NovelToon NovelToon
TELAHIR SAKTI

TELAHIR SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: Abas Putra

TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"

Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.

Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

B 12: Matahari Ke Sembilan

"Setelah beberapa saat kedamaian itu berlangsung, Raka tiba-tiba berdiri, merasakan ada sesuatu. Tanda naga di dadanya berdenyut merah.

"Ada apa, Raka?" tanya Sekar sambil menyelimuti tubuhnya dengan jubah Raka, yang terlihat ada sesuatu."

"Pendeta tadi... dia hanyalah umpan," ucap Raka dengan mata yang kembali berkilat emas."

Tidak lama kemudian..."

Tiba-tiba, dari luar kuil, terdengar suara tawa yang melengking tinggi, diikuti dengan getaran hebat yang membuat bukit itu seolah akan runtuh.

Sebuah bayangan raksasa berbentuk naga hitam dengan kepala manusia muncul di langit desa." Itulah Dewa Bayangan yang sesungguhnya, entitas kuno yang terbangun karena ledakan energi Raka di Dimensi Tanpa Ruang.

"Raka... berikan jantung mataharimu, dan aku akan membiarkan desamu tetap bernapas!" suara naga itu mengguncang jiwa."

Raka melangkah keluar kuil, menatap naga raksasa itu dengan senyum tipis yang meremehkan. Di belakang punggungnya, delapan matahari mulai bersinar kembali, namun kali ini ada pendar cahaya kesembilan yang mulai terbentuk, warna emas murni yang paling terang.

"Kau datang di waktu yang salah, Naga," ucap Raka sambil menghunuskan Pedang Surya Sejati.

"Aku baru saja ingin menikmati malam yang tenang bersama wanitaku."

Raka melesat ke langit, membelah kegelapan malam dengan cahaya yang lebih terang dari fajar."

Pertempuran demi tanah kelahiran baru."

Langit di atas Desa Lembah Wening terbelah menjadi dua warna yang kontras: hitam pekat dari aura Dewa Bayangan dan emas ungu dari pendar delapan matahari Raka.

Naga raksasa berkepala manusia itu meliuk-liuk di antara awan mendung, setiap kibasan ekornya menciptakan badai angin yang meruntuhkan pepohonan di bawahnya.

Wussshhh!

"Manusia sombong! Kau pikir kekuatan curian dari dimensi atas bisa menghentikan kegelapan purba ini?" suara Dewa Bayangan menggelegar, membuat tanah bergetar hebat.

Raka melayang diam di udara, jubah hitamnya berkibar pelan. Wajahnya tenang, namun matanya memancarkan otoritas yang tak terbantah.

"Ini bukan kekuatan curian, Naga. Ini adalah warisan yang kini telah menyatu dengan darah dan keringatku. Kau hanyalah parasit yang terbangun di waktu yang salah."

Naga itu membuka mulutnya yang lebar, menyemburkan lidah api hitam yang pekat. Raka tidak menghindar. Ia hanya mengangkat tangan kirinya, menciptakan perisai cahaya transparan yang berbentuk bunga teratai raksasa."

Api hitam itu menghantam perisai Raka, namun alih-alih hancur, api tersebut justru terserap masuk ke dalam pori-pori kulit Raka. Raka merasakan panas yang luar biasa, namun ia tidak lagi merasa sakit. Berkat latihan Matahari Nirwana, ia bisa mengubah energi negatif menjadi nutrisi bagi sukmanya.

"Giliranku," gumam Raka.

Raka melesat maju seperti meteor emas.

Booms!

Ia menembus awan, muncul tepat di atas kepala manusia sang naga. Ia melayangkan pukulan beruntun yang mengeluarkan suara ledakan supersonik.

Bugh! Bugh! Bugh!

Setiap pukulan menghancurkan sisik baja naga tersebut hingga mengeluarkan cairan hitam yang berbau belerang."

Kebangkitan Matahari Kesembilan

Meskipun Raka mendominasi, Dewa Bayangan memiliki keunggulan yang licik. Ia mulai menghisap energi kehidupan dari penduduk desa di bawah. Raka melihat Ibu Arini, Pak Darman, dan penduduk lainnya mulai lemas, kulit mereka mengerut seolah nyawa mereka ditarik keluar.

"Hahaha!

Selama ada ketakutan di hati mereka, aku tidak akan bisa mati!" tawa sang naga licik.

Raka terhenti. Ia tidak bisa menyerang dengan kekuatan penuh jika itu berisiko menghancurkan desa dan seisinya. Di saat kritis itu, ia mendengar suara Sekar dari dalam batinnya.

"Raka... jangan takut. Kami percaya padamu. Gunakan cinta kami sebagai senjatamu!"

