bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.
sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.
namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?
novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laporan Masa Lalu
Pagi itu, Alessandra bangun lebih awal dari biasanya.
Bukan karena gangguan dari tiga pembunuh semalam sudah menjadi camilan tengah malam yang mengenyangkan. Bukan juga karena mimpi buruk karena dia tidak pernah bermimpi. Tapi karena cincin di jari kelingkingnya berdenyut sejak pukul 05.00 pagi. Kinan sudah mencoba menghubunginya tiga kali.
Ada laporan, pikirnya sambil duduk di ranjang. Dan dari intensitas denyutnya, bukan kabar baik.
Dia menekan cincin itu.
"Kinan."
"Nona, saya sudah mengumpulkan data seperti yang Nona minta. Tapi..." Suara Kinan terdengar ragu. Tidak biasa. Kinan adalah wanita yang tegas, tidak pernah ragu-ragu. Jadi jika dia ragu, itu berarti sesuatu yang sangat tidak beres.
"Tapi?"
"Sebagian besar data terkunci. Saya tidak bisa mengaksesnya."
Alessandra mengerutkan kening. "Terkunci? Oleh siapa?"
"Itulah yang aneh, Nona. Seolah-olah ada seseorang atau sekelompok orang dengan kekuatan besar yang sengaja menyembunyikan masa lalu keluarga Sunjaya dan keluarga ibu Allegra. Setiap arsip, setiap catatan sipil, setiap berita lama... semuanya terenkripsi. Bukan enkripsi digital biasa, Nona. Tapi semacam... kutukan. Setiap kali saya mendekati informasi, data itu berubah menjadi abu."
Alessandra terdiam.
Kutukan pada data digital? Itu mungkin di dunia Kaldora. Beberapa pemilik bintang tingkat tinggi dengan elemen khusus bisa mempengaruhi jaringan informasi, mengacak data, bahkan menghancurkannya dari jarak jauh.
"Yang bisa saya temukan hanya sedikit, Nona. Ibu kandung Valeria Allegra bernama Larasati. Dia berasal dari keluarga terhormat yang dulu sangat disegani di Kaldora yaitu keluarga Suradikara. Tapi sekarang... keluarga itu sudah runtuh. Tidak ada lagi yang tersisa. Nama Suradikara hanya tercatat di buku-buku sejarah kuno."
"Keluarga Suradikara," ulang Alessandra. "Apa hubungannya dengan keluarga Sunjaya?"
"Hendra Sunjaya ayah dari Allegra dulu adalah saudagar biasa. Tidak kaya, tidak berpengaruh. Tapi setelah menikah dengan Larasati dari keluarga Suradikara, kekayaannya melonjak drastis. Seolah-olah... dia mendapatkan kehormatan dan kekayaan dari pernikahan itu."
"Kehormatan yang runtuh setelah Larasati meninggal?"
"Tepat, Nona. Setelah Larasati meninggal 12 tahun lalu, keluarga Sunjaya perlahan-lahan kehilangan pengaruh. Mereka tetap kaya, tapi tidak sekaya dulu. Dan yang lebih aneh... semua jejak tentang keluarga Suradikara sengaja dihapus setelah kematian Larasati. Seperti ada yang ingin melenyapkan nama itu dari sejarah."
Alessandra bangkit dari ranjang.
Dia berjalan ke cermin retak di sudut kamar Allegra. Bayangannya sendiri tampak samar di kaca tua itu. Rambut hitam sebahu masih terikat pita merah dari semalam. Kaus hitam dan celana olahraga abu-abu masih melekat di tubuhnya. Tapi matanya... matanya bersinar dengan kegembiraan yang gelap.
Misteri, pikirnya. Misteri keluarga Suradikara. Misteri kematian Larasati. Misteri hilangnya Allegra. Misteri tanda mawar di dahi keluarga Sunjaya.
Semuanya terhubung.
Dan dia baru berada di permukaan.
"Kinan."
"Nona?"
"Terus selidiki. Butuh waktu berapa lama untuk menembus kutukan itu?"
"Mungkin berminggu-minggu, Nona. Bahkan berbulan-bulan. Saya perlu bantuan... seseorang yang mengerti sihir pembuka kunci."
"Papa bisa membantu?"
"Mungkin. Tuan Purnomo memiliki jaringan luas. Tapi saya tidak ingin merepotkan Tuan sebelum Nona sendiri yang memintanya."
Alessandra mengangguk meskipun Kinan tidak bisa melihat. "Baik. Aku akan bicara dengan Papa nanti. Sementara itu, kumpulkan semua yang bisa ditemukan. Informasi sekecil apa pun berguna."
"Baik, Nona."
"Tambahan satu lagi."
"Iya, Nona?"
"Cari tahu tentang tanda mawar. Bentuknya seperti mawar delapan kelopak, hanya terlihat oleh pemilik bintang. Aku curiga itu adalah tanda pengendalian. Mungkin berasal dari elemen tertentu."
"Saya catat, Nona. Tanda mawar. Apakah Nona melihatnya di keluarga Sunjaya?"
"Semua. Hendra, Dika, Raka, Riko, Saskia. Semua punya tanda itu. Saskia punya yang paling terang."
"Itu berarti... mereka semua dikendalikan? Bahkan Saskia?"
"Atau Saskia adalah pengendalinya. Belum tahu. Tapi satu hal yang pasti: ada dalang di balik semua ini. Dan dalang itu mengincar Allegra."
