Demi menyelamatkan nyawa ibunya yang sekarat, Aluna terpaksa menerima tawaran yang tak masuk akal yaitu menjadi rahim bayaran bagi seorang pria yang dikenal sebagai mafia paling kejam dan tak tersentuh.
Pria itu, Arka Mahendra, bukan hanya dingin dan berbahaya, tapi juga menyimpan rahasia kelam di balik keinginannya memiliki seorang anak. Tidak ada cinta dalam perjanjian mereka. Hanya kontrak, batasan, dan harga yang harus dibayar.
Namun semuanya berubah ketika kehidupan Aluna perlahan terjerat dalam dunia gelap Arka. Ancaman datang dari musuh-musuh yang mengintai, sementara perasaan yang seharusnya tidak pernah ada mulai tumbuh di antara mereka.
Di tengah bahaya, pengkhianatan, dan rahasia masa lalu yang terkuak, Aluna dihadapkan pada pilihan yang menghancurkan, tetap menjadi “rahim bayaran”… atau mempertaruhkan segalanya untuk cint
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Malam semakin larut, hujan masih turun dengan intensitas yang tidak kunjung reda. Arka duduk lemas di balik kemudi mobilnya, kepalanya tertunduk dalam di atas setir. Rasa lelah fisik tidak seberapa dibandingkan rasa hancur yang menyiksa batinnya.
Sudah berjam-jam ia mengelilingi kota, memanggil nama istranya dalam hati, tapi hasilnya tetap sama. Aluna dan Arfan seakan menghilang ditelan kegelapan malam.
Tiba-tiba, ponsel di saku jasnya bergetar. Nomor yang tertera adalah nomor Raka. Tangan Arka gemetar saat mengangkat telepon itu.
"Halo... Ka..." suara Raka di seberang sana terdengar sangat cemas dan terbata-bata.
"Ada apa Ka? Kau dapat kabar dari mereka?" tanya Arka cepat, hatinya berdebar kencang berharap ada kabar baik.
"Bukan aku Kak... Tapi... Tadi Mas Kenzi yang telepon," jawab Raka pelan.
"Mas Kenzi menemukan Aluna dan Arfan di halte bus tidak jauh dari sini. Kondisinya sangat mengkhawatirkan Kak. Mereka basah kuyup, kedinginan, dan Arfan sekarang demamnya sangat tinggi, badannya gemetar hebat."
Deg.
Jantung Arka serasa berhenti berdetak sejenak.
"Dimana mereka sekarang? Bicaralah dengan jelas!"
"Mereka sudah dibawa ke rumah sakit terdekat oleh Mas Kenzi. Mas Kenzi yang membawa mereka ke sana," lapor Raka.
Tanpa menunggu lama, Arka langsung memutar balik mobilnya menuju arah rumah sakit yang disebutkan adiknya. Pikirannya kacau. Rasa cemburu dan gengsi masih ada, namun saat ini rasa takut akan keselamatan anak dan istrinya jauh lebih besar.
Sesampainya di rumah sakit, Arka langsung berlari masuk menuju ruang IGD. Di sana, ia melihat pemandangan yang membuat langkahnya terhenti mati di tengah lorong.
Aluna duduk di kursi tunggu dengan wajah pucat pasi. Baju yang dikenakannya masih basah dan kotor, tubuhnya gemetar hebat karena kedinginan dan syok.
Di sebelahnya, Kenzi berdiri dengan sigap, memakaikan jaketnya ke bahu Aluna dan memberikan minuman hangat.
Wajah Aluna terlihat hampa, matanya merah dan bengkak menangis. Namun, saat melihat Kenzi yang begitu perhatian dan sigap, ada rasa tenang yang terpancar, sesuatu yang mungkin sudah lama hilang saat ia berada di dekat Arka belakangan ini.
Arka merasa dadanya sesak melihat interaksi itu. Ia berjalan mendekat dengan langkah berat.
"Aluna..." panggil Arka pelan.
Aluna mendongak, matanya menatap suaminya, namun tidak ada kilat bahagia atau kangen di sana. Hanya ada kekecewaan mendalam dan rasa lelah yang luar biasa.
"Tuan..." jawabnya singkat dan datar.
Kenzi yang melihat kedatangan Arka langsung menegakkan tubuhnya. Wajahnya berubah serius, tidak ada rasa takut sedikitpun.
"Kau datang akhirnya," ucap Kenzi dengan nada rendah namun tegas.
"Aku kira kau tidak akan peduli lagi dengan nasib istri dan anakmu."
"Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku, ini bukan masalahmu," sahut Arka mencoba terlihat kuat, meski suaranya terdengar lemah.
"Bukan masalahku katamu?" Kenzi mendekat sedikit, menatap mata Arka tajam.
"Kalau bukan karena aku yang kebetulan lewat dan melihat mereka di halte, mungkin sekarang kau sudah kehilangan keduanya karena kedinginan," ujar Kenzi dengan raut wajah marah.
"Lihatlah mereka. Mereka keluar dari rumahmu dengan tangan kosong. Tidak membawa selimut, tidak membawa susu untuk anakmu, bahkan baju ganti pun tidak ada. Dan kau sebagai suami membiarkan mereka pergi di cuaca seperti ini hanya karena ego dan gengsimu?"
Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Kenzi dengan logika yang tajam, membuat Arka tidak bisa menjawab apa pun. Semua itu benar. Semua itu adalah kesalahannya.
"Aku... Aku hanya marah..." jawab Arka terbata.
