NovelToon NovelToon
Elegi Devan

Elegi Devan

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:222
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Kehidupan kampus Anya yang monoton dan tanpa emosi mendadak runtuh ketika mahasiswa pindahan bernama Devan muncul. Sikap dingin Devan, tatapan penuh kebencian sekaligus kerinduan, dan rahasia kelam tentang kecelakaan masa lalu Anya yang terlupakan, perlahan menyeret gadis itu ke dalam realitas bahwa hidupnya selama ini adalah sebuah kebohongan yang dirancang rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Vincent dan Enkripsi yang Terputus

​Suara ledakan pintu flat di lantai empat itu bukan sekadar hantaman kayu yang menyerah pada gravitasi. Bagiku, itu terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan singkat yang baru saja kami cicipi. Detik ketika selot baja itu terlepas, udara di dalam unit kecil yang pengap di Johor Bahru itu seketika berubah menjadi medan perang.

​BUM!

​Granat kejut meledak di tengah ruang tamu. Cahaya putih yang menyilaukan membutakan pandanganku, sementara frekuensi tinggi yang memekakkan telinga membuat duniaku berputar hebat. Aku terjatuh, lututku menghantam ubin dingin dengan keras. Rasa sakit menjalar ke sumsum tulang, namun paranoia yang lebih tajam membuatku tetap sadar.

​"Anya! Merunduk!"

​Suara Devan terdengar seperti gema dari balik dinding air. Di tengah kabut putih dan asap yang menyengat paru-paru, aku merasakan sebuah tangan besar yang kokoh menyambar pinggangku. Devan menarikku dengan kekuatan yang tak terbantahkan, menyeret tubuhku masuk ke celah sempit antara lemari pakaian tua dan dinding beton yang lembap. Ia melindungiku dengan tubuhnya sendiri, napasnya yang memburu terasa panas di leherku.

​"Tetap di sini. Jangan bernapas terlalu keras," desis Devan. Tangannya yang memegang pistol taktis berkilat di bawah cahaya lampu neon yang berkedip-kedip.

​Di ruang tamu, kekacauan pecah. Aku mendengar suara sepatu laras panjang yang bergerak dengan formasi profesional. Ini bukan pencuri amatir. Ini bukan preman jalanan. Ini adalah unit taktis yang terlatih untuk satu tujuan: penghapusan jejak.

​"Vincent! Keluar sekarang!" raung Devan ke arah bilik kecil di sudut dapur.

​Vincent, pemuda jenius yang biasanya tampak rapuh, menunjukkan sisi lain yang belum pernah kulihat. Ia tidak menyelamatkan nyawanya sendiri lebih dulu. Tangannya bergerak secepat kilat, mencabut kabel-kabel optik, dan mendekap server jinjing itu seolah benda itu adalah bayi yang paling berharga di dunia. Ia melompat melewati sofa yang berlubang tepat saat peluru pertama menghantam dinding di belakangnya.

​DOR! DOR!

​Lantai ubin pecah berantakan. Debu semen memenuhi udara. Devan membalas tembakan, memberikan ruang bagi Vincent untuk merangkak menuju jendela dapur.

​"Pipa pembuangan! Anya, kau harus kuat!" Devan menarikku keluar dari persembunyian.

​Aku menatap jendela kecil itu. Di bawah sana, empat lantai beton menanti. Namun, melihat bayangan dua pria berpakaian serba hitam dengan masker gas yang mulai merangsek masuk, ketinggian tidak lagi terasa menakutkan. Kami merangkak keluar, jemariku mencengkeram pipa besi yang dingin dan berkarat. Udara malam Johor yang lembap dan berbau garam laut menyapa wajahku, namun adrenalin yang mengalir deras di nadiku membuatku lupa pada rasa takut akan ketinggian.

​Begitu kaki kami menyentuh tanah yang dipenuhi lumpur di belakang flat, sebuah van hitam tanpa pelat nomor meluncur ke arah kami dari arah jalan utama. Mesinnya menderu, memecah kesunyian pemukiman kumuh itu.

​"Bukan Razak! Lari ke arah pasar seni!" Devan mendorongku dengan keras.

​Kami berlari menembus labirin gang-gang sempit yang berbau sampah dan kucing jalanan. Vincent memegang tas servernya erat-erat, sementara Devan terus menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti. Kami melebur di antara kerumunan pasar malam Stulang Laut yang masih ramai oleh aroma sate dan tawa orang-orang yang tidak tahu bahwa di antara mereka, tiga orang sedang menjadi target perburuan global.

