NovelToon NovelToon
Si Cantik Milik Ketos Sadis

Si Cantik Milik Ketos Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Filanina

Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.

​Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.

​Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.

​Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.

​Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.

​Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16 Menjaga dari Jauh

Pagi itu di kelas X-2 seorang teman Reka memberikan sebuah amplop pada Reka sambil lewat, ketika cewek itu baru saja sampai ke kelasnya.

"Eh, apa ini? Dari siapa?" tanya Reka sambil menoleh ke belakang setelah melihat namanya tertera di amplop itu.

"Ada orang yang nitip," jawab cowok itu.

Reka menyembunyikan amplop itu di bawah meja. Dia membukanya dan melihat isinya. Seketika wajah Reka tampak terkejut. Namun, jenis kejutan yang membuat pipinya merona.

Reka mengulum senyum, menyembunyikan surat itu di dalam tasnya dengan rapi.

...****************...

Saat itu jam istirahat Di balik gedung perpustakaan yang sunyi, Dean berdiri mematung. Tatapannya kosong, terpaku pada lapangan basket yang mulai lengang. Di dalam kepalanya, kata-kata yang ia tulis di amplop tadi terus berputar. “Ada yang ingin aku bicarakan. Kutunggu sepulang sekolah di belakang perpustakaan. Dean.”

​Ia ingat betul, saat SMP dulu, Reka pernah mengiriminya surat yang sama. Saat itu, Dean mengabaikannya. Ia bahkan tidak peduli ketika teman-temannya mencoba menyampaikan salam dari gadis itu. Namun sekarang, keadaan berbalik. Dean-lah yang mengundang Reka masuk ke dalam dunianya—bukan karena cinta, tapi karena sebuah misi penyelamatan.

​Langkah kaki yang ragu terdengar mendekat. Reka muncul dengan wajah yang memerah, matanya tertunduk malu-malu. Keangkuhan yang biasanya ia tunjukkan di depan Yasmin lenyap seketika, berganti dengan kegugupan seorang gadis yang sedang jatuh cinta.

​"Apa aku mengganggumu?" tanya Dean lembut, memulai sandiwaranya.

​"Ti... tidak," jawab Reka lirih. "Apa yang mau kamu bicarakan?"

​Dean menarik napas panjang, menguatkan hatinya. "Sebenarnya... waktu SMP dulu, aku tidak membalas suratmu bukan karena aku membencimu. Aku hanya belum ingin pacaran saat itu."

​Jantung Reka serasa berhenti berdetak. Ia menatap Dean dengan binar harapan yang begitu besar.

​"Sekarang... apa kamu mau jadi pacarku?" lanjut Dean.

​Dunia seolah berhenti bagi Reka. Ia tidak sanggup berkata-kata, hanya bisa mengangguk cepat dengan perasaan yang meluap.

​"Aku tahu kamu orang baik, Reka," ucap Dean lagi, setiap katanya terasa seperti sembilu di hatinya sendiri. "Aku punya satu permintaan, apa boleh?"

​"Tentu saja!" Reka mengangkat wajahnya, menatap Dean dengan penuh pengabdian.

​"Yasmin... sebenarnya dia sepupuku," Dean berbohong dengan lancar, menciptakan perisai bagi Yasmin. "Aku kasihan padanya. Aku ingin melindunginya, tapi aku takut jika aku mendekatinya, orang-orang akan salah paham. Aku jadi tidak bisa apa-apa. Kamu sekelas dengannya, Reka... bisakah kamu menjaga Yasmin untukku?"

​Reka tertegun. "Benarkah dia sepupumu?"

​"Iya. Tolong, Reka. Aku percaya padamu karena aku menyukaimu. Apa kamu mau membantuku?"

​"Iya, tentu saja! Kalau aku tahu sejak awal, aku pasti sudah berteman dengannya," sahut Reka penuh semangat. Kebenciannya pada Yasmin menguap begitu saja, digantikan oleh keinginan untuk menyenangkan hati Dean.

​Dean tersenyum getir. "Terima kasih. Aku sangat menyukaimu."

​"Aku juga, Dean. Aku menjaga perasaan ini sejak SMP. Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan. Aku bahagia sekali!"

​Melihat binar bahagia di mata Reka, Dean sadar ia harus memberikan "segel" pada kesepakatan ini agar Reka tidak ragu. Ia mendekatkan wajahnya. Reka memejamkan mata dengan patuh.

​Demi Yasmin. Demi Yasmin! teriak batin Dean, mencoba menulikan nuraninya.

​Cup.