"Marah boleh, tapi jangan seperti ini," potong Kenzi dingin.
"Aluna itu wanita baik-baik. Dia sudah berkorban banyak hal untukmu dan keluargamu. Tapi balasan apa yang dia dapat? Hanya tuduhan dan air mata," ujar Kenzi.
"Kalau kau tidak bisa bahagiakan dia, setidaknya jangan sakiti dia seberat ini," lanjutnya, sambil sesekali melirik Aluna.
Saat suasana sedang tegang, pintu ruang periksa terbuka. Dokter keluar dengan wajah serius.
"Keluarga pasien?" tanya dokter itu.
"Saya ayahnya Dok, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Arka cepat, melupakan pertengkaran tadi.
"Kondisi bayinya cukup mengkhawatirkan. Dia mengalami hipotermia atau penurunan suhu tubuh yang drastis karena terlalu lama terkena hujan dan angin. Ditambah lagi infeksi saluran pernapasan karena kedinginan," jelas dokter dengan panjang lebar.
"Sekarang suhu tubuhnya masih sangat tinggi dan tidak stabil. Kami harus memindahkannya ke ruang perawatan khusus untuk pengawasan intensif," lanjut dokter itu.
Kaki Aluna lemas seketika mendengarnya. Ia langsung menangis tersedu-sedu.
"Arfan... anakku... Maafkan Ibu sayang... Ibu tidak bisa melindungimu..."
Kenzi langsung memegang bahu Aluna menenangkannya.
"Sudah Lun, sabar ya. Dokter pasti berusaha semaksimal mungkin."
Arka melihat semua itu. Melihat istrinya menangis di bahu pria lain, melihat pria lain yang dengan mudah menyentuh dan memenangkan istrinya, sementara dirinya, hanya bisa berdiri diam merasa tak berguna.
Rasa cemburu itu ada, tapi lebih dominan rasa malu dan rendah diri.
Tidak lama kemudian, Nyonya Soraya dan Tuan Mahendra juga datang. Begitu tahu cucunya kritis dan harus dirawat intensif, Nyonya Soraya langsung kehilangan kendali lagi.
"Lihat ini! Lihat akibatnya!" seru Nyonya Soraya sambil menunjuk wajah Aluna meski suaranya ditahan agar tidak terlalu keras di rumah sakit.
"Anak jadi sakit parah begini semua gara-gara keinginanmu sendiri! Kau mau memberontak, kau mau pergi, sekarang lihat! Kau malah menyiksa anak sendiri!" cecar Nyonya Soraya marah.
"Kalau mau pergi, pergi saja sendiri! Jangan bawa cucuku! Sekarang liha! Kau hampir membunuh Arfan, Aluna! Kau memang tidak becus mengurus anak! Dasar ibu tidak bertanggung jawab!" sembur Nyonya Soraya semakin menjadi-jadi.
"Tante... tolong... jangan..." isak Aluna lemah, wajahnya semakin pucat.
"Sudah cukup Bu!" kali ini Arka angkat bicara. Suaranya tidak keras, tapi sangat berat dan lelah.
"Jangan salahkan Aluna lagi. Semua ini salahku. Aku yang membiarkan mereka pergi. Aku yang gagal melindungi mereka."
"Dan kalau Ibu terus menyakiti Aluna di saat seperti ini, aku tidak akan bertanggung jawab atas apa yang terjadi selanjutnya."
Nyonya Soraya terkejut melihat perubahan sikap putranya. Ia mendengus kesal dan memalingkan wajah.
Di tengah keributan kecil itu, Aluna mengangkat wajahnya menatap Arka. Tatapannya begitu tenang, tapi kelihatan kosong.
"Tuan Arka..." panggil Aluna pelan.
"Sudahlah... Tidak usah memperdebatkan siapa yang salah dan siapa yang benar lagi. Aluna sadar diri. Aluna tahu Tuan dan keluarga Tuan sudah muak dengan keberadaan Aluna. Aluna juga lelah... Aluna capek."
Aluna menarik napas panjang lalu menatap mata suaminya dalam-dalam.
"Kalau Tuan masih sayang sama Aluna dan Arfan... Biarkan kami di sini dulu. Biarkan Mas Kenzi yang bantu kami sampai Arfan sembuh."
"Aluna tidak mau pulang ke rumah itu lagi. Di sana tidak ada kebahagiaan, hanya ada tekanan dan air mata. Lebih baik Aluna tinggal di sini atau di tempat lain asal bisa tenang mengurus anak."
"Jangan cari aku lagi dulu... Beri kami waktu... Dan beri Tuan waktu untuk berpikir dengan benar, apa yang sebenarnya Tuan inginkan dari hidup Tuan."
Kalimat itu keluar dengan sangat tenang, tanpa teriakan, tanpa tangis histeris. Namun, justru itulah yang paling menyakitkan bagi Arka.
Itu bukan kemarahan, itu adalah tanda putus asa. Tanda bahwa hati Aluna sudah mulai kehabisan rasa sabar dan cinta.
Arka berdiri mematung, mulutnya terkunci rapat. Ia ingin memeluk istrinya, ia ingin memohon agar pulang, tapi ia sadar, ia tidak punya hak lagi untuk meminta itu setelah apa yang ia perbuat.
Malam itu di rumah sakit, Arka benar-benar merasa dirinya telah kehilangan segalanya. Keluarganya retak, hartanya hilang, dan kepercayaan istrinya pun hampir habis tersapu oleh kesalahannya sendiri.