akhirnya suara itu berubah menjadi isak tangis.

Saat itulah Adden selalu terbangun dengan keringat dingin. Jantungnya berdebar kencang dan tubuh terasa lelah luar biasa.

Meraih kunci dan dompet di meja, ia berdiri lalu menyambar tas gym. Namun, kalimat itu terus berputar di kepalanya, menghantuinya selama tujuh tahun lamanya.

Selama tujuh tahun ini, ia selalu berharap bisa bertemu lagi. Ingin rasanya bilang betapa bahagianya dulu saat bersama gadis itu dan betapa berartinya persahabatan mereka.

Bagaimana bisa Melody melupakannya begitu cepat?

Hanya meninggalkan surat bodoh itu tanpa alasan yang jelas?

Dulu, mereka bertemu tiga kali seminggu di pagar pembatas halaman rumah Adden. Adden tidak mengenal orang tuanya, begitu pun sebaliknya. Tapi itu tidak pernah jadi masalah. Yang terpenting adalah waktu yang mereka habiskan bersama sepulang sekolah.

Adden tidak tahu di mana rumah gadis itu atau sekolah di mana dia. Ia hanya menduga mungkin sekolah negeri di seberang kota.

Rumah pohon itu terletak di ujung tanah milik ayahnya, batas yang memisahkan kawasan perumahan orang kaya dan kawasan rumah biasa. Adden sadar betul Melody bukan dari keluarga mampu.

Bahkan saat itu, saat melihat gadis itu memanjat pagar, ia tahu baju dan sepatu yang dipakai adalah barang bekas. Kain bajunya sudah tipis dan berjumbai, sepatunya kotor dan bukan merek terkenal seperti yang ia pakai sehari-hari.

Tapi, uang tidak selalu bisa membeli kebahagiaan. Hidup hanya berdua dengan ayahnya setelah kepergian ibunya adalah bukti nyata dari hal itu.

Ibunya pergi meninggalkan mereka tepat setelah ulang tahunnya yang kesepuluh. Saat itu, satu-satunya teman yang bisa ia percaya dan tempat berbagi rahasia hanyalah Melody.

Di masa kecilnya, saat keadaan sulit atau keluarganya mengecewakan, persahabatan merekalah yang paling berarti. Melody adalah segalanya baginya. Ia tak akan pernah lupa rasa kecewa di hari itu.

Hujan turun sejak lama, langit gelap, dan udara berbau pupuk bercampur rumput. Ayahnya berdiri di depan pintu utama, menyeka air mata di pipinya. Saat itu juga ia sadar, ibunya tak akan pernah kembali lagi.

Ia tak akan melihat wajah wanita itu, mencium wangi parfumnya, atau merasakan sentuhan lembutnya selamanya.

Ibunya berjongkok hingga pandangan mereka sejajar. Bibirnya yang berwarna merah muda terlihat jelas saat berbicara.

"Bukan salahmu, Sayang. Ini salah Mama. Kamu bakal lebih baik tinggal sama Papa. Coba deh jangan bikin dia repot."

Isak tangis pecah. Ia mengusap wajah dengan bingung, tak mengerti kenapa ibunya harus pergi.

"Mama bakal balik kan? Aku janji bakal baik-baik aja, Ma. Janji deh," pintanya memohon.

Namun ibunya justru terlihat risih dan terganggu. Wanita itu hanya menggeleng tanpa menjawab pertanyaannya.

Adden berdiri tegak sambil menghela napas panjang, lalu menatap ayahnya yang ada di belakang dengan tatapan tajam.

"Bawa dia masuk, Kendra. Kamu tuh bikin malu banget tau nggak."

Ia menoleh ke arah ayahnya, berharap Cowok itu mau menahan ibunya agar tidak pergi dan tidak meninggalkannya. Tapi ayahnya hanya menunduk, memberi isyarat agar ia masuk ke dalam.

Saat menoleh untuk terakhir kalinya, ibunya sudah duduk di dalam mobil yang parkir di garasi. Wanita itu benar-benar pergi meninggalkannya.

Langkahnya berat mengikuti ayahnya masuk ke rumah yang luas dan sepi itu. Sang ayah menatapnya datar sebelum menutup pintu dengan keras.

Ayahnya meletakkan tangan di bahunya, menatap lurus ke matanya.

"Ingat baik-baik ya. Jangan pernah percaya sama cewek. Mereka tuh cuma manfaatin kamu, terus ninggalin seenaknya aja kayak kamu itu nggak berharga. Jangan pernah lupain itu, Adden!"

Setelah Melody meninggalkan surat perpisahan itu, ia sadar ucapan ayahnya dulu benar. Melody meninggalkannya dengan cara yang sama persis seperti ibunya.

Mereka pergi begitu mudah dan cepat, keberadaannya tak pernah berarti apa-apa. Janji yang diucapkan pun hancur lebur, dan yang tersisa hanyalah rasa benci.

"Turunin nggak?" tanya Jojo saat masuk dan duduk di kursi penumpang BMW convertible hitam doff miliknya.

Ia meletakkan tas olahraga di jok belakang, lalu masuk ke sisi pengemudi. Menutup pintu, ia menekan tombol starter dan mesin mobil langsung bergemuruh hidup.

"Bukannya tadi kamu yang panik takut telat dan dimarahin Papamu? Turunin kapota itu butuh waktu lama lho, Bro," jawabnya sinis.

"Udah jalan aja, dasar bodoh!" teriak Jojo disambut tawa mereka berdua.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!