Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.
Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.
Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.
"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.
📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Udara malam yang sejuk menyapa wajah Nara begitu dia keluar dari kantor suaminya, sedikit mendinginkan tubuhnya yang masih terbakar oleh kemarahan dan rasa sakit. Rendra memilih diam, hanya menggenggam erat tangan Nara sambil membawanya ke arah mobilnya yang terparkir di halaman.
Setelah mereka masuk dan mesin mobil menyala, Rendra menoleh pada Nara. "Bagaimana kalau aku ajak kamu ke danau? Tempat itu biasanya sepi pada malam hari, bisa membuat hatimu lebih tenang."
Nara hanya mengangguk pelan, matanya menatap jalan yang semakin suram seiring dengan kedatangan malam. Rendra mengemudi dengan hati-hati, sesekali menyapukan pandangannya pada wanita yang duduk di sebelahnya itu.
Setelah sekitar tiga puluh menit perjalanan, mobil akhirnya sampai di tepi danau. Cahaya bulan yang memantul di permukaan air yang tenang memberikan suasana damai, jauh berbeda dari kekacauan yang baru saja mereka alami dikantor Arga. Rendra mematikan mesin dan turun dari mobil, lalu membuka pintu untuk Nara dan membantunya keluar.
Mereka berjalan pelan menuju dermaga kecil yang menjorok ke dalam danau. Udara segar yang bercampur aroma tanah lembap dan pepohonan membuat Nara sedikit bernapas lega. Mereka duduk berdampingan di ujung dermaga, saling diam sambil menikmati pemandangan danau yang tenang.
"Aku tahu ini sangat menyakitkan," ucap Rendra pelan, tanpa melihatnya. "Tapi kamu tidak sendirian dalam hal ini, Nara. Aku ada disini untukmu."
Air mata kembali mengalir di pipi Nara, kali ini tidak lagi karena kemarahan, melainkan karena rasa lega yang dia rasakan karena ada seseorang yang peduli. Dia menyandarkan kepalanya pada bahu Rendra, menangis dengan suara teredam. Rendra hanya mengulurkan tangannya untuk merangkul pundaknya, memberikan dukungan tanpa perlu banyak kata.
Setelah beberapa saat, tangisan Nara mulai reda. Dia mengusap air matanya dan melihat ke arah permukaan air yang memantulkan bulan. "Terima kasih, Ren. Jika tadi tidak ada kamu, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan."
"Kamu bisa mengandalkanku kapan saja," jawab Rendra. "Sekarang, apakah kamu ingin makan sesuatu dulu sebelum aku mengantarmu pulang? Kamu pasti belum makan kan?"
"Aku belum lapar, Ren." Nara menghela napas panjang, matanya menatap bulan yang terpantul di air dengan tatapan kosong. "Rumah itu penuh dengan kenanganku dengan mas Arga. Aku takut kalau aku pulang sekarang, semua kenangan itu hanya akan jadi luka yang lebih dalam."
Rendra mengangguk paham, lalu meraih tangan Nara dan menggenggamnya. "Kamu tidak perlu memaksakan diri. Malam ini aku akan menemanimu, sampai kamu siap untuk pulang."
Nara menoleh padanya, mata sedikit berkaca-kaca tapi ada rasa lega di dalamnya. "Terimakasih, Ren."
Rendra memberikan senyum hangat dan mengangguk. "Ayo, kita cari tempat makan didekat sini, kamu harus tetap makan dan tidak boleh sakit, Nara."
Rendra berdiri lebih dulu, lalu membantu Nara untuk berdiri. Saat mereka berjalan menuju mobil, Rendra menyembunyikan ekspresi puas yang hampir muncul di wajahnya, menggantinya dengan tatapan yang tetap penuh perhatian terhadap Nara. Di dalam hatinya, sebuah senyum kecil melintas, akhirnya kini peluangnya untuk mendekati Nara semakin terbuka lebar.
