"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Pagi itu, sinar matahari yang menerobos celah jendela kamarku terasa seperti ejekan. Mataku terasa panas dan sembap, sisa dari tangis semalaman yang tak kunjung usai. Aku terbangun dengan perasaan kosong, sebuah lubang besar di dada yang kian hari kian menganga. Sudah enam bulan aku membawa rahasia ini sendirian sebuah nyawa yang tumbuh di dalam rahimku, yang setiap detiknya seolah menghitung mundur waktu kehancuranku. Bagaimana mungkin aku bisa menjelaskan ini kepada Ibu? Bagaimana aku harus menghadapi Bapak yang tempramen jika dia tahu anak perempuan kesayangannya telah mencoreng nama baik keluarga? Ketakutan itu melilit leherku, membuat napas setiap pagi terasa begitu sesak.
"Aira... bangun, Nak! Kamu pergi kerja nggak hari ini?" Suara Ibu di balik pintu diikuti ketukan pelan menyentak lamunanku.
Aku menarik napas panjang, berusaha menstabilkan suara agar tidak terdengar gemetar. "Iya, Bu," sahutku singkat. Aku segera bangkit, menyambar handuk, dan membuka pintu.
Ibu berdiri di sana dengan daster kusamnya, menatapku dengan kening berkerut. Matanya yang mulai renta memicing, seolah sedang memindai sesuatu yang aneh dariku. "Kok Ibu nggak pernah lihat kamu datang bulan ya, Ra? Padahal biasanya kamu sering ngeluh sakit perut atau minta belikan pembalut," tanya Ibu dengan nada heran yang polos, namun sanggup membuat jantungku hampir copot.
Aku memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan rambut yang berantakan. "Aira lancar datang bulan kok, Bu! Ibu aja yang nggak pernah lihat, kan Aira sering di tempat kerja, belinya juga di toko sendiri biar dapat diskon karyawan," jawabku bohong. Lidahku terasa pahit mengucapkan kalimat itu. Aku langsung berlalu pergi ke kamar mandi sebelum Ibu sempat bertanya lebih jauh. Di balik pintu kamar mandi yang tertutup, aku bersandar pada tembok dingin, memegangi perutku yang mulai membuncit. Maafkan aku, Bu, batinku pedih.
"Masak sih? Kok Ibu beneran nggak pernah lihat dia beli pembalut atau ada sampah pembalut di kamar mandi," gumaman Ibu masih terdengar samar dari luar, diikuti suara langkah kakinya yang menjauh menuju dapur, kembali melanjutkan rutinitas memasaknya yang tak pernah usai.
Satu jam kemudian, aku sudah berada di atas motor, menempuh perjalanan jauh menuju tempat kerjaku. Aku bekerja di salah satu anak cabang perusahaan swasta, sebuah toko ritel yang cukup sibuk di daerahku. Perjalanan satu jam itu biasanya kugunakan untuk melamun, memikirkan nasibku yang kian tak menentu. Mengapa aku harus jatuh cinta pada Dika? Mengapa aku harus membiarkan diriku terjebak dalam hubungan yang tidak direstui ini selama tiga tahun?
Sesampainya di toko, aku berusaha memasang topeng terbaikku. Menyapa Alina dan Ali yang sudah datang lebih awal. Toko ini adalah tempat persembunyianku, di mana aku bisa menjadi "Aira yang rajin" tanpa harus dicurigai sebagai "Aira yang berdosa".
"Ra, nanti ini diretur ulang ya," ucap Alina sambil menyodorkan kardus besar berisi barang-barang cacat produksi. Dia langsung berlalu tanpa menunggu jawabanku, sibuk dengan tumpukan stok lainnya.
"Oh, iya. Taruh meja aja, Lin," sahutku pelan.
"Komputernya sudah dihidupin?" tanya Ali tiba-tiba. Dia sudah berdiri tepat di depanku, menghalangi jalan menuju meja kasir.
"Sudah, Al," jawabku singkat tanpa berani menatap matanya. Aku segera memasukkan name tag dan mengetik password di layar komputer yang berkedip. Ali adalah rekan kerja yang paling perhatian, dan jujur saja, perhatiannya terkadang membuatku merasa bersalah.
"Kemarin aku mampir ke kosanmu kok sepi? Kamu pulang? WhatsApp-ku juga nggak kamu balas, ada apa?" Ali bertanya lagi, suaranya mengandung nada khawatir yang tidak bisa ia sembunyikan.
