NovelToon NovelToon
AKHIR DARI PENYESALAN

AKHIR DARI PENYESALAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Rumah Tangga / Selingkuh
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.

"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.

Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.

Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.

Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.

Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TUJUH BELAS

"B-bukan begitu,... Aku tadi berusaha telfon kamu tapi nggak kamu angkat-angkat, jadi Nisrin datang buat nenangin aku. Maaf, aku nggak bermaksud buat nyakitin kamu dengan pelukan sama dia di kamar ini."

Jelas Andra yang seolah lupa bahwa Nisrin masih ada bersama mereka dan bisa mendengar semua ucapan yang keluar dari mulut manisnya.

"Hmm, santai, santai. Siapa juga yang merasa tersakiti. Biasa aja,... Lagi pula, lain kali kalau mau lepasin pelukan tu pelan-pelan. Tuh liat kasian istri kedua kamu sampe manyun begitu."

Kanaya menggedikan bahunya ke arah Nisrin, menunjuk wanita itu yang memang tak bisa mengontrol ekspresi marahnya.

"Ng- nggak kok, Mbak. Aku nggak marah, sama sekali nggak."

Nisrin mengelak dan menelan ludah, berusaha untuk kembali menetralkan raut mukanya yang masam.

"Ya udah, shoooh. Gih pada masuk kamar sendiri, aku mau istirahat."

Kanaya melambaikan tangannya ke arah luar, mengusir suami dan istri keduanya dari kamar.

"Nisrin, kamu istirahat dulu ya di kamar. Kamar tamu di sana kamu tau, kan? Kamar yang kemarin kamu tempatin sebelum kita liburan."

"Iya, Mas. Aku duluan,..." Nisrin berjalan keluar kamar, langkahnya terlihat ragu dan enggan.

"Kamu juga keluar, aku mau tidur." Ucap Kanaya enteng pada Andra yang tentu saja membuat Andra membulatkan matanya terkejut.

"Kok aku juga disuruh pergi? Ini juga kan kamar aku, Sayang. Aku mau istirahat di sini. Kita udah beberapa hari nggak ketemu. Aku kangen banget sama kamu, emang kamu nggak kangen juga sama aku?"

Tanya Andra sambil menutup rapat pintu kamar mereka, menyisakan ia dan Kanaya berduaan tanpa interupsi dari orang lain.

Pria itu berjalan mendekat ke arah Kanaya dan tanpa basa-basi memeluk wanita itu dengan erat.

Kanaya bahkan tak sempat menghindar dan tak bisa melepaskan diri.

Wajah Andra mendarat di leher Kanaya, mendaratkan ciuman bertubi-tubi yang membuat tubuh wanita itu merinding karena jijik.

Rambut-rambut di setiap jengkal tubuh Kanaya terasa berdiri merinding membuat lengan kecilnya berusaha mendorong Andra menjauh.

"Aku mau istirahat. Lepas, Mas." Kanaya berusaha melepaskan diri, menarik diri sekuat tenaga agar Andra menjauh dari tubuhnya.

"Aku kangen sama kamu, Sayang. Kangen banget."

Andra menarik Kanaya kembali, merengkuhnya semakin erat ke dalam pelukan.

Pria itu kembali mendaratkan ciuman demi ciuman ke wajah, leher dan kepala sang istri.

Satu tangannya merengkuh punggung Kanaya seakan mengunci sang istri agar tak bisa menjauh darinya, sedangkan tangannya yang lain sibuk meraba dan menyentuh tubuh Kanaya.

Suara decapan dan kecupan yang terdengar di telinganya membuat Kanaya jijik.

"Stop!"

Sekuat tenaga, Kanaya mendorong Andra sehingga pria itu tampak terhuyung dan hampir jatuh terjerembab ke belakang.

"Kamu kenapa sih, Naya? Kenapa kamu terus-terusan menjauh dari aku?!"

