Di tahun 2030, hujan darah mengubah dunia menjadi neraka penuh monster.
Yara mati tragis… namun terbangun kembali lima bulan sebelum kiamat di tubuh seorang wanita gemuk bernama Elara Quizel, istri presedir yang tak dicintai.
Dengan bantuan Sistem NOX, ia diberi kesempatan kedua untuk mengubah takdirnya.
Dari wanita yang diremehkan, Elara perlahan bangkit menjadi sosok yang dingin dan tak tersentuh.
Kali ini, ia tak hanya ingin bertahan hidup tetapi menguasai dunia yang akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 : BASA BASI
"Owh... misi rahasia terpicu dan langsung selesai. Wah, ini namanya keberuntungan yang berlipat," gumam Elara pelan, sangat pelan, hingga hanya dirinya dan Sistem yang bisa mendengar. Ia menatap hamparan kekacauan di halaman mansion dengan kepuasan seorang pemenang yang baru saja menamatkan sebuah level sulit.
"Arkan, bawa Jenderal Rian ke ruang interogasi. Sisa prajuritnya, bagi dua yang mau tunduk di bawah kepemimpinan ku, rekrut mereka dan berikan sumpah setia. Sedangkan yang keras kepala? Buang mereka keluar dari mansion tanpa senjata. Biarkan mereka mencicipi dunia luar yang sudah mereka remehkan," perintah Elara tegas. Suaranya membelah keheningan fajar, dingin dan tak terbantahkan.
"Sayang, tolong urus sisanya di sini. Aku punya urusan pribadi dengan tamu agung kita," ujar Elara sambil menoleh pada Leonard. Leonard mengangguk patuh, matanya memberikan jaminan bahwa tidak akan ada satu pun pengacau yang lolos dari pengawasannya.
Elara berjalan menyusuri lorong bawah tanah menuju ruang interogasi. Langkah kakinya yang ringan beradu dengan lantai beton, menciptakan irama yang mencekam. Di dalam ruangan itu, Jenderal Rian sudah terikat kuat pada sebuah kursi besi yang dipaku ke lantai. Arkan berdiri di sudut, memegang tablet untuk mencatat setiap kata yang keluar.
"Arkan, keluarlah. Bantu Leonard melakukan seleksi prajurit. Aku ingin bicara berdua saja dengan Jenderal," ujar Elara. Arkan mengangguk tanpa suara, lalu pergi meninggalkan atmosfer yang mulai mendingin.
Elara berjalan memutari Rian, menatap pria paruh baya yang kini tampak seperti singa tua yang terjepit. "Tidak perlu basa-basi lagi, Jenderal. Aku mau semua akses dan kode di pangkalan militer milikmu. Serahkan secara sukarela, dan mungkin aku akan mempertimbangkan untuk membiarkanmu hidup sebagai tahanan rumah."
"Cih! Aku, Jenderal Rian, tidak akan patuh ataupun tunduk pada seorang wanita. Mimpi saja sana!" Walaupun dengan tubuh yang terikat, harga diri Rian yang setinggi langit masih membuatnya keras kepala. Ia menatap Elara dengan pandangan merendahkan. "Wanita sepertimu cocoknya itu tunduk di bawah kakiku, menjilat sepatuku, dan menjerit di ranjang. Tidak perlu berambisi menjadi pemimpin."
PLAK!
Elara menampar wajah Rian dengan sangat kuat hingga kepala pria itu tersentak ke samping. Napas Rian memburu, matanya memerah menahan amarah.
"Sayangnya, aku tidak sudi menjadi gundikmu," desis Elara. Ia mencabut belati perak dari pinggangnya.
CRASH....
Elara menggores pipi Rian dengan gerakan kilat. Darah segar mulai mengalir, membasahi kerah seragam militernya yang penuh lencana kebanggaan yang kini tak berarti.
"Wanita sialan!" Rian memaki, ludahnya bercampur darah.
Mendengar makian itu, Elara kembali mengitari Rian. Ia berhenti tepat di belakang pria itu, membiarkan ujung belatinya menari-nari di bagian wajah Rian yang belum tergores. Aroma logam dari darah dan besi tua memenuhi ruangan.
"Mulutmu ini..." Elara menurunkan belatinya ke arah bibir Rian, menekannya sedikit hingga bibir itu memucat. "Sepertinya perlu digores juga agar tidak terlalu banyak bicara sampah."
Rian langsung melotot ketakutan. Tubuhnya yang besar mulai bergetar hebat. Ia bisa merasakan kegilaan di balik ketenangan Elara. "Tapi, aku belum mendapatkan yang kumau, jadi..." Elara menarik kembali belati itu ke arah pipi yang lain.
CRASH.....
"AAKHHHHH!" Rian berteriak kesakitan. Suaranya menggema di ruangan kedap suara itu.
"Sstttt... Jenderal, aku hanya meminta hal yang sederhana. Semua akses dan kode militer yang kamu pegang. Di mana kamu menyembunyikannya?" tanya Elara lembut, namun tangannya kembali bergerak.
CRASH....
"AAKKHHHHH!" Rian kembali berteriak saat Elara merobek kulit pahanya. Belati itu menembus celana kain tebalnya seolah hanya memotong mentega.
"Ka-kau... setan!"
CRASH.... CRASHH..... CRASH....
"Akkhhhh..... JALANG! AAKKHHH!" Rian berteriak semakin keras, namun kali ini diikuti dengan makian yang semakin kotor. Kini tubuhnya dipenuhi luka sayatan yang terus mengalirkan darah segar, membasahi lantai di bawah kursinya.
