Empat tahun menjalani pernikahan tanpa cinta, Hana hanya menuai luka. Dicap mandul oleh keluarga suaminya, dihina tanpa henti, hingga akhirnya diusir dan diceraikan oleh Farhan—pria yang seharusnya melindunginya.
Dalam keterpurukan, sebuah kesalahan membawa Hana pada malam tak terduga bersama Arsaka, pria asing yang ternyata mengubah takdir hidupnya. Dari malam itu, lahirlah harapan baru—seorang anak yang menjadi alasan Hana bangkit dan memulai hidup dari nol.
Saat kebenaran terungkap bahwa Hana sebenarnya tidak mandul, justru Farhan yang bermasalah, segalanya sudah terlambat. Farhan telah memilih jalan lain dan harus membayar mahal atas keputusannya.
Ketika masa lalu datang mengetuk kembali, mampukah Hana mempertahankan kebahagiaan yang akhirnya ia genggam? Dan apakah penyesalan Farhan masih memiliki arti?
Sebuah kisah tentang pengkhianatan, penebusan, dan cinta yang datang di waktu yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh
Malam bergerak pelan menuju larut ketika rencana mulai dijalankan.
Di sisi lain kota, Han—asisten kepercayaan Arsaka—berdiri di depan sebuah rumah sakit swasta dengan wajah serius. Jasnya rapi, rambutnya tertata, tapi matanya menunjukkan satu hal, ia tidak akan pulang sebelum mendapatkan jawaban.
Ia melirik ke arah dua orang pria di belakangnya. Anak buah lain yang sengaja ia bawa.
“Kita nggak punya banyak waktu,” ucap Han pelan. “Dan kita juga nggak boleh bikin masalah besar.”
Salah satu dari mereka mengangguk. “Kalau dokternya nggak mau ngomong?”
Han tersenyum tipis. Bukan senyum ramah. Lebih ke arah penuh perhitungan.
“Kita punya banyak cara buat bikin orang berubah pikiran.”
Mereka pun masuk ke dalam rumah sakit. Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di lantai tempat praktik dokter kandungan. Suasana cukup sepi. Hanya beberapa pasien yang masih menunggu.
Han berjalan mendekati meja resepsionis. “Malam, Mbak,” sapanya sopan.
Perawat di sana mengangkat wajah. “Selamat malam, Pak. Ada yang bisa dibantu?”
“Saya mau ketemu Dokter Rina,” jawab Han santai. “Ada urusan penting.”
Perawat itu terlihat ragu. “Maaf, Pak. Kalau tidak ada janji sebelumnya, biasanya harus daftar dulu.”
Han mengangguk pelan, seolah mengerti. Lalu ia sedikit mendekat, menurunkan suaranya.
“Ini bukan urusan biasa.”
Ia mengeluarkan sebuah kartu nama, meletakkannya pelan di meja. Nama Arsaka terpampang jelas di sana.
Perawat itu membaca sekilas. Wajahnya langsung berubah.
“Oh … ini …,” gumamnya pelan.
“Bisa dibantu?” tanya Han, masih dengan nada sopan tapi tegas.
Perawat itu menelan ludah. “Saya coba tanyakan dulu ke dokternya, Pak.”
Han tersenyum tipis. “Saya tunggu.”
Perawat itu segera masuk ke dalam ruangan dokter. Di dalam ruang praktik, Dokter Rina sedang merapikan berkas pasien ketika pintu diketuk.
“Iya, masuk,” ucapnya.
Perawat tadi masuk dengan wajah agak tegang. “Dok, ada tamu … katanya dari pihak Pak Arsaka.”
Dokter Rina langsung mengernyit. “Arsaka?”
“Iya, Dok. Mereka bilang ada urusan penting.”
Dokter itu terdiam sejenak. Ia tahu nama itu. Siapa yang tidak kenal? “Suruh masuk,” akhirnya ia berkata.
Beberapa detik kemudian, Han melangkah masuk ke ruangan itu, diikuti dua orang lainnya.
