Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Keesokan harinya.
Setelah demam Raisa benar-benar reda, barulah Clara pulang.
Gaun untuk menghadiri jamuan makan besok malam masih belum dia siapkan.
Sore harinya, dia menyempatkan keluar rumah.
Sesampainya di butik mewah, terlihat beberapa pegawai butik, termasuk manajer butik sedang sibuk mengurus sebuah gaun.
Sampai-sampai saat Clara melangkah masuk untuk mendekat, barulah mereka menyadari kedatangan Clara.
"Permisi, Kak. Ada yang bisa kami bantu?" tanya pegawai butik.
"Aku mau lihat-lihat dulu."
"Baik, silakan, Kak."
Meski menjadi menantu Keluarga Anggasta, Clara selama ini sangat jarang menghadiri jamuan mewah.
Bagaimanapun, setiap kali menghadiri acara formal seperti itu, Edward dan Sinta tidak pernah mengajaknya.
Sementara nenek Keluarga Anggasta, setelah bertahun-tahun pensiun, nenek tak lagi peduli pada lingkaran sosial semacam itu.
Clara tidak terlalu paham soal gaun mewah. Hanya saja, sahabat dekatnya, Raisa, adalah seorang desainer busana kelas atas. Karena sering bersama, dia pun memiliki selera yang cukup baik.
Namun, gaun cantik di butik terlalu banyak. Hal itu membuatnya sedikit kewalahan.
Dia tak berencana terlalu selektif, asal terlihat pantas, sudah cukup untuknya.
Saat sedang memikirkannya, pandangannya tiba-tiba tertuju pada gaun yang tadi menjadi pusat perhatian para pegawai butik.
Clara tampak tertegun.
Gaun itu berwarna ungu muda, terbuat dari kain tulle transparan dengan potongan khas pinggang yang anggun.
Bordiran bunga di bagian pinggang tampak begitu indah dan detail, dipadukan dengan kalung mewah yang dikenakan manekin. Perpaduan sempurna antara kelembutan dana kemewahan.
Tanpa sadar, Clara melangkah mendekat.
Saat hendak mengulurkan tangan untuk merasakan tekstur kainnya, manajer butik tiba-tiba memegang tangannya dengan kuat. Padahal dia bahkan belum sentuh gaunnya.
Clara merasa kesakitan sampai mengerutkan keningnya.
Manajer butik buru-buru melepas genggaman tangannya, lalu berkata, " Maaf, Kak. Aku nggak sengaja. Tapi, gaun ini pesanan khusus pelanggan VIP kami. Satu-satunya di dunia, harganya juga mahal. Kalau terjadi sesuatu pada gaun ini, kami nggak bisa menanggung kerugiannya."
"Nggak apa-apa."
Ah, ternyata pesanan orang. Clara pun sedikit merasa kecewa.
Gaun-gaun yang dijual di butik ini harganya berkisar dari puluhan hingga ratusan juta. Sedangkan yang paling mahal bisa mencapai miliaran. Hanya saja, jika dibandingkan dengan gaun tadi, semua yang dipajang di sini terlihat biasa saja.
Pada akhirnya, Clara memilih gaun panjang berwarna putih gading dengan motif border bunga yang tampak sederhana namun berkelas.
Selesai membayar gaun itu dan meminta untuk dibungkus dengan baik, Clara mendengar obrolan dua pegawai yang sedang berbisik. "Dengar -dengar, kalung dan gaun itu harganya lebih dari enam puluh miliar. Rasanya seperti pakai vila mewah di badan ini. Orang kaya sungguh royal ya," ucap pegawai butik.
"Iya tuh. Tapi lebih gila lagi, gaun itu mungkin cuma dipakai sekali aja."
'Enam puluh miliar...'
Ternyata harganya semahal itu. Meski belum dipesan orang, Clara tetap tidak mampu membelinya.
Clara menggelengkan kepalanya, lalu pergi meninggalkan butik.
Sesampainya di rumah, Raisa meneleponnya dengan maksud ingin mentraktirnya makan malam besok.
Namun, saat tahu besok Clara hendak menghadiri jamuan malam, dia langsung bergegas datang pada keesokan sorenya untuk membantu sahabatnya itu bersiap-siap.
Clara memiliki selera yang bagus.
Gaun pilihannya sungguh menawan.
Apalagi dipadukan dengan sentuhan riasan tangan Raisa, kecantikan alami Clara semakin terpancar. Dia tampak anggun, lembut dan juga elegan.
Saat Dylan menjemputnya malam itu, pria itu sampai tertegun melihat kecantikan Clara. "Cantik banget, cocok banget kamu pakai itu," ucap Dylan terpesona dengan kecantikan Clara.
"Makasih."
Mereka pun naik ke dalam mobil. "
Jadi, besok kamu mulai kembali ke perusahaan?" tanya Dylan.
"Ya."
"Kebetulan, Vanessa juga..." Teringat kalau Clara tidak mengenal siapa Vanessa, Dylan berusaha untuk menjelaskan, "Oh iya, Vanessa itu jenius dalam algoritma yang pernah aku ceritakan sebelumnya. Besok dia juga mulai masuk kerja. Aku akan kenalin kalian berdua."
