Evana dan Evita, kedua saudara kembar yang tidak pernah menyangka kalau kejadian aneh dan tak masuk akal bisa mereka alami.
Ber-transmigrasi atau berpindah jiwa yang tidak pernah mereka sangka ada dalam dunia nyata terjadi pada keduanya.
Masuk kedalam tubuh kedua istri yang tak pernah akur dan berakhir mengenaskan di akhir kisah, lalu apa yang akan keduanya lakukan? Menikmati hidup dalam dunia yang tak mereka tahu atau memilih mengikuti alur untuk mati yang kedua kalinya?
Kisah mereka semua ada di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Malam itu udara di sebuah cafe terasa dingin, angin berembus ringan mengibaskan rambut yang tergerai tanpa jedai itu.
"Kak, belum selesai?" hingga suara itu mengalihkan fokus satu gadis di meja outdoor.
"Vi, kamu sudah selesai kerja?" dia menutup buku sketsa yang di hadapannya.
"Cafe sebentar lagi tutup, ini sudah sepi tinggal menunggu satu jam lagi," jelasnya sambil duduk di kursi depan sang Kakak.
Evana dan Evita, dua saudara kembar yang menjalani hidup tanpa kedua orang tua, mereka sekolah hingga kuliah dan lulus menggunakan beasiswa yang di pertahankan dengan susah payah.
Keduanya cerdas bahkan bisa di katakan Genius. Namun, karena tak punya latar belakang keduanya sulit mendapatkan pekerjaan di kota besar itu.
Evana lulusan jurusan Seni bermimpi menjadi seorang Desainer beberapa kali mengirim gambar sketsa dari hasil begadangnya.
Namun, beberapa kalipun ia juga gagal, hanya saja hasil desain itu pernah di ambil orang lalu di jadikan gaun untuk di pamerkan pada peragaan busana tanpa meminta izin pada Evana.
Tidak ada yang bisa Evana lakukan karena statusnya yang bukan siapa-siapa.
Sedangkan Evita, dia gadis lulusan Sastra, dia beberapa kali menulis buku secara online maupun Offline.
Namun, beberapa buku justru gagal dan yang lain hanya menghasilkan beberapa dolar saja, hingga akhirnya Evita memutuskan untuk bekerja di cafe dan sang Kakak bekerja sebagai karyawan di butik yang tak jauh dari cafe itu.
Keduanya memang kerap kali mendapatkan ketidakadilan. Namun, bagi mereka itu bukan hal besar selagi ada pemasukan yang bisa menopang hidup mereka kedepannya.
"Kak, aku punya buku baru, aku menulis ini sudah dua bulan ini dan baru ending," kata Evita.
"Sudah kamu ajukan ke platform online mu itu?" tanya Evana, sebagai lulusan Desain tak heran dia tampil lumayan modis walaupun dengan baju murah.
"Belum, aku mau minta pendapat Kakak dulu, bagaimana mau bacakan?"
"Vi, kamu tahu kan Kakak tidak suka novel kenapa harus aku yang baca?" tolak Evana.
"Please lah, sekali aja!" bujuk Evita.
Melihat tatapan mata sang Adik kembar Evana hanya bisa setuju sebelum cafe itu tutup keduanya memutuskan untuk membaca novel itu terlebih dahulu.
Keduanya fokus menikmati setiap alur yang hadir, tak banyak Bab. Namun, Evita berhasil menghidupkan karakter setiap novel itu.
"Kamu gila ya? Kenapa Yasha dan Vara malah mati?" protes Evana.
"Kak, mereka hanya pemeran pendukung saja, dan kita hanya fokus pada pemeran utama pria dan wanita saja, jadi lupakan mereka!" kata Evita.
"Tapikan seharusnya ada kebahagiaan untuk keduanya, dan lagi kedua suami mereka itu bodoh sekali malah membela wanita yang salah," kata Evana masih tak Terima atas kematian pemeran pendukung yang menurut dia sangat menghidupkan alur cerita.
"Evi, ayo tutup cafe!" hingga suara itu memanggil dan membuat Evita segera bangun.
"Kak, aku akan ke sana dulu tunggu sebentar di sini!" kata Evita sebelum meninggalkan sang Kakak sendiri dengan ponsel miliknya.
Beberapa menit berlalu Evana masih fokus hingga tak menyadari sebuah percikan api kecil menyambar dari balik tembok cafe dimana ada aliran listrik di sana.
Kebakaran terjadi, walaupun duduk di kursi outdoor. Namun, karena posisi outdoor berada di lantai dua Evana tidak bisa keluar dan melarikan diri.
"Kakak," panggil Evita dengan terbatuk.
"Evi," sahut Evana.
Evita dan Evana terjebak dalam kebakaran yang dimana material dari cafe itu desain kayu dan sulitnya akses menyebabkan keduanya meninggal karena kehabisan napas sebab menghirup asap terlalu banyak.
