Mereka pikir semuanya telah berakhir sejak kematian Leonardo Valerio. Namun dunia gelap tidak pernah benar-benar melupakan darah yang pernah berkuasa.
Leonardo Valerio memang telah mati, tapi warisan darahnya belum berakhir. Saat ancaman mulai mengincar Alessandro, Nadira dipaksa kembali ke dunia gelap yang pernah menghancurkan hidupnya.
Di balik bayangan, musuh lama bangkit, rahasia lama terbuka, dan sifat dingin Leonardo perlahan muncul dalam diri putranya.
Karena darah mafia tidak pernah benar-benar hilang, dan sang pewaris akhirnya mulai bangkit.
**RED ASHES SEASON II**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangkitnya RED ASHES
Bab 8 RED ASHES Bangkit
Cahaya lampu gedung memantul di kaca apartemen Alessandro Valerio, menciptakan bayangan samar di wajahnya yang dingin.
Malam sudah lewat pukul dua dini hari, tapi ia belum juga tidur.
Di meja kerjanya, layar laptop masih menyala. Puluhan file, puluhan nama, dan satu simbol yang membuat darahnya terasa membeku.
RED ASHES.
Organisasi itu seharusnya sudah mati bertahun-tahun lalu, bersama Leonardo Valerio. Setidaknya itu yang dipercaya dunia. Namun malam ini, seseorang menghidupkannya kembali.
Alessandro menatap layar tanpa berkedip, sebuah email terenkripsi muncul satu jam lalu dari server anonim.
Tanpa pengirim, tanpa jejak, hanya satu kalimat pendek.
"Abu tidak pernah benar-benar padam."
Dan di bawahnya logo burung phoenix hitam milik RED ASHES.
Jantung Alessandro berdetak keras, ia langsung mencoba melacak asal sinyalnya, tapi sistemnya justru disusupi balik.
Seseorang menertawakannya dari balik layar, seseorang yang tahu cara kerja jaringan Valerio lama. Seseorang dari masa lalu.
"Atau..." gumam Alessandro pelan. "Orang yang pernah bekerja untuk ayahku."
Ponselnya bergetar, nama ibunya muncul di layar. Alessandro langsung mengangkatnya.
...📞...
"Mama?"
^^^"Alessandro, kamu sekarang ada di mana?"^^^
Suara napas Nadira terdengar tidak stabil.
"Aku di apartemen, Ma."
^^^"Jangan keluar malam ini."^^^
Alessandro mengernyit heran.
"Tapi kenapa, Ma?"
Beberapa detik hening, lalu Nadira berkata dengan suara bergetar.
^^^"Mama melihat simbol itu lagi."^^^
Tubuh Alessandro menegang.
"Simbol apa yang mama maksud?"
^^^"Phoenix hitam."^^^
Dunia terasa membeku sesaat, Alessandro berdiri cepat dari kursinya.
"Mama lihat di mana?"
^^^"Di depan rumah. Ada mobil hitam parkir sejak tadi, lalu seseorang meninggalkan kotak di pagar."^^^
Alessandro langsung mengambil jaket dan pistol dari laci tersembunyi.
"Aku pergi ke sana sekarang."
^^^"Jangan sekarang..."^^^
Telepon terputus, mobil Alessandro melesat membelah jalanan kota yang basah. Tatapannya dingin, tangannya menggenggam setir terlalu kuat.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang hampir terlupakan, yaitu sebuah amarah.
RED ASHES bukan sekedar organisasi, tapi itu sebuah kerajaan berdarah milik Leonardo Valerio.
Jaringan perdagangan senjata, pencucian uang, pembunuh bayaran, Cyber black market. Dan perang bayangan lintas negara.
Leonardo membangun semuanya dari nol, lalu menghancurkannya sendri sebelum ia mati. Atau setidaknya, itulah yang Alessandro percaya, sampai malam ini.
Lampu teras menyala redup, hujan makin deras. Alessandro turun dengan cepat, sambil mengeluarkan pistol.
"Mama!"
Tidak ada jawaban, ia masuk dengan langkah waspada. Rumah terlalu sunyi. Lalu...
BRAK!
Sesuatu pecah dari arah dapur. Alessandro langsung mengarahkan pistolnya.
"Siapa di sana?! Kalau berani hadapi aku!"
Namun yang keluar justru Nadira dengan wajah yang pucat.
"Ale, turunkan pistol itu."
Alessandro menghembuskan napas kasar, Nadira memegang sebuah kotak hitam kecil di tangannya.
Kotak itu basah terkena hujan. Di atasnya ada sebuah simbol phoenix hitam.
"Jangan sentuh barang itu sembarangan, Ma."
"Aku bahkan belum membukanya," bisik Nadira.
Tatapan perempuan itu penuh ketakutan, rasa takut yang tidak pernah benar-benar hilang.
Alessandro mengambil kotak itu perlahan, lalu membawanya ke meja ruang makan. Ia membuka pengaman kecil di sampingnya, dan saat kotak terbuka, di dalamnya hanya ada tiga benda.
Sebuah flashdisk, foto lama Leonardo Valerio, dan cincin hitam berukir simbol RED ASHES.