Raka memejamkan mata. Ia melepaskan semua egonya sebagai pendekar sakti. Ia membiarkan dirinya merasakan setiap denyut jantung penduduk desa, setiap tetes keringat mereka, dan setiap harapan mereka.

Tiba-tiba, dari tengah dadanya, tepat di pusat simbol naga, muncul sebuah pendar cahaya putih yang sangat murni. Bukan perak, bukan emas, tapi cahaya bening yang terasa sangat hangat.

Inilah Matahari Kesembilan: Matahari Sejati. Matahari yang tidak berasal dari dewa atau warisan misterius, melainkan dari kemanusiaan Raka sendiri.

Zinggg..

Sembilan matahari kini berputar membentuk lingkaran sempurna di belakang Raka. Cahayanya menyapu seluruh lembah, seketika memutus koneksi Dewa Bayangan dengan penduduk desa.

Kabut ungu lenyap, digantikan oleh cahaya pagi yang prematur namun abadi.

Raka mengangkat kedua tangannya ke langit. Sebuah pedang raksasa yang panjangnya mencapai satu kilometer terbentuk dari cahaya murni. Pedang Penghakiman Jagat.

"Demi mereka yang kucintai... Pergilah kau dari bumi ini!"

Raka mengayunkan pedang itu dengan satu gerakan yang anggun.

Sreeet...

Cahaya putih raksasa membelah tubuh Dewa Bayangan dari kepala hingga ekor. Tidak ada darah, tidak ada teriakan.

Naga itu langsung menguap menjadi butiran cahaya bintang yang jatuh ke bumi, memberkati tanah desa yang tadinya tandus menjadi subur kembali."

Setelah pertempuran usai, Raka mendarat di teras kuil tua. Seluruh energinya yang meluap-luap perlahan mendingin. Ia berjalan masuk ke dalam, menemukan Sekar yang sedang menunggunya dengan mata berkaca-kaca.

"Kau berhasil, Raka," bisik Sekar. Ia berlari ke pelukan Raka, menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu yang masih terasa hangat karena sisa energi matahari.

Raka menggendong Sekar, membawanya ke dalam ruangan pribadi yang dipenuhi oleh bunga-bunga melati yang tiba-tiba mekar karena aura Matahari Kesembilan. Di sana, di bawah cahaya rembulan yang kini telah kembali normal, Raka melepaskan seluruh beban dunianya.

Ia menatap Sekar dengan tatapan yang sangat dalam.

"Aku telah berkelana ke dimensi yang tak terbayangkan, Sekar.

Aku telah melihat kekuatan dewa dan monster. Tapi tidak ada yang lebih indah dari melihat wajahmu di sini."

Raka mencium Sekar dengan kelembutan yang memabukkan. Tangannya yang tadinya digunakan untuk membelah langit, kini bergerak dengan sangat halus, menyingkap gaun sutra Sekar yang basah oleh keringat."

Sekar merasakan kulit panas Raka menyentuh kulitnya yang dingin. Mereka bersatu dalam penyatuan yang paling suci, sebuah perayaan atas kemenangan hidup atas kematian.

Raka merasakan detak jantung Sekar yang selaras dengan sembilan mataharinya. Dalam setiap gerakan, dalam setiap desahan napas yang memburu, Raka menyadari bahwa kekuatannya yang tak terbatas tidak ada artinya tanpa kehangatan manusiawi ini.

Raka menggeram rendah, membenamkan wajahnya di ceruk leher Sekar yang harum. Aroma mawar dan keringat Sekar menjadi jangkar yang menarik jiwa dewa Raka kembali menjadi seorang pria sejati.

Malam itu, di tengah kesunyian desa yang telah damai, sang Pewaris Sakti akhirnya menemukan rumahnya yang sesungguhnya." (Sang Penjaga Jagat)."

Keesokan paginya." di sambut dengan angin kedamaian."

seluruh penduduk desa berkumpul di alun-alun. Mereka melihat Raka berdiri di samping Sekar, tampak seperti pemuda biasa namun dengan wibawa yang tak tertandingi.

Ki Ageng Selo muncul dari balik kerumunan, tersenyum bangga.

"Raka, kau telah menjadi Matahari Sejati. Dunia tidak akan lagi sama setelah hari ini."

Raka menatap langit biru yang luas. Ia tahu bahwa di luar sana, masih banyak ancaman yang mengintai. Dewa Barata mungkin telah jatuh, namun keseimbangan jagat raya harus selalu dijaga.

"Aku akan tetap di sini," ucap Raka dengan tegas.

"Menjadi petani di siang hari, dan menjadi pelindung jagat di malam hari.

Karena kekuatan yang sesungguhnya bukan tentang menguasai, tapi tentang mengabdi."

Raka menggenggam tangan Sekar erat-erat. Dengan sembilan matahari yang tersembunyi di dalam jiwanya, ia siap menghadapi apa pun yang akan datang."

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!