Tiga abad lalu, "The Eclipse Protocol" diaktifkan—sebuah proyek rahasia umat manusia untuk mematikan matahari demi menghentikan perang global. Rencananya berhasil, tapi efek sampingnya jauh lebih mengerikan: dunia jatuh ke dalam kiamat es abadi.
Kini, sisa peradaban manusia hidup di sembilan "Sovereign Spires"—menara kota raksasa yang ditopang energi geotermal dan dikelilingi kubah pelindung. Di luar sana, "The Drowned Lands" menjadi kuburan bagi siapa pun yang berani keluar.
Kian Veyr adalah produk gagal dari sistem ini. Seorang jenius taktis yang dipecat dari pasukan elit karena menolak menjalankan perintah yang akan mengorbankan ribuan warga sipil demi "kebaikan yang lebih besar".
Dia kini hidup sebagai pemulung informasi, menjual data rute aman ke para pedagang gurun hitam. Hingga suatu hari, dia menemukan peta usang yang menunjukkan adanya "Koordinat Kesebelas"—wilayah yang tidak tercatat di peta resmi Dewan Menara.
Peta itu menyebut tempat itu sebagai "Titik Nol",
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARSITEKTUR KEMATIAN
Udara di dalam lobi utama Menara Pusat terasa sedingin es, sangat kontras dengan hawa panas dari saluran pipa pembuangan yang baru saja mereka lewati. Lantai lobi ini terbuat dari pualam hitam yang dipoles begitu halus hingga memantulkan bayangan zirah Kian dan The Core Uplink seperti cermin cair. Di sekeliling mereka, pilar-pilar kaca raksasa menjulang tinggi, di dalamnya mengalir miliaran data biner berwarna biru yang mengaliri sembilan menara di seluruh dunia.
Keadaan di dalam menara ini sepi senyap. Seluruh staf dan elit Dewan Oligarki tampaknya telah dievakuasi ke bunker perlindungan terdalam, meninggalkan menara megah ini beroperasi secara otonom di bawah kendali kecerdasan buatan pusat.
«[Analisis Lokasi: Inti Reaktor Menara Pusat - Lantai 1.]
[Sistem Pertahanan Otomatis: Aktif (Tingkat Ancaman: Maksimal).]
[Hitung Mundur Kiamat Terbimbing: 10 Hari, 23 Jam, 05 Menit.]»
"Kian, lift utamanya mati," kata Viona, menyeka keringat dingin di dahinya setelah mereka berhasil mendorong The Core Uplink melewati gerbang sensor lobi. Gadis itu menunjuk ke arah deretan kapsul lift kaca yang semuanya terkunci dengan palang besi digital berwarna merah.
Kian melangkah mendekati salah satu panel kendali lift. Mata mekanis kirinya, The Probability Lens V2.0, berdesis halus saat memindai lapisan enkripsi di balik layar kaca panel.
"Dewan Oligarki telah memutus jalur fisik elevator dari ruang kendali atas," suara Kian terdengar datar, menggema dengan intonasi sintetik di dalam lobi yang kosong. "Mereka mencoba mengunci kita di lantai dasar selagi sistem Kiamat Terbimbing mengumpulkan energi di puncak."
"Lalu bagaimana kita bisa naik ke lantai seratus?" salah satu prajurit Suku Kuno yang ikut bersamanya bertanya dengan nada panik. "Membawa pemancar seberat ini melalui tangga darurat akan memakan waktu tiga hari!"
Kian tidak menjawab dengan kata-kata. Dia mengangkat tangan kirinya yang berlapis serat karbon putih, lalu menancapkan jari-jari sintetisnya langsung menembus pelat baja panel kendali lift seperti pisau panas memotong mentega. Jalur sirkuit perak di bawah kulit organiknya menyala terang, menyuntikkan pulsa frekuensi tinggi langsung ke dalam arsitektur jaringan menara.
«[Protokol Peretasan Jaringan: Aktif.]
[Menggunakan Otorisasi Suku Kuno (Frekuensi Bypass: 89%).]»
BZZZZZZT!
Layar panel kendali berkedip liar. Palang besi digital yang mengunci kapsul lift mendadak bergeser terbuka dengan dentingan mekanis yang berat. Namun, alih-alih menampilkan rute naik yang aman, layar utama lobi mendadak berubah menjadi warna merah darah, memproyeksikan sebuah logo mata satu khas Dewan Oligarki.
“Penyusupan terdeteksi di Sektor Dasar. Mengaktifkan Protokol Pembersihan Vertikal: Tipe Aerosol G-9.”
Suara komputer menara terdengar dingin dan tanpa ampun. Detik berikutnya, dari lubang-lubang ventilasi di langit-langit lobi, gas berwarna hijau pekat mulai menyembur keluar dengan tekanan tinggi. Gas itu berdesis saat menyentuh pilar pualam, meninggalkan noda korosif yang melepuh.
"Gas asam! Jangan hirup!" teriah Viona, segera menarik masker respirator dari tas kulitnya dan memasangnya ke wajah. Dua prajurit Suku Kuno dengan cepat melakukan hal yang sama, namun gas hijau itu menyebar dengan kecepatan yang tidak masuk akal, mempersempit jarak pandang mereka hingga tersisa dua meter.
Kian berdiri di tengah kabut asam tersebut tanpa menggunakan masker. Tubuh kirinya yang telah direkonstruksi oleh Suku Kuno tidak lagi membutuhkan oksigen organik secara mutlak; paru-paru bio-silikon miliknya menyaring racun aerosol tersebut dan mengubahnya menjadi residu karbon yang dibuang melalui katup kecil di bahunya.
