NovelToon NovelToon
FAVORITE DISASTER

FAVORITE DISASTER

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Clarice Diane

Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.

Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.

Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

You Still Cry In Your Sleep

Api fireplace masih menyala saat Damien menarik Serena kembali ke ranjang. Kabut di luar jendela semakin tebal, membuat seluruh pegunungan terlihat seperti hilang ditelan malam. Suite itu terasa terlalu hangat dibanding dinginnya udara di luar, dipenuhi aroma wine, kayu cedar, dan parfum Damien yang masih menempel samar di kulit Serena.

Perempuan itu berbaring diam sementara Damien berada sangat dekat di sampingnya. Jemari pria itu perlahan menyusuri tubuh Serena dari balik sweater tipis yang dikenakannya, gerakannya lembut dan terlalu familier, namun memancarkan ketidakpuasan. Padahal beberapa saat lalu, ia baru saja menjelajahi inci demi inci tubuh Serena yang tercium seperti aroma vanilla. Membuat perempuan itu sesekali mengerang.

Damien selalu seperti ini setelah menghancurkan seseorang. Menjadi lembut. Menjadi hangat. Dan mungkin itu sebabnya Serena tidak pernah benar-benar bisa meninggalkannya.

Tatapan Damien turun perlahan ke wajah Serena yang sejak tadi diam memandangi langit-langit kamar.

“Kau menyesal datang ke sini bersamaku?” tanyanya rendah.

Serena menggeleng kecil. Namun Damien tidak terlihat puas dengan jawaban itu.

Pria tersebut mendekat lagi sampai napas mereka saling bersentuhan. “Kau terlalu banyak berpikir.”

“Kau baru saja bilang kalau perempuan yang kau cintai adalah calon istri Julian. Bukankah dunia ini terlalu sempit dan rumit?” Nada suara Serena terdengar lebih lelah dibanding marah.

Damien menatapnya beberapa detik cukup lama sebelum akhirnya membelai pipi perempuan itu pelan. “Aku juga bilang aku tidak pernah bisa melepaskanmu.”

“Kadang aku berharap kau berhenti mengatakan hal-hal seperti itu.”

“Kenapa?”

“Karena aku selalu mempercayaimu.”

Kalimat itu membuat sesuatu dalam tatapan Damien berubah samar. Namun hanya sebentar. Pria itu akhirnya menarik Serena masuk ke pelukannya. Tubuh mereka langsung tanpa jarak sekarang, kaki Serena terselip di antara kaki Damien sementara lengan pria itu melingkar posesif di pinggangnya.

“Aku suka saat kau mempercayaiku,” bisik Damien rendah di rambut Serena. “Jangan berhenti.”

Dan sialnya, bahkan setelah semua rasa takut itu, Serena masih merasa paling aman di dalam pelukan pria ini.

...****************...

Mimpi buruk itu datang mendekati pagi.

Serena berdiri di gang sempit belakang rumah lamanya. Hujan turun deras, membuat jalanan kumuh itu dipenuhi genangan kotor dan bau alkohol yang menyengat. Ia bisa mendengar suara ayah tirinya membentak dari dalam rumah. Suara pecahan botol. Suara ibunya menangis.

Dan seperti biasa, Serena kecil hanya berdiri diam di luar rumah sambil memeluk lututnya sendiri.

Ketakutan.

Sendirian.

Lalu matanya menangkap sosok lain di rumah sebelah. Seorang anak laki-laki duduk di tangga belakang rumahnya dengan bibir berdarah dan mata lebam keunguan. Tubuhnya kurus, rambut hitamnya basah oleh hujan. Dari dalam rumah, suara pria dewasa membentak kasar terdengar samar disusul suara benda jatuh.

Anak laki-laki itu tidak menangis. Ia hanya duduk diam sambil menatap lurus ke depan dengan wajah kosong yang terlalu dewasa untuk anak seusianya. Dan Serena kecil selalu memperhatikannya diam-diam. Mereka tidak pernah bicara. Tidak pernah bermain bersama.

Namun entah kenapa Serena selalu merasa anak itu memahami rasa sepi yang sama.

Suatu malam, anak laki-laki itu tiba-tiba menoleh. Tatapan mereka bertemu di tengah hujan. Dan untuk pertama kalinya, Serena melihat sesuatu di mata anak itu. Bukan kesedihan. Melainkan kemarahan yang terlalu tenang.

Mimpi itu berubah aneh setelahnya. Wajah anak laki-laki itu perlahan menjadi samar, lebih dewasa, lebih tinggi.

Dan sebelum Serena sempat melihatnya jelas, suara Damien menariknya bangun.

“Serena.”

Napas Serena langsung terputus saat matanya terbuka cepat.

Ruangan masih gelap dengan cahaya api yang mulai meredup di fireplace. Tubuhnya basah oleh keringat dingin sementara napasnya terdengar kacau.

Damien langsung bangun di sampingnya. Tatapan pria itu berubah tajam begitu melihat wajah Serena. “Mimpi buruk lagi?”

Serena menutup wajahnya pelan sambil mencoba mengatur napas.

Damien segera menarik perempuan itu mendekat tanpa banyak bicara. Tangannya mengusap punggung Serena perlahan sementara bibir pria itu menyentuh pelipisnya singkat.

“Apa yang kau lihat?”

Serena menggeleng kecil. “Hanya mimpi lama.”

Damien memperhatikan wajah Serena beberapa detik sebelum akhirnya membelai rambut perempuan itu pelan.

