“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Status yang Sah
Ryu masih terdiam. Ia tahu pasti, jika neneknya sudah memutuskan sesuatu, maka tidak akan bisa diganggu gugat.
Ryu akhirnya menatap wanita yang telah menjaga, merawat dan membesarkannya itu.
"Nek, pernikahan tidak dijalani sehari atau dua hari saja. Tapi seumur hidup," katanya tenang meski jelas merasa tertekan.
"Dan yang menjalani rumah tangga ini bukan hanya aku, Nek. Tapi juga Seroja." Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan. "Bukankah sebaiknya kita bicarakan juga dengan dia?"
Ryu tidak tahu bagaimana pendapat Seroja. Bahkan ia tidak bisa menebak apa yang akan dikatakan atau dilakukan gadis itu nanti.
Yang pasti, ia tidak mau mengambil keputusan apa pun dengan tergesa-gesa atau karena tertekan, apalagi keputusan itu soal pernikahan.
Nyonya Hanifah mengerutkan dahinya yang keriput. Memandang cucunya yang terlihat lebih tenang.
"Baik," ucapnya akhirnya. "Nanti kita bicarakan dengan Seroja. Tapi ingat, jangan coba memengaruhi keputusan Seroja, apalagi menekan dan mengancamnya. Nenek tidak akan tinggal diam."
Wanita itu bicara tanpa meninggikan suara, tapi jelas dan tegas. Dan Ryu adalah pria berprinsip, menurun dari sifat perempuan itu. Dia tidak pernah melanggar apa yang sudah disepakati, kecuali ada perubahan yang tidak terduga atau keadaan yang benar-benar memaksanya.
Sementara itu, di dalam kamar Ryu, Seroja akhirnya terbangun. Ia merasa kasur tempatnya berbaring lembut dan nyaman.
"Kok beda dari biasanya," gumamnya dalam hati.
Perlahan kelopak mata gadis itu terbuka. Matanya berkedip beberapa kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
Ini bukan langit-langit kamarnya. Ia beranjak duduk, menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan bercat putih itu. Ruangan itu luas dan bergaya modern. Lemari, meja rias, meja nakas, lampu tidur, dan pintu di sudut ruangan, semua itu terasa asing.
"Di mana ini?" gumamnya lirih.
Lalu satu persatu ingatannya mulai kembali. Naik mobil bersama Ryu dan Jordi, makan siang di restoran, bertemu Evan, dan--
"Astaga...aku ketiduran di mobil."
Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ini adalah kebiasaannya. Tertidur saat naik mobil. Tapi biasanya ia terbangun sendiri saat hampir tiba di tempat tujuan. Tapi kali ini?
"Selelap apa aku tidur, hingga tak tahu kalau aku sudah dipindahkan di kasur?"
Perlahan Seroja turun dari ranjang. Ia berjalan menuju meja hias. Peralatan make-up dan skincare tertata rapi di atasnya.
"Peralatan rias siapa ini? Ini sebenarnya kamar siapa?"
Seroja menghela napas panjang. Ia bahkan tidak tahu apa-apa tentang Ryu. Ia hanya tahu dari Bu Dhe, Ryu tinggal berdua bersama neneknya.
Tak mau menerka-nerka, ia akhirnya meraih sisir dan merapikan rambutnya. Setelah itu ia melangkah keluar dari kamar. Namun ia tertegun setelah menutup pintu di belakangnya.
"Aku harus ke mana ini?"
Ia bingung hendak melangkah ke mana, karena ini benar-benar pertama kalinya ia berada di rumah itu.
Hingga--
"Nyonya sudah bangun?"
Seroja sedikit tersentak. Ia tak mendengar suara langkah kaki, tapi tiba-tiba ada suara seorang perempuan. Refleks ia menoleh.
Seorang wanita memakai baju putih yang dipadu rompi hitam dan celana panjang hitam berdiri tak jauh darinya dengan senyuman ramah.
"Maaf, ini di rumah siapa ya?" tanya Seroja sopan. Lalu ia menunjuk ke arah kamar yang baru saja ia tempati. "Dan ini... kamar siapa?"
"Ini kamar Nyonya dan Tuan Ryu," jawab wanita yang mungkin usianya kepala tiga itu, masih dengan senyum yang sama.
"Tadi Nyonya tidur saat sampai di rumah," lanjutnya karena melihat wajah bingung Seroja. "Jadi digendong Tuan Ryu ke kamar."
"Oh, begitu," sahut Seroja. Pipinya sedikit merona membayangkan ia digendong Ryu.
"Saya..." Seroja sedikit ragu. "Saya panggil Ibu ini apa, ya?"
"Panggil saja Bibi Muji."
"Oh, Bi Muji," gumam Seroja. "Em... Bi, Nenek Hanifah di mana ya?"
"Ada di ruang tengah bersama tuan," sahut Bi Muji. "Mari saya antar," ucapnya sambil memberi isyarat tangan.
"Terima kasih, Bi," ucap Seroja, mengikuti langkah wanita paruh baya itu menuju tangga.
Namun saat melihat tangga, ia teringat kaki Ryu yang terkilir.
"Dia menggendong aku menaiki anak tangga sebanyak ini?" gumamnya dalam hati.
