"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Pelampiasan yang Salah Sasaran
Pelampiasan yang Salah Sasaran
Mobil Bentley hitam itu baru saja akan keluar dari gerbang kampus saat ponsel Gavin yang berada di dashboard bergetar hebat. Nama "Siska ❤️" menyala terang, memecah ketegangan yang menyesakkan di dalam kabin mobil.
Gavin memukul kemudi dengan keras. "Sial!" umpatnya rendah. Ia menekan tombol loudspeaker.
"Ya, Sayang?" suara Gavin berubah dalam sekejap. Sangat tenang, sangat lembut, seolah pria yang baru saja menghajar Raka tadi adalah orang yang berbeda.
"Mas, kamu masih di kampus? Aku sudah di depan gedung aula, nih! Aku mau kasih kejutan, tadi acaranya selesai lebih cepat jadi aku langsung jemput kamu. Kita makan siang bareng, yuk!"
Aku membeku di kursi penumpang. Mbak Siska ada di sini? Hanya beberapa meter dari kami? Aku menatap Gavin dengan mata melebar, penuh ketakutan. Jika Mbak Siska melihatku di dalam mobil ini dengan keadaan berantakan dan kardigan yang robek di bagian kerah, habislah semuanya.
"Aku... aku baru saja mau keluar parkiran, Sayang. Tunggu di sana, aku putar balik," ucap Gavin sambil matanya melirikku dengan tatapan yang sangat tajam—campuran antara amarah yang tertahan dan rasa tidak rela.
Gavin menghentikan mobilnya di area yang agak gelap di balik rimbun pohon mahoni. Ia menoleh padaku, tangannya mencengkeram rahangku dengan kuat namun tidak sampai menyakitiku.
"Turun sekarang, Arum. Masuk lewat pintu samping gedung. Dan pastikan kamu pulang dengan siapa pun asal aku tidak melihatmu lagi hari ini, atau aku akan benar-benar menghancurkan pria itu," desisnya. "Cepat!"
Aku segera membuka pintu dan berlari keluar dengan kaki lemas. Aku bersembunyi di balik pilar gedung, mengintip saat mobil Gavin meluncur menuju lobi utama tempat Mbak Siska sudah berdiri dengan anggun mengenakan dress merah. Aku melihat Gavin turun, memeluk Mbak Siska, dan mengecup keningnya di depan umum.
Hatiku terasa seperti diremas. Sakit, namun aku sadar ini adalah kenyataan. Aku hanyalah bayangan, sementara Mbak Siska adalah ratunya.
"Rum? Arum!"
Aku menoleh dan melihat Raka berjalan tertatih ke arahku, sudut bibirnya pecah dan sedikit berdarah. Wajahnya penuh kekhawatiran. "Lu nggak apa-apa? Dia... dia nggak ngapa-ngapain lu kan?"
Aku menatap Raka dengan rasa bersalah yang luar biasa. Pria baik ini terluka karena aku. "Gue nggak apa-apa, Rak. Maafin gue... gara-gara gue lu jadi begini."
"Gue nggak peduli soal luka ini, Rum. Yang penting lu aman," Raka memegang pundakku. "Ayo, gue anter lu pulang. Gue nggak bakal biarin lu sendirian sekarang."
Aku hanya bisa mengangguk pasrah. Aku membiarkan Raka menuntunku menuju mobilnya yang sederhana. Di sepanjang jalan, aku hanya diam, menatap keluar jendela dengan hampa. Sementara itu, di dalam kepalaku, aku membayangkan Gavin yang sedang duduk manis di samping kakakkku.
Di Apartemen Mewah Gavin & Siska
Pintu apartemen baru saja tertutup saat Gavin langsung menyudutkan Siska ke dinding. Napasnya memburu, amarah yang tadi ia pendam karena melihat Arum bersama Raka kini berubah menjadi energi gelap yang siap meledak.
"Mas? Kamu kenapa? Kok buru-buru banget?" Siska tertawa kecil, sedikit terkejut dengan agresivitas suaminya yang tiba-tiba.
Gavin tidak menjawab. Ia justru membungkam bibir Siska dengan ciuman yang kasar dan menuntut. Di dalam pikirannya, ia tidak sedang mencium Siska. Ia sedang membayangkan bibir Arum yang tadi pagi ia incar. Ia sedang membayangkan rasa takut dan gairah Arum yang tadi ia lihat di lorong kampus.
"Mas... pelan-pelan..." rintih Siska saat Gavin mulai merobek kancing dress-nya tanpa ampun.
Gavin tetap diam. Ia membalikkan tubuh Siska, menekannya ke meja makan marmer yang dingin. Ia butuh pelampiasan. Ia butuh mematikan rasa frustrasinya karena tidak bisa memiliki Arum sepenuhnya hari ini.
Setiap sentuhan yang ia berikan pada Siska adalah bentuk kemarahannya pada Arum. Ia bergerak dengan liar, sangat liar hingga Siska berkali-kali memanggil namanya dengan suara parau.
"Arum... Arum..." batin Gavin menjeritkan nama itu, meski bibirnya terus mengecup pundak istrinya.