Sebuah kecupan mendarat di pipi Reka. Hanya sekilas, namun cukup untuk mengikat Reka dalam kendalinya.

​"Oh ya, ada rapat OSIS. Maaf, aku harus pergi dulu," ucap Dean buru-buru. Ia perlu pergi sebelum topengnya pecah.

​Reka terpaku di sana, menyentuh pipinya dengan hati berbunga-bunga, menatap punggung Dean yang menjauh. Ia tidak tahu, bahwa pemuda yang baru saja mengecupnya itu sedang berjalan dengan hati yang hancur.

​Langkah Dean terasa sangat berat. Wajahnya sendu, menatap jalanan di depannya dengan pandangan kabur.

​Yasmin, sekarang kamu semakin jauh dariku. Aku baru saja memotong jalanku sendiri untuk mencapaimu. Tapi setidaknya, dengan cara ini aku bisa menjagamu... sekalipun kamu tidak akan pernah tahu.

​Dean tidak merasa seperti pahlawan. Ia merasa seperti pengkhianat bagi perasaannya sendiri. Di balik wajah tenangnya, hatinya menangis meraung, meratapi cinta yang sengaja ia kubur demi keselamatan gadis yang ia puja.

Langkah Dean terhenti. Jauh di depannya dia melihat Yasmin berjalan beriringan dengan Vyan. Koridor itu jelas arah menuju kelas Vyan. Dean meraba dadanya yang terasa sakit. Namun, dia menyadari langkahnya tidak akan bisa sejauh Vyan dalam menemani langkah Yasmin.

...****************...

Suasana kelas XI IPA 3 saat jam istirahat itu terasa lengang, hanya menyisakan beberapa gelintir siswa yang lebih memilih mendinginkan diri di bawah kipas angin daripada berdesakan di kantin. Di barisan tengah, Sandra duduk menghadap ke belakang hingga dia dua temannya Mia, dan Resi bisa duduk melingkar, sibuk dengan ritual harian mereka: mematut diri di cermin kecil sambil mengulas make-up tipis. Di meja Resi berserakan bedak, pensil alis, alat lentik bulu mata serta sisir kecil yang keluar dari kanton make up warna pink.

Sandra dan teman-temannya tidak lagi memikirkan peristiwa memalukan kemarin, karena merasa yakin Vyan akan mengusut tuntas masalah mereka.

​"Duh, mampus. Habis lagi!" gerutu Sandra sambil memutar-mutar wadah liptint-nya yang sudah kering kerontang. Ia melirik Resi. "Res, pinjam punya lo dong."

​Mia tertawa mengejek, suaranya melengking di kelas yang sepi. "Gila ya, Sandra. Masa liptint murah gitu aja pakai habis segala? Dompet lo lagi kempes?"

​Resi ikut menyengir sambil menyodorkan miliknya. "Makanya, San, kalau beli yang agak mahalan dikit biar awet."

​Sandra mendengus, wajahnya memerah menahan gengsi. "Eh, sori ya. Gue bukannya nggak mampu. Gue tuh udah beli liptint Dior yang baru, tahu! Cuma tadi pagi buru-buru, jadi ketinggalan di meja rias. Itu mahalnya minta ampun, satu aja bisa buat jajan kita sebulan."

​Mata Mia dan Resi langsung membelalak. "Demi apa, San? Dior?!"

​"Iya," jawab Sandra agak ragu, namun telanjur basah. "Nanti kapan-kapan gue bawa."

​"Eh, gue boleh coba ya nanti? Plis banget!" pinta Resi heboh, disusul jeritan senang Mia yang membayangkan memakai merk high-end itu.

Sandra hanya bisa mengangguk kaku, jantungnya berdegup kencang karena ia tahu ia baru saja berbohong. Ia pun akhirnya mengulas liptint milik Mia yang berwarna natural—warna "aman" agar tidak kena razia guru kesiswaan.

​Tiba-tiba, pintu kelas terbuka. Vyan melangkah masuk dengan santai, tapi yang mengejutkan, ia menggandeng tangan Yasmin di belakangnya. Yasmin tampak sangat rikuh, kepalanya tertunduk menghindari tatapan teman-teman sekelas Vyan.

​Vyan berhenti tepat di depan meja mejanya sendiri, tidak begitu jauh dari Sandra, lebih depan dari mereka.

"Mau apa, Kak Vyan ajak aku ke sini?" tanya Yasmin nggak enak.

"Duduk dulu."

Yasmin terpaksa duduk di kursi depan Vyan yang memang kosong. Vyan merogoh sesuatu di bawah mejanya. Sebuah kantong kertas kecil. Dari situ dia keluarkan sebuah kotak kecil agak panjang berwarna pink.