"Nona... hati-hati. Jika keluarga Sunjaya benar-benar boneka, maka dalang itu bisa sewaktu-waktu menggunakan mereka untuk mencelakai Nona."
Alessandra tersenyum.
Bukan senyum sinis. Tapi senyum yang lebih gelap dari itu. Senyum seorang predator yang menemukan jejak mangsa yang menarik.
"Biarkan. Aku justru ingin dia mencoba."
hubungan terputus.
Alessandra meletakkan cincin di meja belajar Allegra yang sempit. Dia berdiri di depan cermin retak itu, merapikan seragamnya satu per satu.
Kemeja putih lengan panjang dimasukkan rapi ke dalam rok hitam di atas lutut. Pita hitam di leher dikencangkan sedikit tidak terlalu ketat, tidak terlalu longgar. Almamater hitam dengan logo burung gagak dipasang di bahu. Pita merah di rambut yang juga berfungsi sebagai senjata tetap terikat sempurna.
Kacamata rimless dengan rantai emas dia kenakan.
Terakhir, dia mengambil tasnya, memeriksa isinya: buku catatan hitam, pulpen cadangan, dan buku sejarah Ateris yang selalu dia bawa untuk pura-pura menjadi kutu buku.
Setelah selesai, dia menatap bayangannya sendiri.
Gadis di cermin itu tampak sempurna. Seragam rapi, wajah dingin, mata tajam. Tidak ada yang tahu bahwa di balik kacamata penekan itu, tersembunyi sepuluh bintang yang siap meledak kapan saja.
Tidak ada yang tahu bahwa malam tadi, dia memakan tiga inti bintang untuk sarapan tengah malam.
Tidak ada yang tahu bahwa dia sedang menyelidiki misteri kelam keluarga Sunjaya yang bahkan Kinan tidak bisa menembusnya.
Alessandra tersenyum.
Senyum sinis.
Keluarga Sunjaya mendapatkan keuntungan dari kehormatan keluarga Suradikara, pikirnya. Setelah Larasati meninggal, kehormatan itu runtuh. Tapi kenapa? Apakah karena Larasati menyimpan rahasia? Atau karena keluarga Suradikara memang sengaja dihancurkan?
Dan hubungannya dengan Allegra... apa?
Semakin banyak pertanyaan, semakin sedikit jawaban.
Tapi Alessandra tidak frustrasi.
Dia justru... menikmatinya.
Pekerjaan untuk berbulan-bulan, pikirnya. Misteri keluarga Allegra di satu sisi. Musuh-musuhku sendiri di sisi lain.
Dua burung dengan satu batu.
Atau lebih tepatnya, dua misteri dengan satu penyamar.
Dia merapikan kacamatanya sekali lagi. Jari telunjuknya menyentuh ujung rimless glasses, mendorongnya sedikit ke atas dengan gerakan kebiasaan yang sudah menjadi ciri khasnya.
"Waktu akan menjawab," bisiknya pada bayangan di cermin. "Dan aku punya banyak waktu."
Dia turun ke lantai dasar.
Rumah Sunjaya masih sepi. Para pembantu sibuk di dapur, tapi tidak ada anggota keluarga yang terlihat. Mungkin masih tidur. Mungkin sengaja menghindarinya setelah kejadian semalam.
Terserah.
Alessandra berjalan ke pintu depan. Di halaman, Ducati Panigale V4 hitamnya sudah terparkir, siap mengantarnya ke sekolah.
Saat dia memasang helm, dari balik visor, dia melihat sekilas ke arah jendela lantai dua.
Tirai di kamar Saskia bergerak.
Seseorang mengintip.
Saskia.
Alessandra tidak menoleh. Dia menghidupkan mesin motor, dan melesat meninggalkan rumah Sunjaya tanpa melihat ke belakang.
Biarkan dia mengintai, pikirnya. Biarkan dia berpikir bahwa dia unggul.
Karena sebentar lagi, dia akan sadar.
Bahwa di papan catur ini, dia bukan pemain.
Dia hanya bidak.
Dan aku adalah ratu yang siap membantai semua bidak yang menghalangi jalanku.
Di sekolah, semuanya berjalan seperti biasa.
Mutiara dan Laras menyambutnya dengan senyum. Fiona menyengir sinis dari kejauhan. Renata dari kelas XII MIPA 2 mengangguk hormat saat berpapasan di koridor.
Dan pemuda misterius Aldric tidak terlihat lagi.
Mungkin dia sudah kabur. Mungkin dia sedang melapor pada majikannya. Atau mungkin dia sedang bersembunyi, trauma karena hampir dimakan kegelapan.
Terserah.
Alessandra duduk di bangkunya, membuka buku sejarah Ateris, dan mulai membaca.
Tapi pikirannya jauh dari kata-kata di halaman itu.
Pikirannya pada Kinan yang sedang berusaha menembus kutukan.
Pikirannya pada keluarga Suradikara yang runtuh misterius.
Pikirannya pada Larasati ibu dari Allegra yang mungkin menyimpan rahasia besar.
Dan pikirannya pada tanda mawar di dahi keluarga Sunjaya.
Siapa dalang di balik semua ini?
Dia merapikan kacamatanya.
Waktu akan menjawab.
Dan saat waktu itu tiba, aku akan siap.