Setelah menikah selama tujuh tahun, Edward tetap saja begitu dingin, Clara hanya bisa menghadapinya dengan tersenyum. Semua karena dia sangat mencintainya. Dia juga percaya suatu hari nanti, dia bisa melelehkan es di dalam hatinya. Akan tetapi pada akhirnya Edward malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap cewek lain. Clara tetap bersikeras menjaga rumah tangganya. Hingga di hari ulang tahunnya, putrinya yang baru saja pulang dari luar negeri, dibawa oleh Edward untuk menemani cewek itu, meninggalkannya sendirian di rumah kosong. Dia akhirnya putus asa. Melihat putri yang dibesarkannya sendiri akan menjadi anak dari cewek lain, Clara tidak merasa sedih lagi. Dia menyiapkan surat cerai, menyerahkan hak asuh anaknya, dan pergi dengan gagah, tidak pernah menanyakan kabar Edward dan anaknya lagi, hanya menunggu proses perceraian selesai. Dia menyerah atas rumah tangganya, kembal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saskiah Khairani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Keesokan harinya.
Setibanya di perusahaan, Edward berpapasan dengan Clara.
Clara Tidak tahu tentang kepulangan Edward dan Elsa ke Marola.
Bertemu tiba-tiba dengan Edward di perusahaan, membuat langkah kaki Clara terhenti sejenak.
Ada sedikit keterkejutan di mata Edward saat melihat Clara. Namun, dia hanya mengira Clara baru saja tiba dari perjalanan dinasnya. Yah, pria itu tidak berpikir macam-macam.
Ekspresi wajah Edward tampak datar menganggap Clara layaknya orang asing. Dia berjalan melewatinya begitu saja dan masuk ke dalam perusahaan.
Jika itu dulu, mungkin Clara akan senang saat mengetahui Edward kembali ke Marola.
Meski tak bisa memeluknya, clara akan merasa bahagia hanya dengan menatapnya seolah dalam dunianya hanya ada Edward seorang. Sekalipun sikap pria itu dingin terhadapnya Clara tetap akan menyapanya dengan 'selamat pagi'.
Namun kini, hanya menatap wajah tampan itu sekilas lalu menundukkan pandangannya. Antusias dan kebahagiaan sebelumnya sudah tidak pancar di wajahnya.
Edward tentu tidak memperhatikannya dan telah pergi lebih dulu.
Saat melihat sosok pria yang tenang dan tegap itu dibenak Clara terbesit tentang kapan pria itu kembali. Tapi, sudahlah dengan kepulangan pria itu berarti masalah perceraian akan segera didiskusikan, bukan?
Clara sudah bertekad untuk bercerai, dia tidak ingin terlalu memikirkan edward. Setelah berada di meja kerjanya Clara langsung mengaktifkan mode siap berkerja. Setengah jam kemudian, farel menghubunginya. "Buatkan buat cangkir kopi, lalu bawa ke ruangan pak Edward."
Awalnya, saat mengetahui Edward menyukai kopi. Clara menghabiskan banyak waktu untuk belajar bagaimana membuat kopi yang enak. Itu semua dia lakukan untuk menarik perhatian Edward.
Kerja keras memang tidak menghianati hasil.
Edward selalu ingin meminum kopi buatannya, baik itu di rumah atau pun di perusahaan.
Kebahagiaan terpanjang di wajah Clara saat mengetahui benar-benar jatuh cinta dengan kopi buatannya. Dia mengira ini adalah langkah pertama menuju kesuksesan.
Namun kenyataan
Berkata lain, Clara seakan meremehkan ketidaksukaan dan kewaspadaan Edward terhadapnya.
Edward memang suka dengan kopi buatan Clara.
Hanya kopinya, tidak lebih!
Sikap Edward padanya tidak berubah, masih dingin dan menjaga jarak.
Tidak heran, saat ingin minum kopi buatannya Edward akan meminta farel menghubungi wanita itu. Begitu kopi selesai dibuat, farel atau yang lainnya akan datang untuk mengambilnya.
Edward tidak memberi Clara kesempatan sedikitpun untuk mendekatinya.
Hanya terkadang saja, saat farel atau yang lain nya sedang sibuk. Barulah clara punya kesempatan untuk mengirim kopinya ke ruangan Edward.
Kali ini dari apa yang dia tangkap dari ucapan farel, seharusnya dia yang membawa kopi itu langsung ke Edward.
Selesai membuat kopi dan meletakkannya di atas nampan Clara berjalan keruangan Edward.
Pintu kantor Edward terbuka.
Clara pun berjalan ke pintu. saat hendak mengetuk pintu, dia melihat Vanessa sedang duduk di pangkuan Edward. Semoga berdua tampak sedang berciuman.
Langkah kaki Clara terhenti, wajahnya tiba-tiba berubah pucat.
Saat melihat kedatangan Clara, Vanessa buru-buru turun dari pangkuan Edward.
Perahu itu aja Edward penuh dengan kekesalan, lalu ketiak dengan nada dingin. "Siapa yang mengizinkanmu masuk?"
Clara menggenggam erat nampan di tangannya, kata-kata "aku ke sini mau antar kopi."
"Cukup Bu Clara," ucap Rio salah satu sekretaris pribadi Edward saat kebetulan tiba.
Kamu tahu tentang hubungan Clara dan Edward.
"Percuma kamu seperti ini." Ucap Rio kemudian.
Rio memang tak mengatakannya secara gampang. Tapi Clara mengerti apa maksud ucapannya itu.
