Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dikenalkan Sebagai Sepupu
Aku mematut didepan cermin kamar hotel, gaun hitam sudah membungkus rapi tubuh kecilku, bahkan mas Arsyad memanggil seorang MUA untuk merias wajahku. Pria itu benar-benar mengidamkan kesempurnaan.
“Cantik sekali, modelan wanita seperti mbak Ayleen ini memang sering jadi incaran para bigboy, entah mengapa ya mereka suka sekali dengan cewek imut-imut seperti mbak Ayleen. Wanita tinggi seperti ku jadi ga kebagian para bigboy deh.” Ujar si mbak MUA, berbanding terbalik dengan kenyataanya. Mas Arsyad tidak menyukai ku begitupun aku tidak menyukainya.
“Jangan berkecil hati mbak Rin, siapa tau sehabis pulang dari sini mbak bertemu dengan jodoh mbak.” Ucapku sambil tersenyum. Mbak Rin sedang memakaikan peniti hijab dibelakang leher, hijab berwarna hitam sudah membingkai rapi wajah ku. Polesan make up yang mbak Rin membuatku makin percaya diri.
“Siap mbak Lyen. Saya akan menggaet seorang CEO setelah ini.” Aku dan mbak Rin tertawa, aku baru mengenal mbak Rin, tapi kita sudah asik mengobrol.
Pintu terbuka, Mas Arsyad sudah rapi dengan pakaian formalnya, jas hitam yang terpakai rapi ditubuhnya yang atletis. Wajahnya terlihat tampan, dengan modelan rambut yang rapi, sepertinya pria bermata elang itu baru saja memangkas rambutnya.
Mata Elang itu melirik kearahku dan mbak Rin, pandangan kami sejenak bertemu. Ya tuhan tatapan tajam itu sungguh menusuk. Pria itu menghempaskan tubuhnya diatas sofa, kemudian menyibukan diri dengan ponselnya.
“Dah… cantik banget si….” Mbak Rin mencubit pipiku pelan.
“Ish mmbak Rin bisa aja.”
“Kaya perpaduan artis Sandrina michelle sama Em… itu Yasmin Nap na apalah itu aku lupa namanya. Tapi kalau imutnya persis mirip Sandrina.”
Aku tahu dua aktris yang memiliki kecantikan diatas rata-rata itu. Akupun sering menonton peran mereka di film atau sinetron.
“Ya Allah mbak jauh banget…”
“Yaudah, itu pangeran Mbak Lyn sudah menunggu, cocok sekali cantik dan tampan.” Ucap mbak Rin sambil berbisik ditelingaku.
***
Kami berjalan menuju ballroom hotel tempat acara yang akan diselenggarakan, entah acara apa aku tidak mengetahuinya.
Langkahku sedikit terseok-seok kaku, high heels nya terlalu ketinggian jadi membuatku kesusahan untuk berjalan. Sesekali aku terseleo tapi tidak parah.
Mas Arsyad sesekali menoleh kearah belakang, karena aku yang tertinggal jauh. Kedua tangannya berada dipingganya sesekali menarik nafas kesal kala menungguku yang berjalan sangat pelan.
“Pegang!” Pak Arsyad menyodorkan lengan kokohnya, kenapa gak dari tadi si pak, jadi aku gak takut jatuh lagi.
Deg.
Kenapa ini, tiba-tiba ada denyutan halus didalam dada.
Kami mulai melangkahkan kaki lagi, dengan aku yang memegang lengan mas Arsyad.
Plek…
Tetap saja, kaki ku tidak terbiasa dengan high heels setinggi ini. Puncak kepala ku terjeduk dengan rahangnya. Aduh, kenapa jadi gini si. Tangan mas Arsyad sontak menahan lenganku, agar tidak tersungkur kedepan. Malu sekali, karena didepan sana sudah banyak sekali orang yang akan memasuki ballroom hotel.
Suasana didalam ballroom hotel sangat ramai, banyak orang-orang yang berkapakain rapi, dan terlihat bukan sembarang orang. Aku berdiri terpaku, jujur aku kurang menyukai keramaian seperti ini. Badanku akan terasa nerveous dan tremor dalam keramaian seperti ini. Ingin segera pulang rasanya.
“Ada papa.” Sentuhan pelan dilenganku menyadarkanku dari lamunan.
“Hem..” aku menoleh pada mas Arsyad.
“Apakabar na Ayleen?” Sosok papa dari mas Arsyad
“Baik pak.” Sangat kaku sekali, pasalnya aku baru bertemu mungkin sekarang ketiga kaling bertemu dengan papa mikail.
