"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Tamu yang Tak Diundang
Tamu yang Tak Diundang
Langkah kakiku terasa berat saat menyusuri koridor kampus menuju parkiran. Obrolan Tiara dan Bella tadi benar-benar mengganggu konsentrasiku sepanjang sisa kelas. Bayangan Gavin yang akan datang ke kampus ini sebagai pembicara membuatku merasa seperti mangsa yang sedang dikepung di kandangnya sendiri.
"Rum! Arum! Tunggu!"
Sebuah suara bariton yang ramah memecah lamunanku. Aku menoleh dan mendapati Raka berlari kecil ke arahku. Raka adalah ketua senat mahasiswa, tipikal cowok idaman kampus: pintar, aktif, dan punya senyum yang sangat manis. Dia sudah lama menunjukkan ketertarikan padaku, tapi aku selalu berusaha menjaga jarak.
"Eh, Raka. Kenapa?" tanyaku sambil mencoba tersenyum tipis.
"Gue cariin dari tadi di kantin, ternyata udah mau balik aja," ucap Raka sambil mengatur napasnya. Dia berdiri cukup dekat denganku, aroma parfumnya yang segar khas jeruk sangat berbeda dengan aroma kayu cendana Gavin yang menyesakkan. "Gue cuma mau mastiin, besok lu ikut rapat panitia buat acara seminar minggu depan, kan?"
Aku tersentak. Benar, aku lupa kalau aku masuk dalam divisi konsumsi. "Oh, iya. Gue usahain dateng, Rak."
"Lu harus dateng, Rum. Gue butuh masukan lu," Raka tersenyum, tangannya tanpa ragu menyentuh bahuku pelan. "Sekalian abis rapat... temenin gue makan sore gimana? Ada kafe baru di depan kampus yang katanya enak banget."
Aku merasa tidak enak. Raka orang baik, tapi saat tangannya menyentuh bahuku, aku justru teringat bagaimana Gavin mencengkeram lenganku tadi pagi. Tubuhku seolah menolak sentuhan siapa pun selain pria iblis itu.
"Gue... gue nggak janji ya, Rak. Soalnya gue harus langsung pulang ke rumah orang tua gue. Papa sama Mama baru balik dari luar kota," jawabku, mencari alasan paling logis.
"Yah, kecewa deh gue," canda Raka sambil menarik tangannya. "Tapi nggak apa-apa deh. Eh, lu balik naik apa? Gue anterin ya? Gue bawa mobil hari ini, sekalian searah kan?"
"Nggak usah, Rak. Gue udah pesen ojek online kok."
"Halah, cancel aja sih. Daripada kepanasan di jalan. Ayo lah, Rum, anggap aja pemanasan sebelum kita kerja bareng buat acara Pak Gavin Pratama minggu depan. Lu tau kan dia CEO muda yang lagi naik daun banget?"
Mendengar nama Gavin disebut oleh Raka membuat perutku melilit. "Gue... gue beneran nggak bisa, Rak. Maaf ya."
"Oke, oke. Gue nggak maksa," Raka mengangkat kedua tangannya tanda menyerah, tapi matanya menatapku dengan penuh perhatian. "Tapi besok jangan bolos rapat ya. Gue tunggu."
Aku hanya mengangguk cepat dan segera berjalan menuju gerbang kampus. Aku merasa butuh perlindungan rumah orang tuaku. Aku butuh pelukan Mama agar aku bisa melupakan kegilaan yang terjadi di rumah Mbak Siska.
Perjalanan pulang terasa sangat panjang. Begitu sampai di depan pagar rumah orang tuaku yang asri, aku mengembuskan napas lega. Akhirnya, aku sampai di tempat yang paling aman. Aku segera turun dari ojek, membayar, dan melangkah masuk ke halaman.
Namun, ketenanganku hancur seketika saat mataku menangkap sebuah mobil hitam mewah terparkir di garasi, tepat di samping mobil Papa.
Mobil itu. Aku sangat mengenalinya.
