Di sebuah kota modern, ada sebuah toko antik yang hanya muncul saat hujan deras. Pemiliknya bukan manusia, dan barang yang ia jual bukan benda mati, melainkan "waktu" yang hilang dari masa lalu pembelinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpuruk
Deru kereta semakin kencang, suaranya menggelegar menghantam gendang telinga Aris. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaganya, kakinya memacu tanah sekuat yang ia bisa.
Rel kereta itu terasa seperti garis batas antara hidup dan mati.
Tangan Aris terulur ke depan, jari-jarinya hampir menyentuh besi dingin tangga gerbong terakhir. Ia bisa melihat wajah Maya di balik kaca, mulutnya terbuka, berteriak tanpa suara karena tertutup kebisingan mesin.
Hampir... sedikit lagi...!
Namun, nasib berkata lain. Sepatu Aris tersangkut pada kerikil tajam di bantalan rel. Tubuhnya kehilangan keseimbangan secara drastis.
Hukum fisika bekerja dengan kejam; momentum tubuhnya yang sedang berlari kencang membuatnya terlempar.
BRAK!
Tubuh Aris menghantam tanah dengan sangat keras. Suara tulang yang beradu dengan permukaan kasar peron terdengar begitu ngilu. Pandangannya berputar hebat.
Kereta itu terus melaju, membawa pergi satu-satunya alasan yang membuatnya merasa benar-benar hidup. Ia hanya bisa melihat ekor kereta menjauh, samar-samar ia masih melihat siluet tangan Maya yang terangkat di kaca jendela, gemetar, menangis histeris.
"Maya..." gumamnya, sebelum pandangannya berubah menjadi kelabu, lalu gelap gulita.
***
Suasana ruang rawat itu sunyi, hanya ada suara detak monitor jantung yang ritmis dan stabil. Aris membuka matanya perlahan. Tubuhnya terasa berat, seolah ditindih oleh beban berton-ton. Kepalanya diperban, dan kakinya di gips, tergantung di penyangga besi.
Ia tidak sendirian. Di sudut ruangan, seorang pria duduk tertunduk dengan bahu yang bergetar. Itu Dito.
Mendengar suara gesekan sprei, Dito segera berdiri. Wajahnya kacau, matanya merah padam. Ia tidak marah, justru terlihat lebih hancur dari Aris sendiri.
"Aris... kenapa lo nekat banget?" suara Dito bergetar hebat,
"Maya udah pergi, Ris. Dia nggak bakal balik lagi dalam waktu dekat. Dan lo... hampir aja mati konyol."
Aris menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Hatinya terasa mati rasa. Kenangan saat ia berlari, saat tangannya hampir menyentuh besi kereta, dan wajah Maya yang menangis—semuanya terasa seperti mimpi buruk yang enggan berakhir.
Aris perlahan mengangkat tangan kirinya yang bebas, menatap jam tangan perak yang melingkar di sana. Ia merasa gagal. Bukan hanya gagal mengejar kereta, tapi gagal menjaga satu-satunya momen yang ia anggap berharga.
Aris memejamkan mata. Air mata jatuh dari sudut matanya, membasahi bantal yang putih bersih. Ia baru saja menyadari sesuatu yang sangat pahit: terkadang, meski kita mencoba menghargai setiap detik dan hidup dengan rasa syukur, waktu tetaplah sebuah aliran yang bisa memisahkan kita dari apa yang paling kita cintai.
***
Aris menatap jam tangan peraknya dengan tangan yang gemetar. Rasa sakit di tubuhnya tidak lagi menjadi prioritas. Kehilangan Maya terasa jauh lebih menyiksa daripada patah tulang yang ia alami. Dengan napas tertahan, ia memutar tuas jam tersebut. Bukan untuk mengubah takdir, melainkan sebagai kompas.
Layar hologram kecil muncul di atas jam itu, menampilkan peta koordinat yang berkedip di sebuah kota kecil yang jauh dari stasiun kereta tadi. Maya berada di sana, di sebuah rumah besar yang dingin, terisolasi oleh tembok bisnis keluarganya.
"Maafkan aku, Dito," bisik Aris lirih saat melihat sahabatnya itu tertidur di kursi ruang tunggu.
