Guntur, pemuda Sidoarjo dengan rambut gondrong dan jurus silat warisan kakek, harus menerima kenyataan pahit saat cintanya dikandas oleh Amanda. Dengan bekal uang saku hasil menjual mesin pompa air dan sekeranjang perbekalan sederhana, Guntur berangkat ke Jakarta untuk mengubah nasib.
Di hari pertamanya, Guntur hampir ditabrak oleh Vaneshaseorang CEO galak yang ia juluki "Mak Lampir"yang ternyata adalah sepupu mantan kekasihnya! Takdir kemudian membawanya menyelamatkan Bang Soni, bos penguasa dunia malam yang anti-narkoba namun gemar minum keras, dari serangan preman.
Kini, Guntur terjebak di antara tugas menjaga Sekar putri Bang Soni yang tak kalah galak dan intrik keluarga kaya yang dulu meremehkannya. Dengan sifatnya yang sulit ditebak dan jurus silat yang mematikan, Guntur siap menggoncang Jakarta dan membuktikan bahwa jagoan sejati tidak butuh jas mewah untuk berkuasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Sapu Bersih Aspal Jakarta
Malam itu, Jakarta Pusat tidak sesunyi biasanya. Setelah insiden di diskotik Exotic Night, Bos Joni ternyata tidak kapok. Bukannya bertobat, dia malah mengumpulkan seluruh aliansi gengster Jakarta—mulai dari tukang palak terminal sampai pembunuh bayaran kelas kakap—untuk satu tujuan: Menghabisi Sang Naga.
Di sebuah gudang tua di pelabuhan, Bos Joni berdiri dengan pongah. "Hari ini, kita tunjukkan siapa penguasa aspal sebenarnya! Jangan biarkan ojek itu hidup!"
Namun, belum sempat mereka bergerak, suara gemuruh ribuan mesin motor mulai mengepung gudang tersebut. Cahaya lampu dari ribuan motor ojek menyinari kegelapan seperti jutaan kunang-kunang yang haus darah.
BRAAAKKKK!
Pintu gerbang gudang roboh dihantam motor matic Guntur yang melompat masuk lewat gundukan pasir. Guntur turun dengan santai, jaket hijaunya berkibar, dan sarung masih melilit di leher.
"Walah Bos Joni... kumpul-kumpul kok nggak undang saya? Lagi arisan ya?" ucap Guntur sambil menyulut rokok kreteknya.
"Hajar dia! Bunuh!" teriak Bos Joni ketakutan.
Puluhan gengster bersenjata tajam maju menerjang. Guntur menarik sarung dari lehernya, lalu melilitkan batu besar di ujung sarung tersebut—senjata rahasia ala santri jalanan.
WUUUSSSHHH! KRAAAKKKK!
Sabetan sarung Guntur menghantam rahang tiga gengster sekaligus sampai gigi mereka berhamburan di lantai beton. Guntur bergerak secepat kilat di antara kerumunan.
BUGH! DESSS! BUGH!
Satu pukulan ulu hati membuat raksasa pemegang parang langsung tumbang. Guntur kemudian menangkap kepala dua gengster dan membenturkannya dengan keras.
KREEEEKKKK!
"Aduh, kepalanya kurang keras ya? Kok bunyi kayak kerupuk," ejek Guntur sambil menendang punggung lawan hingga menabrak tumpukan drum minyak.
Guntur tidak memberi ampun. Dia seperti malaikat maut yang sedang menari. Setiap gerakannya mematikan. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, lima puluh gengster tangguh terkapar bersimbah darah, merintih kesakitan di lantai.
Guntur melangkah pelan menuju Bos Joni yang sudah gemetaran di pojok ruangan. Si bos klimis itu mencoba mengeluarkan pistol, tapi Guntur lebih cepat. Sarungnya melesat membelit tangan Bos Joni.
KRETEEEKKKK!
"AAAAAARRGGHHH!" Bos Joni menjerit saat pergelangan tangannya dipelintir sampai posisinya tidak wajar. Pistolnya jatuh, dan Guntur langsung menginjak tangan itu dengan sepatu boot-nya yang kotor.
Guntur menarik kerah baju Bos Joni sampai wajah mereka sejajar. "Pripun Bos? Masih mau minta upeti? Apa mau saya buatkan jalur khusus ke kuburan?"
Melihat semua anak buahnya hancur dan nyawanya di ujung tanduk, nyali Bos Joni langsung hilang. Dia jatuh tersungkur di kaki Guntur, menangis sejadi-jadinya sampai minyak rambutnya luntur campur keringat dan air mata.
"Ampun Mas Guntur! Ampun Sang Naga! Saya salah! Saya mohon jangan bunuh saya!" ratap Bos Joni sambil mencium ujung sepatu Guntur.
Guntur hanya diam dengan tatapan dingin. Bos Joni kemudian bersujud lebih rendah lagi. "Mas Guntur, mulai hari ini semua diskotik, semua lahan saya, saya serahkan ke Mas! Saya mohon... jadikan saya anak buah Mas Guntur! Saya mau jadi pengikut Sang Naga! Saya janji bakal setia!"
Guntur menarik napas dalam, lalu mengembuskan asap rokoknya ke wajah Bos Joni. "Jadi anak buah saya? Memangnya kamu bisa narik ojek? Bisa sabar kalau penumpangnya cerewet dan minta cepat-cepat?"