Video mengira Clara tahu Vanessa datang ke perusahaan dan bermaksud mengganggu mereka dengan dalil hendak mengatakan kopi...
Edward juga berpikir seperti itu, terlihat dari raut wajahnya.
Kalau itu dulu, mungkin dia akan melakukannya.
Namun sekarang, dirinya akan segera bercerai. jadi mana mungkin dia melakukan hal itu?
Mereka seolah tidak memberikan nya kesempatan untuk menjelaskan.
"Terserah kamu cepat pergi dari sini!" Bentak Rio .
Mata Clara memerah, tangannya gemetar memegang nampan. Kopi di cangkir tumpah dan mengenai jari-jarinya. Meski sakit terkena panasnya kopi, Clara berbalik dan pergi tanpa suara.
Namun, Baru beberapa langkah terdengar suara teriakan Edward dari dalam. " Kalau kejadian ini terulang, jangan anggap bisa datang ke perusahaan lagi" teriak Edward.
Clara sudah mengajukan pengunduran dirinya.
Tanpa ada kejadian ini sekalipun dia akan angkat kaki dari perusahaan setelah ada yang menggantikan pekerjaannya.
Hanya saja, tidak ada yang peduli dengannya di sini.
Percuma juga mengatakannya.
Cara memilih tetap diam dan pergi sambil membawa nampannya.
Sebelum benar-benar pergi dari ruangan, Clara sempat mendengar suara lembut Vanessa menghibur Edward. " Cukup Edward, aku rasa dia nggak sengaja melakukannya. Sudah ya, jangan marah lagi..."
Cara membuang kopi di wastafel dia membilas jari-jarinya yang tersiram kopi panas dibawa keran. Dia juga mengambil obat salep di dalam tasnya dan dengan cekatan mengoleskannya ke jari-jari
Sekarang dia memang pandai memasak, kopi yang dibuatnya pun enak.
Namun, perlu diketahui sebelum menikah dengan Edward jangan
Melakukan pekerjaan rumah, memasak saja tidak becus. Terlebih lagi dia tidak pernah minum kopi sebelumnya.
Perubahan mulai dirasakan saat dia menikah dengan Edward. Demi Edward dan Elsa dia mempelajari semuanya.
Clara menghabiskan banyak waktu untuk mahir melakukannya. Pada awalnya berantakan kini berubah menjadi sempurna.
Salah satu yang sempurna adalah terkait tingkat kepahitan kopi, hanya dia yang tahu.
Selalu mengenai obat salep di dalam tasnya, sebagai ibu yang membiasakan anaknya seorang diri mana mungkin dia tidak terbiasa membawa obat-obat seperti itu?
Hanya saja, setelah kepergian Elsa ke negara latvin obat-obatan yang disiapkannya jarang digunakan.
Untungnya belum kadaluarsa.
Setelah mengobati lukanya, Clara kembali ke meja kerjanya melanjutkan pekerjaan sambil menahan rasa sakit di hatinya.
Baru saja selesai memilah-Milah dokumen, tiba-tiba terdengar orang akan kerjanya.
"Dengar-dengar, pacar pak Edward datang!"
"Pacar? Memangnya pak Edward punya pacar? Siapa dia? Cantik nggak?"
"Aku nggak tahu siapa dia, tapi informasi dari resepsionis di bawah Dia berasal dari keluarga kaya, cantik, personalnya juga kelihatan!"
Kedua rekannya sedang mengobrol saat melihat Clara bangkit berdiri, mereka berdua teringat akan rapat yang akan dilaksanakan bersama Clara di lantai bawah.
" Eh, kerja dulu gosipnya lanjut nanti saja," ucap salah satu rekan buru-buru tutup mulut dan berjalan mengikuti Clara. Clara tahu pacar Edward yang mereka maksud adalah Vanessa.
Namun, tidak ada ekspresi apapun di wajah saat mendengarnya. Dia pergi dari ruangannya dengan ditemani dua rekannya dan masuk ke dalam lift.
Begitu keluar dari lift, saat mereka ingin pergi ke ruangan rapat terlihat sosok Vanessa dengan ditemani tempat eksekutif perusahaan sedang berjalan ke arah mereka.
Empat eksekutif tanpa mengelilingi Vanessa, dengan penuh sanjungan kehati-hatian dan sedikit menjilat.
"Maaf sudah merepotkan karena sudah menemaniku berkeliling perusahaan," Ucap Vanessa sambil tersenyum.
Vanessa mengenakan barang-barang bermerek di tubuhnya. Setiap lekak-lekuk tubuhnya memancarkan aura seorang putri.
Dia berbicara dengan sopan dan terlihat sekolah dirinya sudah menjadi istri dari pimpinan perusahaan. Kesopanan yang dia tunjukkan juga menyiratkan para eksekutif itu adalah bawahannya.
"Ini sudah menjadi tugas kami, mengingat hubungan Bu Vanessa dengan pak Edward yang begitu dekat, tidak perlu sungkan,"ucap salah satu eksekutif sambil tersenyum manis.
"Ya, itu benar,"ucap eksekutif lain.
Mereka sedang asyik mengobrol saat melihat Clara dan yang lainnya keluar dari lift, meski sudah berdiri di kedua sisi untuk memberi jalan bahwa eksekutif tetap merasa mengurutkan keningnya dengan kesel.
"Lihat-lihat kalau jalan! Kalau sampai menabrak Bu Vanessa gimana? Dasar nggak punya aturan!" Bentak salah satu eksekutif sembari mengerutkan keningnya.