Andra yang tidak terima dengan penolakan Kanaya terlihat mulai tersulut emosi. Kedua mata pria itu menatap wajah Kanaya yang terlihat emosi.

"Udah aku bilang aku mau istirahat."

Tukas Kanaya sambil merapikan rambut panjangnya yang terlihat sedikit berantakan karena pelukan dan ciuman Andra sebelumnya.

"Aku cuma mau peluk kamu, aku kangen sama kamu. Kenapa kamu terus-terusan dorong aku. Sejak kemarin Naya,.... Sejak aku pergi ke puncak kamu nggak pernah angkat telfon dari aku atau sekedar bales chat. Aku tau kamu sengaja ngelakuin itu, aku tau kamu sengaja menghindar dan mengabaikan aku. Kenapa?!"

Kanaya benar-benar tak habis pikir, bisa-bisanya Andra masih bertanya kenapa ia berubah sikap pada pria itu?!

"Nggak juga,... Perasaan kamu doang kali."

"Bullshit. Ini jelas bukan cuma perasaan aku. Kamu memang sengaja jaga jarak dari aku. Kenapa? Apa karena Nisrin? Kamu sendiri yang setuju buat terima dia jadi madu kamu dan ikut di rumah ini, Naya. Aku juga udah turutin kemauan kamu dengan ngasih semua harta dan asset milik aku buat kamu. Terus kenapa kamu masih begini?!"

"Kamu pikir semua itu bisa ngobatin semua sakit hati yang aku rasain gara-gara kelakuan kamu sama orangtua kamu? Kamu pikir uang dan asset kamu bisa langsung bikin sakit aku pulih dan bener-bener pulih?!" Kanaya yang ikut tersulut emosi akhirnya ikut meledak.

"Terus apa yang kamu mau, Naya? Bilang ke aku apa yang harus aku lakuin supaya kamu bisa bener-bener maafin aku?! Apapun yang kamu minta, pasti bakalan aku penuhin. Tapi janji satu hal sama aku, kamu nggak akan pergi dan tetap di sisi selamanya."

Kanaya mendengus, ia baru saja hendak membuka mulutnya untuk kembali menjawab ucapan Andra saat tiba-tiba suara yang memekakan telinga terdengar menggedor-gedor pintu dari luar.

"Andra? Andra,.... Andra?!" Samira mengetuk pintu semakin keras, ketukannya cepat dan tidak sabaran.

"Apa, Bu? Sebentar aku lagi ngobrol sama Kanaya."

Andra menjawab sang ibu tanpa membuka pintu, perhatiannya masih tertuju sepenuhnya pada Kanaya yang masih terengah-engah kesal.

"Kebangetan ya kamu, Andra. Bisa-bisanya kamu biarin Nisrin beresin semua barang-barang kalian sendirian?!"

Andra akhirnya menatap ke arah pintu seolah sedang bertatap muka dengan sang ibu secara langsung.

Dari mana ibunya itu tau kalau mereka sudah pulang?!

Ia yakin tak memberitahu Samira kapan dirinya dan Nisrin akan kembali.

"Udah sana samperin Ibu kamu. Kelamaan di sini nanti aku lagi yang dia salahin." Usir Kanaya, nafas wanita itu sudah terlihat tenang dan stabil.

"Kita belum selesai bicara, Naya." Ungkap Andra lelah.

"Nanti lagi aja, samperin dulu Ibu kamu sebelum dia maki-maki aku karena buang-buang waktu anak kesayangannya. Atau emang kamu suka ngeliat aku disalah-salahin sama Ibu kamu?"

Andra menarik nafas panjang sambil memejamkan mata erat, ia emosi dan tersinggung mendengar ucapan Kanaya.

"Nggak,... Aku nggak pernah begitu. Kenapa kamu suka nuduh aku yang nggak-nggak, Naya?"

"Andra?!" Suara Samira kembali terdengar semakin keras.

"Nanti kita ngobrol lagi,..." Andra akhirnya memilih untuk mengalah dan bergegas keluar menghampiri sang ibu.