​Dua jam kemudian, kami menemukan perlindungan di sebuah kafe internet tua yang terletak di lantai dua ruko kumuh yang hampir roboh. Tempat ini adalah definisi dari "lubang persembunyian". Udara di dalamnya pekat oleh asap rokok murah, aroma kopi basi, dan dengung ratusan kipas pendingin komputer yang bekerja di ambang batas. Lantainya lengket oleh tumpahan minuman energi, namun di tempat seperti inilah jejak digital paling sulit untuk dilacak.

​Pemiliknya, seorang pria tua dengan mata yang sudah lamur, tidak peduli siapa kami asalkan kami membayar tunai. Ia menunjuk ke bilik paling pojok, yang tertutup oleh tirai plastik kusam dan robek.

​Vincent segera menghubungkan perangkatnya. Jarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Wajahnya yang pucat kini diterangi oleh pendaran layar monitor yang menampilkan barisan kode berwarna merah dan hijau. Keringat dingin mengucur di dahinya, jatuh ke atas papan ketik yang sudah usang.

​"Sial... sial, sial! Ini tidak mungkin!" Vincent tiba-tiba berteriak frustrasi, suaranya bergetar hebat.

​"Ada apa, V?" tanyaku, duduk di sampingnya sambil mencoba menstabilkan napasku yang masih tersengal.

​Devan berdiri di ambang bilik, mengintip melalui celah tirai plastik, telinganya waspada terhadap setiap langkah kaki yang menaiki tangga ruko. Ia memegang pistolnya dengan posisi siap pakai di bawah jaketnya.

​"Siaran kita... transmisi global yang kita lakukan di Singapura... mereka sedang menghapusnya," Vincent menatap layar dengan tatapan tidak percaya. "Bukan cuma menghapus, mereka sedang melakukan digital scrubbing secara total."

​"Apa maksudmu?" Devan berbalik, alisnya bertaut tajam. "Kau bilang satelit militer itu independen dan tidak bisa diblokir."

​"Satelitnya memang aman, Devan! Tapi infrastruktur internet di bumi tidak!" Vincent memutar monitornya ke arah kami. "Lihat ini. Semua tautan berita di CNN, BBC, Al Jazeera, Reuters... setiap kali seseorang mencoba mengklik video pengakuan Anya atau dokumen Red-Alpha, yang muncul hanyalah pesan 404 Not Found. Di media sosial, setiap postingan yang mengandung kata kunci 'Elegia', 'Dirgantara', atau 'Kusuma Jaya' langsung dihilangkan oleh algoritma pembersihan otomatis berskala raksasa."

​Aku menatap layar itu dengan rasa mual yang melilit perut. Semua risiko yang kami ambil, semua pelarian berdarah di Singapura, seolah-olah menguap begitu saja.

​"Mereka mencuci ingatan dunia, Anya," suara Devan terdengar dingin dan rendah. "Sama seperti mereka mencuci ingatanmu tiga tahun lalu. Skalanya saja yang berbeda. Kali ini, korbannya adalah opini publik global."

​Vincent tiba-tiba mengetik lebih keras. "Dan bukan itu bagian terburuknya. Lihat ini."

​Ia membuka sebuah portal berita utama. Judulnya membuat jantungku seolah berhenti berdetak:

​'HOAX GLOBAL: OTORITAS KESEHATAN MENYATAKAN PROJECT ELEGIA ADALAH SERANGAN SIBER TERORIS UNTUK MENJATUHKAN EKONOMI NASIONAL.'

​Di bawah judul itu, muncul foto Dokter Frans Sugiarto. Ia tidak sedang berada di penjara. Ia berdiri di sebuah podium mewah, mengenakan jas putih yang bersih tanpa noda, memberikan keterangan pers dengan senyum ramah yang selalu membuatku merinding. Di sampingnya, berdiri seorang pria dengan setelan jas abu-abu yang tak bercela—pria yang kulihat dalam memori masa kecilku. Perwakilan dari Orion.

​"Frans dilepaskan?" bisikku, suaraku nyaris hilang. "Satria bilang dia sudah diringkus dalam sel isolasi!"

​"Uang Dirgantara mungkin bisa dibendung oleh Jaksa Satria, tapi kekuatan Orion? Mereka punya tangan di dalam pemerintahan pusat," Devan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Mereka sedang membalikkan narasi. Kita sekarang adalah penjahatnya, Anya. Kita adalah teroris yang dituduh melakukan cuci otak secara digital pada publik."