Langkahku terhenti di depan pintu utama yang terbuka sedikit. Dari dalam, aku bisa mendengar suara tawa Mama dan Mbak Siska yang sedang asyik mengobrol.
"Aduh, Mas Gavin ini perhatian sekali ya, bawa oleh-oleh sebanyak ini," suara Mama terdengar begitu ceria.
"Ah, itu hanya titipan kecil dari Siska, Ma. Gavin cuma yang membawakan," sahut sebuah suara berat yang langsung membuat bulu kudukku meremang.
Dia ada di sini.
Aku sempat berpikir untuk lari dan kembali ke kost-an, tapi Mbak Siska sudah melihatku dari ruang tamu.
"Lho, Arum! Sudah pulang? Sini masuk, Sayang!" seru Mbak Siska sambil melambai padaku.
Aku tidak punya pilihan. Aku melangkah masuk dengan kaki yang terasa kaku seperti robot. Di ruang tamu, Papa dan Mama duduk bersandar di sofa, sementara di depannya, Mbak Siska duduk berdampingan dengan Gavin.
Gavin sedang mengenakan kaos polo santai berwarna biru gelap yang mencetak jelas lekuk otot bahunya. Dia tampak begitu rileks, seolah-olah kejadian di balik pilar tadi pagi tidak pernah terjadi.
"Sini duduk, Rum," ucap Papa. "Mas Gavin sama Mbakmu baru sampai sejam lalu. Katanya mumpung hari Jumat, mereka mau menginap di sini juga sampai Minggu."
Duniaku serasa runtuh. Menginap di sini? Itu artinya aku tidak bisa kabur darinya selama dua hari ke depan.
"Sore, Pa, Ma," aku menyalami mereka satu per satu, berusaha menghindari kontak mata dengan Gavin. Tapi saat aku mencium tangan Gavin sebagai bentuk sopan santun kepada kakak ipar, aku bisa merasakan jemarinya dengan sengaja mengusap telapak tanganku dengan gerakan yang sangat pelan dan provokatif.
Aku segera menarik tanganku, jantungku berdegup kencang hingga terasa sakit.
"Arum kok pucat sekali? Capek ya kuliahnya?" tanya Mama dengan wajah khawatir.
"Iya, Ma. Tadi tugasnya agak banyak," jawabku singkat sambil duduk di kursi tunggal yang agak jauh dari mereka.
"Kasihan adikku," celetuk Mbak Siska sambil merangkul lengan Gavin dengan mesra. "Oh iya, Rum. Tadi Mbak dapet kabar kalau Mas Gavin bakal ngisi seminar di kampus kamu ya? Kok kamu nggak bilang-bilang?"
Aku menelan ludah. "Arum juga baru tau tadi di kampus, Mbak."
"Wah, hebat dong Mas Gavin," Papa menimpali dengan bangga. "Arum, kamu harus belajar banyak dari Mas-mu ini. Dia ini visioner banget."
Gavin hanya tersenyum tipis—senyum yang selalu terlihat berwibawa di depan orang tua kami, tapi terasa penuh ancaman bagiku. "Saya hanya berbagi sedikit pengalaman, Pa. Lagipula, saya juga ingin melihat bagaimana Arum berinteraksi di lingkungannya. Tadi saja, saya lihat dia sedang asyik mengobrol dengan seorang pria di parkiran kampus saat saya lewat."
Mataku membelalak. Dia melihatku bersama Raka?
Mbak Siska langsung menatapku dengan mata berbinar goda. "Cieee, siapa tuh, Rum? Pacar baru ya?"
"Bukan, Mbak! Itu cuma Raka, ketua senat. Dia cuma nanya soal rapat besok," belaku dengan suara yang sedikit bergetar.
"Tapi kelihatannya akrab sekali," sahut Gavin lagi dengan nada yang sangat dingin, matanya kini mengunci mataku dengan tatapan yang seolah ingin menghancurkanku. "Pria itu bahkan menyentuh bahumu, Arum. Apa di kampusmu, mahasiswa biasa bersikap seberani itu kepada gadis seperti kamu?"
