karena ambisi untuk menjadi kaya, seseorang rela menukar bayinya dengan bayi dari pria masa lalunya....
yuk ikuti kisah nasib bayi yang di tukar...
akankah berakhir bahagia atau semakin menderita....
Assalamualaikum....
masih biasa, bertemu lagi dengan Author receh... yang masih asal njeplak kalau bikin cerita... tanpa memikirkan plot dan twist...asal ngalir saja di pikiran...
yang masih setia dengan cerita-cerita author,mohon dukungannya... yang tidak suka , bisa di skip tanpa meninggalkan bintang satu....
dukungan kalian, adalah motivasi author...
terimakasih...
salam sehat selalu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Di belakang gudang, Maudi bergerak dengan efisiensi seorang agen rahasia. Ia menyimpan kembali p****l peredam suaranya ke dalam holster paha di balik Gamisnya .
"Bawa tiga orang ini ke markas cadangan. Aku akan menjemput Bram secara pribadi," perintah Maudi dingin.
Mobil sedan hitam itu melesat menuju sebuah apartemen kelas menengah di pusat kota. Di sana, Bram sedang menenggak wiski, merayakan laporan palsu bahwa Kakek Harison telah tewas.
namun sedari tadi Bram tidak bisa menghubungi Seina, begitupun juga dengan Seina yang tidak bisa menghubungi Bram karena Maudi sudah menyabotase ponsel keduanya agar tidak saling berhimpitan kecuali atas perintah dirinya.
Brak!
Pintu apartemen Bram ditendang hingga jebol. Bram tersedak, ia mencoba meraih pistol di atas meja, namun sebuah pisau kecil melesat dan menancap tepat di punggung tangannya.
"Argh!!!" Bram mengerang kesakitan.
Maudi melangkah masuk. Ia masih memakai gamis lusuhnya , wajahnya tertutup masker hitam ,bukan cadar,ia juga memakai topi pet. "Bram... kau pikir bekerja untuk Seina Daneswara akan membuatmu kaya? Kau baru saja menggali liang kuburmu sendiri."
"Siapa kau?!" teriak Bram sambil memegangi tangannya yang berdarah.
Maudi mendekat, ia menarik kerah baju Bram dengan satu tangan. Kekuatannya tidak masuk akal untuk ukuran gadis seramping dia. "Aku adalah mimpi buruk yang dikirim untuk menjemputmu. Sekarang, ikut aku. Ada seseorang yang sudah menunggumu untuk makan malam."
Maudi mengambil ponsel milik Bram dan menghubungi Seina, Bram yang dari tadi berusaha menghubungi Seina tidak bisa, kini terkejut melihat ponsel di tangannya dapat menghubungi Seina dengan mudah.
"Cepat... katakan kalau obat itu sudah berhasil kau tukar, dan menunggu beberapa saat kemudian,kakek akan kehilangan kesadaran nya" Ancam Maudi dengan suara beratnya...
Bram mengangguk, entah mengapa, hanya melihat tatapan tajam dari Maudi membuat nya tak berkutik...ia mengatakan kebohongan pada Seina,dan dari seberang sana Seina girang, langsung memutuskan telponnya untuk segera melihat kondisi mertuanya.
Kemudian Maudi menyeret paksa Bram melalui jalan khusus yang tidak di ketahui oleh siapapun.
Di bawah, rekan-rekannya sudah menantikan kehadirannya....
"kalian tahan dia, Aku akan kembali ke rumah utama sekarang, kalau sudah ada instruksi dariku, kalian bisa mengirim nya ke sana" Tegas Maudi pada rekannya,lalu ia memasuki mobil yang tadi membawanya untuk kembali ke mansion Daneswara.
____
Di Mansion Daneswara, suasana mendadak berubah menjadi duka yang dibuat-buat. Seina menerima telepon dari Bram yang sebenarnya sudah dalam kendali Maudi.
Bram mengatakan kalau dia sudah berhasil menukar obatnya dan tunggu beberapa saat kemudian, sedangkan saat ini di mansion Daneswara, kakek Harison sedang beristirahat karena lelah dengan perjalanan yang cukup jauh
Seina tersenyum,lalu berlari menuju ke ruang kerja suaminya. Sebelum masuk keruangan ia meneteskan Pupuh mata agar terlihat ia sedang menangis .
"Don! Doni!" Seina segera masuk tanpa mengetuk pintu menuju ke tempat suaminya dengan air mata buaya yang mengucur deras. "Don... maksudku, asisten Papa tadi mengatakan. Katanya Tuan besar...maksudku Papa belum bangun juga di kamarnya padahal ini sudah sore!" kilahnya , padahal asisten Harison juga tidak mengatakan apa-apa , mereka sedang keluar karena ada urusan.
Doni yang sedang membaca laporan keuangan langsung terperanjat. "Apa?! Kakek .... Bagaimana mungkin, mungkin kakek sedang istirahat!"
"tapi ini sudah sore Don, tidak mungkin kakek tidur sangat lama , ayo sebaiknya kita kesana, aku sangat khawatir, karena asisten bilang, tidak ada suara apapun dari kamar kakek, padahal mereka sudah mengetuk pintu dari tadi.