“Selamat malam, Dokter,” sapanya.
“Selamat malam,” jawab Dokter Rina datar. “Ada apa?”
Han tidak langsung menjawab. Ia duduk dengan santai di kursi tamu, menyilangkan kaki.
“Saya nggak akan bertele-tele, Dok,” ucapnya. “Kami butuh informasi tentang salah satu pasien Anda.”
Wajah dokter itu langsung berubah tegas. “Maaf, saya tidak bisa memberikan informasi pasien. Itu melanggar kode etik.”
Han mengangguk pelan, seolah sudah menduga jawaban itu. “Saya mengerti,” ujarnya tenang. “Privasi pasien itu penting.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Tapi ada hal yang lebih penting dari itu.”
Dokter Rina menyipitkan mata. “Maksud Anda?”
Han mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
“Pasien yang kami maksud … bisa saja membawa konsekuensi besar. Bukan cuma untuk dirinya, tapi juga untuk orang lain.”
“Siapa pasiennya?” tanya dokter itu tetap hati-hati.
“Hana,” jawab Han singkat.
Nama itu membuat Dokter Rina sedikit terdiam. Ia jelas ingat pasien itu.
“Saya tetap tidak bisa—”
“Dok,” potong Han, kali ini nadanya sedikit berubah. Lebih dingin.
Ia mengeluarkan sebuah amplop tipis, meletakkannya di meja. “Kami hanya butuh konfirmasi. Tidak lebih.”
Dokter Rina melirik amplop itu. Tidak menyentuhnya.
“Saya tidak bisa dibeli,” ucapnya tegas.
Han tersenyum kecil. “Saya suka orang yang punya prinsip. Tapi saya juga tahu … semua orang punya batas.”
Ia memberi isyarat kecil ke salah satu anak buahnya. Pria itu langsung mengeluarkan tablet, memutar sesuatu. Sebuah rekaman CCTV parkiran rumah sakit.
Wajah dokter itu berubah.
“Itu …?”
“Kami juga bisa mencari tahu banyak hal, Dok,” ujar Han pelan. “Termasuk hal-hal yang mungkin tidak ingin Anda jelaskan ke publik.”
Ruangan mendadak terasa lebih dingin. Dokter Rina mengepalkan tangannya di atas meja. Ia tahu ini bukan sekadar permintaan biasa. Ia tak mau privasinya diketahui orang banyak. Ia sedang berada di posisi yang tidak menguntungkan.
Beberapa detik berlalu dalam diam. Akhirnya, ia menghela napas panjang.
“Apa yang ingin kalian tahu?” tanyanya pelan.
Han tersenyum tipis. Kali ini benar-benar puas.
“Simple saja, Dok,” ucapnya. “Hana datang ke sini untuk apa?”
Dokter itu menatap meja sebentar, lalu menjawab dengan suara rendah. “Pemeriksaan kandungan.”
Mata Han langsung menajam. “Dia hamil?”
Dokter Rina tidak langsung menjawab. Tapi diamnya sudah cukup menjadi jawaban.
“Berapa usia kandungannya?” tanya Han lagi.
“Lima minggu,” jawab dokter itu akhirnya.
Jawaban itu membuat suasana berubah. Han bersandar perlahan di kursinya. Ia saling pandang dengan dua orang di belakangnya. Mereka sama-sama mengerti arti angka itu.
“Terima kasih, Dok,” ucapnya santai, seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah itu ia berdiri.
Ia mengambil amplop tadi, lalu mendorongnya sedikit ke arah dokter. “Anggap saja ini ucapan terima kasih.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan keluar dari ruangan. Dokter Rina hanya bisa terdiam, menatap pintu yang kini tertutup.
Tidak lama kemudian, Han sudah berada di dalam mobil. Ia langsung menekan nomor di ponselnya.
“Pak.”
“Ya?” suara Arsaka terdengar di seberang, dingin seperti biasa.