"Masuk ke dalam lift. Sekarang," perintah Kian, tangannya mencengkeram lengan Viona dan mendorongnya masuk ke dalam kapsul kaca bersama The Core Uplink.
Tepat saat pintu lift kaca menutup kedap udara, kabut hijau di luar telah memenuhi seluruh lobi, menyembunyikan pemandangan lantai dasar. Lift berguncang hebat sebelum akhirnya melesat naik secara vertikal dengan kecepatan tinggi menembus poros menara yang gelap.
Di dalam lift yang sempit, Viona menatap Kian yang berdiri diam menatap dinding kaca luar. Melalui pantulan kaca, Viona bisa melihat mata kiri Kian yang terus berputar, menampilkan barisan kode biner yang bergerak terlalu cepat untuk dibaca manusia. Tidak ada ketakutan, tidak ada kelelahan, dan tidak ada lagi kilatan emosi di mata kaptennya.
"Kian..." Viona melepas maskernaratornya perlahan setelah memastikan interior lift aman dari gas. "Saat semua ini berakhir... dan jika kita berhasil menghentikan menara... apa yang akan kau lakukan dengan tubuhmu?"
Kian melirik Viona melalui sudut matanya. Cahaya biru dari The Probability Lens memantul di wajah gadis itu.
"Pertanyaanmu tidak relevan dengan misi saat ini, Viona."
"Ini relevan bagiku!" suara Viona meninggi, ada getaran emosional yang hebat dalam suaranya. "Kau perlahan melupakan semua hal, Kian! Kau tidak ingat parit bawah, kau tidak ingat kapal Sharon, dan kau bahkan hampir tidak memanggil namaku lagi jika bukan untuk perintah taktis! Apakah suku kuno itu benar-benar menyelamatkanmu, atau mereka hanya membuat mesin baru menggunakan sisa namamu?!"
Mendengar itu, sirkuit di pelipis kiri Kian berdesis sedikit lebih keras, seolah-olah ada dua program internal yang sedang berbenturan di dalam otaknya. Memori masa kecilnya yang telah dihapus di bab-bab sebelumnya menciptakan ruang kosong yang kini diisi oleh logika perhitungan murni.
«[Analisis Respons Emosional Target Viona.]
[Status Psikologis: Mengalami Trauma Tekanan Tinggi (Tingkat Empati Diperlukan: 34%).]
[Pencarian Data Memori 'Kemanusiaan': Gagal. File Korup.]»
"Aku adalah apa yang dibutuhkan oleh misi ini agar kau bisa bertahan hidup, Viona," jawab Kian, suaranya terdengar sangat datar dan dingin, tanpa ada niat untuk menenangkan. "Jika aku mempertahankan emosi manusiawuku, persentase kematian kita di terowongan tadi adalah 82%. Logika mesin ini adalah satu-satunya alasan mengapa tanganmu masih bisa memegang sirkuit Sovereign saat ini."
Viona tertegun, melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding lift. Dia menyadari sebuah kenyataan yang mengerikan: untuk menyelamatkan dunia dari tirani mesin Dewan Oligarki, pria yang dia ikuti terpaksa berubah menjadi mesin itu sendiri.
DING!
Suara bel lift memutus ketegangan di antara mereka. Kapsul lift berhenti mendadak di lantai 85—Sektor Jembatan Energi.
Pintu lift terbuka, dan pemandangan di depan mereka langsung memicu alarm bahu di sistem lensa Kian. Lantai 85 bukan lagi berupa ruangan kantor, melainkan sebuah jembatan gantung terbuka dari baja yang membentang di atas celah kosong sedalam ratusan meter di dalam perut menara. Di ujung jembatan itu, terdapat pintu masuk menuju ruang kendali utama.
Namun, di tengah jembatan, jalan mereka diblokir oleh sistem pertahanan paling mematikan yang dimiliki menara.
Sebuah dinding laser jaringan laba-laba berwarna merah terang yang bergetar dengan frekuensi pemotong molekul membentang dari atas ke bawah. Tidak ada celah untuk dilewati, dan di balik dinding laser itu, puluhan senapan mesin otomatis tersembunyi keluar dari dinding, langsung mengunci laras mereka ke arah pintu lift.
«[PERINGATAN: Koridor Laser Pemotong Molekul Berfrekuensi Tinggi.]
[Probabilitas Menembus Secara Fisik: 0%.]
[Deteksi Solusi: Membutuhkan Pembajakan Frekuensi Gelombang dari Luar Jembatan.]»
Kian melangkah keluar dari lift, tombak silikon-titaniumnya digenggam erat. Angin kencang yang berembus dari celah ventilasi menara membuat jubah hitamnya berkibar.
Dia menoleh ke arah dua prajurit Suku Kuno.
"Jaga pemancar di sini."
Kemudian, dia menatap Viona untuk terakhir kalinya sebelum melangkah menuju tepi jembatan yang tak berpagar.
"Bersiaplah dengan kodemu, Viona. Saat dinding laser ini mati... kau hanya punya waktu lima detik sebelum senapan otomatis itu menghancurkan lift ini."
Tanpa menunggu jawaban, Kian melompat keluar dari tepi jembatan baja, menjatuhkan dirinya ke dalam celah kosong menara yang gelap demi mencari simpul kabel utama yang mengaliri energi dinding laser tersebut.