NovelToon NovelToon
SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

SIMPUL DENDAM YANG TERIKAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:937
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.

Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?

Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB DUA BELAS

Cahaya kota malam langsung menyeruak masuk. Lampu-lampu berkilau, kerlap-kerlipnya seperti lautan bintang yang jatuh di bumi. Jalan di bawah masih ramai, kendaraan berlalu-lalang. Semuanya tampak normal.

Tidak ada yang aneh. Tidak ada sosok gelap. Tidak ada wajah menyeramkan. Hanya pemandangan kota.

Tapi rasa lega yang seharusnya datang… tidak benar-benar datang. Karena di kaca jendela itu, Maharani menangkap pantulan dirinya sendiri: wajah pucat, mata sembab, dan air mata yang terus mengalir.

Ia menghela napas panjang, hampir terisak lagi. “Aku… aku cuma parno,” gumamnya pelan.

Namun tepat saat ia hendak menutup tirai kembali, sesuatu membuat tubuhnya kaku.

Di kaca jendela, di antara pantulan lampu-lampu kota, ia melihat kilatan cahaya kecil—seperti pantulan lensa kamera dari kejauhan.

Maharani membeku. Tenggorokannya tercekat. Nafasnya terhenti.

Apakah itu hanya pantulan lampu kendaraan? Atau… ada seseorang benar-benar sedang mengawasinya dari luar?

Maharani terlonjak mundur dari jendela, punggungnya membentur dinding. Nafasnya semakin kacau, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Jemari gemetar ketika ia meraih ponsel di meja samping ranjang.

“Reza… angkat dong, please…,” suaranya bergetar ketika menekan tombol panggilan.

Nada sambung terdengar lama, membuat paniknya makin menjadi-jadi. Begitu tersambung, suara bising langsung terdengar di seberang. Teriakan orang-orang, suara kilatan kamera, dan desakan puluhan suara yang bercampur jadi satu.

“Maharani, sebentar ya! Aku lagi di luar, banyak banget wartawan nunggu di lobi. Mereka maksa mau ketemu kamu. Sabar bentar, aku urusin dulu biar mereka nggak naik ke atas!” suara Reza terdengar terengah-engah, jelas sedang kerepotan.

“Za! Jangan tutup dulu!” Maharani nyaris menjerit, suaranya pecah. “Aku… aku lihat sesuatu di jendela. Ada orang, Za. Ada yang ngawasin aku!”

“Apa?!” Reza terdengar kaget, tapi suaranya terputus oleh riuh di belakang. “Siska! Tolong blok kamera itu! — Rani, tolong kunci semua pintu dan jangan buka siapa pun selain aku atau Siska. Aku bersumpah, aku bakal naik begitu urusan di sini beres. Percaya sama aku dulu!”

“Tapi Za… aku takut… aku—”

“Rani, dengar aku!” suara Reza meninggi, tegas namun panik. “Kunci kamar, jangan dekat-dekat jendela! Aku janji bakal segera naik!”

Klik. Sambungan terputus.

Maharani terdiam, menatap layar ponselnya dengan tangan masih bergetar. Di luar sana, suara teriakan wartawan samar-samar terdengar dari balik jendela, meski lantai hotelnya tinggi. Flashes kamera membanjiri lobi, dan ia tahu Reza serta Siska sedang berjuang menahan gempuran itu.

Tapi di dalam kamar, ia merasa sendirian. Benar-benar sendirian.

Ia melangkah mundur, punggungnya menempel ke dinding. Matanya masih menatap jendela, ke arah kilatan yang tadi dilihatnya. Dadanya berdegup tak karuan, kepalanya dipenuhi pertanyaan yang mencekik: Apakah itu benar kamera? Apakah ada orang di luar sana? Atau… Risyad yang main-main lagi?

Air matanya jatuh lagi, kali ini bukan hanya karena sedih—tapi karena ketakutan murni.

Belum sempat Maharani mengatur napas, ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan panggilan, melainkan pesan dari nomor tak dikenal. Layarnya menyala, menampilkan teks yang membuat darahnya seketika membeku.