"Bisa Mas! Saya belajar! Saya bakal pakai jaket hijau juga! Tolong jangan bunuh saya!" rengek Bos Joni.
Guntur menoleh ke arah ribuan driver ojek yang sudah masuk ke dalam gudang. "Dengar itu Lur? Bos besar ini mau jadi bawahan kita. Gimana? Diterima nggak?"
"Jadikan tukang cuci motor pangkalan saja, Mas!" teriak salah satu driver yang disambut tawa riuh.
Guntur tersenyum tipis. Dia melepaskan injakannya. "Oke Joni. Mulai besok, lepas jasmu, lepas batu akikmu. Kamu saya tugaskan jaga keamanan jalur distribusi V-Group tanpa bayaran satu rupiah pun sebagai penebus dosamu. Kalau kamu berkhianat sikit saja... kamu tahu sendiri akibatnya."
"Siap Bos Naga! Siap!" jawab Joni dengan semangat sambil terus bersujud.
Malam itu, gengster Jakarta Pusat resmi dibubarkan. Sang Naga kini tidak hanya memiliki ribuan massa ojek, tapi juga memiliki "anjing penjaga" yang dulu pernah menjadi penguasa. Jakarta kembali tenang, dan Sang Naga berdiri tegak di atas debu pelabuhan, membuktikan bahwa keberanian sejati selalu menang di atas keserakahan.
Kabar berlututnya Bos Joni di kaki Sang Naga menyebar seperti racun di nadi terdalam Ibu Kota. Di sebuah bunker rahasia di bawah gedung pencakar langit kawasan Sudirman, lima orang petinggi Mafia Bawah Tanah berkumpul. Mereka adalah para "Hantu" yang selama ini mengatur peredaran gelap di Jakarta.
"Seorang tukang ojek membuat penguasa wilayah kita mencium sepatu? Ini penghinaan bagi martabat dunia hitam Jakarta," ucap pria tua berambut putih yang dikenal sebagai The Godfather.
"Habisi dia malam ini juga. Kirim tim eksekutor bayangan. Jangan biarkan ada jejak," perintahnya dingin sambil menyesap cerutunya.
Malam itu, Guntur sedang dalam perjalanan pulang melewati jembatan layang yang sepi di jantung Jakarta. Lampu jalan tiba-tiba mati secara serentak. Suasana mendadak senyap, hanya terdengar suara angin malam yang menusuk tulang. Guntur menghentikan motor matic-nya tepat di tengah jembatan.
"Keluar kalian. Bau rencana busuk kalian sudah kecium sampai ujung aspal Jakarta!" ucap Guntur tenang tanpa turun dari motornya.
Dari kegelapan, muncul sepuluh pria berpakaian hitam legam. Mereka adalah pembunuh profesional yang membawa pedang tipis dan senjata api berperedam. Tanpa basa-basi, mereka langsung menyerbu.
Pshh! Pshh!
Dua tembakan melesat hampir mengenai kepala Guntur. Dengan gerakan refleks yang gila, Guntur menjatuhkan motornya dan berguling ke balik pembatas semen jembatan.
"Walah... Jakarta ini keras ya, baru menang kontrak sudah diajak main petasan!" teriak Guntur.
Dua eksekutor melompat ke arahnya dengan pedang berkilat. Guntur menarik jaket hijaunya, melilitkannya di tangan sebagai pelindung darurat, lalu menyongsong serangan itu.
KREEEEETTT!
Jaket hijaunya robek terkena sayatan pedang, tapi Guntur berhasil menangkap pergelangan tangan lawan. Dengan satu sentakan maut, Guntur memelintir lengan itu sampai bunyi tulang patah bergema di sunyinya malam.
KRAAAKKKK!
Guntur merebut pedang itu, lalu memutar tubuhnya sambil melayangkan tendangan sapuan bawah yang menghancurkan keseimbangan lawan.
BUGH! DESSS! BUGH!
Satu pukulan siku mendarat telak di tenggorokan lawan sampai pria itu terkapar sambil memegangi lehernya yang hancur. Guntur tidak memberi ampun. Dia bergerak seperti bayangan di antara para pembunuh.
KREEEEKKKK! KRAAAKKKK!
Satu per satu eksekutor itu tumbang dengan tulang yang remuk di aspal. Guntur berdiri di tengah jembatan, wajahnya tergores sedikit darah, matanya merah menyala karena amarah. Dia mengambil salah satu ponsel milik eksekutor yang masih aktif dan menekan tombol panggil ulang ke nomor pusat mereka.
"Halo, Mafia Jakarta?" suara Guntur terdengar sangat dingin di telepon. "Kalian salah kirim paket. Barang-barang kiriman kalian sudah rusak saya hajar. Kalau kalian masih mau main, siapkan liang lahat yang luas di Jakarta, karena Sang Naga akan meruntuhkan gedung kalian besok pagi!"
Guntur membanting ponsel itu sampai hancur berkeping-keping. Dia melihat motornya yang lecet parah, lalu menghela napas panjang. "Duh, motor cicilan belum lunas sudah dihajar pembunuh. Besok gantinya harus pakai kepala Bos Mafia kalian!"
Di bunker rahasia, para petinggi Mafia itu terdiam seribu bahasa mendengar ancaman langsung dari Guntur. Untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka menguasai Jakarta, mereka merasakan ketakutan yang nyata. Sang Naga bukan lagi ancaman biasa, dia adalah hukum jalanan yang baru.