​Vincent tiba-tiba membeku. Layar monitornya berubah menjadi merah menyala, diiringi suara peringatan yang menusuk telinga. "Enkripsi terakhirku... kunci yang diberikan ibumu untuk data aslinya di server ini... mereka sedang mencoba memutusnya secara paksa dari jarak jauh! Mereka menggunakan Supercomputer untuk melakukan brute force pada firewall-ku!"

​"Hentikan mereka, Vincent!" seru Devan.

​"Aku sedang mencoba! Tapi ini seperti melawan ribuan peretas sekaligus! Mereka memiliki akses ke tingkat kernel sistem!" Vincent berteriak frustrasi, jemarinya bergerak liar. "Anya, aku butuh 'Kunci Kedua'! Ibumu menulis dalam catatan itu bahwa data ini tidak bisa dibuka hanya dengan kode biner. Ada lapisan keamanan berbasis frekuensi audio!"

​Aku mengerjap, mencoba menggali ke dalam tumpukan kaset rusak di kepalaku. "Frekuensi audio?"

​"Nada itu, Anya! Melodi yang kau mainkan di ruang musik kampus!" Vincent menyodorkan sebuah mikrofon kecil kepadaku. "Algoritma enkripsinya menggunakan pola disonansi yang sama dengan melodi itu. Aku harus mengubah frekuensi suaramu menjadi kunci digital untuk mengunci balik server ini!"

​Rasa pening kembali menghantam pelipisku. Sebuah denyutan tajam yang biasa datang saat aku dipaksa mengingat. Aku memejamkan mata, mengabaikan bau rokok dan suara bising gim online dari bilik sebelah. Aku mencoba memanggil kembali suara piano di gedung seni itu.

​La dan Si datar.

​Bukan sekadar nada, tapi rasa sakit yang mengiringinya. Kemarahan pada Ayah. Kerinduan pada Devan. Ketakutan pada Frans. Semua emosi itu aku kumpulkan, lalu aku mulai menyenandungkan melodi Elegia dengan suara yang rendah namun stabil.

​"Terus, Anya! Polanya mulai terbaca!" Vincent menatap gelombang suara di monitornya yang kini mulai sinkron dengan kode-kode rumit tersebut.

​Suaraku awalnya bergetar, namun perlahan menjadi sebuah kekuatan yang murni. Di tengah kafe internet kumuh di Malaysia, aku menyanyikan lagu kematian bagi kebohongan mereka. Melodi itu bukan lagi sebuah elegi kesedihan, melainkan sebuah simfoni perlawanan.

​Klik.

​Layar yang tadinya merah pekat perlahan berubah menjadi hijau zamrud yang tenang. Suara peringatan berhenti.

​"Berhasil..." Vincent bersandar di kursinya, napasnya memburu seolah ia baru saja berlari maraton. "Data aslinya sudah terkunci secara permanen di dalam enkripsi biologismu. Mereka Tidak bisa menghapusnya tanpa suaramu. Tapi masalahnya, datanya tersandera. Kita tidak bisa menyiarkannya lagi lewat internet karena mereka sudah menguasai gerbang akses publik."

​"Berarti kita harus memberikan data ini secara fisik kepada orang yang memiliki otoritas untuk tidak tunduk pada Orion," Devan melangkah mendekat, ia berlutut di depanku, memegang bahuku dengan kedua tangannya. Matanya yang tajam kini dipenuhi oleh tekad yang mutlak. "Anya, di dunia yang sudah dikuasai oleh manipulasi digital ini, hanya ada satu tempat di mana kebenaran fisik masih dihargai."

​"Pengadilan," bisikku.

​"Ya. Tapi bukan pengadilan rahasia atau sidang tertutup yang bisa mereka atur," Devan mengangguk. "Kita harus kembali ke Jakarta. Kita harus membawa server ini ke hadapan Jaksa Satria di tengah persidangan terbuka yang dihadiri oleh saksi mata fisik. Jika data ini dibuka di depan mata ribuan orang secara langsung, Orion tidak akan punya waktu untuk menghapusnya dari kepala orang-orang itu."

​"Tapi kembali ke Jakarta berarti menyerahkan diri ke mulut singa, Devan," Vincent mengingatkan, wajahnya masih penuh ketakutan. "Kita akan langsung diringkus begitu mendarat di pelabuhan atau bandara."

​"Itulah sebabnya kita tidak akan mendarat di bandara," Devan tersenyum miring—sebuah senyum tajam yang sering ia tunjukkan saat ia sudah memiliki rencana gila. "Kita akan kembali melalui jalur yang sama dengan bagaimana aku mencarimu selama tiga tahun ini. Jalur bawah tanah. Jalur tikus yang tidak pernah disentuh oleh algoritma mereka."