Unknown Number

Aku lihat kamu. Jangan coba-coba sembunyi.

Jemarinya gemetar, ia menjatuhkan ponsel ke ranjang. Matanya membelalak, tubuhnya bergetar hebat. Nafasnya tersengal, seolah udara di kamar hotel itu mendadak lenyap.

Tidak mungkin… dia tahu aku di sini. Dia lihat aku.

Ponselnya bergetar lagi. Dengan ragu, Maharani meraih layar. Satu pesan baru muncul.

Unknown Number

Kamu pikir bisa lepas dariku, Ran? Kamu salah besar. Kamu milik aku.

“Ya Tuhan…” Maharani menutup mulut dengan tangan, menahan isak yang hampir pecah. Tubuhnya merosot ke lantai, bersandar di sisi ranjang. Air mata jatuh deras, bercampur rasa takut yang menusuk tulang.

Ia mencoba menelepon Reza lagi, tapi panggilannya langsung masuk ke voicemail. Panik makin menjadi-jadi.

Seolah ingin menguji keberaniannya, ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan teks—melainkan foto. Dengan jantung berdegup tak terkendali, ia membuka pesan itu.

Sebuah foto dirinya… diambil dari luar jendela kamarnya, hanya beberapa menit lalu. Ia masih bisa mengenali blouse yang dipakainya, posisi tirai yang setengah terbuka, bahkan ekspresi ketakutan di wajahnya saat tadi menoleh.

“Astaga…” Maharani menjerit lirih, menjatuhkan ponsel sekali lagi. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ia merasa dinding kamar semakin menutup, udara menipis.

Dia di luar sana. Dia benar-benar mengawasi aku.

Pintu kamar hotel akhirnya terbuka dengan kartu master yang dipegang petugas. Reza dan Siska bergegas masuk, wajah mereka penuh keringat setelah tadi berdesakan melawan wartawan di lobi.

“Ran!” panggil Reza lantang, matanya langsung menyapu seluruh ruangan.

Yang mereka temukan membuat jantung serasa berhenti.

Tirai jendela terburai lebar, bergoyang pelan tertiup angin malam. Di lantai, ponsel Maharani tergeletak dengan layar retak, masih menyala menampilkan foto—potret Maharani dari balik kaca jendela beberapa menit sebelumnya.

Siska menahan napas, tangannya menutupi mulut. “Ya Tuhan…” bisiknya lirih.

Di sisi ranjang, Maharani meringkuk dengan tubuh gemetar, kedua lutut ditarik ke dada. Wajahnya sembab, air matanya belum kering. Begitu mendengar suara Reza dan Siska, ia menoleh cepat, lalu berlari ke arah mereka.

“Za!” Maharani menjerit, suaranya pecah. Ia langsung meraih tubuh Reza, memeluknya erat seolah nyawanya sendiri tergantung di pelukan itu. “Dia di luar… dia lihat aku… dia kirim foto, Za… dia ada di sini!”

Reza merasakan tubuh Maharani bergetar hebat, keringat dingin membasahi telapak tangannya. Ia menatap Siska dengan sorot mata tajam, lalu mengusap punggung Maharani menenangkannya.

“Tenang, Ran… aku di sini. Kamu aman sekarang. Nggak ada yang bakal sentuh kamu.”

Siska ikut mendekat, berjongkok di samping mereka, suaranya lirih penuh empati. “Mbak, tolong jangan takut. Kita nggak akan biarin Mbak sendirian. Kita lapor polisi malam ini juga.”

Tapi Maharani menggeleng cepat, napasnya terengah. “Nggak ada gunanya… dia selalu bisa ngelakuin apa aja. Dia selalu tahu aku di mana…”

Reza mengepalkan tangan, rahangnya menegang. “Kalau itu Risyad, aku bersumpah, aku bakal bikin dia hancur.”

Siska menoleh ke jendela, bulu kuduknya meremang. Angin malam masih menyelinap masuk, membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Entah kenapa, ia merasa ada sepasang mata di luar sana, masih mengintai, masih menunggu.