Aku tetap fokus pada layar komputer, jemariku bergerak lincah meski hatiku gemetar. "Aku pulang ke rumah, Al. Kangen Ibu. Kan sudah biasa kalau shift pagi aku lebih suka pulang ke rumah daripada di kosan," jawabku beralasan. Kebohongan lagi. Kenyataannya, aku ngekos di dekat toko itu karena permintaan Mas Dika. Dia yang menyuruhku ngekos supaya kami bisa bertemu dengan leluasa tanpa takut terlihat oleh orang tuaku atau orang tuanya. Hubungan kami yang kucing-kucingan selama tiga tahun telah melahirkan rahasia yang kini beratnya melebihi beban dunia.
"Terus kenapa WhatsApp-ku nggak dibalas?" Ali masih menuntut jawaban, matanya menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan.
"Tanya terus... tinggal bilang 'aku tuh kangen' kenapa sih, Al?" sindir Alina dari seberang rak, sambil sibuk mengganti price tag yang baru saja ia cetak. Tawanya terdengar renyah, kontras dengan kecemasan yang melanda diriku.
"Apaan sih, Lin!" Ali mendengus, wajahnya sedikit memerah. Ia pun berjalan menjauh, pura-pura sibuk mengisi barang-barang yang kosong di rak toko.
Aku hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak sampai ke mata. Ali adalah laki-laki yang sangat baik. Sejak pertama kali aku magang sampai menjadi karyawan tetap, dialah yang paling sabar mengajariku. Namun, hatiku sudah terkunci untuk Mas Dika, pria yang memberiku janji tapi juga memberiku duka yang paling dalam.
"Ra, barangnya sini aku aja yang lanjut retur," tawar Alina yang tiba-tiba sudah berdiri di sampingku lagi.
"Sudah mau selesai kok, Lin. Nggak apa-apa, aku lanjutin aja tinggal dikit," jawabku berusaha menolak halus.
Alina memperhatikanku sejenak, matanya turun ke arah pinggangku. "Ra... badan kamu kayak gemukan ya?" tanya Alina pelan. Nadanya tidak menghakimi, hanya sekadar observasi teman biasa, namun sanggup membuat tanganku membeku di atas kardus.
"E-eh... i-iya, Lin. Aku lagi hobi makan belakangan ini. Kebanyakan ngemil pas malam," jawabku terbata-bata, tetap tidak berani menoleh. Aku merapatkan vest seragamku, berusaha menyamarkan lekuk tubuh yang kian berubah.
"Eh, tapi kelihatan imut tahu! Jadi aku ada temennya yang gemuk, hahaha!" Alina tertawa, menepuk bahuku akrab sebelum berlalu pergi.
Aku hanya bisa menghela napas panjang, sebuah napas yang terasa sangat berat. Pelanggan mulai berdatangan satu per satu, dan aku mulai menyibukkan diri dengan transaksi kasir. Bunyi scanner barcode menjadi musik latar bagi pikiranku yang kacau. Di sela-sela kesibukan itu, sebuah getaran di saku celanaku mengalihkan perhatianku.
(Aku tunggu di kos ya, Yang)
Satu pesan singkat dari Mas Dika. Aku membacanya sekilas, namun tak punya kekuatan untuk membalas. Hatiku mendadak bergemuruh. Ada banyak hal yang harus kusampaikan padanya sore ini. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan kehamilan ini. Ini anaknya, dan dia harus tahu bahwa benteng pertahananku sudah runtuh. Keraguan kembali merayap di hatiku. Apakah dia akan benar-benar bertanggung jawab? Apakah dia benar-benar mencintaiku atau hanya sekadar merasa wajib menjagaku karena dosa yang kami buat bersama?
Aku menatap keramaian toko dengan pandangan kosong. Di balik senyum ramahku kepada setiap pelanggan yang datang, ada seorang wanita yang sedang hancur, sedang menghitung jam menuju kejujuran yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya. Aku harus kuat. Demi janin ini, dan demi harga diri yang masih tersisa sedikit dalam diriku.
Aku menatap layar ponselku yang meredup. Pesan itu terasa seperti vonis, bukan undangan rindu. Sore ini, di kos yang menjadi saksi bisu dosa kami, aku akan meletakkan seluruh nasibku di tangannya. Antara dia yang akan menjadi pelindungku, atau dia yang akan menjadi hantaman terakhir bagi kehancuranku.