Suasana ruang tamu mendadak terasa tegang. Papa dan Mama tampak sedikit bingung dengan nada bicara Gavin yang tiba-tiba berubah tajam.
"Mungkin mereka memang akrab, Mas. Namanya juga anak muda zaman sekarang," Mbak Siska mencoba menengahi sambil mengusap lengan Gavin.
"Tetap saja. Arum harus bisa menjaga jarak. Tidak semua pria punya niat baik," ucap Gavin, suaranya terdengar posesif yang sangat tidak wajar untuk seorang kakak ipar.
Aku merasa sesak napas. "Arum ke kamar dulu ya, mau mandi."
Aku segera berdiri dan lari menuju kamarku di lantai dua. Aku menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Aku menyandarkan punggungku di pintu, mencoba mengatur napas yang tersengal.
Gavin cemburu? Itu tidak mungkin. Dia hanya ingin mempermainkanku. Dia ingin menunjukkan bahwa bahkan di rumah orang tuaku pun, aku tetap berada di bawah pengawasannya.
Baru saja aku hendak melangkah menuju kamar mandi, sebuah pesan masuk ke ponselku.
Nomor Tidak Dikenal:
"Pria tadi... jangan biarkan dia menyentuhmu lagi, Arum. Atau aku akan pastikan dia kehilangan tangannya sebelum seminar minggu depan dimulai."
Tubuhku gemetar hebat. Itu Gavin. Aku segera menghapus pesan itu, tapi rasa takut sekaligus getaran aneh di hatiku tidak bisa dihapus begitu saja.
Malam itu, saat makan malam, suasana semakin menyiksaku. Gavin terus-menerus memberikan komentar yang menyudutkanku, sementara tangannya—di bawah meja yang tertutup taplak panjang—mulai melakukan aksi gilanya.
Aku sedang menyuap nasi saat tiba-tiba aku merasakan sebuah kaki yang besar dan berotot menempel di betis polosku. Aku tersentak, nyaris menjatuhkan sendokku.
"Arum, kamu kenapa sih dari tadi kaget terus?" tanya Mama.
"N-nggak apa-apa, Ma. Ada nyamuk," jawabku terbata-bata.
Kaki itu tidak berhenti. Ia mulai menggesek betisku, naik perlahan menuju lututku. Aku mencoba menggeser kakiku, tapi Gavin justru menjepit kakiku dengan kedua kakinya, mengunciku agar tidak bisa bergerak.
Aku menatap Gavin dengan tatapan memohon, tapi dia justru sedang asyik mengobrol dengan Papa tentang investasi saham, seolah-olah kakinya tidak sedang melakukan pelecehan padaku di bawah sana.
"Iya, Pa. Sektor properti memang sedang naik," ucap Gavin dengan nada suara yang sangat tenang, sementara kakinya kini sudah mencapai paha bagian dalamku.
Aku menggigit bibir bawahku kuat-kali, menahan desahan yang nyaris lolos dari bibirku. Rasa panas itu kembali menjalar, meledak di antara kedua kakiku. Aku merasa sangat kotor, sekaligus sangat bergairah. Pengkhianatan ini terjadi tepat di depan mata orang tuaku dan istrinya sendiri.
"Arum, mukamu merah sekali. Kamu sakit?" Mbak Siska menatapku dengan heran.
Gavin menoleh padaku, sebuah seringai kemenangan menghiasi wajahnya. "Mungkin Arum terlalu lelah, Sayang. Bagaimana kalau setelah ini, Arum istirahat saja? Biar aku yang membawakan teh hangat ke kamarnya nanti."
"Wah, baik sekali kamu, Mas," ucap Mama tanpa curiga sedikit pun.
Aku memandang Gavin dengan horor. Dia benar-benar gila. Dia baru saja mengumumkan rencananya untuk masuk ke kamarku di depan semua orang, dan mereka semua menganggapnya sebagai bentuk perhatian kakak ipar yang luar biasa.
Malam ini, aku tahu pintu kamarku yang terkunci pun tidak akan bisa melindungiku dari predator yang bernama Gavin Pratama.
jngan y thor