Di apartemen yang dingin itu, Gavin bermain dengan sangat panas, sangat hot, dan penuh drama gairah yang meluap-luap. Ia melepaskan semua hasrat terpendamnya pada Siska, membuat istrinya itu merasa menjadi wanita paling dicintai di dunia, tanpa tahu bahwa setiap desahan suaminya adalah bayangan tentang adik kandungnya sendiri.
Di Rumah Orang Tua Arum
Raka menghentikan mobilnya di depan pagar. "Udah sampai, Rum. Lu beneran aman di dalem?"
"Iya, Rak. Makasih banyak ya. Maafin Mas Gavin, dia... dia memang temperamental kalau soal keluarga," ucapku, mencoba mencari alasan untuk membela iblis itu.
"Gue tau ada yang nggak beres, Rum. Tapi gue bakal nunggu sampai lu siap cerita," Raka tersenyum tipis, meski rona biru di rahangnya terlihat sangat jelas.
Aku masuk ke dalam rumah yang sepi. Papa dan Mama sedang pergi arisan. Aku langsung lari ke kamar, menjatuhkan diriku di atas tempat tidur dan menangis sejadi-jadinya.
Aku merasa sangat kotor. Aku merasa kalah. Di saat aku merasa hancur karena cemburu membayangkan Gavin sedang bersama Mbak Siska, aku justru berlindung di balik kebaikan Raka.
Aku merogoh kantong kardiganku dan menemukan jepit rambut perak itu. Ternyata Gavin sempat memasukkannya ke kantongku sebelum aku turun dari mobil tadi.
Ting! Sebuah notifikasi masuk. Sebuah foto dikirimkan oleh Gavin.
Foto itu hanya memperlihatkan tangannya yang sedang mencengkeram rambut Mbak Siska dari belakang, dengan latar belakang kamar mereka yang berantakan.
Gavin Pratama:
"Ini hukumanmu karena pulang bersama pria itu, Arum. Lihat betapa nikmatnya kakakmu sekarang. Seharusnya kamu yang ada di posisinya jika saja kamu penurut. Nikmati malammu dengan Raka-mu itu, sementara aku akan menghabiskan malam ini untuk membayangkan bahwa Siska adalah kamu."
Ponselku terjatuh ke lantai. Aku meremas selimutku dengan kencang. Duniaku benar-benar telah menjadi neraka, dan kunci neraka itu ada di tangan Gavin Pratama.
Di dalam kamar apartemen yang remang, hanya diterangi lampu kota yang masuk dari sela gorden, Gavin seolah kehilangan kendali. Setiap desahan Siska justru memicu amarahnya yang tertuju pada Arum. Ia menarik rambut Siska dengan lembut namun tegas, memaksa istrinya itu mendongak dan menatap cermin besar di depan mereka.
"Lihat dirimu, Sayang..." bisik Gavin serak di telinga Siska. Suaranya ngebass, berat, dan penuh dengan gairah yang gelap. "Lihat betapa cantiknya kamu saat memohon padaku."
Siska hanya bisa mencengkeram pinggiran meja rias marmer itu dengan jemari yang memutih. "Mas... ahh... kamu kenapa liar banget hari ini?"
Gavin tidak menjawab. Pikirannya melayang pada saat ia menghajar Raka di lorong kampus tadi. Ia membayangkan bahwa tangan yang sekarang ia gunakan untuk menjamah tubuh Siska adalah tangan yang ingin ia gunakan untuk menaklukkan Arum.
Ia bergerak semakin cepat, semakin menuntut, seolah ingin menghapus bayangan Raka yang tadi menyentuh bahu Arum. Setiap hentakan Gavin terasa begitu dominan, membuat Siska benar-benar berada di puncak awan.
"Panggil namaku, Siska... panggil!" perintah Gavin, tangannya kini mencengkeram pinggang Siska hingga meninggalkan bekas kemerahan—persis seperti tanda yang ia tinggalkan di leher Arum semalam.
"Mas Gavin... ahhh... Gavin!" jerit Siska pasrah saat ia mencapai puncaknya.
Gavin menyusul beberapa detik kemudian dengan geraman rendah yang terdengar seperti predator yang baru saja mendapatkan mangsanya. Ia menyandarkan dahinya di punggung Siska yang berkeringat, napasnya memburu hebat.
Namun, bukannya merasa tenang, hatinya justru semakin kosong. Matanya menatap pantulan dirinya sendiri di cermin dengan kebencian. Ia baru saja memiliki tubuh istrinya, namun jiwanya tetap tertinggal di lorong kampus bersama adik iparnya yang polos itu.
Gavin meraih ponselnya yang tergeletak di lantai, lalu mengambil foto punggung Siska yang masih terlelap lemas dan rambutnya yang berantakan di atas seprai sutra.
Cekrek.
Ia mengirimkan foto itu pada Arum dengan pesan yang menyayat:
"Aku baru saja menghancurkan kakakmu, Arum. Dan sepanjang waktu, aku hanya memikirkan betapa nikmatnya jika kaulah yang menjerit di bawahku sekarang. Tidurlah yang nyenyak dengan bayangan ini di kepalamu."
jngan y thor