NovelToon NovelToon
STH: Beyond Immortal

STH: Beyond Immortal

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: RA.AM

Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥


Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:

"Zaman dan Era telah berubah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18 — Melawan Singa Api, Pukulan Terakhir!

Singa api itu tidak memberi waktu.

Begitu pagoda muncul di hadapan Li Yao, binatang buas itu sudah bergerak—bukan dengan cakar, bukan dengan ekor, tapi dengan seluruh tubuhnya. Ia melompat seperti badai, mulutnya terbuka lebar, gigi-giginya yang runcing hendak meremukkan Li Yao dalam satu gigitan.

Li Yao tidak mundur, tangan kanan terangkat ke depan, dua jarinya membentuk segel.

Dengan satu dorongan energi spiritual, pagoda itu melesat ke depan—bukan menyerang, tapi menghadang. Pagoda Kekacauan membesar sedikit, cukup untuk menutupi bagian depan tubuh Li Yao, tepat di jalur mulut singa itu.

Singa api itu menggigit pagoda kekacauan.

Giginya yang seharusnya bisa menghancurkan batu dan baja kini terhenti. Pagoda Kekacauan bergetar hebat, retakan di permukaannya semakin melebar. Tapi pagoda tersebut masih bertahan.

Dan pada saat yang sama, Pagoda Kekacauan berdengung.

Rune kehampaan di permukaan pagoda menyala—bukan terang, tapi gelap. Seperti lubang hitam kecil yang terbuka di tengah-tengah pertarungan. Energi dari gigitan singa itu—energi destruktif yang seharusnya merobek daging dan tulang Li Yao tersedot ke dalam pagoda. Bukan disimpan dengan perlahan, tapi ditelan paksa, seperti air yang jatuh ke dalam jurang tanpa dasar.

Singa api itu merasakannya. Matanya yang merah melebar. Ia mencoba melepaskan gigitannya, tapi pagoda itu seperti menempel di mulutnya dan terus menyerap, terus mengambil sisa energi miliknya.

Tiga detik berlalu setelah gigian singa api, namun waktu terasa seperti tiga hari, akhirnya nya Pagoda Kekacauan melepaskan singa api tersebut. Pagoda Kekacauan mundur ke belakang, berputar tidak stabil, cahaya hitamnya berkedip-kedip seperti lilin yang hampir padam. Retakan di permukaannya kini nyaris menembus seluruh sisi pagoda.

Tapi pagoda ini telah menjalankan tugasnya dengan baik.

Li Yao sudah bergerak sejak pagoda itu mundur. Ia tidak menunggu lama. Ia melangkah maju, satu langkah cepat, dua langkah cepat. Waktu terasa lambat bagi singa api. Kini Li Yao berdiri tepat di depan kepala singa itu, cukup dekat untuk mencium bau busuk darah dan racun di bulunya.

Singa itu mencoba mengangkat cakarnya—tapi gerakannya lambat, terlalu lambat. Racun telah melumpuhkan separuh ototnya. Ekspresinya bukan lagi amarah, tapi kebingungan. Ia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.

Li Yao tidak memberi waktu untuk singa api.

Ia mengangkat tangan kanannya—bukan mengepal, tapi telapak tangan terbuka. Pagoda kecil yang hampir hancur itu melayang ke tangannya, mendarat di telapak tangan dengan bunyi klik pelan.

Suhu pagoda terasa seperti bara panas.

Tapi Li Yao tidak melepaskan.

Ia mengumpulkan seluruh energi spiritual bersama kekacauan yang tersisa, cukup untuk satu dorongan terakhir. Li Yao menyatukan energinya dengan sisa energi yang tersimpan di Pagoda Kekacauan — dan energi gigitan singa itu sendiri yang telah ditelan oleh kehampaan!

Akhirnya Li Yao meraung keras!

Bukan dengan tinju. Dengan telapak tangan, dari atas Li Yao menekan Pagoda Kekacauan itu ke dahi singa api.