Keduanya berpelukan dan saling melindungi walaupun kematian menghampiri mereka.
...****************...
BRAK!
Gebrakan meja membuat dua orang yang sedang melamun terhenyak kaget.
"Kebakaran, ayo lari!" suaranya nyaring hingga menimbulkan keributan.
"Ayo, lari Evita!" sahut gadis satu lagi.
Keduanya akan lari dan saling bergandengan tangan. Namun, seseorang menarik lengan keduanya hingga membuat gerakan mereka terhenti.
"Nyonya Vana dan Nyonya Yasha mau kemana? Masalah kali ini tidak bisa kalian hindari!" suara seorang pria terdengar tegas dan agak mendayu.
Keduanya mengerutkan keningnya saat menatap orang asing di hadapannya ini.
"Tunggu! Kau siapa?" tanya Evana atau yang sekarang masuk kedalam tubuh Elvara Delara Gunawan.
"Jangan pura-pura lupa ingatan Nyonya Muda pertama, walaupun anda adalah istri dari Tuan Muda Pertama tapi masalah kali ini anda harus bertanggung jawab sendiri!" tegasnya tanpa ragu.
Pria tulang lunak itu menatap keduanya dengan penuh intimidasi seolah menuntut tanggungjawab yang tak keduanya pahami.
"Tapi apa yang kami lakukan? Jelas kami ini bukan Nyonya seperti yang kamu sebutkan!" elak Evita, yang sekarang berada dalam tubuh Ayasha Calindra Adinata.
"Jangan bicara omong kosong, kami ini bukan Nyonya!" Evana kembali menyahut.
"Sudah, saya ini tahu anda berdua ini menantu dari Mahatara jadi ganti rugi kalung berlian yang kalian berdua rusak hari ini!" Putusnya tanpa bantahan.
"Tunggu! Mahatara? Kenapa tak asing? Dan kalung berlian? Sejak kapan aku menyentuh perhiasan mahal itu?" bingung Evana.
"Kalian ini selalu saja berpura-pura! Sudah jelas anda ini Nyonya Elvara dan Nyonya Ayasha, jadi tidak usah berbelit-belit untuk menghilangkan tanggung jawab," katanya dengan marah dan kesal.
"Apa? Kamu panggil kami apa?" tanya Evana takut salh dengar.
Pria lunak itu mendengus sinis, dia malas. Namun, tetap menjelaskan karena bagaimana pun Mahatara tak bisa di buat permainan.
"Kamu itu Nyonya Elvara Delara Gunawan istri dari Tuan Muda pertama, dan kamu Nyonya Ayasha Calindra Adinata istri dari Tuan Muda kedua," jelasnya dengan acuh.
"Mahatara? Ayasha dan Elvara?" keduanya saling tatap dan mata mereka mendelik tanpa sadar berseru keras.
DEGH!
"APA? NAMA DALAM NOVEL? TIDAK MUNGKIN, KAN? " seru keduanya tanpa sadar. Dengan mata saling tatap mencari jawaban satu sama lain.
Evana atau sekarang berada dalam tubuh Elvara merasa bingung, dia terduduk di sofa dengan wajah pucat pasi.
Sedangkan Evita yang berada dalam tubuh Ayasha pun tak kalah terkejut, keduanya masih duduk di sofa dengan wajah tidak kalah pucat.
'Transmigrasi? Ini beneran? Ke dalam novelku sendiri?' batin Evita tak habis pikir.
Sedangkan Evana merasa bingung, dia tidak tahu apapun tapi hrus terjebak dalam masalah yang tak bisa di pahami.
'Transmigrasi? Gilakan?' batinnya sedih.
"Kedua Nyonya, jadi bagaimana anda berdua akan membayar ganti rugi kalung berlian ini?" tanya Pria yang menjadi manajer di toko berlian itu.
Keduanya saling tatap, dengan saling menghela napas lelah sebab bingung bagaimana cara menjelaskan semuanya.
Mereka menoleh bersamaan, wajah keduanya bingung dan dalam masalah mereka malah saling memeluk.
"Kakak, aku tidak menyangka kalau kita akan pergi ke sini bersama!" ucap Evita.
"Ya, Vi, kita masuk ke dunia novel!" kata Evana.
Keduanya saling berpelukan dan itu malah menimbulkan kebingungan pada dua orang di sana, sebab rumor beredar bagaimana kedua Nyonya dari Mahatara ini tak pernah sekalipun akur.
Lalu apa sekarang? Mereka berpelukan seperti layaknya saudara yang baru keluar dari maut.
Aneh sekali kan? Dan itu isi pikiran dari dua orang di sana.
Mulai sekarang Evana akan di panggil Elvara dan Evita di panggil Ayasha.