Menikahi pria paling berkuasa di kota ini adalah mimpi buruk bagi semua orang, tapi bagi Nara, ini adalah tambang emas untuk novelnya."
Nara adalah seorang penulis berbakat yang sedang terjebak dalam krisis kreatif. Demi mendapatkan riset nyata untuk novel terbarunya, ia nekat masuk ke dalam kehidupan Aris, sang pewaris tunggal kerajaan bisnis yang dikenal dingin dan tak tersentuh.
Sebuah tawaran pernikahan kontrak selama satu tahun menjadi pintu masuk yang sempurna bagi Nara. Di mata dunia, Nara adalah istri yang patuh dan penuh cinta. Namun di balik pintu kamar, Nara diam-diam mencatat setiap detail perilaku Aris—mulai dari cara pria itu menatapnya dengan tajam hingga sisi rapuh yang tak pernah diperlihatkan kepada siapa pun—lalu menerbitkannya sebagai bab baru di aplikasi novel yang viral.
Keadaan menjadi rumit ketika novel fiksi Nara meledak di pasaran dan para pembaca mulai menyadari kemiripan karakter utamanya dengan sang CEO legendaris. Di sisi lain, Aris mulai merasa ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Catur di Meja Perjamuan Terakhir
Kalau aku mengira pesta semalam adalah puncak ketegangan, aku salah besar. Pagi ini, udara di dalam mobil menuju kantor pusat Wijaya Group rasanya sepuluh kali lebih mencekam. Bimo duduk di sampingku, diam seribu bahasa, fokus menatap jalanan lewat jendela mobil yang gelap. Kopinya sudah habis sejak sepuluh menit lalu, tapi dia masih memegang cangkir kertas kosong itu seolah itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya.
"Bimo," panggilku pelan, memecah keheningan yang mulai bikin telingaku berdenging. "Kamu serius soal kakekmu? Maksudku, dia yang menyuruh Clara? Kenapa seorang kakek mau menjatuhkan cucu tunggalnya sendiri?"
Bimo menoleh sedikit, tatapannya kosong tapi tajam. "Bagi Kakek, aku bukan cucu. Aku adalah investasi. Dan investasi yang mulai memiliki pikirannya sendiri adalah investasi yang gagal. Dia ingin aku menikah dengan Clara agar dia bisa mengontrol dua perusahaan besar sekaligus. Saat aku memilihmu—walaupun kontrak—dia merasa otoritasnya ditantang."
Aku menelan ludah. "Jadi, skandal kemarin itu cara dia buat bilang, 'Lihat, pilihanmu cuma bawa kehancuran'?"
"Tepat," jawab Bimo singkat. Mobil kami berhenti di depan lobi gedung pencakar langit yang megah. "Ayo. Jangan jauh-bahan dariku. Dan Nara... simpan ponselmu. Apapun yang terjadi di dalam sana, jangan ketik satu kata pun sampai kita keluar."
Aku mengangguk patuh, meski jemariku sudah gatal ingin mencatat dialog dramatis ini. Kami melangkah masuk, melewati barisan staf yang mendadak sibuk menunduk saat kami lewat. Di dalam lift menuju lantai teratas, aku bisa melihat pantulan diriku di dinding kaca. Aku memakai setelan formal yang diberikan asisten Bimo tadi pagi. Aku tidak lagi terlihat seperti penulis yang baru bangun tidur, tapi lebih seperti wanita yang siap bertarung di samping sang CEO.
Pintu lift terbuka, menunjukkan ruangan luas dengan meja jati raksasa di tengahnya. Di sana, Kakek Bimo sudah duduk menunggu. Wajahnya tenang, sangat tenang, seolah berita kenaikan saham lima persen pagi ini tidak berarti apa-apa baginya.
"Duduklah," suara Kakek menggema. "Aku tidak menyangka kau masih punya muka untuk membawa gadis ini ke kantorku, Bimo."
Bimo menarik kursi untukku, lalu duduk dengan tenang di sampingku. "Aku membawa Nara karena dia adalah tunanganku yang sah di mata publik sekarang. Dan berkat dia, strategi marketing kita berhasil meningkatkan kepercayaan investor pagi ini."
Kakek terkekeh, suara yang terdengar seperti gesekan amplas. "Strategi marketing? Kau menyebut skandal yang mempermalukan nama keluarga kita sebagai strategi? Kau pikir aku bodoh? Aku tahu kalian sedang mencoba memutar balikkan fakta."
"Fakta yang mana, Kek?" tanya Bimo dengan nada yang mulai menantang. "Fakta bahwa ada penyadap di perpustakaan rumahku? Atau fakta bahwa Clara mendapatkan akses masuk ke sana atas izin orang dalam?"
Suasana mendadak membeku. Kakek menyipitkan matanya, menatap Bimo dengan intensitas yang mengerikan. "Kau menuduh kakekmu sendiri?"
"Aku tidak menuduh. Aku punya bukti," Bimo meletakkan sebuah tablet di atas meja, menampilkan rekaman pembicaraan antara Panji dan Clara yang ternyata sudah direkam secara diam-diam oleh Bimo. Di sana terdengar jelas bagaimana Clara menyebut-nyebut restu 'Orang Tua' untuk menjatuhkan Nara.
Aku hanya bisa duduk mematung, berusaha tetap terlihat tenang meskipun jantungku sudah lari maraton. Ini benar-benar seperti adegan klimaks di novel-novel thriller politik yang sering kubaca.
"Panji?" Kakek mendengus. "Asisten setiamu itu? Kau pikir kata-katanya bisa dipercaya?"