“Kau gemetar.”

“Aku baik-baik saja.”

“Kau selalu bilang begitu.” Nada suara Damien terdengar nyaris seperti keluhan.

Pria itu menarik selimut lebih tinggi menutupi tubuh Serena sebelum kembali memeluk perempuan itu erat. Hangat tubuh Damien perlahan membuat napas Serena lebih tenang.

“Aku di sini,” bisik Damien rendah.

Dan Serena memejamkan mata pelan.

Karena mungkin itu masalah terbesar dalam hidupnya. Damien selalu berhasil terdengar seperti keselamatan.

...****************...

Pagi datang bersama kabut tebal dan suara hujan kecil di luar resort. Serena turun ke restoran private resort dengan sweater putih dan rambut panjang yang masih sedikit berantakan. Damien berjalan di sampingnya sambil sesekali menyentuh punggung perempuan itu pelan setiap kali staff lewat terlalu dekat.

Posesif sekali.

Dan semakin hari, Serena mulai sadar Damien bahkan tidak lagi berusaha menyembunyikannya.

Mereka baru duduk beberapa menit ketika seorang staff perempuan datang membawa buket bunga besar. Dark red roses. Dibungkus pita hitam.

Dan begitu Serena melihat kartu kecil di antara bunga-bunga itu, seluruh tubuhnya langsung menegang.

Damien menangkap perubahan ekspresi itu seketika. Tatapan pria tersebut langsung berubah dingin. “Lagi?”

Staff itu terlihat gugup. “Bunga ini dikirim untuk Miss Roe sekitar satu jam lalu.”

Damien mengambil kartunya lebih dulu. Rahangnya langsung mengeras saat membaca tulisan di sana.

You still cry in your sleep.

Some things never change.

— A

Darah Serena langsung terasa dingin.

Damien menatap kartu itu cukup lama sebelum akhirnya tertawa kecil. “Menarik.” Nada suaranya terlalu tenang. Dan Serena tahu itu pertanda buruk.

Ponsel Damien tiba-tiba bergetar di meja. Pria itu langsung mengangkatnya tanpa mengalihkan tatapan dari kartu di tangannya.

“Ada apa?”

Suara orang kepercayaannya terdengar samar dari seberang sana. Namun ekspresi Damien langsung berubah semakin gelap.

“Kami sudah cek rekaman CCTV mansion Miss Roe, tapi… file rekamannya kosong.”

Damien mengernyit. “Apa maksudmu kosong?”

“CCTV-nya rusak sejak beberapa hari lalu, sir.”

Hening panjang langsung jatuh.

Dan untuk pertama kalinya sejak bunga-bunga itu muncul, Damien terlihat benar-benar terganggu. Karena itu berarti seseorang sudah berada terlalu dekat dengan Serena cukup lama.

Pria itu memutus telepon perlahan sebelum menyandarkan tubuh ke kursi. Tatapannya turun pada bunga-bunga merah gelap di meja. Lalu ke Serena.

“Dia mengenalmu.” Kalimat itu terdengar lebih seperti fakta dibanding dugaan.

Jantung Serena langsung berdetak tidak nyaman. Dan sebelum suasana menjadi semakin tegang, ponselnya tiba-tiba berdering.

Nama di layar membuat Serena langsung membeku.

Julian Hayes.

Damien melihatnya juga.

Dan Serena bisa merasakan perubahan kecil di udara di antara mereka.

“Aku angkat dulu,” gumam Serena pelan.

Damien tersenyum tipis. Terlalu tipis. “Silakan.”

Serena segera mengangkat telepon lalu menjauh sedikit dari meja.

“Halo?”

Suara Julian terdengar hangat seperti biasa.

“Hai. Maaf mengganggumu pagi-pagi.”

Serena langsung menggigit bibir kecil. “Tidak, aku cuma… kaget.”

Julian terkekeh pelan di ujung sana. “Aku cuma ingin menanyakan kabarmu.”

Pertanyaan sederhana itu justru membuat Serena diam beberapa detik. Karena sudah lama sekali tidak ada seseorang yang menanyakan kabarnya tanpa nada posesif, tanpa kontrol, tanpa emosi yang melelahkan. Hanya tulus bertanya.

“Aku baik-baik aja.”

“Syukurlah.”

Hening kecil jatuh sebelum Julian kembali bicara.

“Aku ingin bertemu denganmu sekali lagi.”

Jantung Serena langsung menegang.

“Setidaknya sebelum aku menikah,” lanjut Julian, kalem.

Tatapan Serena otomatis bergerak ke arah Damien. Pria itu masih duduk di meja makan sambil memperhatikan dirinya tanpa berkedip. Terlalu tenang.

Dan Serena tiba-tiba merasa seperti sedang berdiri di tengah sesuatu yang berbahaya.

“Julian…”

“Aku hanya ingin memastikan kita benar-benar baik-baik saja sekarang.” Nada suara Julian terdengar ringan. Tidak penuh cinta. Tidak penuh luka.

Justru itu yang membuat Serena semakin merasa bersalah.

Dan di kejauhan, Damien perlahan tersenyum kecil saat melihat ekspresi Serena berubah.

Karena pria itu langsung tahu, bahwa Julian baru saja memberinya celah sempurna untuk masuk lebih dalam ke kepala Serena Roe.

...----------------...

...To be continue...

1
Azizi zahra
semangat nulisnya author 💪
kentos46: lanjut thor💪👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!