Meski setelah ia urut tadi kaki Ryu berangsur membaik, tapi tetap saja, Ryu tak seharusnya menggendongnya sejauh itu.
BI Muji terus melangkah menuruni anak tangga diikuti Seroja. Seroja melihat sekelilingnya. Langit-langit rumah itu tinggi. Lampu kristal dengan rangka rose gold itu dihiasi potongan kristal bening, menggantung di tengah ruangan.
Gorden berwarna coklat gold menjuntai panjang. Dan lantai marmer berwarna cream tampak mengilap diterpa cahaya sore yang masuk dari jendela kaca.
Beberapa guci, dan lukisan menambah kesan elegan rumah yang ruangannya luas itu.
"Seberapa kaya Ryu dan keluarganya?" pikir Seroja.
Mereka akhirnya memasuki ruang tengah. Di sana, Ryu dan Nyonya Hanifah masih duduk berhadapan.
"Seroja," panggil Nyonya Hanifah dengan senyum lebar. Ia melambaikan tangannya. "Ke sini, Nak."
"Iya, Nek," sahut Seroja patuh. Ia sempat melirik Ryu yang menyesap tehnya dengan gerakan tenang.
"Duduk sini," ucap Nyonya Hanifah sambil menepuk kursi di sisinya.
Seroja menyalami dan mengecup punggung tangan wanita tua itu sebelum akhirnya duduk di sebelahnya.
Ryu akhirnya menatapnya. Gadis itu duduk dengan punggung tegak dan tangan terlipat rapi di atas pangkuan.
"Kamu tambah cantik," puji Nyonya Hanifah. "Pasti jadi kembang desa ya?"
Seroja hanya tersenyum tipis sambil menunduk.
"Seroja, Nenek sudah mendengar dari Ryu dan Jordi. Nenek ikut berduka cita," ucap Nyonya Hanifah tulus.
Wanita itu menggenggam tangan Seroja hangat. "Dan maaf, Nenek meminta Ryu menjemputmu dalam situasi berduka."
"Nggak apa-apa, Nek," sahut Seroja. "Tidak ada yang tahu kapan akan dipanggil-Nya."
"Gadis baik," puji Nyonya Hanifah seraya mengusap rambut panjang Seroja.
Ryu berdehem, lalu berkata, "Seroja, aku ingin membicarakan tentang pernikahan kita."
Seroja menoleh menatap Ryu. Entah mengapa, melihat ekspresi pemuda itu membuat ia dihinggapi firasat tak enak.
"Katakan saja," ucapnya akhirnya.
"Pernikahan kita terjadi saat kita masih kecil. Bahkan aku tidak mengingatnya," ucap Ryu dengan suara rendah tapi jelas. "Meski begitu, status kamu tetap istri sahku." Ryu berhenti sejenak. "Namun..."
Ryu tidak langsung melanjutkan kalimatnya.
Tanpa sadar, tangan Seroja di atas pangkuan saling memilin.
...🔸🔸🔸...
...“Tak semua pernikahan dimulai dari cinta. Ada yang dimulai dari takdir… lalu perlahan mengajarkan hati cara menerima.”...
...“Mereka adalah suami istri yang sah. Namun hati mereka masih berdiri di tempat yang berbeda.”...
...“Kadang yang membuat hati takut bukan penolakan… melainkan kata ‘namun’ setelah sebuah pengakuan.”...
..."Nana 17 Oktober "...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Hampir mirip kisahnya, istri yang disembunyikan tapi bikin penasaran suami dengan segala tindakannya
Apakah Seroja masih ponakan Vexia ya 🤭😃
Seroja mau lanjut kuliah, Nenek senang mendengarnya - antusias mendukung Seroja kuliah lagi.
Ryu menawari Seroja pakai mobilnya, disuruh pilih yang Seroja suka. Setelah bertanya Seroja apa bisa bawa mobil.
Seroja malah pilih naik motor. Padahal motor Ryu motor sport wkwkwk.
Ryu mendengar Seroja mau pakai motor sport miliknya sampai hampir tersedak buburnya.
Yang ngajarin Seroja naik motor sport Tony. Nah lho - Ryu cemburu tuh 😄
lanjut kak nana... 💪🙏
Lucu juga nih Seroja. Meraba tubuh Ryu dari atas ke bawah - yang dikira gulingnya dan mengendus aromanya pula 😄.
Kebayang bagaimana Ryu menegang ketika diraba tubuhnya dan diendus Seroja wkwkwk.
Ryu turun ranjang menuju kamar mandi, repot menjinakkan ularnya yang menegang tuh.
Kebiasaan Ryu tidur bertelanjang dada. Seroja tertegun sejenak melihatnya. Jantungnya mulai tak karuan.
Dalam hati dua insan yang sudah sah sebagai pasabgan suami istri berbeda.
Dalam hati Seroja - apa Ryu bakal minta haknya sebagai suami.
Dalam hati Ryu yang ditanya kenapa tidak pakai baju - apa tubuhku gak bagus. Kenapa dia tidak terpesona sama sekali.
Perbincangan mengalir - mereka mulai tidur.
Semangat Kak Nana.. Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Bagus Seroja... Lanjutkan lah lagi kuliahmu itu! Sayang loh, kslau nggk di lanjutkan!:😂😂😂