Selly, gadis berusia 19 tahun, adalah putri kesayangan keluarga terkaya nomor dua di negara ini. Sejak kecil ia hidup dalam pelukan kasih sayang yang luar biasa—dimanja ayah, disayang ibu, dan dijaga mati-matian oleh kakak laki-lakinya, Rian, yang posesifnya level dewa.
Namun, ada satu hal yang selalu Selly inginkan namun sulit ia dapatkan: Hati seorang Darren Wijaya.
Darren, pria dingin berusia 32 tahun yang merupakan raja bisnis dan orang terkaya nomor satu. Luka masa lalu akibat pengkhianatan mantan kekasihnya, Natasha, membuat pria itu menutup hatinya rapat-rapat. Selama bertahun-tahun Selly mengejar, memberi perhatian, dan mencoba menembus tembok dingin itu, namun yang ia dapatkan hanyalah sikap acuh tak acuh dan penolakan.
Hingga suatu hari, rasa lelah dan sakit hati membuat Selly sadar. Ia tidak bisa terus memaksakan diri.
"Cukup, Om... Aku menyerah."
Selly memutuskan berhenti. Ia mulai fokus kuliah, bergaya lebih dewasa, dan mencoba membuka hati untuk Aron
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Sementara hidup Selly Adhitama kini berjalan begitu lancar, begitu indah, penuh warna-warna kebahagiaan, prestasi, dan kesuksesan yang membanggakan...
Kehidupan Darren Wijaya justru berjalan di jalur yang sangat berbeda dan terasa sangat menyiksa.
Hari-hari yang dilewati pria itu kini terasa begitu berat, begitu lambat, begitu hampa, dan penuh dengan rasa tidak nyaman yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata sembarangan.
Rasa aneh yang dulu hanya sekadar muncul sesaat dan bisa dia abaikan... kini berubah total menjadi sebuah KENYATAAN YANG SANGAT MENYEKSAKKAN.
Darren Wijaya sadar betul sekarang. Dia kehilangan sesuatu yang sangat besar dan sangat berharga dalam hidupnya.
Dia kehilangan sesuatu yang selama bertahun-tahun selalu ada di dekatnya, yang selalu ada untuknya, yang selalu memperhatikannya, dan yang selalu memberinya warna serta kehangatan tanpa dia sadari selama ini.
Dan sekarang, setelah bagian terpenting dan paling berwarna itu tiba-tiba hilang begitu saja diganti oleh kehampaan yang dingin dan sunyi...
Darren Wijaya mulai merasakan dengan sangat jelas apa yang namanya RASA KEHILANGAN. Rasa rindu yang membunuh. Dan rasa penyesalan yang mulai menggerogoti hati serta pikirannya perlahan namun pasti.
Malam itu, di dalam kamar tidurnya yang besar, mewah, luas, namun terasa sangat sunyi, sepi, dan mencekam...
Darren duduk bersandar di kepala ranjangnya yang empuk. Wajahnya tampak lelah, kacau, berantakan, dan tidak tenang sama sekali.
Di tangannya, dia memegang ponsel pintarnya dengan erat. Jari-jarinya bergerak-gerak ragu dan gelisah di atas layar sentuh yang gelap itu.
Dengan gerakan malas dan frustrasi, dia menyalakan layarnya, dan langsung membuka aplikasi pesan singkat.
Di sana, terbuka lebar kolom percakapan dengan nama kontak yang sudah sangat ia hafal luar kepala.
SELLY.
Dulu, kolom chat ini selalu penuh sesak dengan notifikasi. Selalu penuh dengan pesan-pesan masuk dari Selly yang bertanya kabar, yang mengirim stiker lucu, yang mengirim foto makanan, atau yang sekadar memberitahu kegiatannya seharian.
Dulu, nama itu selalu muncul di layar HP-nya berkali-kali dalam sehari.
Tapi sekarang?
Pesan terakhir yang terlihat di sana hanyalah pesan lama dari Selly berbulan-bulan yang lalu, dan jawaban singkat serta dingin dari Darren yang bahkan tidak pantas disebut sebagai jawaban yang sopan.