"Panji bekerja untuk siapa pun yang membayar lebih, Kek. Dan kau lupa kalau aku yang mengontrol semua aliran bonusnya selama tiga tahun terakhir," Bimo memajukan tubuhnya, menatap langsung ke mata kakeknya. "Kek, aku menghargai semua yang sudah kau bangun. Tapi Wijaya Group sekarang berada di bawah kendaliku. Jika kau terus mencoba menyabotase hidupku hanya demi ego lamamu, aku tidak akan segan untuk membongkar semua audit internal yang kau sembunyikan selama sepuluh tahun terakhir."
Kakek terdiam. Tangannya yang sudah keriput tampak sedikit gemetar di atas meja. Ancaman Bimo bukan main-main. Audit internal adalah kartu mati bagi siapa pun di dunia bisnis ini.
"Kau berani mengancam kakekmu demi seorang gadis yang baru kau kenal di kafe?" tanya Kakek dengan suara serak.
"Aku melakukan ini demi diriku sendiri. Nara adalah simbol dari kebebasanku memilih," jawab Bimo mantap. Dia melirikku sekilas, dan untuk pertama kalinya, aku melihat ada kilatan emosi yang tulus di sana. Bukan akting, bukan sandiwara.
Kakek mendesah panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Dia tampak jauh lebih tua dalam sekejap. "Baiklah. Lakukan apa yang kau mau. Tapi ingat, Bimo, dunia bisnis tidak akan memaafkan kesalahan kecil sekalipun. Jika gadis ini melakukan blunder satu kali lagi, aku sendiri yang akan menendangnya keluar tanpa persetujuanmu."
"Itu tidak akan terjadi," sahut Bimo.
Kami berdiri dan berjalan keluar dari ruangan itu. Begitu pintu lift tertutup, aku merasa seluruh tenagaku terkuras habis. Aku bersandar di dinding lift, mengatur napas.
"Bimo... itu tadi gila banget," bisikku. "Kamu benar-benar mau bongkar audit internal itu kalau dia nggak mau berhenti?"
Bimo menatapku, ekspresinya melunak sedikit. "Sebenarnya, audit itu tidak ada. Aku cuma menggertak. Tapi Kakek punya terlalu banyak rahasia sampai dia sendiri tidak tahu rahasia mana yang aku maksud."
Aku tertawa kecil, tertawa karena lega sekaligus takjub. "Gila. Kamu benar-benar iblis dalam bernegosiasi."
"Dan kamu adalah penulis yang luar biasa," balasnya, kini dengan senyum tipis yang jujur. "Tulisanmu semalam... itu yang menyelamatkan posisi kita. Netizen sangat menyukai narasi 'konspirasi yang terbongkar'. Kamu benar-benar tahu cara memanipulasi emosi massa."
"Yah, itu pekerjaanku," kataku sambil mengeluarkan ponsel. "Bimo, aku harus nulis bab 6 sekarang. Plotnya baru saja dapat bumbu yang sangat lezat."
Bimo tidak melarangku kali ini. Dia justru membiarkanku duduk di lobi kantornya sambil mengetik dengan liar. Aku menulis tentang perjuangan sang tokoh utama melawan kekuatan besar di keluarganya, tentang bagaimana sebuah kebohongan bisa menjadi kebenaran jika dikemas dengan cerdas, dan tentang rasa percaya yang mulai tumbuh di antara dua orang yang awalnya hanya saling memanfaatkan.
'Di meja catur ini,' tulisku, 'raja dan ratu mungkin hanya pion dalam rencana yang lebih besar. Tapi ketika mereka mulai bekerja sama, bahkan pemain yang paling licik pun bisa skakmat.'
Sore harinya, saat kami kembali ke rumah, suasana sudah jauh lebih tenang. Panji menyambut kami dengan wajah datar seperti biasa, seolah-olah dia tidak baru saja mengkhianati Clara (atau kakek Bimo, aku sudah tidak tahu lagi dia dipihak siapa).
Aku masuk ke kamarku, siap untuk istirahat total. Tapi saat aku membuka laptop untuk memindahkan draf ponselku, sebuah email masuk. Email tanpa subjek, hanya berisi satu baris kalimat:
"Jangan terlalu senang, Nara. Kontrakmu mungkin aman dari Kakek, tapi tidak dari masa lalumu sendiri. Kamu pikir aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya sebelum jadi penulis?"
Aku mematung. Jantungku kembali berdebar kencang. Masa lalu? Aku hanya seorang anak yatim piatu yang berjuang kuliah sambil menulis. Rahasia apa yang mungkin kumiliki?
Aku buru-buru menutup laptop saat mendengar ketukan di pintu penghubung. Bimo muncul di sana, membawa dua botol minuman dingin.
"Kamu kenapa? Kelihatannya kamu baru lihat hantu," tanyanya, berjalan mendekat.
Aku mencoba tersenyum, tapi rasanya kaku. "Enggak, cuma capek aja. Bimo... apa kamu pernah menyelidiki masa laluku secara mendalam sebelum kita tanda tangan kontrak?"
Bimo menghentikan langkahnya, menatapku dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Aku tahu semua yang perlu aku tahu, Nara. Kenapa?"
"Cuma tanya," kataku, berusaha menyembunyikan getaran di suaraku.
Aku menerima minuman darinya, tapi pikiranku sudah melayang jauh. Siapa pengirim email itu? Dan rahasia apa yang mereka maksud? Aku melirik Bimo yang sekarang duduk santai di ujung tempat tidurku, terlihat sangat lega setelah perang melawan kakeknya.
Aku menyadari satu hal: di rumah ini, bab baru selalu dimulai sebelum bab sebelumnya benar-benar selesai. Dan bab kali ini... sepertinya akan membongkar topengku sendiri.