Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Tes Matematika
"Duduk."
Perintah singkat itu meluncur dari mulut Elvano. Dia menunjuk kursi kulit di depan mejanya dengan dagu, gestur yang sangat minim usaha namun penuh arogansi.
Aluna tidak membantah. Kakinya memang sudah gemetar, bukan karena takut, tapi karena lelah berdiri dan belum makan siang. Dia menarik kursi tamu yang terlihat mahal itu, lalu duduk dengan punggung tegak. Dia berusaha terlihat siap tempur, meski perutnya baru saja berbunyi krukk pelan—untung suara AC sentral yang berdengung halus menyamarkannya.
Elvano menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kebesaran. Dia menautkan jemari tangannya di atas meja, menatap Aluna seperti seorang profesor yang sedang menguji mahasiswa bodoh yang salah masuk kelas.
"Kamu bilang kamu lulusan Ekonomi Manajemen dengan IPK 3.8," ucap Elvano datar. "Nilai di atas kertas itu sampah kalau tidak bisa diaplikasikan di lapangan. Di dunia saya, satu tambah satu tidak selalu dua. Bisa jadi nol kalau kena pajak, atau minus kalau kena tipu."
"Saya tahu, Pak. Saya hidup di jalanan Jakarta, bukan di dalam buku teks," balas Aluna tak kalah tajam. "Langsung saja ke intinya. Bapak mau nanya apa?"
Elvano tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai mata. Dia memajukan tubuhnya sedikit, sikunya bertumpu pada meja kaca yang dingin.
"Baik. Tes lisan. Tidak perlu kertas, tidak perlu kalkulator. Pakai otakmu."
Elvano menatap lurus ke manik mata Aluna, mencoba mengintimidasi.
"Simulasi kasus sederhana," mulai Elvano, suaranya tenang namun menekan. "Anggap saya pedagang buah. Saya beli satu apel impor premium dengan harga modal lima ribu rupiah. Saya ingin ambil untung bersih seribu rupiah."
Aluna mengangguk, matanya fokus. "Oke. Modal lima ribu, target untung seribu."
"Tunggu, saya belum selesai," potong Elvano. "Apel itu butuh kulkas biar segar. Biaya listrik untuk mendinginkan satu apel itu adalah dua ratus rupiah per hari. Biaya ini terus berjalan selama apel itu ada di tangan saya."
Elvano mengetukkan jari telunjuknya ke meja secara berirama. Tak. Tak. Tak.
"Pertanyaannya simpel," lanjut Elvano. "Di hari keberapa saya harus berhasil menjual apel itu, sebelum biaya listriknya menjadi lebih besar dari keuntungan saya? Kapan saya harus lepas barang itu sebelum saya malah jadi rugi?"
Hening.
Aluna mengerjapkan mata. Otaknya berputar cepat.
Modal 5.000. Untung 1.000. Biaya simpan 200 per hari.
Kalau hari pertama laku, biaya cuma 200. Masih untung 800.
Kalau hari kelima... 200 dikali 5 hari sama dengan 1.000. Untungnya habis. Nol.
Ini jebakan.
"Waktu berjalan, Aluna," desak Elvano sambil melirik jam tangan Rolex-nya. "Di pasar saham, keterlambatan satu detik bisa membuat kamu kehilangan miliaran. Tik tok."
Aluna menggigit bibir bawahnya. Dia membayangkan apel itu. Apel lima ribu perak. Bagi Elvano, itu cuma angka di neraca. Tapi bagi Aluna, lima ribu itu harga satu bungkus nasi kucing yang berharga.
"Bentar, Pak. Jangan bawel," semprot Aluna refleks.
Mata Elvano membulat. "Kamu bilang saya bawel?"
"Iya! Orang lagi mikir diganggu!" Aluna memijat pelipisnya.
Elvano mendengus, kembali bersandar. Dia yakin gadis ini tidak akan bisa menjawab dengan tepat. Dia pasti akan menghitung hari ketiga atau keempat.
"Lima detik lagi," hitung Elvano kejam. "Lima... Empat..."
Aluna menatap wajah Elvano yang menyebalkan itu. Dia melihat seringai kemenangan di sudut bibir sang CEO. Pria ini pasti berpikir Aluna akan menyerah atau sibuk menghitung angka.
"Tiga..."
Aluna melihat ke arah toples kopi di meja pantry sudut ruangan. Dia teringat bagaimana Elvano menimbang biji kopi pakai pinset. Orang ini terlalu terpaku pada hitungan mikro, sampai lupa pada esensi barang itu sendiri.
"Dua..."
"Satu. Waktu hab—"
"Jangan dijual, Pak," potong Aluna lantang.
Elvano terdiam. Alisnya bertaut. "Apa?"
Aluna menatapnya dengan tatapan yang sangat serius, seolah dia baru saja menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan massal.
"Jawaban saya: Jangan dijual," ulang Aluna mantap.
"Itu bukan jawaban angka," Elvano menyipitkan mata, terlihat tersinggung. "Saya minta hari keberapa. Hari pertama? Ketiga?"
"Bukan hari keberapa, Pak. Tapi jangan dijual sama sekali," Aluna menggelengkan kepalanya tegas.
"Alasannya?" tuntut Elvano. "Kalau tidak dijual, saya rugi modal lima ribu. Di mana logika ekonominya?"
Aluna menyunggingkan senyum miring, meniru gaya Elvano tadi. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Logikanya ada di sifat barangnya, Pak. Itu apel. Buah. Barang organik yang bisa busuk."
"Lalu?"
"Bapak sibuk ngitung biaya listrik dua ratus perak, Bapak sibuk ngejar untung seribu. Bapak terlalu fokus sama kalkulator sampai lupa kalau apel itu punya batas usia," jelas Aluna berapi-api.
"Kalau Bapak nunggu hari yang tepat buat ngejar untung maksimal, keburu apelnya keriput, Pak. Nggak laku! Siapa yang mau beli apel layu? Nggak ada!"
Elvano tertegun. Mulutnya sedikit terbuka, hendak menyela, tapi Aluna belum selesai.
"Jadi, daripada Bapak pusing ngitung hari yang bikin stres itu, mending apelnya jangan dijual."
"Terus diapain? Dibuang?" tanya Elvano, nadanya mulai goyah.
"Makan aja, Pak," jawab Aluna cepat tanpa mikir. "Makan sekarang juga. Kenyang dapet, vitamin dapet, sehat dapet. Itu keuntungan paling nyata. Karena kalau Bapak mikir kelamaan, apelnya busuk. Kerugian total."
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁
😭😭😭😭😭😭😭😭
super duper inti kerak bumi ga sih tuh pengiritan nya......🔥