Pamela Anderson, ketua Mafia yang di hianati oleh adik tiri dan suaminyanya, ia dibunuh dengan keji bersama anak yang dikandungnya.
Tapi anehnya, setelah jasadnya dimakamkan, ia hidup kembali dalam tubuh seorang gadis gemuk bernasib malang.
Gadis itu seperti dirinya, dihianati saudara tiri dan tunangannya. Gadis itu tewas tenggalm disungai, sebab tunangannya lebih memilih menyelamatkan selingkuhannya.
"Beristirahatlah dalam damai Song Aran, aku akan membuat mereka menyesal karena sudah membautmu menderita."
Janji Pamela Anderson setelah ia mendapatkan harta karun berupa liontin giok yang didalamnya terdapat ruang dimensi.
Cerita ini cuma karangan fiksi semata. Lokasinya bukan negara tertentu, cuma khayalan penggabungan saja.
Jika ada yang kurang pas, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09
Song Aran memang cukup terkenal, sebab sangat sedikit gadis desa yang segemuk dirinya. Terlebih ia bertunangan dengan Kang Yance, pemuda paling menjanjikan di desa yang membuat banyak orang iri.
Kang Yance adalah satu-satunya sarjana di desa, tampan terpelajar.
Song Aran amat menyukai Kang Yance, bisa dibilang sangat tergila-gila.
Jika ada seorang gadis melontarkan sepatah kata saja pada Kang Yance, Song Aran akan mengejar, lalu memarahinya.
Tapi tanpa diduga, Zhao Jiao berhasil merebutnya. Hal itu membuat semua orang yang tidak menyukai Song Aran bersuka cita.
Tentu saja dibalik kandasnya hubungan Song Aran dan Kang Yance, ada juga beberapa gadis cerdas yang mendengar bahwa pemuda itu belum melamar Zhao Jiao.
Gadis-gadis tersebut berpikir untuk bertanya kepada nyonya Kang tentang aturan dan syarat pernikahan.
Sebab suatu kebanggaan, jika Kang Yance lulus ujian kekaisaran, mereka akan menjadi istri seorang sarjana.
Namun setelah berita pertunangan Song Aran dengan Xiao Jian yang dianggap pembawa sial, banyak orang menjadi bersimpati.
Tapi melihat mahar yang begitu banyak, mereka juga sedikit iri.
Sungguh sangat beruntung sekali gadis gendut itu.
Namun, apa dia tidak takut dikutuk sampai mati oleh Xiao Jian..?
"Bao, apa semua ini mas kawin Aran..?"
Para bibi rempong berkerumun mengelilingi gerobak sapi yang berjalan lambat.
"Atau sebagiannya milik Jiao..?"
"Yaa, peti kamper ini bahkan diukir, pasti mahal kan...?"
"Lihat jaket merah ini, sepatu bersulam merah, juga ada selimut merah, semua bagus."
"Kalian membeli sendiri..?"
"Padahal kebanyakan gadis di desa selalu meminjam jaket merah bekas dari orang lain ketika mereka menikah, tapi Aran bisa membelinya."
"Seberapa banyak uang yang diberikan keluarga Xiao..?"
"Aran, ayahmu sangat baik karena mampu membelikanmu gelang perak."
Song Aran tetap bungkam, ia malas meladeni mulut-mulut ceriwis itu.
Tapi tidak bagi Song Qing Bao. Pemuda itu menyahuti dengan bangga tapi ada selipan sindiran pongah.
"Tentu saja ini semua mas kawin adikku. Ran'er hanya akan menikah sekali, kami tentu harus membeli seluruh perlengkapannya. Tidak perlu menyewa apa lagi meminjam."
Para bibi saling bertukar tatapan dengki.
Song Qing Bao semakin getol menyulut api.
"Kalau soal gelang, itu calon iparku yang memberikannya. Xiao Jian juga membelikan adikku jepit rambut perak. Royal sekali bukan calon suami Ran'er..?"
Song Qing Bao memang niat sekali untuk pamer, sampai ia memperlambat laju gerobak sapinya.
"Saat pernikahan tiba, adikku akan mengenakan gaun pernikahan sutera, memakai jepit rambut dan gelang perak. Aranku pasti akan terlihat sangat cantik nanti."
Song Qing Bao mengerem mendadak, menepis semua tangan yang ingin menyentuh barang-barangnya.
"Awas, nanti kotor. Cukup lihat saja..!"
Perjalanan pulang yang seharusnya memakan waktu singkat, malah molor sampai satu jam.
Song Aran terkikik geli dengan kesombongan sang kakak. Karena sudah merasa risih dikerumuni, ia gegas melompat dari kereta, lalu berlari pulang.
Begitu Song Aran turun dari kereta, ia merasakan tatapan penuh kebencian dilayangkan padanya.
Dari ekor matanya, Song Aran melihat Zhao Jiao sedang mengintip.
Gadis itu pasti sedang menahan sakit hati, atau bahkan jantungnya sudah menghitam bengkak karena saking marahnya. Bisa jadi, sebentar lagi ia akan lari ke tempat bajingan itu sambil menangis pilu.
Di ingatan pemilik tubuh asli, sejak keluarga Zhao itu memasuki kediaman Song, Aran dan kakaknya acap kali di tindas jika sang ayah tak ada.
Tapi lihat saja kedepannya, meski pembalas itu datang dari jiwa lain. Aran pastikan semua akan sepadan dengan apa yang telah mereka tebar.