Reza duduk di kursi dekat ranjang, wajahnya pucat tapi tegang. Tangannya masih mengepal, sementara matanya terus berpindah antara kamu—Maharani yang masih terisak dengan wajah sembab—dan layar ponselnya yang penuh dengan notifikasi wartawan, akun gosip, bahkan pesan ancaman anonim.

Dia menarik napas panjang, seolah berusaha menenangkan dirinya, lalu berujar pelan tapi penuh tekanan.

“Ran… ini udah nggak bisa kita anggap sekadar gosip murahan. Tadi kamu diterror, ada foto dari luar jendela kamar, ada ancaman di chat, dan sekarang ratusan wartawan ngepung hotel. Ini udah bahaya, ngerti nggak?”

Kamu mendongak dengan mata merah, suaramu lirih. “Aku ngerti, Za… tapi aku takut. Kalau benar ini ulah Risyad, dia pasti nggak akan berhenti sampai aku hancur.”

Reza menatapmu dalam, rahangnya mengeras. “Justru karena itu. Aku selama ini pikir aku bisa handle sendiri, ngatur media, ngejaga kamu bareng Siska. Tapi ternyata aku salah. Ini lebih besar dari aku. Ini udah masuk level teror.”

Siska yang sejak tadi duduk di ujung ranjang ikut menimpali. “Mas Reza bener, Mbak. Kita butuh orang yang ngerti hukum, ngerti cara hadapin orang-orang gila yang main kotor. Kalau nggak, mereka bisa terus nyerang Mbak tanpa bisa kita balas.”

Reza mengusap wajahnya keras-keras, lalu bangkit berdiri, langkahnya mondar-mandir. “Aku benci harus ngakuin ini, tapi… kita perlu bantuan. Perlindungan hukum, keamanan, dan strategi. Dan cuma ada satu nama yang kepikiran di kepala aku sekarang.”

Maharani menatapnya penuh tanya, meski sebenarnya sudah bisa menebak. “Wiratama law firm?”

Reza berhenti melangkah, menatap Maharani lama. Ada keraguan di matanya, tapi juga tekad yang mulai terbentuk. “Iya. Aku tahu reputasi Rakha Adiwangsa Wiratama… arogan, licin, kadang main kasar. Tapi justru itu. Dia tipe orang yang kalau udah turun tangan, lawan nggak bakal bisa napas. Kalau ini bener ulah Risyad, atau siapa pun yang main di belakang, kita perlu pihak yang bisa bikin mereka ciut.”

Siska mengangguk setuju. “Wiratama bukan firma hukum biasa. Mereka punya koneksi ke media, polisi, bahkan politisi. Kalau mereka yang backup Mbak, serangan balik bisa lebih kuat.”

Maharani terdiam, tampak bimbang. “Tapi Za… kalau aku minta bantuan mereka, apa itu nggak sama aja kayak ngakuin aku lemah? Aku takut… takut malah makin kelihatan kalau aku kalah.”

Reza mendekat, berlutut di hadapan Maharani, menatapnya serius. “Denger aku, Ran. Kalah itu kalau kamu diem, kalau kamu biarin mereka injak nama kamu tanpa perlawanan. Tapi kalau kamu lawan dengan cara yang tepat—itu namanya bertahan. Dan kamu nggak sendiri. Aku, Siska, kita semua di belakang kamu. Sekarang waktunya kita bawa orang yang lebih kuat ke pihak kita.”

Tangannya menggenggam jemari Maharani erat, hangat, memberi sedikit rasa aman di tengah kacau yang Maharani rasakan. “Aku akan hubungi Nadia besok pagi, atur pertemuan dengan Wiratama. Kalau perlu, aku sendiri yang bakal ngomong langsung sama Rakha. Yang penting… kamu aman.”

Maharani menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantung Maharani yang kacau. Perlahan, meski masih ada takut, ia mengangguk. “Baiklah, Za… aku percaya sama kamu.”

Reza menepuk lembut tangan Maharani, lalu berdiri dengan tatapan yang jauh lebih mantap. Untuk pertama kalinya malam itu, ada arah yang jelas: bukan lagi sekadar bertahan, tapi bersiap melawan.

1
jekey
up banyak"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!