"Ini dari Bunda... "

Seketika mata Sandra, Resi dan Mia membulat.

"Dior ... Dior ... itu liptint Dior, San ...," bisik Mia heboh sambil menepuk-nepuk lengan Sandra.

Sandra menghempaskan tangan Mia dengan kesal. Dia juga tahu. Matanya melotot marah ke arah mereka. Terutama Yasmin. Atas dasar apa dia seberuntung itu!

Terlihat Yasmin memperhatikan benda itu dengan pandangan heran.

​"Bunda? Kenapa ngasih aku?"

​"Katanya Bunda kemarin beli ini, tapi warnanya ternyata kurang cocok. Daripada nggak kepakai, mending buat kamu aja. Masih baru banget kok."

​Yasmin menerima kotak itu dengan canggung. Dia membuka kotaknya, mengeluarkan isinya dan masih tampak bingung.

"Ini... apa, Kak?"

"Dasar kampungan...," bisik Mia sepelan mungkin.

​"Itu liptint, buat bibir," jawab Vyan datar. "Emang kamu ga pake? Bibir kamu merah gitu nggak pakai apa-apa?"

​Yasmin menggeleng. Ia mengeluarkan kuas kecil dari botol liptint itu, matanya tampak takjub.

"Oh, ini ga kayak lipstik ya, pakai kuas gini. Pakenya gimana?"

Yasmin menempel-nempelkan kuas itu ke bibirnya dengan canggung. Hampir saja membuat belepotan.

"Bukan begitu caranya... Sini coba!"

Vyan merebut liptint dan kuas itu dengan gemas. Dia mulai memoles bibir Yasmin dengan kuas itu. Jelas tindakannya membuat orang-orang yang melihat kaget.

"Ih, sengaja itu... si Yasmin sengaja... " pekik Mia rendah hanya terdengar oleh Sandra dan Resi.

​Sementara Vyan terlalu fokus mengoleskan kuas ke bibir Yasmin dengan hati-hati. Tidak menyadari kelas mendadak sunyi senyap, seolah oksigen di sana baru saja habis tersedot oleh keintiman mereka.

​Agil yang baru saja masuk ke kelas dengan membawa botol air mineral mendadak berhenti di ambang pintu. Matanya membulat, menatap pemandangan di depannya. Dia bahkan melihat teman-teman sekelasnya sedang memperhatikan Vyan.

1
Xlyzy
naik itu kuping ray karna di puji yasmin🤣
Xlyzy
si ray yang tadi nya cemberut langsung berubah
Aquarius97 🕊️
astaga vyan... lu juga benar2 dah ahh😆
Aquarius97 🕊️
hahahahaha ngakak banget ray... pas sebut setan vyan 🤣🤣🤣
Miu.Nuha
semua pada baik ke yasmin takut dimarahi pak ketos lagi 😅😅😅
Miu.Nuha
masih heran kenapa vyan yg harus bertindak... sungguh ironis ya sampe guru gk ad yg peduli...
Three Flowers
Dhini dan Tegar habis di'cuci' sama Ketos sadis🤣
-Thiea-
ya dia lah yang ngejebak kalian. siapa lagi yang punya akses lengkap di sekolah kalian..😅
-Thiea-
pak yoga sepertinya tahu banyak tentang keluarga Vyan.
-Thiea-
kerjaan si vyan ini pasti. 😆😆
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
kok bisa nyangkut😭😭😭
Filan: nyangkutlah. Pas masuk ga pegang apa-apa, pas keluarin pegang tupai
total 1 replies
PrettyDuck
terbukti ya kalo cowok gak peduli cewek bego atau enggak, yang penting cakep 🙃
Filan: bagaimana pun juga dari mata turun ke hati.
tapi Vyan itu cuma jadiin Yasmin pion sih, lalu lucu-lucuan aja kayak ke adik, lalu ga suka dg adanya pembullyan jadi belain, lalu jadiin alat lagi... lama-lama tahu sifatnya baru suka.
total 1 replies
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
hewan tuh pasti🤣
PrettyDuck
serem juga vyan ini
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
berubah menjadi panas karena terbakar api cemburu🤭
PrettyDuck
ooo dia mikirin keselamatn yasmin yaa
PrettyDuck
dih ngatur2, emamg situ sapa? /Facepalm/
PrettyDuck
dah, rebutan sana lu sama vyan
PrettyDuck
terlalu jujur mas 🤣
🐄 MULIANA ѕ⍣⃝✰
Dhini dan Tegar langsung bertindak baik ya /Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!