"Masih tidak mau bicara? Boleh juga kamu, Tua Bangka. Daya tahanmu lumayan untuk ukuran orang yang sudah hampir bau tanah," ujar Elara lembut. Ia berjalan menuju meja di sudut ruangan, menuangkan segelas minuman keras beraroma kuat.
"Sayang sekali, tampaknya anda benar-benar tidak berguna untukku jika hanya bisa memaki," Elara berjalan perlahan kembali ke arah Rian, bukan membawa gelas, melainkan satu botol penuh anggur merah yang diambilnya dari rak. "Aku hanya butuh segelas untuk merayakan kemenanganku, sisanya... kuberikan padamu sebagai penghormatan terakhir."
Elara membuka tutup botol itu dan mengguyurkan seluruh isinya ke kepala Rian. Cairan anggur yang mengandung alkohol tinggi itu masuk ke dalam luka-luka sayatan yang masih terbuka lebar.
"Aaakkhhhh! ELARAAAA....!!" Teriak Rian dengan suara parau yang menyayat hati. Rasa perih yang luar biasa menyerang sarafnya. Kini warna merah dari anggur dan darahnya menyatu, menciptakan pemandangan yang mengerikan.
Napas Rian tersengal-sengal, amarahnya memuncak namun tenaganya mulai terkuras. "Jalang sialan! Lepaskan aku! LEPASKAN!" teriak Rian semakin menjadi-jadi. Ia menghentakkan tubuhnya dengan sisa kekuatan, mencoba memutus ikatan rantai itu hingga membuat kursi besi itu bergoyang hebat dan oleng.
BRUK!
Suara benturan keras terdengar saat kursi itu terjatuh ke samping dengan Rian yang masih terikat di dalamnya. Karena Rian terus bergerak liar dalam kepanikan dan rasa perih, darah dari luka-luka sayatannya mengalir semakin deras. Lantai kini benar-benar menjadi lautan merah. Rian mulai merasa pusing, pandangannya kabur karena kehilangan terlalu banyak darah.
'Sistem,' ujar Elara dalam hati. Ia tidak bisa membiarkan pria ini mati sebelum semua informasi didapatkan. 'Ekstraksi data sekarang.'
┌─────────────────────┐
│ TING!
│ PROSES EKSTRAKSI MEMORI DIMULAI...
│ ANALISIS GELOMBANG OTAK TARGET: RIAN ARIAN.
│ DATA DITEMUKAN:
│ SEMUA DATA DAN KODE MILITER DISIMPAN DI DALAM
│ BRANKAS TERSEMBUNYI DI BAWAH TEMPAT TIDUR
│ KAMAR UTAMA PANGKALAN MILITER SEKTOR 7.
│ MENYALIN INGATAN RIAN... 100% SELESAI.
│ TUAN RUMAH KINI MENGETAHUI:
│ 1. DENAH LENGKAP PANGKALAN MILITER SEKTOR 7.
│ 2. RENCANA OPERASI "IRON CURTAIN" (PEMBERSIHAN KOTA).
│ 3. KODE AKSES PERSENJATAAN NUKLIR TAKTIS.
└─────────────────────┘
"Sempurna," gumam Elara. Senyum licik tersungging di bibirnya. Ia kini memiliki peta harta karun yang sesungguhnya. Pangkalan militer itu bukan lagi ancaman, melainkan gudang persenjataan pribadinya yang baru.
Ia menatap Rian yang kini hanya bisa megap-megap di lantai seperti ikan yang keluar dari air. Kesadaran pria itu sudah di ambang batas.
"Terima kasih atas informasinya, Jenderal. Ternyata ingatanmu jauh lebih kooperatif daripada mulutmu," Elara berjongkok di depan wajah Rian yang sudah pucat pasi. "Anakmu, Lora, sudah menjadi pupuk di bawah sana. Dan sekarang, kau akan menyusulnya. Setidaknya, di neraka nanti, dia tidak akan merasa kesepian."
Elara berdiri, merapikan bajunya yang terkena sedikit percikan darah. Ia tidak perlu lagi melakukan apa pun; luka-luka itu akan menghabisi Rian dalam hitungan menit.
Ia keluar dari ruang interogasi dan menemukan Leonard sudah menunggu di depan pintu. Leonard menatap istrinya dengan pandangan menyelidiki, lalu melihat noda darah di sepatu Elara.
"Sudah selesai?" tanya Leonard singkat.
"Lebih dari selesai, Sayang. Kita punya alamat baru untuk dikunjungi. Sektor 7," Elara melingkarkan tangannya di leher Leonard, menarik pria itu mendekat. "Siapkan tim. Besok kita akan mengambil alih sebuah pangkalan militer. Dan oh... katakan pada Mira untuk menyiapkan pesta besar malam ini. Kita punya banyak hal untuk dirayakan."
Di dalam ruang interogasi, suara napas terakhir Jenderal Rian terdengar, menandai berakhirnya era militer lama dan lahirnya kekuasaan baru di bawah tangan besi Elara Quizel. Dunia mungkin sudah hancur, namun bagi mereka yang berdiri di bawah panji Elara, kiamat hanyalah sebuah awal dari kejayaan yang tak berujung.
[PROGRES KEKUASAAN: 65% - PANGKALAN MILITER TERDETEKSI]
[STATUS TIM: SIAP TEMPUR]
[TARGET BERIKUTNYA: SEKTOR 7 - THE IRON FORTRESS]
Bersambung.....🧟♀️🧟♀️🧟♀️
nabung chapter dulu untuk yang next 🥰🙏🏻
menarik thorr, lanjutkan 😈🔥