Sejak saat itu... tidak ada lagi. Hening total. Sunyi senyap. Tidak ada satu pun tanda kehidupan dari gadis itu.
Dan ironisnya... pria yang selama ini selalu bersikap dingin, selalu bersikap sombong, selalu bersikap tinggi hati, dan selalu merasa paling benar...
Kini justru dialah yang gelisah, dialah yang tidak tenang, dan dialah yang ingin sekali memulai percakapan duluan.
'Aku harus chat dia sekarang juga.' batin Darren memaksa dirinya sendiri berkali-kali.
'Harus cari topik. Harus cari alasan yang masuk akal dan logis buat hubungin dia. Jangan sampai kelihatan banget kalau aku kangen, jangan kelihatan kalau aku butuh dia, dan jangan kelihatan kalau aku nungguin dia. Harus kelihatan santai, biasa aja, dan keren kayak biasanya.'
Dengan napas yang tertahan di dada, Darren mulai mengetik pesan di kolom kosong itu.
Jari-jarinya yang biasanya cepat, tegas, dan berwibawa saat menandatangani dokumen-dokumen bernilai miliaran... kini terasa kaku, gemetar, dan sangat ragu-ragu.
Darren 📱: "Sel."
Darren berhenti. Membaca tulisan singkat itu berulang-ulang.
'Hah? Cuma "Sel"? Terus apa lagi? Itu terlalu singkat, kaku, dan kayak mau nyuruh orang doang. Gak natural sama sekali. Nanti dia baca pasti mikir gue lagi marah atau lagi butuh bantuan doang.' pikir Darren kesal sendiri setengah mati.
Hapus... hapus...
Tulisan itu dihapus bersih tak bersisa.
Darren mencoba lagi, kali ini agak panjang sedikit dan terdengar lebih santai.
Darren: "Sel, kamu lagi apa? Kok akhir-akhir ini gak pernah nongol dan gak ada kabar sih?"
Berhenti lagi. Darren membacanya lagi dengan kritis.
'Wah dasar bodoh! Pertanyaan apaan tuh?! Dia kan emang udah berhenti ngejar aku karena aku yang usir! Dia kan emang udah nyerah karena aku yang dingin! Terus kenapa juga aku harus nanya kenapa dia gak nongol?! Nanti malah kelihatan banget kan aku nungguin dia dan aku perhatiin dia?!'
Hapus lagi... bersihkan layar sampai putih kosong!
Darren menghela napas panjang sekali, napas yang terdengar sangat frustrasi dan sangat lelah. Tangannya mengacak-acak rambutnya yang agak berantakan karena stres dan pusing.
'Aduh susah banget sih mau ngomong apa sih sebenarnya?!' batinnya menggerutu marah pada dirinya sendiri.
'Biasanya kan dia yang ribet sendiri cari topik macem-macem. Biasanya kan dia yang bawel dan ceria banget. Sekarang giliran aku yang harus mulai duluan, kok rasanya sesusah dan seberat ini sih?!'
Akhirnya Darren mencoba pendekatan lain, cari alasan soal barang atau soal hal-hal yang berhubungan dengan fisik biar kelihatan wajar.
Darren📱: "Sel, kemarin itu kotak bekal atau tas kecil kamu ketinggalan di meja aku nih lho. Mau diambil kapan? Atau mau aku suruh orang anterin?"
Berhenti. Mata Darren membelalak kaget sendiri melihat tulisannya itu.
'GILA YA?! Itu kejadian udah berminggu-minggu lalu lah! Ngapain juga baru dibahas dan diceritain sekarang?! Pasti dia bakal langsung curiga banget kalau aku cuma cari-cari alasan doang dan aku pengen banget hubungin dia!'
HAPUS! HAPUS SEKARANG JUGA!
Layar itu kembali putih kosong.
Sudah berpuluh-puluh kalimat yang Darren ketik di layar itu. Dan sudah berpuluh-puluh kali juga kalimat-kalimat itu dia hapus lagi tanpa pernah sempat ditekan tombol kirimnya.
