NovelToon NovelToon
GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

GUS DINGIN DAN GADIS BAR BAR

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Tamat
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: RISMA AYINI SAFITRI

seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.

apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24. PERTANYAAN YANG MENEGANGKAN DI RUANG MAKAN.

"Umi... Ayini mau nanya sesuatu boleh?" tanya Ayini dengan nada polos yang sangat mencurigakan bagi Alvaro.

Alvaro yang sudah punya firasat buruk langsung menoleh ke arah Ayini, memberikan isyarat mata agar istrinya diam.

Namun, Ayini adalah Ayini. Ia tidak akan berhenti sebelum misinya selesai.

"Tanya apa, Nak?" jawab Umi Ayisah lembut sambil tersenyum.

"Umi... Umi sebenernya udah kangen pengen nimang anak kecil nggak? Maksud Ayini... Umi mau punya cucu nggak?"

UHUK! UHUK! UHUK!!!

Suasana meja makan mendadak berubah menjadi medan perang kesehatan. Abi Vero yang sedang meminum kopi panasnya langsung tersedak, membuat kopinya hampir muncrat ke meja.

Kevin, yang baru saja memasukkan sepotong besar telur dadar, tersedak hingga wajahnya memerah dan ia terbatuk-batuk hebat.

Dan Gus Alvaro? Ia merasa dunianya seolah runtuh seketika. Sendok yang dipegangnya terjatuh kembali ke piring dengan bunyi klang yang keras.

Wajahnya yang semula pucat berubah menjadi merah padam secepat kilat, bahkan lebih merah dari daster lunturan kemarin.

"Astagfirullah alazim... Ayini!" bisik Alvaro dengan suara yang sangat rendah namun penuh penekanan.

Kevin masih terbatuk-batuk sambil memukul-mukul dadanya. "Woi, Ayini! Lu kalau nanya kira-kira dong! Gue hampir mati konyol nih gara-gara telur dadar!" protes Kevin setelah berhasil menelan makanannya.

Abi Vero berdehem berkali-kali, mengelap bibirnya dengan serbet. Ia menatap putranya, lalu menatap Ayini dengan pandangan yang sulit diartikan.

Beliau tidak marah, tapi jelas sangat terkejut dengan keberanian menantu kotanya ini.

Namun, reaksi yang paling mengejutkan datang dari Umi Ayisah. Beliau tidak marah, tidak pula tersedak.

Beliau justru meletakkan teko tehnya, lalu tersenyum sangat lebar—senyum paling bahagia yang pernah Ayini lihat sejak tinggal di sini.

Umi Ayisah menatap Ayini dengan kasih sayang, lalu melirik ke arah putranya, Alvaro, yang saat ini sedang berusaha "menghilang" dengan cara menunduk sedalam-dalamnya.

"Boleh... kalau bisa secepatnya, Umi malah seneng banget, Nak," jawab Umi Ayisah santai namun mantap.

"Ndalem ini sudah terlalu lama sepi. Kayaknya lucu kalau ada suara kaki kecil lari-lari di sini. Kalau bisa, Umi setuju banget."

Jawaban Umi seolah menjadi palu godam yang menghantam sisa-sisa pertahanan harga diri Gus Alvaro.

"Umi! Jangan ikut-ikutan Ayini..." keluh Alvaro dengan suara yang hampir tak terdengar karena malu.

Ayini yang mendapatkan pembelaan dari "atasan tertinggi" di Ndalem langsung bersorak dalam hati.

Ia menoleh ke arah Alvaro dengan senyum kemenangan.

"Tuh kan, Mas! Umi aja udah kasih lampu hijau. Mas Alvaro aja nih yang kaku banget kayak kanebo kering," goda Ayini, sengaja menyenggol lengan Alvaro lagi.

"Ayini, kita sedang di meja makan. Jaga adabmu," ucap Alvaro, namun suaranya tidak memiliki kekuatan sama sekali. Ia benar-benar tidak berkutik.

Abi Vero akhirnya angkat bicara setelah berhasil menenangkan diri. "Alvaro, Ayini... urusan keturunan itu rezeki dari Allah. Tapi ingat, Ayini masih harus menyelesaikan sekolahnya. Jangan sampai terganggu."

"Tuh, Mas! Abi juga nggak melarang, cuma bilang jangan ganggu sekolah!" sahut Ayini makin berani.

"Nanti bayinya kita titip ke Umi kalau Ayini lagi sekolah, ya kan Mi?"

Umi Ayisah tertawa kecil. "Iya, Umi siap jadi babysitter."

Gus Alvaro langsung berdiri dari kursinya. Ia tidak sanggup lagi berada di sana. Rasa malunya sudah melampaui batas kewajaran seorang manusia.

Wajahnya panas, telinganya panas, dan ia merasa semua orang di meja makan itu sedang berkomplot untuk menyiksanya dengan rasa malu.

"Alvaro sudah selesai makan. Alvaro mau ke kantor pusat, ada urusan mendesak," ucapnya cepat tanpa melihat ke arah siapapun.

"Eh, Mas! Tunggu! Kan belum minum!" teriak Ayini.

Alvaro tidak menghiraukan. Ia berjalan dengan langkah seribu, hampir menabrak pintu karena terburu-buru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!