Kumpulan kisah yang dapat membangkitkan kognitifitas, ketakutan dan kenangan masa kanak-kanak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Matahari bukan lagi sumber cahaya, melainkan cambukan api yang perlahan menggoreng kulit mereka hingga melepuh. Setelah berjam-jam berjalan, kaki mereka terasa bukan lagi daging dan tulang, melainkan balok beton yang diseret di tanah. Napas mereka tersengal, bukan hanya karena kelelahan ekstrem, tapi karena aroma busuk yang mulai memenuhi paru-paru. Bau susu basi sebagaimana mereka cium paling awal, bercampur bau karat besi tua, dan yang paling menyengat... bau daging yang sedang membusuk dan dimakan belatung.
"Bo bo bos... li.. li.. lihat itu..." Suara Deri terbata, tenggorokannya kering seperti debu. Jarinya gemetar hebat menunjuk ke arah semak belukar yang menjalar liar.
Di sana, tersembunyi di balik dedaunan yang menggantung lusuh seperti rambut mayat yang belum dikuburkan, berdiri sebuah bangunan mengerikan. Sebuah gubuk reyot yang tampak seperti bangkai rumah yang ditinggalkan kematian.
Darah di tubuh Sulaiman seakan mengendap dan berhenti mengalir. Jantungnya berdegup bukan karena takut, tapi karena amarah yang bercampur teror. Ia mengenali tempat sampah ini. Atapnya bolong-bolong seperti tubuh yang dilubangi peluru, tiang penyangganya lapuk dimakan kebrutalan, dan tampak seperti tulang belulang, serta pintu kayunya yang tergantung miring, nyaris copot, hanya bertahan pada satu engsel rantai yang sudah berkarat dan berlumuran kotoran hitam.
"Itu... itu gubuk yang sama," gumam Herman dengan suara parau, matanya terbelalak nyaris keluar dari rongganya. "Kita sudah melewati neraka kecil ini beberapa kali. Tapi bagaimana bisa? Kita berjalan lurus ke utara. Kita tidak berbelok!"
"Bodoh! Hutan ini memutar jalan! Hutan ini hidup dan dia sedang mempermainkan kita!" hardik Sulaiman. Ia meludah ke tanah, ludahnya bercampur darah segar dari gusinya yang pecah karena kerasnya alam. "Ini bukan kebetulan. Tempat ini memanggil kita. Dia ingin kita kembali ke dalam perutnya."
Meskipun naluri mereka menjerit minta tolong dan menyuruh lari sejauh mungkin, kaki mereka seakan dipaksa oleh gravitasi hitam. Ada daya tarik mengerikan dari gubuk itu yang menyeret mereka maju. Suhu di sekitarnya aneh, tiba-tiba berubah menjadi sangat dingin, kontras dengan panas menyengat di luar yang seolah tak berdaya melawan dinginnya kematian di sana.
Saat kaki mereka melangkah melewati ambang pintu yang busuk itu, dunia di luar seakan ditelan kegelapan. Suara alam, suara angin, semuanya lenyap seketika. Digantikan oleh keheningan total yang menumbuk gendang telinga.
"Kita bertahan di sini!" perintah Sulaiman dengan suara berat, meski di dalam hatinya ia ingin menjerit ketakutan. Ia melempar tas kecilnya dengan kasar. "Deri, kunci pintu itu rapat-rapat! Herman, periksa setiap sudut! Tutup semua celah! Jangan biarkan apa pun masuk!"
Tapi ia salah besar. Bahaya tidak perlu masuk dari luar. Karena bahaya itu sudah ada di dalam, menunggu sejak zaman batu.
Baru lima menit duduk, dinding-dinding kayu itu seakan mulai berdenyut. Perlahan, warna kayu cokelat tua berubah menjadi merah gelap, seperti warna daging manusia yang memar hebat dan membiru.
"Lagi-lagi apa yang terjadi?" Deri nyaris memekik histeris, tapi tangannya menutup mulut agar tidak berteriak. "Lihat... lihat dindingnya, Bos! Dindingnya berdarah!"