Wajah Nadira langsung memucat.
"Itu..." ucapnya dengan tangan gemetar. "Itu cincin para tetinggi."
Alessandro menatap cinta in itu lama, ukirannya begitu detail. Phoenix hitam dengan mata merah kecil di tengah. Dingin, mewah, dan mematikan.
"Siapa yang mempunyai cincin ini?" tanya Alessandro pelan.
Nadira menatapnya dengan mata penuh trauma, "Berarti mereka masih hidup."
Satu jam kemudian, di apartemen Alessandro. Lampu ruangan diredupkan, flashdisk itu kini terpasang di laptop.
Namun file di dalamnya terkunci sistem enkripsi tingkat tinggi.
Alessandro mencoba membukanya selama hampir dua puluh menit.
Namun gagal. Sampai akhirnya layar berubah hitam. Lalu muncul tulisan merah.
WELCOME BACK, VALERIO.
Mata Alessandro menyipit, sistem ini mengenali nama keluarganya. Bukan kebetulan, sebuah video otomatis diputar.
Layar dipenuhi noise, sebelum akhirnya wajah seorang pria tua muncul. Rambutnya abu-abu, salah satu matanya buta.
Namun senyumnya membuat suasana ruangan terasa dingin.
"Kalau kamu melihat ini," ujar pria itu. "Berarti RED ASHES sudah bangkit kembali."
Alessandro membeku, ia mengenali pria itu dari arsip lama. Mikhail Orlov. Salah satu pendiri organisasi bersama Leonardo.
Pria itu seharusnya sudah mati dua belas tahun yang lalu. Video berlanjut.
"Leonardo pernah percaya, bahwa organisasi ini bisa dikendalikan."
Mikhail tertawa pelan,"Tapi kekuasaan tidak pernah bisa dikubur."
Layar memperlihatkan rekaman-rekaman lama. Gudang senjata, transaksi ilegal, pembunuhan politik, data rahasia, dan nama-bama besar dunia.
Semua terhubung ke RED ASHES.
"Kalau kamu anak Leonardo, maka mereka akan datang untuk mencarimu."
Video berhenti mendadak, lalu muncul koordinator lokasi. Sebuah pelabuhan tua di pinggir kota. Di bawah koordinator itu ada pesan singkat.
THE ASHES ARE WAITING.
Jam menunjukkan pukul tiga pagi, saat Alessandro tiba di pelabuhan. Kabut tipis menyelimuti area dermaga tua.
Langkah Alessandro pelan di atas lantai besi yang basah, pistol terselip di balik jaketnya.
Tatapannya menyisir sekitar, lalu tepuk tangan terdengar pelan dari kegelapan.
Seorang pria keluar dari balik bayangan, tinggi, tubuh besar, dan wajahnya dipenuhi bekas luka.
Namun yang paling mencolok, cincin phoenix hitam di jarinya.
"Sudah lama sekali," suara pria itu serak. "Tuan Muda Valerio."
Alessandro tidak bergerak, "Siapa kamu?"
Pria itu tersenyum kecil, "Dulu aku bekerja untuk ayahmu."
"Ayahku sudah lama mati," ucap Alessandro dengan tatapan yang dingin.
"Ya, aku tahu itu," ucapnya. "Tapi kerajaan miliknya belum mati."
Sepuluh orang lain muncul dari balik kabut, semuanya memakai simbol RED ASHES.
Jantung Alessandro berdetak keras, mereka bukan gangster biasa. Cara berdiri mereka terlalu tenang, terlalu disiplin, mantan tentara, dan pembunuh profesional.
Monster-monster era Leonardo, pria bekas luka itu membuka kedua tangannya pelan.
"Selama bertahun-tahun kami menunggu," ucapnya dengan tatapan tajam. "Menunggu darah Valerio kembali."
Alessandro menahan ekspresinya, "Aku bukan ayahku."
Pria itu terawa, "Tapi semua orang bilang begitu, sebelum darah itu bangun."
Angin malam berhembus dingin, lalu pria itu mengeluarkan sebuah tablet kecil dan menyalakannya.
Di layar muncul logo RED ASHES, sistem organisasi aktif kembali. Server online, jaringan bergerak, akun-akun lama hidup.
Dana miliaran dolar berpindah otomatis, dan nama di posisi tertinggi organisasi kosong. Menunggu pewaris.
Pria itu menatap Alessandro.
"Dunia bawah tanah sedang kacau."
"Para predator mulai saling membunuh."
"Dan mereka semua menunggu satu hal, yaitu kembalinya Valerio."
Tatapan Alessandro perlahan berubah gelap, sesuatu di dalam dirinya terasa bergerak, sesuatu yang selama ini ia kubur dalam-dalam.
Insting.
Darah.
Warisan.
Kabut malam menelan separuh wajahnya saat ia berkata pelan. "Kalau aku menolak?"
Pria itu tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Alessandro lama. Lalu berkata lirih.
"Kalau begitu, mereka akan membunuhmu."
Dan untuk pertama kalinya, Alessandro menyadari satu hal mengerikan. Ia sudah masuk terlalu dalam, dan RED ASHES telah bangkit kembali.