“Sudah saya pastikan.”
“Dan?”
Han menarik napas pelan.
“Dia memang ke dokter kandungan. Dan dia hamil.”
Beberapa detik hening. “Usianya?” tanya Arsaka.
“Lima minggu, Pak.”
Kali ini, keheningan di ujung sana terasa lebih lama. “Baik,” jawab Arsaka singkat. “Kirim detailnya.”
“Siap, Pak.”
Telepon terputus. Han menatap layar ponselnya sejenak, lalu bersandar di kursi.
“Ini bakal jadi masalah besar …,” gumamnya pelan.
Di dalam ruang kerjanya, Arsaka berdiri di dekat jendela, ponsel masih di tangannya.
Lima minggu. Angka itu terus berputar di kepalanya. Perlahan, ingatannya kembali ke malam itu.
Malam yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Napasnya sedikit berubah. “Itu lima minggu lalu,” gumamnya pelan.
Ia menutup mata sesaat.
Bayangan Hana, tubuhnya, sentuhannya, semuanya muncul begitu jelas. “Tidak mungkin, hanya sekali …,” bisiknya.
Ia lalu berjalan mondar mandir. Lalu terdiam di dekat jendela menghadap ke jalan raya. “Bukan sekali …,” gumamnya pelan.
Malam itu bukan sekali. Ia mengingatnya dengan jelas sekarang. Mereka melakukannya tiga kali dalam satu malam.
Arsaka mengusap wajahnya kasar. “Gila …,” desisnya pelan.
Sekarang semuanya terasa jauh lebih masuk akal. Dan itu justru membuatnya semakin tidak tenang.
“Kalau itu anakku …,” ucapnya pelan.
Ia menatap kosong ke depan. “Berarti aku nggak bisa lepaskan tanggung jawab ini.”
Sementara itu, di tempat lain Chika berdiri di balkon kamarnya, ponsel di tangan. Wajahnya terlihat kesal.
Ia menekan nomor seseorang. Beberapa detik kemudian, panggilan tersambung.
“Halooo?” suara ceria di seberang.
“Jess,” ucap Chika singkat.
“Eh, Chika? Tumben nelpon malam-malam. Ada apa?”
Chika tidak basa-basi. “Aku butuh bantuan.”
Jessica langsung tertarik. “Wah, serius nih. Bantuan apa?”
Chika menarik napas pelan. “Carikan aku berondong.”
Hening beberapa detik. Lalu, “HAH?!”
Suara Jessica hampir memekakkan telinga. “Kamu serius?!”
“Iya.”
“Chika, kamu kenapa sih?” suara Jessica berubah jadi setengah tertawa, setengah kaget. “Bukannya kamu udah nikah?”
Chika diam. Tak mungkin ia terus terang. Bisa-bisa ia jadi bahan omongan.
Jessica lanjut menggoda, “Apa? Kurang puas sama suami sendiri?”
Chika mengepalkan tangannya sedikit. “Jess,” ucapnya dingin. “Gue lagi nggak mau bercanda.”
Nada itu langsung membuat Jessica diam sejenak. "Kamu serius?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Chika menatap jauh ke depan. Lampu-lampu kota berkelip di kejauhan. Tapi matanya kosong. “Aku cuma butuh,” jawabnya singkat.
Jessica di seberang menarik napas. “Kamu aneh banget, sumpah,” gumamnya. “Tapi … ya udah.”
“Bisa?” tanya Chika langsung.
Jessica menghela napas. “Aku coba cariin. Tapi kamu beneran yakin?”
Chika tidak menjawab pertanyaan itu. “Aku tunggu kabar dari kamu,” ucapnya dingin.
Lalu tanpa menunggu balasan. Panggilan terputus. Chika menurunkan ponselnya perlahan. Wajahnya tetap tenang. Tapi di dalam, ada sesuatu yang sedang ia rencanakan.
dan dia yg bkln meratukan kan membhgiakan kmu Hana....