Dengan sisa tenaga yang ada, Aris menarik paksa gips dari kakinya meski rasa nyeri luar biasa menghantam. Ia tahu, jika ia menunggu sampai pulih, Maya akan semakin jauh. Aris keluar dari jendela rumah sakit, menyelinap di antara bayang-bayang malam, tertatih menuju terminal bus terdekat.
Setiap langkah yang ia ambil adalah siksaan, namun setiap detak jantungnya memanggil nama Maya.
Setelah perjalanan panjang dan melelahkan, Aris tiba di alamat yang ditunjukkan jam tangannya. Itu adalah sebuah mansion mewah yang dijaga ketat. Aris bersembunyi di balik pohon besar di seberang jalan, memandangi jendela di lantai dua yang lampunya masih menyala.
Di sana, ia melihat bayangan Maya. Gadis itu sedang duduk di tepi jendela, menatap kosong ke arah langit malam. Maya terlihat jauh lebih kurus, auranya yang ceria seolah hilang ditelan kesepian.
Aris memegang gelang peraknya sekali lagi. Ia punya pilihan: mendobrak masuk dengan segala kekuatannya, atau mendekat secara perlahan sebagai manusia biasa. Ia teringat akan janji menghargai momen. Jika ia datang sebagai penyelamat dengan kekuatan anehnya, ia mungkin merusak segalanya. Ia harus datang sebagai Aris yang mencintainya.
Dengan sisa keberanian, Aris berjalan keluar dari kegelapan, melintasi jalanan yang sepi, dan berdiri tepat di bawah jendela kamar Maya. Ia melempar kerikil kecil ke kaca jendela.
Namun... Suara langkah sepatu bot yang berat memecah kesunyian malam di depan mansion mewah itu. Belum sempat Aris memanggil nama Maya... Lampu sorot dari pos keamanan menyambar wajahnya dengan silau.
"Siapa di sana?! Jangan bergerak!"
Sebelum Aris sempat bereaksi, dua orang satpam bertubuh kekar sudah mencengkeram lengannya yang masih lemah akibat kecelakaan. Aris meronta, tapi tubuhnya yang penuh perban tidak berdaya melawan cengkeraman mereka.
"Lepaskan! Aku hanya ingin bicara dengan Maya!" teriak Aris.
Di lantai atas, Maya muncul di balkon, wajahnya pucat pasi melihat Aris diseret paksa. "Aris! Lepaskan dia! Itu temanku!" teriak Maya, suaranya parau menahan tangis.
Namun, seorang pria paruh baya dengan setelan jas hitam, Ayah Maya keluar dari balik pintu utama dengan tatapan dingin. Ia tidak mempedulikan teriakan putrinya. Ia hanya menunjuk Aris dengan tongkat jalan miliknya.
"Bawa pemuda ini keluar dari properti saya," perintah pria itu dengan nada datar. "Dan pastikan dia tidak pernah kembali. Jika dia mencoba mendekat lagi, pastikan polisi yang menangani tindak pidana penyusupan ini."
Satpam itu tidak membuang waktu. Mereka menyeret Aris keluar, lalu melemparnya ke atas trotoar yang dingin.
"Dengar, Nak," salah satu satpam mengancam sambil menunjuk dada Aris. "Gadis itu milik dunia yang jauh di atas jangkauanmu. Jangan pernah berani menampakkan wajah di sini lagi, atau kau akan menyesal. Pergi sekarang!"
Aris terduduk lemas di trotoar, napasnya memburu. Ia menatap satpam itu dengan tangan terkepal hingga buku-bukunya memutih. Di rumah itu, ia bisa mendengar tangisan Maya yang ditarik masuk ke dalam rumah oleh ayahnya.
Aris menatap jam tangan peraknya yang kini redup. Ia merasa sangat hina dan tak berdaya. Ia memiliki kekuatan untuk melihat masa depan, tapi ia tidak memiliki kuasa untuk melawan kekuasaan dan uang yang memisahkan mereka.
Ia terpuruk di sana di bawah lampu jalan yang temaram, merasa seperti pecundang yang paling menyedihkan di dunia.
Aris terduduk di sana selama berjam-jam sampai kakinya mati rasa. Ia sadar bahwa jika ia terus memaksakan diri secara fisik, ia hanya akan berakhir di penjara atau celaka lebih parah.
sesuatu yg berlebihan itu tidak baik, meskipun dengan niat untuk menolong ..
andai waktu bisa di putar ....
ah sudahlah
baru bab 1 z udah menarik ini bikin penasaran, lanjut thor