Pukulan itu tidak menggelegar. Tidak ada ledakan besar. Tidak ada percikan api. Hanya benturan keras teredam yang merambat ke tulang, ke otak, ke akar kehidupan binatang buas itu.

Retakan di pagoda semakin parah. Serpihan-serpihan logam hitam berhamburan di udara.

Tapi tulang dahi singa api itu juga retak, hancur. Seperti telur yang menabrak batu dengan keras!

Singa api itu tidak mengaum. Ia hanya diam, matanya yang tersisa membesar, lalu perlahan kosong. Tubuhnya yang besar perlahan roboh ke samping. Debu beterbangan. Beberapa batu jatuh dari langit-langit gua.

Api di ekornya berkedip satu kali. Dua kali. Lalu padam sepenuhnya.

Hening.

Li Yao berdiri di tempat, dadanya naik turun dengan cepat, tangan kanannya bergetar hebat. Pagoda di tangannya—atau lebih tepatnya, apa yang tersisa darinya—hanya berupa potongan-potongan logam hitam yang masih menyatu samar.

Retakan terlihat jelas di seluruh permukaannya, cahaya hitamnya sudah hampir sepenuhnya padam. Prototipe ini mungkin tidak akan bertahan untuk pertarungan lain.

Tapi Li Yao tidak peduli.

Ia menatap tubuh singa itu. Tidak ada gerakan. Tidak ada napas.

Sudah mati?

Li Yao menjatuhkan diri ke tanah, duduk bersandar di dinding gua. Seluruh tubuhnya terasa hancur, organ dalam nya terluka cukup parah.

Ada luka di lengannya—terkena cakar singa saat ia menghindar—darah masih mengalir perlahan. Punggungnya terasa memar. Bibirnya pecah. Telapak tangan kanannya melepuh, beberapa lapisan kulit luar terkelupas.

"Aku menang." Li Yao menghela napas lega. Kemudian ia melihat potongan-potongan pagoda di tangannya. Retak, hancur, hampir tidak berguna. Tapi tidak sepenuhnya rusak.

Mungkin masih bisa diperbaiki suatu hari nanti. Dengan bahan yang lebih baik. Dengan rune yang lebih sempurna. Untuk saat ini, Li Yao akan menyimpannya kembali ke dalam Lautan Pahit, membiarkannya beristirahat bersama cadangan spiritual yang tersisa.

Li Yao memanggil sisa-sisa pagoda itu kembali ke dalam Roda Laut Kehidupannya. Serpihan logam hitam perlahan larut ke dalam kulitnya, menghilang ke dalam Lautan Pahit di kedalaman tubuhnya.

Beristirahatlah, kawan. Kau sudah cukup bekerja keras hari ini.

Li Yao menutup matanya. Napasnya perlahan teratur. Denyut dua raja obat kecil di dalam Lautan Pahitnya terasa hangat—menghangatkan tubuhnya dari dalam, mempercepat penyembuhan luka-lukanya.

Tubuh Kekacauan juga tidak absen. Dengan setiap tarikan napas, tubuh Kekacauan menyerap energi spiritual dan perlahan menyembuhkan Li Yao.

Li Yao tidak tahu berapa lama ia duduk di sana. Beberapa menit. Mungkin satu jam. Yang ia tahu, ketika ia membuka mata kembali, cahaya matahari dari luar gua mulai redup. Siang sudah berganti senja.

“Aku bilang,” Li Yao berbisik pada mayat singa itu, suaranya sedikit serak, “daripada mati diam-diam keracunan, lebih baik mati dalam pertarungan. Setidaknya kau mati dengan terhormat.”

Li Yao hanya mengatakan secara alami, tidak peduli singa api mendengar atau tidak, toh singa itu sudah mati.

Untuk sekarang, Li Yao fokus pada pemulihan tubuhnya.

1
Eza Bae
test
Eza Bae
tes
Eza Bae
test
Eza Bae
tes
T28J
saya mampir Thor 👍👍
Fajar Fathur rizky
update yang banyak thor semangat thor
SnowEdge: test ombak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!