Dia membuka pintu mobil dengan lembut dan membantu Nara untuk masuk, lalu memasuki jok pengemudi. Saat mesin mobil menyala, dia menyapukan pandangan ke arah gedung kantor yang tampak jauh di belakang mereka, membayangkan bagaimana Arga saat ini pasti sedang terjebak dalam rasa bersalah dan kekacauan yang dia ciptakan sendiri.
"Sekarang saatnya aku mengambil alih, memberikan apa yang sebenarnya Nara butuhkan." batin Rendra sambil mengemudikan mobilnya meninggalkan danau.
-
-
-
Arga membuka pintu rumah dengan hati yang penuh beban, siap menghadapi kemarahan Nara lagi yang mungkin akan menyambutnya. Namun saat pintu terbuka, rumah yang biasanya hangat dengan cahaya lembut justru terlihat gelap gulita. Tidak ada suara yang menyambutnya, tidak ada aroma makanan yang biasanya mengundang saat dia pulang larut malam. Hanya keheningan yang menusuk dan rasa dingin yang menyebar di setiap sudut ruangan.
"Surprise..."
Lampu yang tadinya mati tiba-tiba menyala terang benderang. Suara itu terdengar serentak dari seluruh keluarga besar mereka, orang tua Arga dan Nara, adik perempuan Nara yang kini duduk di bangku kuliah, serta beberapa kerabat dekat yang sudah berkumpul di sana.
Arga terkejut hingga tidak bisa berkata apa-apa, tubuhnya membeku di pintu. Matanya berkeliling mencari sosok istrinya, tapi tidak melihatnya di antara orang-orang yang sedang tersenyum padanya.
"Arga, dimana Nara? Kalian habis makan malam diluar kan?" tanya Niken, ibunya Arga. Wanita itu melangkahkan kakinya mendekat ke arah sang putra yang kini sudah masuk kedalam rumah. "Kami sudah menyiapkan semua kejutan ini untuk merayakan ulang tahun Nara yang ke dua puluh tujuh tahun."
Arga merasa dadanya sesak, matanya mulai berkaca-kaca melihat dekorasi meriah di seluruh ruangan. Balon warna merah muda dan putih, banner bertuliskan 'Selamat Ulang Tahun Nara', serta meja besar yang sudah dihiasi dengan kue cantik dan hidangan spesial yang biasanya disukai istrinya.
"Nara... dia..." ucapnya dengan suara serak, wajahnya memucat. "Aku tidak jadi makan malam bersama dengan Nara."
Kata-kata itu membuat suasana yang tadinya penuh kegembiraan langsung meredup. Orang tua Nara yang berdiri di dekat meja kue langsung mendekatinya dengan wajah yang khawatir.
"Ada apa nak, Arga?" tanya Wira, ayah Nara, dengan nada yang tegas namun penuh perhatian. "Apa ada masalah? Kalian bertengkar?"
Arga masih berdiri membeku, bibirnya sedikit terbuka tapi tidak mampu mengeluarkan satu katapun. Rasa bersalah yang membanjiri dirinya membuatnya tidak berani melihat wajah khawatir keluarga mereka.
Tiba-tiba suara mesin mobil terdengar di depan rumah, diikuti dengan suara pintu mobil yang ditutup. Beberapa detik kemudikan suara langkah-langkah kaki terdengar dengan Nara yang masuk bersama dengan Rendra.
Nara terkejut ketika melihat keluarga besarnya sudah berkumpul di rumahnya, matanya menyapu sekitar dan menemukan sosok Arga yang berdiri tidak jauh didepannya dengan wajah penuh kesedihan.
"Ma... Pa..." ucap Nara pelan. "Kenapa kalian semua ada di sini?"
Wira mengerutkan keningnya dan menatap putrinya dengan tatapan yang penuh kekhawatiran dan bingung. Dia melangkahkan kakinya mendekat, "Nara, justru Papa yang ingin bertanya, kamu darimana saja?"
"Dan..." Wira menoleh ke arah Rendra yang berdiri disamping putrinya. "Siapa pria ini? Kenapa kamu malah pulang bersamanya dan bukan bersama dengan suamimu?"
-
-
-
Bersambung...