"Bibi semua, kami pulang dulu ya..? jangan lupa untuk datang ke pesta pernikahan adikku lusa."
Dengan dagu terangkat tinggi, Qing Bao gegas menarik tali kekang agar cepat sampai dirumah.
Tentu saja, meski tanpa undangan dari pemuda itu, semua orang pasti akan datang karena tidak ingin melewatkan moment yang nanti bisa dijadikan bahan ghibahan.
Seorang gadis desa, menikah dengan jepit rambut dan gelang perak adalah hal yang langka. Kecuali mungkin di rumah-rumah tuan tanah kaya raya.
Pada akhirnya, semua orang berhenti membicarakan pertunangan Song Aran yang batal. Kini mereka malah berbalik iri pada keluarga Xiao, terutama karena keberuntungan Xiao Jian.
Pria yang dirumorkan dapat membawa kesialan bagi istri-istrinya, malah menikahi seorang anak emas.
Tapi mereka tidak tahu, jika Xiao Jian telah memberikan mahar sepuluh tahil perak. Belum lagi benda berharga lainnya.
Kalau tahu, orang-orang itu pasti akan langsung muntah darah.
Beberapa wanita yang iri dengki, bahkan sampai membatin, kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan Xiao Jian untuk akhirnya membunuh gadis gendut yang suka pamer itu.
Zhao Jie sebenarnya mendengar keributan di jalan, tapi tidak ingin melihat kesombongan kakak beradik itu. Jadi ia memilih untuk tidak keluar.
"Kalian mencuri peti kamper Jiao..?"
Zhao Jie baru keluar setelah Song Qing Bao dan Aran, memasuki halaman. Begitu melihat dua peti ukiran, wanita itu langsung berteriak marah.
Sebelumnya Zhao Jie dan Zhao Jiao sudah memeriksa peti-peti itu saat masih diukir. Tentu mereka amat mengenalinya.
Jika Zhao Chang Dong bukan seorang murid magang, setiap peti kamper itu harganya bisa mencapai seratus atau dua ratus koin lebih mahal.
Lalu sekarang dengan seenak jidat kakak-beradik ini mencuri peti-peti tersebut.
Kurang ajar sekali...!
"Mencuri..?" Qing Bao terkekeh "ibu tiri, apa kau lupa..? ini semua adalah kompensasi yang sudah anakmu janjikan untuk adikku."
Zhao Jie mendelik murka.
"Em, kedua peti kamper ini sangat besar dan indah, aku sungguh puas sekali. Jadi kupikir dua saja sudah cukup, oleh sebab itu uangnya aku gunakan saja untuk membeli gelang perak." Qing Bao makin tengil, menarik lembut lengan Song Aran.
"Lihat, cantik bukan..?"
Dengan bangga, Song Aran mengangkat tangannya.
Kilauan perak di pergelangan tangan yang putih bersinar, nyaris meledakkan jantung Zhao Jie.
"Bao, kau itu boros sekali..? barang-barang ini setidaknya berharga enam atau tujuh tahil perak." pekik gila Zhou Jie.
"Ini uang keluarga Song kami, terserah mau aku gunakan untuk apa." sengit Song Aran.
Awalnya, Zhao Jie ingin bersikap manis untuk menjilat, setidaknya ia bisa mendapatkan kembali salah satu peti kamper ukir itu. Tapi melihat Song Aran pamer seperti ini, tekanan darahnya mengalami lonjakan drastis. ia justru tidak bisa mengendalikan mulutnya sama sekali.
"Jalang sialan, keparat...!" raung Zhao Jie dengan wajah merah padam.
"Bajingan, tutup mulutmu..!" balas Qing Bao melotot bengis.
"Berani-beraninya kau mengumpat adikku, apa kau mau aku pukul..?"
Song Qing Bao meraih sapu, mengayunkannya kearah si ibu tiri.
"Ini semua dibeli menggunakan uang keluarga Song. Kau dan kedua anakmu bukan bagian klan Song. Wajar jika adikku menghabiskan uang keluarganya sendiri."
Zhao Jie menjerit, menghindari sapuan yang terarah padanya.
"Jangan pernah berpikir untuk menginginkan harta keluarga Song, aku tidak akan membiarkan kalian melakukannya." raung Qing Bao melempar sapu ditangan, menghantam punggung si ibu tiri.
"Aku menikahi ayahmu, aku istrinya sekarang. Wajar saja jika kedua anakku mendapat bagian juga dari harta keluarga Song..!" seru Zhao Jie memegangi punggungnya.
Mata Song Qing Bao memerah padam. Ia kembali menyambar sapu ditanah untuk memukul ibu tirinya.
Qing Bao tidak perduli, ia bukan lagi anak kecil yang tidak berdaya seperti dulu.
"Tutup mulutmu..! jika kau berani bicara omong kosong lagi, aku pastikan Zhao Jiao tidak akan pernah bisa menikah."
Song Aran menatap dingin Zhao Jie "akan memang tidak bisa menikahi Kang Yance, tapi aku masih sangat mampu untuk membuat Zhao Jiao kehilangan pernikahannya dengan bajingan itu."
Zhao Jie yang tadi masih mengumpat kasar, langsung diam setelah mendengar ancaman itu. Wajahnya pias memerah, cuma bisa kembali meraung tapi di dalam hati.