Doni mengangguk ,lalu menutup laptop nya...
Mereka semua berlari menuju kamar Kakek Harison. Seina sudah membayangkan dirinya akan menguasai seluruh aset tuan Harison malam ini juga. Eliza yang melihat orang tuanya berlari dengan wajah cemas pun mengikuti dari belakang ...
"ma..pa...kenapa lari-lari?" tanya Eliza ikut cemas.
"Kakek El, kakekmu dari siang belum Nang juga" sahut Seina dengan terisak...
"APA...." sahut Eliza langsung berlari cepat menyiapkan orang tuanya.
"Pa...."
Tok
Tok
Tok
Doni mengetuk pintunya dengan keras
tetapi tidak ada suara sahutan dari dalam
Ternyata pintu nya tidak di kunci...
Akhirnya Doni langsung membukanya dengan keras....
Brakkkkk....
Kakek Harison sedang duduk di balkon, terlihat segar bugar sambil memegang segelas teh hangat. "Ada apa ini? Kenapa kalian berteriak-teriak seperti melihat hantu?"
Seina mematung. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "K-kakek? Kakek sehat?"
"Tentu saja. Tadi Maudi memberiku vitamin sebelum dia berangkat kuliah. Katanya agar Kakek tidak lelah. Dan benar saja, Kakek merasa sangat bertenaga," ucap Kakek Harison sambil menatap Seina dengan pandangan menyelidik.
Doni bernapas lega, namun ia menoleh ke arah Seina dengan curiga. "Seina, tadi kamu bilang Kakek tidak bangun lagi? Siapa yang mengatakan?"
"I-itu... mungkin aku salah dengar, Don. Aku... aku terlalu khawatir,..kau lihat sendiri, dari tadi kakek terus berada di kamarnya" jawab Seina gagap, keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Eliza langsung menyerobot orang tuanya...
"Kakek! Eliza takut sekali pas Mama bilang Kakek dalam bahaya!" tangis Eliza pecah. Ia memeluk lengan Kakek Harison dengan erat.
Bagi Eliza, Kakek Harison adalah segalanya, pintu menuju kemewahan dan sosok yang selalu memanjakannya sejak kecil. Ia sama sekali tidak tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya bukanlah darah Harison. Ia hanyalah pion dalam permainan besar Seina yang menukar bayi belasan tahun lalu.
Kakek Harison mengusap rambut Eliza, meski matanya tetap tertuju pada Seina yang tampak gelisah. "Sudahlah, Eliza. Kakek baik-baik saja. Mungkin Mamamu hanya terlalu cemas sampai salah dengar informasi."
Seina segera mengangguk cepat, mencoba mengatur napasnya yang memburu. "I-iya, Kek. Maafkan Seina. Seina tadi memang panik sekali karena kakek sempat terlihat sangat pucat di bandara.".
"mungkin karena Papa kelelahan" Sahut Doni yang merasa lega karena Papa mertuanya baik-baik saja tidak seperti apa yang dipikirkan oleh istrinya.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari arah depan. Maudi masuk dengan napas terengah-engah, pakaian gamisnya terlihat sedikit berantakan dan cadarnya tampak miring, memberikan kesan dia benar-benar baru pulang berlari dari pangkalan ojek.
"Assalamualaikum ... Kakek... Maudi pulang," ucap Maudi dengan suara polosnya. seperti apa yang diperintahkan kakeknya... setelah pulang kuliah Maudy harus langsung menemui kakeknya. kan tadi di luar salah satu pelayan mengatakan kalau tuan besar menunggunya di balkon kamarnya "Kuisnya susah sekali, Maudi sampai pusi....." ucapan Maudi berhenti pura-pura terkejut karena melihat semuanya sedang berkumpul di kamar kakeknya.
Maudi melirik Seina yang sedang berdiri kaku di pojok ruangan. Mata Maudi berkilat di balik cadarnya. "Baru pemanasan, Ibu. Tunggu sampai menu utama disajikan di meja makan nanti.".
"Ada apa ini... Kenapa semuanya sedang berkumpul di sini..?"tanya mau di pura-pura polos...
Eliza bakalan jadi musuh lagi buat Maudi, bakalan mengira kalau Maudi merebut Rasya darinya 🤣🤣🤣🤣 padahal Rasya menyelamatkan Eliza karena Maudi 😂 ahh elahhj Elizaaaa jangan jadi kacang lupa kulit kau, atau kami piteeeessss palamu yaaa 😏
Kata Rasya si Maudi orang asing ehh kata Hans, maudi datang bersama suaminya 🤣🤣🤣🤣🤣 ucapnmu bagian dari doa yg ku aamiin kann hans 🤣🤣
Tahan napas pas Maudi lompat dari pintu Helikopter untuk misi penyelamatan Eliza, smg setelah ini Eliza tidak akan melupakan jasa Maudi yg bertaruh nyawa untuk menyelamatkan dirinya dari racun Ibu kandungnya sendiri 🙄
Seina Seina.... bisa²nyaa seorang ibu tapi tak memiliki jiwa keibuan sama sekali bahkan dengan anak yg dilahirkan dari rahimnya sendiri, benar² wanita gila yg haus dan serakah akan harta.