​Malam itu, di bawah pendaran lampu kafe internet yang berkedip, kami merancang rencana kepulangan. Kami bukan lagi pelarian yang hanya ingin menyelamatkan diri. Kami adalah pembawa api yang siap membakar seluruh menara kebohongan yang telah dibangun Dirgantara dan Orion selama satu dekade.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​FADE IN:

​INT. KAMAR TIDUR ANYA - MALAM HARI (10 TAHUN LALU)

​Suasana sangat sunyi, hanya ada suara rintik hujan yang memukul jendela kaca. IBU ANYA (Melati) sedang duduk di depan laptop tuanya yang layarnya dipenuhi dengan skema gelombang suara. Ia terlihat sangat pucat, matanya lelah namun penuh dengan determinasi.

​Anya kecil (9 tahun) duduk di pangkuannya, memperhatikan dengan rasa ingin tahu yang besar.

​ANYA KECIL

"Ma, kenapa Ibu selalu merekam suaraku kalau aku sedang menyanyi?"

​MELATI

(Tersenyum lembut, mencium puncak kepala Anya)

"Karena suara manusia adalah satu-satunya hal yang tidak bisa dipalsukan oleh mesin, Sayang. Suatu hari nanti, dunia mungkin akan dipenuhi oleh mesin yang pintar berbohong. Tapi frekuensi hatimu... itu akan selalu menjadi kunci untuk membuka pintu kebenaran."

​Melati memasukkan rekaman suara Anya ke dalam sebuah program enkripsi yang sangat kompleks. Di layar monitor, muncul sebuah pesan berwarna biru: 'PROJECT ELEGIA - BIOMETRIC ENCRYPTION KEY: SUBJECT 01 VOICE PATTERN'.

​ANYA KECIL

"Apa itu 'Elegia', Ma?"

​MELATI

"Elegia adalah lagu untuk mengenang sesuatu yang hilang, Anya. Ibu menamainya begitu agar kau tidak pernah lupa bahwa biarpun mereka mengambil ingatanmu, mereka tidak akan pernah bisa mengambil suaramu."

​Melati menutup laptopnya dan memeluk Anya dengan sangat erat, seolah-olah ia sedang mencoba menyalurkan seluruh kekuatannya melalui pelukan itu.

​ANYA (V.O)

"Sepuluh tahun yang lalu, ibuku sudah meramalkan perang ini. Ia tidak sedang membuat obat; ia sedang menciptakan senjata pertahanan terakhir untuk putrinya. Ia tahu bahwa di dunia yang dikuasai oleh manipulasi digital, satu-satunya hal yang tetap murni adalah frekuensi jiwa manusia. Dan hari ini, suara yang ia simpan itu akan meruntuhkan seluruh kekaisaran kebohongan mereka."

​FADE OUT.

​Aku menatap pantulan diriku di layar monitor kafe internet yang kini sudah mati. Mataku tidak lagi kosong seperti saat pertama kali Devan muncul di kelas Sastra Klasik. Mataku kini dipenuhi oleh bayangan masa lalu yang telah menjadi api.

​"Devan," panggilku dengan suara yang stabil.

​"Iya?"

​"Hubungi Razak. Katakan padanya kita butuh jalur laut menuju Jakarta malam ini. Kita tidak akan menunggu sampai minggu depan."

​Devan mengangguk, ia segera keluar dari bilik untuk melakukan panggilan rahasia. Vincent mulai mengemas servernya dengan gerakan yang lebih tenang.

​Aku meraba pergelangan tangan kiriku. Nama Devan yang dulu pernah ada di sana mungkin sudah terhapus secara fisik, tapi frekuensinya telah menyatu dengan setiap denyut nadiku. Kami akan kembali ke Jakarta, bukan sebagai korban yang meminta keadilan, tapi sebagai hakim yang akan menjatuhkan vonis pada masa lalu kami sendiri.

​Kaset rusak di kepalaku kini telah berganti menjadi sebuah instrumen perang. Dan kali ini, lagunya tidak akan pernah bisa dihentikan.

​[BERSAMBUNG KE BAB 33]

1
Afri
gila bener ayahnya Anya .. sedendam itu sama Devan
apa ayah Devan yg membunuh ibu Anya ??
Afri
ternyata Devan ada d kehidupan Anya sebelum kecelakaan
Misterios_Man: masih revisi kak masih agak bingung, tapi ya nikmatin aja lah😄
total 1 replies
marchang
lanjuttt thorr
Misterios_Man: Siap boss/Ok/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!