"Sabar, Bu. Ada apa?" Terdengar suara Andra yang bertanya pada Samira tepat saat pintu kamar ditutup rapat.

"Ada apa, ada apa. Bisa-bisanya kamu masih nanya?!

Liat istri kamu itu, masa dia yang kecapekan beres-beres sendiri?! Mana badannya kecil mungil gitu."

"Aku nggak pernah suruh-suruh Nisrin buat beresin, Bu. Itu dia sendiri yang inisiatif."

"Ya tetep aja. Ini pasti gara-gara Kanaya, kan? Pasti dia langsung nyuruh kamu masuk kamar setelah pulang?!"

"Nggak kok, Bu." Andra membantah.

"Belain aja terus belain, makanya Kanaya makin manja dan seenaknya."

"Nah kan, nenek lampir sialan. Aku lagi yang kena."

Gerutu Kanaya yang mendengar percakapan Andra dan Samira dari balik pintu kamar.

Wanita itu melempar tas yang sejak tadi belum sempat disimpannya ke atas ranjang dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

***

Kanaya menggosok lembut rambut panjangnya yang masih basah menggunakan handuk, ia baru saja selesai mandi dan membersihkan diri setelah beberapa saat berendam air hangat di dalam bathub.

"Oh, kok udah gelap. Berapa lama tadi aku berendam,

perasaan nggak lama-lama banget."

Kanaya cukup terkejut saat melihat ke arah jendela dan langit di luar sudah tampak gelap gulita.

Terlalu nyaman berendam membuat wanita itu tidak sadar dengan waktu yang berlalu dengan cepat.

Tok Tok Tok

Kanaya menatap ke arah pintu yang diketuk, kedua matanya memicing penuh kecurigaan.

"Siapa nih,...." Kanaya bertanya pelan pada dirinya sendiri.

Ia memilih untuk tetap tutup mulut dan tak merespon sama sekali sebelum tau siapa yang mengetuk pintu kamarnya.

"Sayang? Kamu udah tidur?" Suara Andra menyapanya membuat Kanaya kembali mendengus.

Wanita itu kembali menatap cermin, memandangi pantulan wajahnya dan melanjutkan aktivtas rutin perawatan malam.

"Makan malam dulu,... Kamu belum makan sejak tadi, kan? Ayo keluar, aku usah pesen makanan dari luar kita makan sama-sama."

Kanaya masih tak mau menjawab, mulut wanita itu terasa begitu berat untuk terbuka dan merespon ucapan sang suami meski terdengar khawatir dan penuh perhatian.

"Kanaya?" Andra kembali memanggilnya.

"Udah lah biarin aja kalau dia emang nggak mau

Makan. Palingan kelaperan, biarin aja salah sendiri ini. Kaya anak-anak aja makan harus dibujuk-bujuk dianterin."

Hati Kanaya semakin dongkol saat lagi-lagi mendengar suara ibu mertuanya yang ikut menimpali.

"Heran, manja banget. Untung kamu nggak gitu ya, Nisrin. Istri itu harus jadi penenang buat suaminya. Jangan malah nambah-nambah beban pikiran. Harus jadi istri yang berbakti dan jadi sumber kebahagiaan suami."

Tukas Samira yang sengaja ia ucapkan dengan suara keras-keras agar Kanaya yang berada di kamar bisa mendengarnya.

Kanaya mendengus, "Nye nye nye,... Liat aja nenek lampir, masih bisa ngomong kaya begitu nggak nanti setelah suamimu bawa perempuan lain ke rumah."

Kanaya yang gemas tanpa sadar mengoleskan krim dengan penuh tekanan ke wajahnya hingga tampak sedikit memerah.

Ting!

Suara pesan yang baru saja masuk menarik perhatian Kanaya. Terlihat nama Andra dan satu pesan darinya.

1
Nuna_Pena
😁😁
Anonim
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!