Di permukaan kayu yang tadinya polos, mulai muncul bentuk-bentuk menyakitkan. Wajah-wajah bayi. Ratusan wajah mungil yang tertekan, terbenam hidup-hidup di dalam serat kayu. Mata mereka kosong melompong namun menatap tajam, menghujam jiwa. Mulut mereka terbuka lebar, rahang ternganga seakan sedang berteriak kesakitan, namun tak ada satu pun suara yang keluar. Hanya bisikan bisu yang mengerikan.
"Itu halusinasi! Mata kalian yang lemah!!!" bentak Sulaiman, suaranya bergetar, lebih berusaha meyakinkan dirinya sendiri daripada anak buahnya. "Jangan tatap matanya! Anggap itu kayu lapuk! Fokus! Fokus!!!!"
Tapi teror itu tak berhenti. Bau anyir kini begitu pekat, menusuk hidung hingga mual, seakan ada tumpukan mayat yang membusuk tepat di bawah papan lantai tempat mereka berpijak. Dan yang lebih mengerikan... lantai itu terasa hangat, lalu perlahan naik turun.
Nyiit nyiiit... Nyiit nyiiit...
Gubuk itu bernapas, susunan kayunya pun berdecit karena mengikuti gerakan mengembung dan mengempis.
"Bo bos... aku dengar... aku dengar suara..." bisik Deri, air mata dan keringat bercampur membasahi wajahnya. "Suara wanita... menyanyi... tapi suaranya serak... seperti orang yang tenggorokannya digorok..."
"Apa yang kau omongkan, bocah sialan?!"
"Bukan aku! Itu dari dinding! Dengar! Dindingnya bernyanyi!"
Dan benar saja. Di tengah keheningan yang mencekam, terdengar alunan melodi tua yang menyedihkan. Lagu daerah yang sudah lama mati, dinyanyikan dengan suara parau, serak, dan putus-putus, seakan penyanyinya sedang sekarat dan darah memenuhi mulutnya. Suara itu tidak masuk lewat telinga, tapi langsung bergema di dalam tengkorak kepala mereka, memutar otak perlahan.
Sulaiman memegang kepalanya yang terasa dipukuli. "Diam! Diam semua! Pergi dari kepalaku!"
BRAKK!
Pintu gubuk yang tadi ditutup rapat terbuka sendiri dengan keras hingga kayu-kayunya nyaris hancur.
Namun di luar bukanlah hutan rimba yang mereka kenal. Di luar adalah hamparan kegelapan pekat, hitam legam pekat yang memakan pandangan, tidak ada apa-apa, hanya kosong tanpa cahaya sedikit pun. Padahal di luar sana seharusnya siang hari yang terik.
Dari dalam kegelapan maut itu, tangan-tangan panjang, kurus kering seperti kerangka, dan pucat pasi mulai merambat masuk. Jari-jarinya memanjang seperti cakar binatang buas, kuku-kukunya hitam dan tajam, berusaha meraih pergelangan kaki mereka, menarik mereka masuk untuk dicincang atau dimakan hidup-hidup di dalam kegelapan.
"Ini jebakan! Gubuk ini ingin menelan kita! Dia lapar!" teriak Herman yang akhirnya kehilangan akal sehatnya.
Deri sudah tak bisa berkata-kata, ia hanya menangis dan meringkuk. "Kita mau mati... kita akan mati disiksa di sini..."
"Diam! Berhenti menangis atau aku hancurkan kepalamu sekarang juga!" teriak Sulaiman sekuat tenaga, suaranya mengguntur memecah teror. Ia mengambil parang milik Herman dan lalu mengayunkannya ke arah tangan-tangan menjijikkan itu.
Wush! Wush!!
Meski bilah besi itu hanya menebas udara, aura kekerasan dan nyali besarnya sejenak membuat bayangan-bayangan itu mundur. Namun mereka semua tahu satu hal yang pasti:
Malam ini, atau mungkin siang kali ini, atau mungkin sore, atau sekarang ini, mereka tidak akan bisa memejamkan mata. Karena di gubuk ini, mata terpejam berarti menyerahkan tubuh dan jiwa sepenuhnya pada mimpi buruk yang nyata, di mana mereka akan menjadi bagian dari dinding itu secara permanen.