.....
Clara tampak tertegun saat mendengar nama Vanessa.
"Vanessa? Kamu bilang namanya Vanessa? Maksudnya Vanessa Gori? Vanessa yang baru kembali dari Negara Latvin?" cecar Clara.
Dylan mengangguk, ekspresinya pun sedikit terkejut, berkata, "Ya, kamu kenal?"
"Dia adik tiriku," jawab Clara.
Dylan langsung terdiam.
Dia tahu sedikit tentang kondisi Keluarga Hermosa.
Dia juga tak menyangka akan ada kebetulan seperti ini.
Tatapan Clara berubah dingin, lantas lanjut berkata, "Dia juga selingkuhan Edward."
Dylan tiba-tiba menginjak rem.
"Kamu..." Dylan terbelalak menatap Clara.
Clara lantas menggelengkan kepalanya, sambil berkata, "Aku baik-baik aja." Wajah Clara tampak tenang, dia pun lanjut berkata, "Hanya saja, nggak masalah kalau kamu anggap aku menyalahgunakan wewenang, tapi aku nggak setuju dia masuk perusahaan kita."
Raut wajah Dylan berubah serius. Tanpa ragu, dia langsung menyetujuinya, berkata, "Nggak kok. Aku dukung keputusanmu."
"Makasih," ucapnya. Perasaannya mulai menghangat. Dia tampak tertegun, lalu lanjut berkata, "Tapi, kalau seperti ini, kamu akan kehilangan seorang jenius."
Dylan tertawa sembari menggelengkan kepalanya. "Bisa dibilang dia memang jenius dalam algoritma, tapi dibandingkan denganmu, dia masih kalah jauh," ucap Dylan sembari menatap Clara.
Kata-kata terakhir yang Dylan ucapkan benar-benar serius.
Clara sedikit terkejut mendengarnya.
Dia merasa Dylan terlalu melebih-lebihkan. Di sisi lain, Dylan tahu apa yang Clara pikirkan, dia pun berkata, " Aku ngomong apa adanya."
Clara tidak menyangka Dylan akan berkata seperti itu. Setelah berpikir sejenak, dia lanjut bertanya, " Ngomong-ngomong, dia sudah wawancara lama, tapi kenapa belum masuk kerja?"
"Dia bilang masih ada urusan yang harus dikerjakan. Untuk detailnya, aku nggak tanya," jawab Dylan sembari menggelengkan kepalanya.
Setelah menempuh perjalanan selama belasan menit, mereka berdua tiba di tempat tujuan.
Clara tampaknya masih memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Dylan penasaran.
"Aku cuma heran, kenapa dia ingin gabung di perusahaan kita," jawab Clara seolah ragu.
Perusahaan mereka memang berkembang dengan cukup baik. Namun, ada begitu banyak perusahaan besar lain di dalam negeri yang lebih berpotensi. Seharusnya, dengan latar belakang keluarga dan pendidikannya, Vanessa punya banyak pilihan.
Clara adalah pemegang saham terbesar di perusahaan. Namun, karena beberapa alasan tertentu, identitasnya sebagai pemilik saham tidak pernah diumumkan ke publik.
Harusnya Vanessa tidak tahu jika Clara memiliki hubungan dengan memiliki hubungan dengan perusahaan itu.
Jadi, alasan Vanessa pasti bukan karena Clara.
Dylan tampak memainkan dagunya seolah berpikir. Tiba-tiba, dia tertawa, berkata, "Saat wawancara, dia sempat menyebut tentang Bahasa pemrograman perusahaan kita. Dia bilang sangat tertarik dengan 'Cuap'."
"Cuap" adalah bahasa pemrograman yang Clara rancang bersama timnya saat berusia tujuh belas tahun.
Pada zamannya kala itu, banyak orang yang meremehkan dan menganggapnya biasa saja. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, " Cuap" justru menjadi benteng pertahanan terkuat perusahaan mereka. Dalam beberapa tahun terakhir, industri teknologi telah mengakui betapa hebatnya sistem itu.
Tidak sedikit tim profesional mencoba membongkar dan menganalisa, tapi hasilnya nihil. Saat ini, "Cuap" telah menjadi sesuatu yang sulit dijangkau oleh pesaing industri.
Tidak diragukan lagi, alasan Vanessa masuk ke perusahaannya adalah karena bahasa pemrograman itu.
"Yah, bisa dibilang, dalam dua atau tiga tahun terakhir, banyak talenta hebat yang gabung ke perusahaan kita karena 'Cuap'," timpal Dylan.
Clara tidak menyangka akan seperti itu.
Dylan menatap Clara sambil mengusap kepalanya dengan lembut. "Makanya sudah kubilang sejak awal, kalau kamu itu lebih hebat dari dia. Itu bukan cuma ngomong doang," imbuh Dylan.
Sebagai senior yang paling mengenalnya, mana mungkin dirinya tidak tahu betapa jeniusnya Clara dalam hal ini.
Bagaimanapun, sebelum kemunculan Clara, dirinyalah yang selalu disebut-sebut sebagai seorang jenius.