***
Acaranya sangat lama sekali, hampir tengah malam tapi belum selesai juga. Kaki ki sudah sangat terasa pegal dan sakit karena kelamaan berdiri. Aku hanya diam menyaksikan mas Arsyad yang sedang berbincang dengan para rekan kerjanya.
“Wih… wanita ini siapa bos?” Ucap seorang laki-laki yang memakai kemeja berwarna hitam.
“Sepupu jauh.” Ucap mas Arsyad, mengenalkanku sebagi sepupu jauhnya.
Ets.. kenapa kenapa hati ini terasa sedikit nyelekit. Padahal seharusnya gapapa dong ra.
“Duh cantik juga boleh dong kenalin!”
“Aku Rama asisten menager diperusahaan pak Arsyad.”
Sebelum aku menjabat tangan pria itu. Tangan pak Arsyad menarik tangan pria itu.
“Dia masih kecil.” Ucapnya enteng. Padahal cuman kenalan ya gapapa dong, toh dia juga ngatain aku sebagain sepupu jauhnya.
“Loh pak, saya mau kenalan, sama… siapa namanya mbak.”
Aku ingin menjawab, tapi setelah melihat mata tajam mas Arsyad sontak aku mengurungkan niat.
“Sudah nanti saja. Saya mau balik dulu, kasian anak kecil ini pasti sudah mengantuk.” Ucapnya sambil menarik keras tanganku.
Keluar dari ballroom. Mas Arsyad melepas begitu saja tanganku. Apa maksud dia?
Kami berjalan menuju lift.
“Maap pak lift sedang ada perbaikan.”
“Berapa lama?”
“Tiga jam.”
Hah… alamat jalan tangga darurat. Mas Arsyad menarik tanganku lagi.
Plek…. Klek…
“Sakit…” kaki kananku benar-banar ter seleo.
Aku jalan terseok-seok sangat sakit rasanya. Sampai mataku mengembun dengan air mata, karena menahan sakit.
“Kenapa lambat sekali, kita harus menuruni tangga sebanyak seratus lima puluh anak tangga.”
Deg. Mataku melotot.
“Kaki nya sakit mas…” tidak tahan lagi.
“Masih bisa jalan?”
Aku mengangguk pasrah.. rasanya ingin terbang saja.
Baru limapuluh anak tangga yang kita turuni, masih ada seratus anak tangga lagi yang menunggu dibawah.
“Sebenarnya kaki kamu kenapa si?”
Aku meringis, kakiku sedikit memar dan mukai bengkak.
“Keseleo.” ucapku pelan, sambil berpegangan pada pinggir tangga.
Mas Arsyad mendekat, tangannya mengangkat sedikit gaunku dan mengecek keadaan kaki ku.
“Ckc.. kenapa jalannya ga hati-hati si” loh kok dia jadi nyalahin aku si, padahal kan tadi dia yang narik paksa tanganku keluar ballroom.
Aku tidak menjawab, entah mengapa aku malah menangis dihadapannya sambil menyandarkan tubuh.
“Dasar cengeng, manja.” Ucapnya datar.
Aku terdiam sambil mengelap air mata.
Hening, sampai aku merasakan kakiku yaang berdenyut nyeri.
“Ayok.” Tangannya menarik tanganku.
Mas Arsyad membungkukan punggunya dihadapanku.
“Gak mau!” Jawabku ketus.
“Masih ada seratus anak tangga lagi yang harus kita turuni, jika saya menunggumu jalan bisa sampai nanti subuh dalam keadaan kakimu membengkak, dan saya pastikan tidak bisa jalan selama satu minggu.”
“Dalam hitungan tiga, saya akan meninggalkanmu melewati lorong hotel yang sangat gelap.”
Akhirnya aku naik keatas punggungnya, mas Arsyad mulai melangkahkan kakinya.
Kenapa nyaman sekali berada pada gendongannya.
Anak tangga sudah selesai terlewati, peluh mengalir pada dahi pria itu. Kenapa dia sangat terlihat tampan sekali jika berkeringat begini.
Ra… ISTIGHFAR.
*
*
Benih-benih mulai muncul nih, awas aja ya ra kamu harus ingat dengan janji itu.
Sayang-sayangku jangan lupa like, komen dan kasih bintang ya!!!! Vote juga. Dukungan dari kalian bikin Author semangat lagi buat nulis. Love u Readers💗