Entah karena merasa kalimat itu terlalu formal, terlalu akrab, terlalu kelihatan kangen, terlalu kelihatan menyalahkan, atau terlalu kelihatan tidak peduli.
Semuanya terasa salah. Semuanya terasa aneh. Semuanya terasa tidak pas di hati.
Padahal dulu, Selly bisa chat dia dengan sangat mudah, sangat santai, sangat natural, dan penuh dengan cinta serta perhatian.
Tapi sekarang bagi Darren Wijaya, menulis satu pesan singkat saja rasanya jauh lebih sulit, jauh lebih berat, dan jauh lebih menegangkan daripada harus menyelesaikan rapat bisnis berjam-jam atau mengambil keputusan besar perusahaan.
Karena... di dalam pesan itu, ada perasaan yang sangat rumit yang terlibat. Ada gengsi yang besar dan tinggi yang menghalangi. Dan ada rasa takut ditolak, rasa takut diabaikan, dan rasa takut tidak dijawab yang mulai menghantui dirinya sekarang.
'Kenapa sih rasanya berat banget dan sesak banget gini di dada?' batin Darren bertanya-tanya pada dirinya sendiri dengan perasaan yang campur aduk menjadi satu.
'Kenapa jari aku kaku banget? Kenapa otak aku tiba-tiba jadi kosong melompong gak ada ide sama sekali mau nulis apa?'
'Bukannya dari dulu aku yang minta dia pergi kan? Bukannya aku yang teriak-teriak suruh dia keluar dan jangan ganggu aku kan? Bukannya aku yang bilang "biarkan saja" pas ditanya orang kan?'
'Terus kenapa sekarang pas dia beneran pergi, pas dia beneran hilang dan nurut sama omongan aku... aku malah ngerasa gak tenang, ngerasa gelisah, dan ngerasa kayak orang hilang arah gini?'
Rasa kehilangan itu kini benar-benar mulai menghantuinya di setiap detik waktu, di mana pun dia berada.
Bayangan wajah Selly yang dulu selalu ceria menyambutnya, suara tawa gadis itu yang renyah dan menular, kehadirannya yang hangat, aroma masakannya, dan semua perhatian manis serta tulus yang dulu dia anggap sebagai gangguan, beban, dan hal yang menyebalkan...
Kini tiba-tiba berputar terus di kepala Darren menjadi kenangan yang sangat indah, sangat berharga, dan sangat dirindukan rasanya.
Dia sadar sekarang. Sangat sadar dan sangat tersadar betapa bodohnya dia selama ini.
Dia punya emas berkilauan, punya permata paling indah yang ditawarkan orang lain kepadanya dengan tulus... tapi dia malah menganggapnya sebagai batu kerikil biasa yang tidak berharga.
Dan sekarang, setelah emas itu diambil kembali, setelah permata itu disimpan jauh oleh pemiliknya sendiri...
Darren Wijaya baru sadar betapa mahal dan betapa berharganya barang yang sudah hilang dari genggamannya itu.
"Arghh sialan!! Sialan!!" bentak Darren kesal lalu melempar ponselnya ke atas bantal dengan frustrasi yang meledak-ledak.
Ponsel itu terpental sedikit, tapi layarnya masih tetap menyala menampilkan kolom chat kosong itu sebagai bukti kegagalan dan penyiksaan batinnya malam ini.
Darren memejamkan matanya rapat-rapat, memegang kepalanya dengan kedua tangan kuat-kuat.
Rasa sepi, rasa rindu, rasa cemburu, dan rasa penyesalan itu bercampur menjadi satu menjadi racun yang sangat menyiksa batin pria itu malam ini.
Permainan yang selama ini dia nikmati dengan nyaman sebagai orang yang dikejar... kini berbalik 180 derajat total.
Dan sekarang... giliran Darren Wijaya yang mulai jatuh hati, giliran dia yang mulai ingin mengejar... tapi sayangnya... dia tidak tahu harus mulai dari mana dan harus berkata apa!
(Bersambung...)
Semangattt thoorrr💚❤️🌺🍂🍁🌸🌼💮🔥